
Seiring dengan kata sah berhasil di ucapkan oleh dua orang saksi yang ada di dalam ruangan itu, saat itu pula hembusan nafas terakhir seorang laki-laki paruh baya yang sedang terbaring di atas ranjang pasien, berhembus.
Trias semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Daniza, saat orang-orang yang ada di ruangan itu menggumamkan kalimat yang menandakan seseorang telah kembali pada pangkuan sang maha kuasa.
"Yang kuat Trias." Bisik Daniza pelan. "Tenang saja, Allah mengambil salah satu keluarga mu, tapi ia tidak membiarkan kamu sendirian dengan cara menghadirkan kami dalam hidup kamu." Sambung Daniza.
Trias masih terisak lirih. Entah apa yang sedang Allah rencanakan untuk hidupnya, yang pasti ini begitu membuat dadanya sesak.
Setelah dokter memastikan kematian laki-laki paruh baya yang ada di sana, Danira mengajak Niza dan menantu baru nya untuk keluar dari ruangan itu dan membiarkan Azam dan yang lainnya mengurus jenazah.
Aidar melangkah mendekati Trias, lalu menyerahkan ponselnya pada gadis yang sudah resmi masuk ke dalam keluarga mereka.
"Mbak dimana ?" Tanya Trias saat ponsel milik Aidar sudah menempel di telinganya.
"Aku masih di jalan Tri. Bapak gimana ?" Tanya Tiara di ujung sana. Trias mengusap air mata yang kembali menetes membasahi pipinya.
"Bapak sudah baik-baik saja. Mbak hati-hati ya, aku tunggu di rumah." Jawab Trias.
"Jangan bohong sama aku. Bapak ga mungkin baik-baik aja, kalau Aidar berani bentak aku kayak gitu."
Mendengar suara serak di ujung ponsel yang masih melekat di telinganya, Trias menekan dadanya yang terasa semakin sesak.
"Bapak sudah baik-baik aja. Beliau ga akan merasa sakit lagi. Mbak hati-hati ya, kami tunggu di rumah. Assalamualaikum.."
Trias segera mengakhiri panggilan itu, walaupun suara di ujung sana masih terus memanggil namanya.
****
__ADS_1
Segala pengurusan administrasi rumah sakit telah di selesaikan oleh orang suruhan Azam. Sedangkan jenazah dari Bapak mertuanya siap untuk di bawa pulang ke rumah.
Seluruh keluarga melaju di jalan yang sama, tapi di dalam mobil yang berbeda. Arion dan Danira mengendarai mobil Azam, karena putra tertua mereka itu harus menjaga jenazah di dalam mobil ambulance. Sedangkan Aidar mengendarai mobilnya sendiri bersama Trias untuk menuntun jalan menuju kediaman keluarga Trias.
Di dalam mobil ambulance, Azam menatap tubuh yang sudah tertutup kain berwarna putih itu dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Entah pa yang terjadi dengannya hari ini, hingga sampai tidak menggunakan logika untuk membuat suatu keputusan besar dalam hidupnya.
"Apa anda pergi dengan tenang ?" Gumamnya.
Azam melepaskan jas yang melekat di tubuhnya, lalu menggulung lengan kemeja putih yang melekat di tubuhnya agar lebih leluasa bergerak. Mobil ambulance yang ia tumpangi mulai memasuki lingkungan pemukiman yang begitu padat penduduknya.
Meskipun hidup di lingkungan deretan perumahan elite di sepanjang usianya, Azam tidak lagi terkejut mendapati lingkungan seperti ini. Yah, manusia berjalan di atas tanah yang sama, tetapi dengan jalan cerita yang berbeda.
Namun, apapun itu semuanya nampak sama di mata sang khalik. Saat kita datang menghadap pada-Nya nanti, pasti akan kembali ke tempat di mana awal kita terbentuk yaitu tanah.
