Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 130 Season 2


__ADS_3

"Aku akan memasak makan malam kita." Ucap Zyana, lalu berusaha beranjak dari sofa tempat ia duduk saat tangan nakal suaminya sudah mulai kemana-mana.


"Ngga usah, nanti kita pesan di luar aja tangan kamu masih sakit." Jawab Alfaraz.


"Al...


"Apa sih ganggu kesenangan orang aja." Ujar Alfaraz lalu kembali melanjutkan aktivitasnya yang terasa begitu menyenangkan.


"Aduh.." Keluhnya saat tangan sang istri mendarat keras di punggungnya.


Yana beranjak dari sofa sambil merapikan dress yang sudah tidak beraturan.


"Tangan aku masih sakit, kenapa kamu tindih begitu. Sofanya sempit."


"Maaf.." Kekeh Alfaraz.


"Al...


"Tangan kamu sakit, biar aku bantu ke kamar." Ucap Alfaraz acuh lalu membawa tubuh istrinya menuju kamar yang belum merek periksa.


"Yang sakit itu tangan aku, bukan kaki. Emangnya aku jalan pakai tangan apa. Dasar kamu nya aja yang ingin *****-***** aku, iya kan ?"


"Itu tahu, sudah diam biar bayi ku cepat jadi."


"Bagaimana mau jadi, ibunya aja belum makan." Jawab Zyana membuat Alfaraz tertawa.


"Ya udah calon Ibu duduk di sini dulu, calon Ayah mau pesan makan dulu." Jawab Alfaraz lalu meninggalkan Yana duduk di atas ranjang.


Setelah kepergian Alfaraz menuju ruangan yang mereka tinggalkan tadi, Yana beranjak dari ranjang mewah yang ia duduki, lalu melangkah menyusuri kamar mewah tempat ia berada. Kamar uatama yang berada di lantai dasar itu ia telusuri dengan langkahnya.


Senyum kembali terlihat di bibir tipisnya, satu pigura besar berisi fotonya yang ia ingat di ambil oleh adik iparnya, kini tergantung indah di atas kepala ranjang.


Yana melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, wajahnya bersemu saat melihat bathtub yang sudah terisi kelopak mawar. Kejadian beberapa jam yang lalu di kamar mandi hotel kembali melintas di ingatannya.


"Lagi mikirin hal mesum ya."


Yana terkejut saat tangan Alfaraz sudah melingkar di perutnya.


"Ngomong apa sih." Yana melepaskan tangan nakal suaminya, lalu melangkah kembali menuju ranjang.


"Al sini aku mau peluk." Yana menepuk ranjang kosong di sampingnya. Ia sudah duduk nyaman sambil bersandar di kepala ranjang.

__ADS_1


"Jangan godain aku, nanti tangan kamu sakit." Ujar Alfaraz.


"Siapa yang mau godain, aku ingin bertanya tentang pemilik cincin ini." Ujar Yana sambil mengangkat tangannya.


Alfaraz tersenyum, lalu melangkah menuju ranjang dan bergabung dengan istrinya di sana.


"Ini dia pemiliknya." Alfaraz memperlihatkan foto wanita cantik yang mengenakan snelly dokter.


"Kamu memiliki mantan kekasih selain Nara ?" Tanya Yana.


"Ini Mama aku." Jawab Alfaraz.


"Mama ? Terus Bunda ?" Tanya Yana tidak mengerti.


"Bunda ibu kandung aku adalah istri kedua, tapi beliau adalah cinta pertama Papa." Jawab Alfaraz.


"Terus, wanita yang ada di gambar ini ?" Tanya Yana lagi.


Alfaraz menarik nafasnya lalu mulai menceritakan hal tentang Nadia. Ia tidak mengingat banyak hal tentang ibu kedua dalam hidupnya itu. Ia hanya menceritakan tentang Nadia sesuai apa yang di ceritakan sang Bunda padanya.


"Nanti jika kamu sudah hamil nanti, kita akan syukuran di panti asuhan Mama. Rumah masa kecilku, dan banyak kenangan tentang Mamaku di sana." Ujar Alfaraz setelah menceritakan banyak hal tentang Nadia pada istrinya.


Yana mengangguk, mengiyakan.


Alfaraz turun dari ranjang lalu melangkah keluar dari dalam kamar mereka.


