Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 203 Season 3


__ADS_3

Pagi yang indah menyapa di sebuah ruang rawat rumah sakit tempat Aira berada. Gadis itu terjaga dari lelapnya karena merasakan perih yang luar biasa di lengannya. Ia melirik sisi ranjang tempat Abizar terlelap semalam, namun, kosong. Ia lalu mengelilingi ruangan yang terlihat berbeda itu dengan matanya, tetapi tak mendapati siapapun di sana.


"Akkhh.. " Keluh nya saat mencoba bangkit dari atas ranjang. Ia melirik bagian lengan yang begitu nyeri, dan terlihat luka yang baru kemarin itu sudah mulai terlihat membaik.


"Di mana aku ?" Gumamnya bertanya entah kepada siapa. Selang beberapa saat, seorang laki-laki yang mulai mengisi hati dan pikirannya terlihat memasuki ruangan yang terasa asing itu dengan senyum hangat menentramkan jiwa sembari membawa nampan yang berisi satu buah mangkuk dan gelas berisi air putih menuju ke arahnya.


"Ngapain ?" Tanya Abizar cepat saat melihat istrinya sedang dalam posisi memaksa bangun dari atas pembaringan.


"Mau duduk sebentar, ga enak terus-terusan berbaring." Jawab Aira.


"Yah tunggu aku dulu, nanti luka kamu akan kembali terbuka Ra." Ujar Abizar sambil meletakkan nampan yang ada di tangannya ke atas nakas. Ia lalu menekan tombol yang ada di samping ranjang tempat Aira terbaring, dan perlahan kepala ranjang tersebut mulai terangkat.


Aira tidak lagi bersuara. Ia hanya melihat laki-laki yang begitu cekatan membantunya bersandar di bantal, lalu kembali meraih semangkuk bubur yang ada di atas nampan dan duduk di sampingnya.


"aaaa..." Abizar mengarahkan sendok berisi bubur ke arahnya. Aira masih bergeming, gadis itu hanya menatap heran wajah lelaki yang terlihat tampan di sampingnya.


"Makan dulu, kamu harus minum obat." Suara Abizar kembali terdengar.


Aira mengalihkan tatapannya sebentar lalu kembali menatap laki-laki yang masih saja menyodorkan satu sendok bubur ke arahnya.


"Aku bisa makan sendiri kok." Jawabnya gugup.


"Hari ini aku suapin, tunggu tangan kamu benar-benar sembuh dulu takutnya kamu pingsan lagi." Jawab Abizar.


"Aku di mana ?" Tanya Aira.


"Di rumah sakit. Ayo buka mulut kamu." Jawab Abizar masih sambil mengulurkan sendok ke mulut Aira.


"Rumah sakit mana ? Kok ruangannya beda ?" Tanya Aira lagi membuat laki-laki yang sedang memegang sendok mulai gemas dengan tingkah istrinya.


"Ayah dan Ibu pindahin kamu ke rumah sakit milik keluarga. Ayo buka mulut kamu, nanti kita bicara sambil makan biar ga keburu pingsan lagi." Jawab Abizar terkekeh.


"Aku pingsan ?


Cup....


Abizar mengecup bibir yang entah mengapa sejak tadi sangat susah di ajak bekerja sama.

__ADS_1


Cup...


Pipi yang sudah memerah karena aksinya, kembali ia kecup dengan hati-hati.


"Abizar..." Aira memprotes sambil memegang bibir yang baru saja di kecup oleh suaminya tanpa permisi.


"Bikin kesal aja. Ayo buka mulutnya, kalau ga aku cium lagi nih." Ancam Abizar membuat mata Aira membulat.


"Apa-apaan ancaman aneh seperti itu." Gumam gadis itu, lalu membuka mulutnya dan membiarkan sendok yang berisi bubur masuk ke dalam mulutnya.


"Abi...." Panggil Aura lagi.


"Aaaa.." Lelaki itu kembali menyodorkan setengah sendok bubur ke bibir Aira.


Meskipun kesal, Aira terpaksa membuka mulutnya dan kembali memakan bubur itu dengan perlahan.


"Aku sudah kenyang." Tolaknya saat Abizar kembali menyodorkan sendok berisi bubur ke mulutnya.


