Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 242 Season 4


__ADS_3

Mobil yang begitu hening masih melaju pelan di tengah jalanan kota Jakarta yang begitu sesak karena banyaknya pengguna jalan di jam pulan kerja seperti ini. Ayiman maupun Daniza sama-sama masih membungkam mulut mereka rapat-rapat, sambil menatap cahaya keemasan yang mulai berubah kelabu di ujung sana.


Ayiman masih terus berkonsentrasi dengan kemudi, sedangkan Daniza sibuk mengetik entah apa di layar gawainya. Gadis yang sebentar lagi berusia dua puluh lima tahun ini, memang memiliki kesibukan yang lumayan di usia nya yang masih terbilang muda.


Jangan di tanya lagi dari mana kesibukannya berasal. Sebagai wanita yang berprofesi sebagai dokter di rumah sakit, Daniza juga masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu universitas yang ada di Jakarta. Yah, tersisa beberapa bulan lagi, ia akan menyandang titel sebagai dokter ahli penyakit dalam.


Beberapa saat kemudian mobil Ayiman sudah berhenti di depan salah satu restoran yang cukup mewah di kawasan kota Jakarta. Laki-laki itu bergegas keluar dari dalam mobil yang ia kendarai, lalu membuka pintu belakang mobil untuk membantu keponakannya keluar dari sana.


"Al bisa jalan sendiri Paman. Nanti di bilang berat lagi." Gerutu bocah itu setelah turun dari dalam mobil. Fatih lalu bergegas melangkah menuju Daniza, dan menggenggam jemari Aunty kesayangannya.


Ayiman tertawa keras.


"Bilang aja kalau emang pengen pegang tangan Aunty." Gumamnya ikut membuat Daniza tertawa geli. "Saiber Niz." Sambungnya.


"Saiber ? Apa itu ?" Tanya Daniza dengan kening yang mengkerut.


"Saingan berat." Jawab Ayiman masih dengan tawa geli di bibirnya.


Daniza ikut tertawa mendengar dua kata yang baru saja keluar dari bibir Abang nya. Ini pertama kalinya ia mendengar kalimat singkat dan menggelikan itu.


Ketiga orang yang terlihat seperti keluarga kecil bahagia itu melangkah masuk ke dalam restoran. Saat ketiga orang itu memasuki ruangan itu, seorang wanita cantik yang juga berhijab melambai ke arah mereka.


Daniza memalingkan wajahnya, menatap laki-laki yang juga tersenyum hangat ke arahnya.


"Kita ke sana." Ajak Ayiman.


"Siapa Bang ?" Tanya Daniza.


"Nanti aku jelasin." Jawab Ayiman masih dengan tatapan yang membuat hati siapa saja menghangat.


Daniza ikut tersenyum, lalu mengangguk patuh. Ia ikut melangkahkan kakinya menuju meja di mana wanita yang baru saja melambaikan tangan berada lalu duduk di sana.


"Kenalin Tan, ini adik aku Daniza." Ucap Ayiman.


Wanita yang sudah duduk di sana entah sejak kapan itu mengulurkan tangannya ke arah Daniza.


"Tania.." Ucapnya.

__ADS_1


"Daniza." Balas Niza sambil meraih tangan lentik yang sedang terulur ke arahnya.


"Kita makan dulu." Ajak Ayiman..


Daniza mengangguk, begitupun dengan gadis cantik yang bernama Tania itu.


Ayiman memesan makanan untuk mereka. Selang beberapa saat kemudian pelayan restoran yang bertugas di sana mulai menghidangkan berbagai macam menu di atas meja yang mereka tempati.


Daniza membantu Fatih memakan makanan, sedangkan Tania dan Ayiman juga mulai memulai makan siang mereka.


Beberapa menit berlalu, ketiga orang dewasa yang ada di sana masih belum mengeluarkan sepatah kata pun, dan hanya sibuk dengan makanan mereka masing-masing.


Hingga setelah pegawai restoran selesai membersihkan bekas makan mereka, barulah Ayiman memulai pembicaraan yang ingin ia utarakan kepada dua wanita yang ada di hadapannya.