***


Di sebuah kota bagian selatan di pulau Sumatra, wanita dengan hijab panjang sedang menatap bayi mungil yang begitu menggemaskan dengan mata penuh binar. Wajah bayi yang begitu mirip dengan seseorang yang sudah ia hancurkan kebahagiaannya, kini terlelap dengan begitu tenang di atas ranjangnya.


Setelah kesalahan fatal yang ia lakukan setahun yang lalu, setidaknya masih ada bayi mungil ini yang menjadi pelipur lara dari segala rasa yang bercampur aduk di dalam hatinya. Rasa bersalah pada Yana, juga rasa sakit karena di abaikan oleh Reno masih begitu terasa.


Permohonan maaf yang tidak sempat terucap untuk dua orang yang sudah ia hancurkan rumah tangga dan kebahagiaan mereka, semakin menambah daftar rasa sesak di dadanya saat ini.


Rara melangkah menuju balkon kamar mewah miliknya. Kehidupan yang begitu beruntung. Memiliki keluarga yang berkecukupan dari segi materi. Memiliki orang tua yang hebat dalam berbagai hal, termasuk agama. Hanya saja dirinya harus di beri ujian, yaitu mencintai lelaki yang sudah beristri. Kiisah percintaannya tidak seberuntung kehidupannya.


Sikap abai Reno, hingga melukai tidak hanya hati tapi juga fisik, membuat Rara sadar jika sesuatu yang ia paksakan satu tahun yang lalu, sangatlah tidak baik untuk hidupnya.


"Ra.." Suara yang terdengar begitu menenangkan mengalihkan tatapan Rara dari pemandangan kota Lampung tempat di mana dirinya di lahirkan.


"Iya Umi.."

__ADS_1


"Abi ingin berbicara dengan mu di ruang kerjanya." Ujar Wanita paruh baya dengan hijab panjang yang sama seperti Rara.


Rara melangkah masuk ke dalam kamar, menoleh sejenak pada bayi mungil yang sebentar lagi berusia empat bulan, yang kini terlelap di atas ranjang besar miliknya.


"Arga biar Umi yang menjaganya." Ujar wanita yang biasa di panggil Umi Halimah, kepada putrinya.


Rara mengangguk, lalu melangkah keluar dari dalam kamar menuju ruang kerja sang Abi.


***


"Bi, Rara masuk ya." Izin Rara dari pintu yang masih tertutup rapat.


"Masuk Nak."


Rara memutar kenop pintu, lalu mendorong pintu itu dengan perlahan.


"Duduk sini Nak." Ujar Abi Arif lagi sambil menepuk pelan sofa kosong di sampingnya.


"Ini Akmal, orang kepercayaan Abi di perusahaan. Nanti Indra ini yang akan membantumu mengelola perusahaan." Sambung lelaki paruh baya itu memperkenalkan Akmal pada putrinya.


"Tapi belum sekarang kan Bi ? Kasian Arga masih sangat kecil jika harus Rara tinggal bekerja."


"Tentu saja, Abi masih kuat kok untuk bekerja. Abi hanya ingin kamu untuk mulai belajar. Ini demi Arga juga."


Rara mengangguk patuh.


"Dan satu lagi, Akmal datang hari ini, sekalian ingin mengutarakan niatnya untuk menjadi Ayah sambung dari Arga."


Kalimat sang Abi membuat Rara terkejut.


"Bi,.


"Pikirkanlah. Arga membutuhkan sosok Ayah nanti. Dan Abi mau sebelum ia mulai mencari sosok Ayah dalam hidupnya, kamu sudah memutuskan hal yang bijak." Ujar Abi Arif menyela penolakan putrinya.


"Nanti akan Rara pikirkan Bi." Jawab Rara. "Jika tidak ada yang ingin Abi katakan lagi, Rara mohon permisi kembali ke kamar." Pamit Rara sopan.


Abi Arif mengusap kepala putrinya, lalu mengangguk.


Rara membungkuk sebentar pada sosok laki-laki di hadapannya, lalu melangkah keluar dari ruang kerja sang Abi.


Tidak ada dada yang berdebar saat ia melihat Reno, tapi mulai hari ini ia bertekad untuk tidak lagi menyakiti hati lelaki paruh baya yang masih begitu mencintainya meskipun sudah ia kecewakan berulang kali.

__ADS_1


__ADS_2