
Kediaman rumah mewah milik Arion sudah terlihat begitu sepi. Hanya tersisa Dira dan Arga yang ada di sana, sedangkan keluarga lain sudah berpamitan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Daren yang sudah rapi dengan perlengkapan shalat, masih menunggu Daniza yang sedang berada di dalam kamar mandi. Laki-laki yang terlihat begitu tampan dengan baju kokoh juga peci itu, terus mengelilingi kamar pengantin itu dengan debaran jantung yang semakin menggila.
Bingung ? Yah, sekuat apapun ia berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja di depan Daniza, tetap saja detakan jantung yang membuatnya gugup masih saja mengganggu.
Selang beberapa saat terdiam di atas ranjang dengan taburan kelopak mawar itu, Daren di kejutkan dengan bunyi pintu kamar mandi yang di buka perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada gadis yang tak lagi menutup kepalanya dengan hijab. Piyama berlengan panjang, nampak terlihat kontras dengan leher jenjang yang pertama kalinya terlihat. Rambut panjang lurus itu di ikat asal-asalan, membuat laki-laki yang sedang duduk di atas ranjang besar terdiam.
"Mau shalat sekarang ?" Tanya Daniza langsung menyadarkan Daren dari keterpanaannya.
"Sudah siap ?" Daren balik bertanya dengan raut wajah yang membuat Daniza kesal.
Daniza tidak lagi menanggapi, ia melangkah menuju ranjang, lalu meraih mukenah yang terlipat rapi di atas ranjang mewah itu.
Daren masih terus memperhatikan istrinya yang terlihat acuh dengan ledekannya beberapa saat yang lalu. Karena tidak tahan lagi melihat tingkah menggemaskan Daniza, Daren langsung menarik tangan istrinya itu hingga terjatuh di atas pangkuannya.
"Mas..." Protes Daniza. Namun, kalimatnya terhenti saat tangan Daren dengan begitu nakal nya bertengger di pipi nya yang semakin merona. "Jangan macam-macam ya Mas." Ancamnya, sontak membuat Daren tertawa keras.
"Macam-macam ? Seperti ini ?" Daren mencium pipi yang semakin merona itu dengan gemas.
"Mas aku laporin Bang Azam yaa." Ancam Daniza lagi semakin merona malu.
Daren masih belum melepaskan tubuh Daniza yang berada di atas pangkuannya.
"Azam memintaku agar cepat memberikan ponakan baru untuknya." Goda Daren.
"Mas..
Tok...Tok....
Ketukan pintu di kamar pengantin mereka, membuat Daniza segera menarik tubuhnya dari pelukan Daren, dan langsung melangkah cepat menuju pintu kamar mereka.
"Mami ?"
Daniza terkejut saat melihat Mami nya sudah berada di depan pintu kamar mereka.
"Kalian baru selesai shalat ya ? Maaf Mami mengganggu." Ucap Daniza.
__ADS_1
Daren melangkah mendekati Daniza, lalu menatap heran Mami mertuanya yang terlihat gelisah di ambang pintu kamar pengantin mereka.
"Kami baru mau shalat Mi." Jawab Daniza.
"Bang Azam punya masalah di rumah sakit." Ujar Danira pada putri dan menantunya.
"Ada apa Mi ? Apa yang terjadi dengan Bang Azam ?" Tanya Daniza khawatir.
"Mami juga ga tahu. Abang kamu minta kita ke rumah sekarang juga." Jawab Daniraa.
"Ya udah, Niza ganti pakaian dulu. Mami tenang ya, tunggu aja di bawa nanti Niza dan Mas Daren akan turun setelah bersiap." Jawab Niza.
Danira mengangguk, lalu berbalik dan meninggalkan kamar putrinya.
****
Di rumah sakit, gadis yang sejak tadi terisak dalam pelukan Aidar, seketika menghentikan tangisannya saat mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut laki laki yang baru ia temui hari ini.
"Saya ingin menikahi putri Bapak, tapi bukan Tiara. Saya ingin menikahi Trias." Ujar Azam yang kedua kalinya.
