
Lamaran di siang bolong, lalu di lanjutkan dengan makan siang bersama telah usai. Jangan di tanya lagi apa jawaban Ayura saat melihat binar bahagia di mata Ayahnya. Sebagai seorang anak yang ingin selalu membahagiakan Ayahnya, Ayura merasa tidak memiliki alasan untuk menolak lamaran itu. Kini keduanya kembali melaju di jalanan Jakarta dengan menggunakan mobil Samudra. Laki-laki yang sejak tadi terus tersenyum penuh kemenangan, kini berganti dengan wajah serius. Terlebih melihat gadis yang terus saja bungkam sepanjang jalan, semakin membuat rasa tidak enak di hati Samudra semakin membesar.
"Kita harus bicara." Ujar Ayura pelan.
"Iya, kita harus bicara." Samudra menepikan mobilnya di depan sebuah kafe yang tidak jauh dari perusahaan milik keluarga Prasetyo.
Masih dengan bibir yang tertutup rapat, Ayura keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk ke dalam kafe. Begitu pun dengan Samudra. Laki-laki yang sejak tadi terus memperhatikan gadis yang sedang lesu itu, ikut keluar dan melangkah masuk ke dalam kafe.
"Kok mojok sih, kamu ga lagi ajak aku pacaran di siang bolong kan ?" Tanya Sam sembari membawa tubuhnya dan duduk di hadapan Ayura.
"Aku lagi males bercanda yaa." Ujar Ayura.
Samudra tertawa.
"Jangan terlalu serius Ra, ga enak liatnya." Ucapnya.
"Huaaaa....." Ayura menangis kesal sambil menenggelamkan wajahnya di atas meja.
"Hei kamu kenapa ? Jangan seperti ini Ra, ga enak di liat orang." Ujar Samudra ketakutan bercampur lucu. Laki-laki itu melirik beberapa meja yang di tempati para pelanggan.
Ayura sudah mengangkat wajahnya, dan menatap Samudra dengan mata yang berair.
"Bersihkan ingus kamu." Samudra mengulurkan tempat tisu yang ada di atas meja ke arah Ayura. "Ih jorok banget sih." Sambungnya saat gadis yang beberapa jam yang lalu terlihat garang, kini berubah menjadi gadis konyol dan menyedihkan.
"Aku jorok loh, kamu tetap mau nikah sama aku ?" Tanya Ayura dengan mata berkaca.
Samudra mengangguk yakin, dan kembali membuat Ayura menangis.
"Bang Ayi pasti senang banget karena gagal jadi pengangguran." Ucap Ayura di sela-sela tangisannya.
Samudra tidak lagi bisa menahan tawanya. Entah kemana perginya gadis judes yang ia temui beberapa jam yang lalu. Tidak ada lagi tatapan garang yang terus saja tertuju padanya. Kini hanya ada tatapan memohon dengan mata berkaca yang ia lihat di mata Ayura. Gadis judes yang tidak segan memukuli bos perusahaan besar, kini sudah menjadi gadis manis yang menggemaskan.
__ADS_1
"Jangan menyentuh kepalaku, kita belum mahram." Ucap Ayura masih dengan isak tangis yang membuat Samudra tertawa geli.
"Baiklah maafkan aku." Samudra menarik kembali tangannya yang bertengger di atas kepala Ayura yang tertutup hijab.
"Bang Ayi pasti senang banget karena mendapat sekretaris baru." Ucap Ayura lagi.
Samudra masih tersenyum geli. Dia tidak pernah menyangka gadis garang yang ia temui pagi tadi, bisa berubah menggemaskan secepat ini.
"Ya udah, kan belum hari ini Ra. Jadi kamu masih punya banyak waktu untuk menjadi adik diktator buat Bang Ayi." Ujar Samudra sambil terkekeh geli. Terlebih melihat Ayura segera menghentikan tangisnya.
"Tapi siapa Ra ? Kenapa kamu ganti-ganti nama aku ?" Wajah garang dan diktatornya sudah kembali.
"Ya elah, baru aja di bilang manis udah kambuh aja pahitnya." Gumam Samudra. "Aku mau panggil kamu dengan nama Yura, lebih cantik seperti orangnya." Ujar Samudra.
