Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 279 Season 4


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Dua hari yang selalu di nantikan Ayiman, akhirnya tiba. Hari pernikahan, sekaligus hari pertunangan adiknya, Ayura. Semua orang yang ada di kediaman Prasetyo nampak begitu sibuk untuk persiapan menuju hotel empat diadakannya acara hari ini. Begitu pula dengan orang-orang yang ada di rumah lain di tengah kota Jakarta, semuanya tidak kalah sibuk untuk mempersiapkan diri masing-masing menuju hotel di mana acara akan di gelar.


Berbeda dengan Tania, gadis cantik itu memilih untuk lebih dulu berangkat ke hotel, dan meminta MUA yang sudah di booking olehnya, agar merias dirinya di kamar hotel saja.


Pagi yang indah sekaligus mendebarkan bagi Tania. Gadis itu Napak cantik dengan kebaya yang selalu membuatnya menangis setelah memilih pergi beberapa hari yang lalu. Rambut hitamnya yang panjang, sudah di sanggul dengan begitu indahnya. Seorang penata rias nampak begitu hati-hati, mengusap wajah cantik Tania dengan peralatannya.


Beberapa saat kemudian, wanita yang di panggil Mami oleh seisi rumah, mendorong pintu kamar hotel yang sudah di dekorasi itu, dengan perlahan. Tania tersenyum sambil melihat wanita cantik dengan terusan panjang juga hijab yang membalut wajah teduh itu, dari cermin yang ada di hadapannya.


"Masih lama ?" Tanya Danira.


"Sebentar lagi, Nyonya." Jawab penata rias itu.


Beberapa saat kemudian, wanita lain yang akan segera di panggil dengan sebutan ibu olehnya, ikut masuk ke dalam kamar. Tania tersenyum saat melihat wanita cantik yang sedang tersenyum kearahnya.


"Cantik banget anak Ibu." Ujar Aira.


Tania tersenyum. Benar-benar hari yang begitu membahagiakan untuknya. Selama ini ia hanya ingin memiliki kehidupan yang sedikit lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Namun, lihatlah betapa mudahnya sang pencipta, hingga memberikan banyak hal yang begitu baik dalam hidupnya hari ini.


Bukan hanya kehidupan layak yang ia inginkan selama ini, di kabulkan oleh sang maha kuasa, tetapi di berikan keluarga yang utuh sebagai pelengkap hidupnya. Tidak lupa pula seorang lelaki baik yang mungkin saat ini tengah menunggu dirinya di bawah sana.


"Akad nya belum di mulai, Ra ?" Tanya Danira pada adik iparnya.


"Sebentar lagi Kak. Kata Pak penghulu, sekalian kalau Tania sudah selesai bersiap. Mobil kami belum lama juga kok nyampenya." Jawab Aira.


"Mami kapan tiba ?" Tanya Trias yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi di dalam kamar pengantin.


"Belum lama kok." Jawab Danira. "Kamu pakai kamar mandi pengantin ?" Tanyanya kemudian.


Trias mengangguk.


"Tapi Tri ga sampai merusak kelopak mawar nya kok." Jawabnya bersemu.


"Apa-apan kamu tuh, ngomong kelopak mawar aja sampai merona begitu." Ledek Danira.

__ADS_1


Trias semakin merona, terlebih melihat senyum jail di bibir Mami mertuanya.


"Nanti Mami siapkan paket bulan madu deh." Ujar Danira lagi, dan semakin menambah rona merah di pipi Trias. "Biar kamu dan Azam segera memberikan cucu buat Mami. Kangen banget pengen meluk bayi." Kekeh Danira.


"Ngga perlu bulan madu, Tan. Mereka rajin banget cetak cucu buat Tante." Tania menimpali.


"Hanya beberapa hari tinggal di rumah Tante Nira, kamu cepat ketularan mesum yaa." Ujar Aira membuat orang-orang yang ada di dalam kamar pengantin itu tertawa.


"Ga apa-apa kan, Bu. Biar cepat kasih cucu buat Ibu." Jawab Tania.


Aira tersenyum sembari mengaminkan kalimat yang baru saja keluar dari bibir calon menantunya. Anak adalah anugerah sekaligus penguat dalam ikatan pernikahan.


****


Trias ikut melangkah keluar dari dalam kamar pengantin, saat dua wanita paruh baya yang tadi sedang berada di dalam kamar, sudah mengapit Tania menuju lantai bawah. Namun, tiba-tiba tangannya di genggam oleh seseorang, dan di tarik menjauh dari tiga wanita yang hendak melangkah menuju lantai bawah.