Tidak hanya Trias yang terkejut dengan keputusan Azam malam ini. Aidar tidak kalah terkejut dengan keinginan Aban nya yang ingin menikahi Trias, adik dari gadis yang ia cintai.
"Bang.." Protes Aidar.
"Kalau kamu keberatan, maka biarkan aku menikahi Tiara." Tegas Azam.
"Bang !" Aidar semakin kesal.
"Aku belum bilang setuju." Ujar Trias menimpali.
"Aku tidak butuh persetujuan kamu." Tegas azam.
Aidar menatap Azam heran. Ini bukanlah tabiat dari laki-laki yang menggantikan tanggung jawab Papi mereka. Entah apa yang membuat Azam menjadi seperti ini, ia pun tidak tahu.
Beberapa saat kemudian, pengacara yang sejak sian tadi berada di rumah sakit, memasuki ruangan itu bersama satu orang petugas urusan agama.
Tidak lama kemudian Danira dan Arion, di ikuti Niza dan Daren ikut memasuki ruangan itu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi ?" Tanya Arion pada kedua putranya.
Danira pun menatap bergantian pada dua laki-laki yang pernah menghuni rahimnya itu, dengan bingung.
"Azam akan menikah malam ini." Jawab Azam tenang. Gadis yang sejak tadi terisak dalam pelukan Aidar, kembali memeluk laki-laki yang ia percaya itu, dan menangis di sana.
"Aku harus gimana Mas ?" Tanyanya pada Aidar.
Azam tidak menghiraukan tangisan Trias. Ia bersiap dan duduk di samping ranjang di mana laki-laki paruh baya yang sedang sekarat, terbaring. Di depan Azam sudah terdapat pemuka agama yang di bawa oleh pengacara perusahaan beberapa saat yang lalu.
"Sebelum menikah, wajib adanya mahar." Ujar laki-laki dengan peci berwarna putih juga sorban yang melingkar di bahunya.
Azam mengambil dompet kulit yang ada di dalam saku jasnya. Hanya ada beberapa lembar uang yang ada di dalam dompet itu, beserta black card yang di buru oleh banyak wanita.
"Apa ini cukup ? Hanya ini yang ada di dalam dompet saya." Ujar Azam.
Danira melirik gadis yang masih terlalu muda, yang ada di dalam dekapan Aidar. Setelah itu ia melangkah mendekati Azam, dan perlahan melepaskan kalung kesayangannya untuk di jadikan mahar untuk gadis yang belum pernah ia temui.
"Ini kalung kesayangan Mami, karena ini hadiah dari Papi kamu. Mami percaya dengan gadis yang kamu percaya, untuk itu Mami mau menyerahkan barang berharga setelah cincin pernikahan kami ini." Ucap Danira.
Azam mengangguk. Ruangan itu seketika hening. Gadis yang masih berada dalam pelukan Aidar pun tidak lagi terisak. Semua orang yang begitu penasaran dengan apa yang terjadi malam ini, masih belum berusaha menanyakan apapun dan hanya mengikuti kemana takdir malam ini membawa mereka.
"Saksi ?" Tanya petugas itu lagi.
"Saya dari pihak pengantin wanita." Pengacara yang sejak tadi menjadi penonton di dalam ruangan itu menatap gadis yang juga menatap ke arahnya.
"Saya dari pihak laki-laki." Ujar Arion.
Danira tersenyum. Ia tahu, suaminya orang yang akan berpikir luas tentang segala hal. Terlebih Azam adalah putra mereka yang sama sekali belum pernah membuat mereka berdua kecewa.
"Kalau begitu, kita bisa mulai sekarang."
Azam mengangguk, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan laki-laki paruh baya di hadapannya.
Tidak lama kemudian, dua kalimat sakral yang langsung di iringi dengan kata sah, terdengar di dalam ruangan itu.
Trias kembali terisak, dadanya sesak. Ia tidak pernah mengira takdir akan membawanya sejauh ini. Kali ini bukan lagi Aidar yang menjadi sandarannya, tetapi gadis yang masih menjadi pengantin baru seperti dirinya.
__ADS_1