Walaupun hidup dengan kemewahan yang mengelilingi mereka sejak di lahirkan, Azam dan adik-adiknya tidak pernah memandang orang lain, berbeda.
Setelah petugas yang rumah sakit yang mengendarai Ambulance sudah membuka pintu ambulance tersebut, Azam keluar lebih dulu. Perlahan ia melangkah dan mendekati gadis yang baru beberapa waktu yang lalu resmi menjadi istrinya, kemudian memakaikan jas hitamnya untuk menutupi blouse berwarna pink yang melekat di tubuh gadis itu.
"Mbak Tia.." Tegur Niza saat melihat wanita yang beberapa kali bertemu dengannya turun dari mobil yang baru saja sampai.
"Niz, kenapa kalian di sini ?" Tanya Tiara.
"Itu Mbak, Bapak mertuanya Bang Azam baru meninggal." Jawab Niza.
Tiara mengerutkan keningnya heran. Ia tidak lagi bertanya panjang lebar. Ia terus melangkahkan kakinya semakin mendekati rumah sederhana yang sudah ia tempati sejak kecil.
"Bapak..." Teriak Tiara dengan air mata yang mulai merembet keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Menangis lah, tapi jangan sampai air matamu menetes di jenazah Bapak." Ujar Azam memperingati.
Daniza menatap wanita yang terus terisak lirih di samping jenazah dengan hati yang mencelos. Sekecil inikah dunia yang mereka tempati, hingga tidak ada orang lain yang bisa menjadi bagaian dari keluarga. Mengapa takdir mereka hanya terus berputar dalam lingkaran kecil ini. Entahlah, ia pun bingung. Namun, itulah rencana dari yang maha kuasa.
"Ai..." Lirih Tiara saat melihat laki-laki yang baru saja memeriksa orang-orang yang bertugas menyiapkan liang lahat untuk laki-laki yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri sekian tahun lamanya.
"Ikhlaskan. Kamu yang paling tahu, jika ini adalah yang terbaik untuk Bapak. Sekarang beliau tidak akan merasakan sakit lagi." Ujar Aidar.
Tiara masih sesegukan. Benar, yang di katakan Aidar memanglah benar. Tapi tetap saja, kehilangan seorang Ayah yang selama ini menjadi penunjuk arah dalam hidupnya, sungguh sangat membuat hatinya remuk. Patah hati terhebat adalah kehilangan seorang Ayah, sungguh memang benar adanya. Kini ia merasakan bagaimana rasanya patah hati di tinggal oleh cinta pertama dalam hidupnya.
"Dunia tak selebar daun kelor, sepertinya aku mulai meragukan kalimat itu." Ujar Daniza masih menatap empat orang yang berada paling dekat dengan jenazah.
Daren mengusap kepala istrinya dengan sayang.
"Bukan dunia yang selebar daun kelor, tapi takdir kita hanya selebar daun kelor. Siapa yang akan menyangka jika Azam yang keluar dari rumah dengan wajah gelisah tadi, harus berakhir dengan sebuah pernikahan." Jawab Daren.
Daniza mengangguk.
****
Seluruh proses berjalan dengan lancar. Tetangga-tetangga yang masih terus menjaga kebiasaan gotong royong, dengan cepat menyelesaikan persiapan pemakaman jenazah.
Arion pun tidak tinggal diam, laki-laki paruh baya yang masih terlihat lebih muda dari usianya itu, membayar orang-orang agar semuanya di persiapkan dengan sangat baik.
Karena memang tidak ada lagi sanak saudara yang perlu di tunggu, maka jenazah segera di kuburkan malam itu juga. Kini rumah sederhana itu sudah kembali sepi. Daniza dan Daren sudah berpamitan untuk pulang lebih dulu, karena Dira dan Arga akan kembali ke kediaman mereka dan tidak ada orang yang akan menjaga Al Fatih.
****
__ADS_1
*NoteAuthor
Karena udah ngantuk, banyak banget typo 🙏😂