
Daren melangkah keluar dari ruang kerjanya. Namun, saat sudah berada di lobi hotel, langah kakinya terhenti karena melihat satu sosok wanita yang ia kenali sedang berada di sana. Ia menatap wanita yang menjadi istrinya selam kurang lebih delapan tahun itu dengan bingung. Pasalnya yang ia tahu, Maya tidak lagi berada di Indonesia seja hari pernikahannya dengan Daniza. Dengan langkah ragu, Daren mendekati Maya yang sedang duduk di kursi tunggu lobi hotel miliknya.
"Kok ada di sini ?" Tanya Daren.
Maya yang entah sedang melihat apa di layar ponselnya segera berpaling, lalu tersenyum pada laki-laki yang sudah berbaik hati membuat dirinya menjadi wanita yang jauh lebih baik selam pernikahan mereka.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Fatih, ga apa-apa kan ?" Maya menatap Daren dengan raut wajah memohon.
"Kamu Ibu yang telah melahirkan nya, tapi aku juga harus menghargai Ibu yang saat ini sedang merawatnya. Kamu boleh ke rumah Mama, dan bertanya langsung pada Daniza. Kalau begitu aku tinggal."
Daren ingin segera melangkah keluar dari dalam lobi hotel miliknya, tetapi tangan Maya segera menahan tangannya dan membuat langkah kakinya kembali terhenti.
Tanpa berlama-lama, Daren segera menarik tangannya dari genggaman Maya, kemudian menatap wanita yang ada di hadapannya, dengan bingung.
"Apa yang kamu lakukan di sini ?" Tanya Daren. Kali ini tidak lagi selembut biasanya. Ayolah, ia masih ingin menikmati umur panjang, dan belum ingin di bunuh oleh sang Papa karena ketahuan bertemu mantan di luar rumah.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Al Fatih, Mas. Tolong izinkan aku." Ujar Maya memohon.
Daren semakin kebingungan. Apa yang terjadi dengan mantan istrinya ini hingga melakukan hal seperti ini.
"Tidak ada orang yang melarang mu bertemu Fatih, Maya. Tapi jangan di tempat kerja ku. Akan menimbulkan fitnah nanti, dan aku tidak mau kehadiran mu akan membuat Daniza sedih." Tegas Daren.
Buliran bening mulai berjatuhan membasahi pipi Maya. Wanita itu sesegukan karena kalimat tegas yang baru saja meluncur dari bibir Azam. Selama pernikahan, Azam selalu memperlakukan dirinya dengan baik, walaupun tidak ada cinta di antara mereka.
"Aku bisa ikut kamu ke rumah Tante Dira ga ? Aku benar-benar ingin melihat Fatih, Mas." Mohon Maya.
"Maafkan aku Maya. Kamu boleh ke rumah ketemu Fatih kapan pun kamu mau, tapi pergilah ke sana tanpa aku. Aku ga mau Daniza salah paham, lalu terluka." Ujar Daren.
Maya semakin sesegukan. Menyesal ? Sepertinya begitulah yang ia rasakan kini. Seharusnya ia mau menerima ajakan Daren dulu untuk berusaha menghapus rasa untuk orang lain, dan membangun rumah tangga mereka bersama-sama.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku benar-benar menyesal karena tida menerima ajakan kamu untuk benar-benar berusaha membangun rumah tangga yang sebenarnya." Lirih Maya.
Daren terdiam. Apa yang sedang terjadi dengan mantan istrinya ini hingga berani melakukan ini.
"Aku harus pergi. Dan jika kamu ingin bertemu Fatih, datang dan minta izin langsung pada Daniza." Ujar Daren berpamitan karena tidak ingin lagi berlama-lama di sana.
"Jadikan aku wanita kedua, ga apa-apa Daren. Kita pernah jadi sahabat kan, dan kamu pernah berbaik hati membawa ku dalam hidup kamu. Bisakah aku meminta nya lagi ? Aku janji ga akan sampai membuat Daniza terluka."
Kalimat panjang lebar yang kembali meluncur dari bibir Maya semakin membuat Daren terperanjat. Di ujung ruangan, Daniza mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Wanita yang sedang menggenggam jemari mungil putra nya itu, berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan, menguatkan kakinya yang terasa mulai lemas berdiri sembari melihat pemandangan yang begitu menyesakkan dada.
Daren belum menyadari jika wanita yang ingin ia jaga perasaannya sudah berdiri tidak jauh dari tempat dirinya dan Maya berada. Bahkan mungkin, wanita yang baru beberapa hari lalu resmi menjadi istrinya itu, mendengar semua percakapannya dengan sang mantan istri siang ini.
Daniza menarik nafasnya dalam-dalam untuk menekan jiwa bar-bar nya agar tidak menggila di tempat kerja Daren. Ia sudah mempersiapkan diri untuk hal seperti ini, namun, tetap saja masih membuat hatinya kesal. Entah apa mau dari mantan istri suaminya ini, hingga begitu lancang datang dan menemui suaminya di tempat kerja.