"Kamu ga dengar, Mama kamu dan Ibu aku terus saja membicarakan pernikahan. Aku ga punya banyak waktu lagi." Ayura menghentikan kalimatnya saat seorang pelayan datang mengantarkan dua gelas minuman ke meja mereka. "Malah bahas-bahas tentang cucu lagi, aku sekolah sampe luar negeri jadi ga berguna kalau kayak gini." Gadis itu kembali menangisi nasibnya.
"Hei, ibu itu adalah madrasah terbaik untuk anak-anak nya, jadi seorang ibu wajib punya pendidikan yang tinggi." Ujar Samudra.
"Kamu boleh meminta waktu sebanyak yang kamu mau. Kita bisa berteman dulu, saling mengenal mungkin." jar Samudra lagi.
"Kamu serius ? Aku kalah taruhan loh." Ucap Ayura pelan.
Samudra tertawa.
"Aku main-main aja tadi. Kalaupun aku kalah, kita akan tetap menikah. Taruhan itu ga ada hubungannya sama rencana yang sudah Allah susun dengan baik di Lauh Mahfuz, Ra." Ujarnya.
Ayura terdiam. Benarkah ? Apakah laki-laki yang ada di hadapannya ini benar-benar berpikir seperti kalimat yang baru saja ia dengar.
"Mau dengar cerita tentang hidup aku ?" Tanya Samudra saat Ayura terdiam sambil menatap lekat wajahnya.
"Boleh ?" Tanya Ayura ragu-ragu.
__ADS_1
Samudra kembali tertawa geli.
"Tentu saja. Tapi bukan hari ini, nanti setelah waktu mu di perusahaan berakhir. Ayiman mengabari aku, jika untuk saat ini dan beberapa Minggu ke depan, dia masih membutuhkan adiknya." Ujar Samudra.
Ayura tersenyum lalu mengangguk. Ini pertama kalinya setelah pertemuan lagi ini, Samudra melihat bibir tipis itu tersenyum.
"Ayo aku antar pulang." Ajaknya.
Ayura pun mengangguk. Keduanya lantas beranjak dari kursi. Ayura sudah lebih dulu keluar dari dalam kafe, sedangkan Samudra masih melangkah menuju kasir untuk membayar minuman yang di antar kan oleh pelayan tadi.
****
Jika di kediaman Abizar lamaran dadakan berjalan dengan lancar, berbeda di kediaman Danira, kakak sulungnya.
Beberapa saat yang lalu, Daniza baru saja tiba di kediaman kedua orang tuanya, bersama Fatih tentunya. Setelah bertemu dengan Aidar dan membicarakan banyak hal mengenai lamaran Daren padanya, kini Daniza memilih untuk pulang ke rumah, dan meminta pendapat dari kedua orang tuanya.
Sejatinya, setiap rumah tangga tidak selalu berjalan mulus. Pasti akan ada masalah yang datang menghampiri. Akan tetapi, seberat apapun masalah yang sedang di hadapi, jika kita mendapat banyak dukungan dari keluarga maka akan semakin terasa ringan pula masalah tersebut.
Untuk itu, ia datang dan menemui Mami dan Papi nya untuk meminta pendapat pada dua orang berharga itu mengenai kehidupan yang akan ia jalani selanjutnya.
Setelah membantu Fatih membersihkan diri, dan beristirahat di dalam kamarnya semasa kecil, Daniza kembali melangkah keluar untuk menemui Mami dan Papinya yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Niza ga jadi pergi Pi." Ucap Daniza memulai percakapan.
Arion tersenyum hangat pada putrinya.
"Mami senang kamu memilih untuk tetap di sini." Jawab Danira..
"Jika Niza menerima lamaran Mas Daren, menurut Mami gimana ?" Tanya Daniza.
"Semua keputusan ada di tangan kamu. Tidak ada yang salah dengan pernikahan kalian. Dan Mami tidak perduli dengan omongan orang di luar sana. Akan tetapi, semua kembali lagi padamu. Karena kami hanya sekedar memberi dukungan, dan yang merasakan semuanya adalah diri kamu sendiri." Jawab Danira.
__ADS_1