"Baiklah sepertinya sudah cukup. Sekarang waktunya minum obat." Ujar lelaki itu sambil beranjak dari sisi ranjang tempat Aira duduk.


Aira tidak lagi membantah. Ia melakukan apa pun yang di pinta oleh laki-laki yang kini sudah kembali dengan segelas air putih juga beberapa tablet obat di tangannya. Satu persatu, butiran obat tersebut berhasil pindah ke dalam tubuhnya. .


"Kapan aku di bawa kesini ? Kok aku ga ingat ?" Tanyanya lagi sambil menatap wajah tampan laki-laki yang sedang menatapnya dengan hangat.


"Bentar aku taruh gelas dulu." Ucap Abizar.


Aira mengangguk, lalu melepaskan tangannya dari lengan Abizar. Matanya masih belum terlepas dari tubuh tinggi yang terlihat sudah rapi dengan kemeja dan celana panjang itu.


Selang beberapa saat, Abizar kembali melangkah menuju ranjang, lalu ikut naik dan masuk ke dalam selimut yang sama.


"Sini aku peluk ?" Pinta Abizar.


Aira mengerutkan keningnya heran. Ia menarik kepalanya agar bisa melihat wajah laki-laki aneh yang kini sedang tersenyum ke arah nya.


"Pertanyaan aku belum kamu jawab loh." Ujarnya curiga.


Abizar tertawa geli..

__ADS_1


"Makanya ayo sini aku peluk, nanti aku jelasin." Pintanya sambil merentangkan tangannya agar Aira masuk ke dalam pelukan.


Aira masih bergeming. Gadis yang masih terlihat memucat itu hanya terus menatap wajah suaminya penuh curiga.


Karena tidak tahan lagi dengan tingkah Aira, Abizar segera menarik tubuh kecil istrinya itu dan masuk ke dalam pelukannya.


"Kamu ga sadarkan diri selama dua hari." Jawab Abizar.


"Kok bisa ?" Tanya Aira cepat.


"Mana aku tahu. Kamu nya aja yang sering sekali buat orang panik." Jawab Abizar masih sambil mendekap tubuh Aira dengan erat.


"Bohong." Ujar Aira tidak percaya.


Abizar tertawa lucu.


"Tapi aku benar-benar ga ingat kapan di bawa ke rumah sakit ini." Ucap Aira kemudian.


"Kan aku sudah bilang kamu ga sadarkan diri. Udah jangan di bahas lagi." Ujar Abizar.


"Tapi aku masih belum mengerti."


"Aku juga ngga tahu, dua hari lalu kamu tiba-tiba ga sadarkan diri. Bikin orang takut aja." Jawab Abizar. "Luka kamu masih sakit ?" Tanyanya lagi.


"Ah iya, tadi pas aku bangun rasanya nyeri banget kok tiba-tiba ilang yaa." Aira memaksa keluar dari pelukan suaminya lalu melirik ke arah lengan yang masih berbalut kain berwarna putih.


"Tadi kan udah minum obat." Jawab Abizar. "Ayo sini lagi." Sambungnya meminta agar Aira kembali ke dalam pelukannya.


"Jangan mau Aira, itu akal-akalan saja." Wanita cantik yang terlihat begitu anggun dengan stelan formal terlihat memasuki ruangan hingga membuat laki-laki tampan yang ada di atas ranjang mendengus kesal.


"Ngapain ke sini ? Ganggu pagi yang indah milik orang aja." Ujar Abizar kesal.


"Minggir, bikin sesak." Danira mendorong Abizar agar keluar dari ranjang di mana adik iparnya berada. "Gimana perasaan kamu Ra ?" Tanyanya kemudian tanpa menghiraukan tatapan kesal dari adik tampannya.


"Aku baik Kak, tadi agak nyeri tapi sudah baik-baik saja." Jawab Aira.


Abizar sudah turun dari ranjang lalu melangkah menuju sofa di mana Kakak iparnya, Arion sedang berada.

__ADS_1


"Alhamdulillah, aku senang dengarnya. Oh iya, kamu sudah bisa pulang ke rumah. Perawatannya biar nanti di lanjutkan di rumah aja, di sana jauh lebih aman. Aku sudah mengurus semua administrasi nya." Ujar Danira memberi tahu.


__ADS_2