"Mas, ngapain di sini ?" Tanya Trias berbisik saat tubuhnya sudah di tarik menuju kamar lain yang ada di hotel itu.


"Jatah pagi ini ga sempat kamu kasih." Rengek Azam. Bola mata Trias membola.


"Iyalah." Jawab Azam cepat.


"Tapi kan di bawah ada acara, Mas. Ngga enak nanti Mami cariin aku, gimana ?" Tanya Trias memelas.


"Habis acara nanti, di hotel ini." Ujar Azam.


Trias mengangguk dengan wajah merona.


Cup....


Kecupan mesra yang tidak pernah di lupakan Azam, mendarat dengan sempurna di atas bibir Trias yang terlihat menggoda pagi ini. Setelah kecupan singkat itu, Azam segera keluar dari dalam kamar hotel itu, sambil menggenggam erat tangan Trias.


Belum sebulan mereka bersama, tetapi Trias mulai terbiasa dengan perlakuan Azam seperti ini. Lak-laki yang menikahinya secara mendadak ini, seakan tidak pernah lupa menggenggam tangannya saat mereka berjalan bersama. Mengecup bibirnya saat ada kesempatan, dan masih banyak kebiasaan yang mungkin bagi kebanyakan orang terlihat begitu manis untuk usia Azam yang terbilang sudah sangat dewasa.

__ADS_1


"Kalian dari mana ?" Tanya Tia berbisik pada adiknya. Senyum geli nampak terlihat jelas di wajah cantiknya saat melihat Rina merah di wajah adiknya, juga sedikit lipstik yang menempel di bibir Azam.


"Dari pagi aku nemanin Tania di sini, Mbak. Makanya ga datang bareng rombongan keluarga." Jawab Trias.


Masih dengan senyum geli, Tiara mengangguk. Sedangkan Azam yang tadi menggenggam tangan Trias, berpamitan pada istrinya itu untuk menemui beberapa rekan bisnis yang nampak hadir di ballroom hotel tempat berlangsungnya acara.


"Kalian ga pake kamar pengantin lebih dulu kan ?" Tanya Tiara setelah Azam berlalu dari tempat ia dan adiknya berada.


"Maksud Mbak ?" Tanya Trias kebingungan.


"Lipstik kamu nempel di bibir Bang Azam." Jawab Tiada tertawa geli.


Trias terkejut, gegas wanita yang masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri itu, beranjak dari tempat duduknya untuk mencari keberadaan Azam sebelum semuanya terlambat.


"Mau kemana ?" Tahan Tiara di tangan adiknya.


"Mau nyari Mas Azam, Mbak. Kasian nanti dia di ledek sama teman-temannya." Jawab Trias khawatir.


"Tuh liat." Tunjuk Tiara di kerumunan orang-orang yang sedang meledek Azam.


Trias kembali terduduk lemas di atas kursi yang tadi ia duduki. Wajahnya memerah menahan malu, terlebih tatapan jail dari Mami mertuanya di ujung sana, kini tertuju padanya.


"Aku senang kamu di kelilingi oleh orang-orang baik ini." Bisik Tiara di telinga adiknya. Gadis itu kemudian mengusap kepala yang kini sudah tertutup hijab, dengan lembut.


Trias tersenyum dengan mata berkaca.


Beberapa saya kemudian, suara dari pembawa acara memenuhi ruangan yang sudah di dekorasi dengan indah itu. Memberitahu jika acara sakral yang di tunggu-tunggu oleh semua orang yang ada di dalam ruangan itu, akan di mulai.


Di depan sana, Ayiman yang nampak terlihat rupawan dengan jas berwarna putih, sudah bersiap di depan penghulu. Sedangkan Tania pun tidak kalah cantik dengan kebaya yang begitu mewah, duduk dengan hikmat di samping Ayiman.


Beberapa saat kemudian, suara petugas urusan agama yang menggantikan wali dari Tania mulai melafazkan kalimat ijab dengan begitu fasih sudah memenuhi ruangan, dan langsung di sambut dengan suara tegas Ayiman dengan kalimat kabul yang sudah ia hafal di luar kepala nya selama beberapa hari ini.


Kata sah, juga teriakan Aidar dan anak-anak keluarga Prasetyo yang hadir, ikut memeriahkan suasana di ruangan itu. Riuh tepuk tangan saat cincin pernikahan berhasil tersemat di jari keduanya, terdengar dengan jelas di dalam ruangan mewah itu.

__ADS_1


Semua akan berakhir bahagia. Perbaiki saja niat kita, maka Allah pun akan mempermudah segalanya.


__ADS_2