
Pagi yang begitu hangat di dalam ruangan tempat Aira di rawat. Wanita yang sedang hamil muda itu sedang menikmati sarapan pagi bersama Abizar di dalam ruangannya.
"Kamu ngga senang ya ?" Tanya Aira.
"Ngga senang tentang apa ?" Tanya Abizar heran.
"Tentang kehamilan ku." Ucap Aira pelan membuat tangan Abi yang hendak kembali menyuapinya terhenti di udara.
Laki-laki tampan itu menatap lekat wajah cantik Aira yang masih terlihat pucat, lalu menghela nafas frustasi.
"Aku jadi ngga bebas ngapa-ngapain kamu." Jawabnya lirih.
Mata Aira membulat penuh mendengar jawaban dari bibir Abizar.
"Nanti pas dia lahir, pasti akan merebut mu." Ucap Abizar lagi sontak membuat Aira tertawa lucu.
"Alasan macam apa itu ? Jadi karena itu kamu terlihat tidak senang dengan kehamilan ku ? Dasar !" Pukul Aira di kepala suaminya. "Ibu yang ngajarin aku." Sambungnya kemudian mengangkat tangan Abizar yang sedang memegang sendok berisi makanan, lalu menyuapi dirinya sendiri.
"Tenang aja, aku masih milik kamu kok." Ucap Dira lalu mengecup bibir yang sedang cemberut di depannya.
"Mulai lagi, ga kapok apa sampai pingsan."
Mata Aira membulat saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka lebar dan menampakkan segerombolan orang di sana. Jangan tanya siapa yang baru saja berbicara, tentu saja adalah wanita paruh baya yang sudah memberikan banyak tips padanya semalam.
Di ambang pintu, Nira tertawa geli melihat wajah merona yang terlihat begitu menggemaskan, adik iparnya.
"Kamu sudah selesai sarapan Ra ?" Tanya Dira sambil melangkah masuk dan mendekati ranjang.
__ADS_1
"Sedikit lagi Kak." Jawab Aira.
"Kami mau numpang sarapan di kamar kamu, ga apa-apa kan ?" Tanya Nira.
"Ganggu aja." Gumam Abizar.
Danira tertawa lucu mendengar dua kata yang mengandung kekesalan dari adik tampannya. Dua wanita kembar yang sama-sama sedang mengandung itu, kembali melangkah menuju sofa yang ada di dalam ruangan, dan membantu dua wanita paruh baya yang sedang menghidangkan sarapan di aas meja sofa.
Hari ini, dua keluarga besar sedang berkumpul di rumah sakit, untuk ikut memantau perkembangan kesehatan Dira. Mereka ingin memastikan, jika Dira dan bayinya baik-baik saja.
Tidak hanya Alfaraz dan Zyana yang memilih menikmati sarapan di dalam ruangan mewah itu, tetapi Reno dan Rara ikut melakukan hal yang sama. Dira dan Nira, serta suami mereka pun ikut menyempatkan diri berkumpul di dalam ruangan itu, sebelum melanjutkan perjalanan mereka menuju perusahaan masing-masing.
Hari ini, semua orang nampak tenang meskipun di dalam hati masing-masing terasa was-was menunggu jadwal pemeriksaan Dira. Wanita yang sedang hamil tua itu, terus berusaha meyakinkan seluruh keluarga, jika dirinya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Pada dasarnya, selama kaki kita masih berpijak di bumi, selama itu pula ujian belum benar-benar pergi dari kehidupan. Tapi, kita memiliki banyak pilihan untuk menyikapi setiap masalah yang datang. Dan inilah seorang Nadira. Terlalu terbiasa dengan keadaan yang tidak ia inginkan, membuat kekhawatiran yang datang mengganggu, hanya dianggapnya sebagai angin lalu. Wanita yang sedang mengandung itu nampak begitu tenang, walau orang di sekelilingnya nampak khawatir.
"Semua akan baik-baik saja sayang." Ujar Arga dan berhasil membuat Dira tertawa.
