
Daren mulai melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Daniza. Senyum hangat, juga debaran jantung di sertai hati yang lega masih menyelimutinya malam ini. Ia yakin Daniza tidak akan menolak lamarannya malam ini, terbukti saat ia mengatakan pernikahan mereka akan di langsungkan dua minggu mendatang, Daniza sama sekali tidak mengatakan kalimat keberatan akan hal itu.
Mobil dengan merek mewah itu melaju di jalanan yang masih terlihat lumayan ramai oleh kenderaan lain. Daren masih terus memasang wajah bahagianya di dalam mobil. Jika ada yang melihat ekspresi wajahnya di dalam mobil yang terus melaju di jalanan ini, mungkin saja akan mengira dirinya orang yang kurang waras.Terserahlah, yang pasti malam ini ia sangat bahagia. Bahagia karena berhasil mengungkapkan isi hatinya pada Daniza.
Berpuluh-puluh menit berbaur dengan kenderaan lain di jalanan Jakarta, kini mobil Daniza yang di kendarai Daren sudah memasuki gerbang rumah mewah milik kedua orang tuanya. Daren keluar dari dalam mobil itu masih dengan rasa yang membuncah di dalam dada. Tidak sabar, yah, ia sangat tidak sabar menanti pagi dan bertemu dengan dua orang yang ia cintai.
Pertemuan dengan Daniza hampir setiap hari terjadi. Bahkan di hari Minggu pun ia selalu bergabung bersama tiga laki-laki lain untuk memporak-porandakan apartemen Daniza. Namun, pertemuan selanjutnya berbeda dengan pertemuan sebelumnya saat ia berusaha membunuh perasaan yang ada di dalam dadanya. Kali ini ia akan bertemu dengan Daniza sebagai laki-laki yang akan berusaha menambah rasa yang sejak dulu sudah berada di dalam hatinya.
Sebelum memasuki rumah, Daren lebih dulu mengetik pesan singkat untuk Daniza untuk mengabari jika dirinya sudah tiba dengan selamat. Terserahlah jika Daniza menganggapnya sebagai laki-laki alay karena hal ini. Namun, ia ingin merasakan bagaimana rasanya mengirim pesan singkat hanya untuk memberitahukan hal seperti ini, sama seperti yang sering di lakukan oleh laki-laki di luar sana terhadap kekasih hati mereka.
"Selamat tidur gadis kecil semua orang. Mimpi yang indah." Gumam Daren saat melihat pesan singkat yang ia kirimkan tak kunjung berubah biru. Ia lalu menghubungi Azam yang sejak tadi terus mengamuk karena di abaikan olehnya, sambil melangkah masuk ke dalam rumah kedua orangtuanya.
Tidak banyak hal yang mereka bicarakan. Laki-laki posesif dan lucu itu, hanya ingin memastikan jika Daren sudah meniggalkan apartemen adiknya, sekaligus menekan kan jika Daren bukan lagi seorang kakak bagi adiknya, tapi seorang laki-laki. Untuk itu, mulai saat ini daren harus menjaga batasan itu. Kalimat penuh penegasan yang terus meluncur dari bibir Azam hanya di tanggapi oleh Daren dengan tawa geli.
"Bukannya kamu di lampung ? Bagaimana perkembangan hotel di sana ?"
Daren menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke asal suara yang baru saja memberinya pertanyaan beruntun.
Laki-laki paruh baya yang masih betah duduk di depan TV yang ada di ruang keluarga menatap putranya heran, sambil menunggu jawaban atas pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.
"Hotel baik-baik saja Pa. Om Akmal mengelolanya dengan sangat baik." Jawab Daren usai berpamitan dan mengakhiri panggilannya dengan Azam.
"Terus kenapa kamu sudah di Jakarta ? Bukannya besok baru pulang ?" Tanya Arga lagi.
Daren mengurungkan niatnya yang ingin segera beristirahat di dalam kamarnya. Ia membawa langkahnya mendekati sofa, lalu duduk di samping sang papa.
__ADS_1
"Daren melamar Niza Pa." Ucap Daren setelah beberapa saat terdiam duduk di atas sofa yang ada di ruang keluarga.