"Abang akan menikah." Ujarnya.


Daniza masih diam. Seluruh keluarga sudah mengetahui perihal rencana pernikahan Ayiman, tapi mengapa lelaki ini kembali mengutarakan hal ini padanya.


"Abang akan menikahi Tania." Sambungnya lagi.


"Aku ikut bahagia Bang." Jawab Daniza tulus.


"Tapi semua ini tidak semudah yang aku pikirkan." Ujar Ayiman lagi.


"Maksud Abang ?" Kening Daniza mengkerut.


"Abang masih belum benar-benar menghapus rasa itu."


Daniza segera menoleh ke arah wanita yang nampak terlihat begitu tenang di hadapannya.


"Tania tahu soal ini." Sambung Ayiman.


"Lalu apa yang harus aku lakukan ?" Tanya Daniza.


"Bantu Abang menghapus semuanya." Pinta Ayiman.


Daniza menarik nafasnya dalam.

__ADS_1


"Aku akan bekerja di rumah sakit milik kelurga Papi yang ada di Singapura. Mungkin ini kesempatan buat Abang." Ujar Daniza.


Ayiman mencelos. Sesungguhnya ia tidak ingin melakukan ini, tapi ia tidak ingin mengecewakan banyak orang termasuk kedua orang tuanya tentang rasa yang tidak seharusnya ini. Tidak ada rasa cinta yang berat, selain cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Jadi kapan pernikahan Abang ?" Tanya Daniza.


"Secepatnya." Jawab Ayiman.


Daniza tersenyum tulus.


"Aku benar-benar ikut bahagia Bang. Maaf aku tidak bisa menjadi adik yang baik." Ucapnya.


Ayiman ikut tersenyum hangat, lalu mengusap kepala Daniza dengan sayang.


"Kamu sudah menjadi adik yang baik sampai akhir Niz. Maafkan Abang yang tidak bisa menjadi Kakak yang baik buat kamu. Sampai saat ini Abang masih menyimpan rasa yang tidak seharusnya seorang Kakak miliki untuk adiknya." Ucap Ayiman menimpali.


Tania menyentuh punggung tangan Daniza, lalu tersenyum hangat pada gadis yang masih di cintai oleh calon suaminya itu.


"Tenang aja, aku pasti akan buat dia bucin sama aku." Kekeh Tania.


Daniza pun ikut tertawa dengan kalimat yang baru saja di ucapkan oleh calon istri dari Abang sepupunya ini.


Setelah perbincangan yang berhasil membuat Ayiman merasa jauh lebih baik itu, semua orang berpisah di sana. Daniza mengajak Fatih pulang ke apartemennya, sedangkan Ayiman dan Tania kembali dengan mobil yang sama.


******


Awan hitam mulai menyelimuti langit kota Jakarta. Mungkin sebentar lagi hujan akan menyapa kota metropolitan ini. Kota yang mungkin sebentar lagi akan ia tinggalkan. Tidak hanya kota yang ingin ia tinggalkan, tetapi juga rasa yang masih mengendap di dalam dadanya pun ingin ia tinggalkan di kota dengan seribu kenangan ini..


Lari dari kenyataan ? Anggap saja begitu. Akan tetapi, berusaha melupakan sesuatu dengan cara pergi dari tempat yang menyimpan banyak kenangan, perlu di lakukan.


"Ini namanya kamu membiarkan putrimu lari dari masalah."


Kalimat keberatan dari sang Mami, saat Papinya mendukung keinginan nya untuk pergi sejenak dari kota ini kembali melintas di benak Daniza.


Pergi jauh, bukan berarti lari dari masalah. Ia memang berniat untuk menyelesaikan segala persoalan rumit ini terlebih dahulu, sebelum melangkah kan kakinya menuju kehidupan yang baru.


Mobil mewah milik Daniza sudah terparkir di area basemen apartemen. Gadis yang sebentar lagi akan berusia dua puluh lima tahun itu melirik bocah tampan yang sudah terlelap di dalam mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2