"Jika aku tahu Mbak Maya masih mengharapkan Mas Daren, aku ga akan pernah menerima lamaran itu, sekali pun dadaku meledak karena menampung rasa cinta yang begitu besar untuk nya." Ujar Daniza tenang. "Mbak, barang yang sudah Mbak buang, ga pantes Mbak pungut lagi. Mbak lupa kalau Mbak langsung yang datang ke rumah dan meyakinkan aku untuk bersama Mas Daren. Dan lihatlah sekarang, Mbak bermohon-mohon di depan suami orang untuk menjadi wanita kedua dalam hidupnya." Sambung Daniza pelan.
"Niz.." Daren meraih tangan Daniza. "Kita ke ruangan ku yuk." Ajaknya dengan lembut.
Daniza mengangguk patuh sambil menatap wajah Daren dengan mata berkaca.
"Kamu juga harus ikut aku." Ujar Daren lagi, kali ini ia sudah menatap wajah mantan istrinya dengan kesal.
Melihat mata Daniza berkaca seperti ini, membuat hatinya seakan ikut di remas kuat. Inilah yang ia takutkan untuk memaksakan diri membawa Daniza dalam hidupnya. Ia takut sudah gagal menjadi seorang kakak yang baik untuk Daniza, dan akan gagal lagi menjadi seorang suami.
Sofa mewah yang ada di dalam ruang kerja daren nampak begitu sepi. Bocah laki-laki yang masih mengenakan seragam sekolah, masih saja menempeli wanita yang baru beberapa hari ini ia panggil dengan sebutan Ibu.
"Maafkan aku Niza." Ujar Maya.
Daniza masih diam. Sejujurnya ia prihatin melihat Maya yang seperti ini. Tapi ia juga kesal saat mendengar kalimat Maya yang ingin menjadi wanita kedua dalam hidup Daren.
__ADS_1
"Kenapa Mbak melakukan ini padaku ?" Tanya Daniza masih dengan ekspresi wajah dingin tak bersahabat, dan itu semakin membuat Daren khawatir.
"Aku ga tahu lagi harus ke mana Niz. Axel punya wanita lain di luar negeri, dan aku tidak ingin menjalani rumah tangga seperti itu." Jawab Maya.
"Itu bukan lagi urusan ku, Maya. Kamu tetap jadi Ibu kandung Fatih, tapi aku tidak berkewajiban membantu mu. Daniza lebih penting dari apapun, bahkan hidup ku sendiri." Tegas Daren kesal. Jadi ini yang menjadi alasan Maya datang dan meminta dirinya untuk menjadikan mantan istrinya ini wanita kedua. Sumpah demi apapun, ia tidak akan mau melakukan kesalahan yang akan membuat keluarga besar mereka retak.
Sebelum memberanikan diri melamar Daniza, kedua orang tuanya sudah berulang kali mengingatkan hal ini. Daniza adalah anak kesayangan seluruh anggota keluarga, termasuk dirinya sendiri.
"Maafkan aku Niz, aku benar-benar ga tah harus melakukan apa lagi. Aku sendirian." Lirih Maya.
Niza menatap Daren, dan langsung mendapat gelengan kepala dari suaminya itu.
"Aku bisa membantu mu Mbak, asal jangan ambil Mas Daren dari ku." Ucap Daniza.
Daren mencelos, tanpa berpikir ada putra dan mantan istrinya di sana ia segera membawa Daniza ke dalam pelukan.
"Aku akan menukar apapun hanya agar tetap bersama mu Niz. Bahkan hidup aku sendiri tak jauh lebih berarti dari pada kamu." Mohon Daren sambil mengecup puncak kepala Daniza berulang kali.
Maya hanya bisa tertunduk dalam. Seharusnya sebelum datang dan menemui Daren di sini, ia sudah berpikir tentang bagaimana besarnya cinta Daren untu Daniza. Bahkan saat mereka masih berstatus sebagai suami istri pun, Daren akan rela berlama-lama di depan apartemen Daniza hanya agar bisa melihat wanita ini.
"Aku pulang, maafkan tindakan bodoh ku hari ini. Aku senang Fatih baik-baik aja bersama kalian."
Suara Maya mengurai pelukan Daren di tubuh Daniza.
"Maafkan aku juga Mbak. Maaf aku benar-benar tidak mau berbagi cinta Mas Daren dengan siapapun." Jawab Daniza.
Maya berusaha tersenyum, kemudian mengangguk. Bodoh, sangat bodoh ia berani datang dan meminta sesuatu yang mustahil pada Daren.
Tidak lama kemudian, Maya berpamitan untuk pergi dari sana. Fatih yang juga berada di ruangan itu, hanya terdiam sambil menatap kepergian ibu kandungnya.
__ADS_1