Arga terdiam mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir putranya. Ia tahu putranya memang berniat mempersunting keponakannya, tapi ia tidak tahu jika putranya akan secepat ini melamar gadis kesayangan banyak orang itu.
"Kamu sudah izin Om Arion ?" Tanya Arga.
"Daren sudah membicarakan banyak hal dengan Om Arion dan Tante Nira Pa, hanya saja keberanian untuk bercerita dengan Daniza baru timbul malam ini, itu pun karena Azam memaksanya. Makannya Daren sekarang berada di Jakarta. Daniza ingin pergi meninggalkan Jakarta, dan Azam tidak ingin hal itu terjadi." Jawab Daren.
"Jadi kamu melamarnya malam ini, hanya karena permintaan Azam, begitu ?" Tanya Arga mulai kesal dengan putranya.
"Ya enggaklah Pa. Papa tahu ini adalah hari yang Daren tunggu-tunggu. Hanya memang Daren terlalu takut jika nanti gagal menjadi seorang laki-laki buat Daniza. Daren sudah gagal menjadi kakak yang baik, dengan menyimpan perasaan ini terhadap Daniza, dan Daren tidak ingin kembali gagal menjadi seorang laki-laki untuk wanita yang Daren cintai. Untuk itu, Daren butuh waktu untuk memantapkan hati agar nanti tidak akan mengecewakan banyak orang." Jawab Daren panjang lebar.
Arga menarik nafasnya, apalagi melihat wajah tegas sang Papa membuat nyalinya menciut.
"Lalu bagaimana dengan Niza ?" Seorang wanita paruh baya tiba-tiba sudah berdiri tidak jauh dari sofa yang menjadi tempat duduknya bersama sang Papa.
Dira pun ikut tertawa dengan jawaban putranya.
"Tapi Daren akan tetap menikahinya dua Minggu lagi." Sambung Daren.
Dira menghentikan tawanya, lalu melangkah cepat menuju sofa di mana dua laki-laki kesayangannya berada.
"Fatih masih sama bersamanya ?" Tanya Dira.
Daren mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Jadi ini tujuan kamu yang terus mendekatkan Fatih dengannya ?" Tebak Dira.
Daren tersenyum, lalu kembali mengangguk.
"Bagaimana dengan Maya ? Apa dia tidak keberatan ?" Tanta Dira lirih. Sejujurnya, walaupun sempat membuatnya kecewa dengan kehamilan di luar nikah, Maya tetap saja memiliki tempat penting dalam keluarga. Gadis itu hanya terjebak dalam hubungan yang salah, namun sejatinya Maya adalah gadis yang baik.
"Maya tidak keberatan, justru dialah yang membicarakan tentang banyak hal dengan Daniza."Jawab Daren.
"Mama dan Papa ikut aja. Iya kan sayang ?" Dira menyentuh punggung tangan Arga dengan hati-hati.
Arga mengangguk.
"Jangan sakiti Daniza." Tegasnya kemudian. "Tidak ada rumah tangga yang tidak memiliki problem di dalamnya. Tapi setiap masalah yang datang, pasti akan selalu terselip solusi di dalamnya. Kita hanya perlu mencarinya." Ujar Arga lagi.
"Jangan bahas rumah tangga dulu Pa, Daniza masih menolak Daren." Ujar Daren sontak membuat Arga terbahak.
"Setidaknya kamu tidak pengecut seperti Papa." Arga menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Ga usah bahas masa lalu." Tegas Dira dengan mode jahatnya.
"Iya udah, ayo kita tidur." Bujuk Arga.
Daren hanya bisa melotot melihat sepasang suami istri paruh baya yang ada di hadapannya. Beberapa saat kemudian, dua sejoli yang tidak lagi muda itu beranjak dari atas sofa tanpa berpamitan dengannya.
"Dasar.." Daren tersenyum sambil menatap Papa dan Mamanya yang baru saja menghilang di pintu pembatas ruangan.
__ADS_1
"Aku sudah tiba, selamat untuk lamarannya. Semoga berhasil hingga ke pernikahan."