"Yah, tentu saja aku baik-baik saja." Ucap Dira di sela-sela tawanya.
Arga ikut tertawa, meskipun jantungnya seakan ingin keluar dari tempatnya ketika membayangkan sesuatu yang buruk sedang terjadi pada istri dan calon anaknya.
Saat memasuki ruangan Dokter yang pernah menjalani pemeriksaan terhadap Dira, keduanya di sambut dengan ramah oleh dokter tersebut.
Pemeriksaan singkat mulai di lakukan. Karena Dira sedang mengandung, maka pemeriksaan menyeluruh belum bisa di lakukan. Setelah selesai, Dokter itu dan Dira kembali melangkah menuju orang-orang yang sedang menunggu penjelasan lebih detail mengenai kesehatan putri mereka.
Dokter tersebut mulai menjelaskan, bahwa tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan. Semua masih bisa di tangani dengan baik. Tidak lupa pula Dokter tersebut menjelaskan perihal pembicaraannya dengan dokter kandungan Dira. Mereka bersepakat untuk melahirkan bayi Dira secepatnya, atau secara prematur.
__ADS_1
"Seperti yang sudah aku jelaskan semalam. Dan ini jauh lebih aman untuk bayi kita." Ujar Dira.
"Aku ikut yang terbaik saja, yang terpenting adalah keselamatan kamu. Aku ga perduli yang lain Dira, yang aku mau hanya kamu." Ujar Arga tegas.
Dira tidak ingin berdebat, sejak ia menjelaskan perihal ada yang tidak beres dalam tubuhnya, laki-laki yang ia cintai sejak kecil ini, terus saja mengulang-ulang kalimat yang sama. Wanita hamil itu menarik nafasnya, untuk mengurangi rasa tidak nayaman di dalam hati saat Arga kembali mengatakan hal yang sama.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Ibu dan bayinya sehat kok. Hanya saja mencegah lebih baik dari pada mengobati, untuk itu kami melakukan tindakan cepat agar semuanya tidak terlanjur memburuk." Jelas Dokter itu lagi.
"Lakukan semua yang terbaik untuk putri dan cucu kami." Ujar Reno.
Dokter tersebut mengangguk, meyakinkan semua orang yang ada di sana, bahwa memang tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Semua masih nampak normal Pak, dan beruntung karena dokter Dira adalah tenaga medis juga, hingga cepat mengetahui sesuatu yang tidak beres dalam tubuhnya. Jangan khawatir, percaya dan serahkan semuanya pada kami." Jawab Dokter tersebut.
setelah pemeriksaan singkat yang tidak mampu membuat ketakutan Arga berkurang, Dira kembali mengajak orang tua dan mertuanya untuk kembali ke ruangan Aira di rawat. Ia berniat untuk membicarakan beberapa hal yang sudah ia rencanakan sejak awal, agar nanti bisa berkumpul bersama keluarga di pernikahan Feri dan sahabatnya.
Evelyn sudah mengabari dirinya soal pernikahan sahabatnya itu dengan orang yang hampir menjadi bagian dari keluarga mereka.
Sedikit terkejut dengan berita yang ia terima dari sahabatnya itu, namun, seperti itulah takdir kehidupan berjalan. Kita tidak akan pernah tahu dengan siapa nanti kita akan bersama, yang pasti semua yang sudah Allah siapkan adalah yang terbaik.
Setelah memasuki ruangan, hanya ada Aira dan Nira di dalam ruangan itu.
"Adik kamu kemana Nak ?" Tanya Zyana pada putrinya.
Nira dan Aira yang sedang asik melihat perlengkapan bayi di salah satu aplikasi online shop seketika mengalihkan tatapan mereka.
"Sudah ke kantor bareng Arion Bu. Dia nitip istrinya sama Ibu, minta di jagain tapi jangan di ajarin nabok kepala." Ujar Nira jujur.
__ADS_1
Aira hanya melongo. Ia berpikir, kakak iparnya ini tidak menyampaikan setiap kalimat yang di ucapkan oleh suaminya tadi, kepada ibu mertuanya.