Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 280 Season 4


__ADS_3

Resepsi pernikahan yang langsung di lanjutkan dengan acara pertunangan Ayura, di gelar dengan begitu megah dan meriah. Seluruh keluarga nampak hadir di sana. Tidak hanya keluarga besar Prasetyo yang terlihat di sana. Keluarga Hermawan pun seakan tidak ingin melewatkan hari bahagia, yang biasanya mereka gunakan untuk bersilaturahmi di sela-sela kesibukan.


Jika di hari-hari biasanya, mereka akan kesulitan mencari waktu berkumpul seperti hari ini.


"Tes, tes..."


Tatapan semua orang yang ad di dalam ruangan itu, segera tertuju ke arah di mana suara berasal.


"Mohon perhatiannya sebentar." Ujar laki-laki yang kini sudah berdiri di atas panggung tempat yang biasanya di gunakan oleh pembawa acara.


Tiara yang juga mendapatkan undangan khusus sebagai bagaian dari anggota kelurga Prasetyo, segera menoleh. Ia sangat mengenal suara mengesalkan ini, dan benar saja laki-laki yang yang sering kali membuat mulutnya lah karena mengomel, sedang berdiri dengan penuh wibawa di atas panggung.


"Hari ini aku ingin meminta bantuan kepada kalian semua. Ada seorang gadis yang aku seka sejak masih kuliah, eh tidak sejak gadis itu masih remaja." Komar ragu-ragu Aidar sontak membuat para tamu undangan yang hadir di sana, tertawa. "Aku sudah melamarnya berulang kali, tapi dia selalu menolak lamaran ku." Sambung Aidar.


"Itu berati dia mencintai laki-laki lain." Daren yang sejak tadi tertawa geli, menjawab kalimat menyedihkan dari adik iparnya.


"Mas, kamu ih jahat banget. Kata itu do'a loh." Protes Daniza.


Tidak jauh dari tempat Daniza berada, Tiara terdiam. Ia tahu gadis yang di maksud Aidar itu adalah dirinya. Sejak beberapa tahun ini, hanya dirinya yang menjadi sahabat dekat sekaligus gadis yang berulang kali di lamar oleh laki-laki yang masih terus bercerita di atas panggung.


"Aku sudah mengenalnya... Aduh,, aduh,, Mami sakit." Aidar meringis kesakitan saat telinganya di tarik dengan keras menuju Tiara.


"Payah banget sih, masa iya mau lamar gadis harus minta bantuan orang lain." Omel Danira masih terus menarik telinga putranya menuju gadis yang sudah terdiam di tempat duduknya.


"Nih, pake ini." Danira mengambil satu tangkai bunga yang menjadi dekorasi di dalam ruangan itu.


Tiara semakin tercengang. Jika sudah seperti ini, apa iya ia akan memukul kepala laki-laki yang kini sedang berlutut di hadapannya, seperti biasanya ? Mana mungkin !


"Nikah sama aku ya." Ucap Aidar memohon. "Kamu ga kasian kalau aku jadi perjaka tua." Aidar masih memelas sambil bersimpuh di atas lantai di hadapan Tania.


Orang-orang yang ada di sana tertawa geli mendengar kalimat Aidar.


Tania terdiam, tatapannya masih tertuju pada laki-laki yang sedang memasang wajah memelas di hadapannya.


"Aku lelah seperti ini, Tia. Mau ya ? Aku memaksa." Tiara tertawa.

__ADS_1


Gadis yang mengenakan gaun panjang, dengan rambut yang di biarkan tergerai itu tersenyum, lalu mengambil bunga yang ada di depannya.


"Yes..." Aidar berteriak kegirangan..


"Aku belum jawab loh." Ujar Tiara.


Semua orang yang ada di sana seketika tertawa. Wajah girang Aidar seketika berubah mengenaskan.


Tiara pun ikut tertawa melihat wajah mengesalkan itu. Beberapa saat kemudian Tiara mengangguk, mengiyakan permintaan Aidar. Seberapa banyak ia menolak, tetap saja hanya akan ada Aidar dalam hidupnya sejak dulu hingga kini.


"Nikah malam ini ya, mumpung kita lagi di hotel biar sekalian, aduh... Aku bercanda.." Aidar mengusap-usap kepalanya yang baru saja di pukul oleh calon istrinya. Yes, calon istri bukan lagi sahabat ya guys. Untuk para jomblowan yang terjebak dalam nyamannya ikatan persahabatan, cobalah untuk memberanikan diri seperti Aidar. Sepertinya Aidar bukan berani, tapi tida tahu malu. Penolakan Tiara tidak membuat semangat untuk menghalalkan hubungan persahabatan itu, patah.


Megah dan meriah. Seluruh keluarga diliput kebahagiaan yang tak terhingga. Tanggung jawab untuk mendidik dan menjadikan anak-anak yang luar biasa, berhasil di lakukan oleh ketiga bersaudara itu.


Tidak ada yang lebih penting di dunia ini, selain menjalani hidup dengan bahagia bersama orang-orang tercinta. Bagi keluarga itu, harta yang berlimpah hanyalah sebagai pelengkap, namun, yang paling utama adalah bisa menjalani hidup dengan nyaman dan bahagia bersama orang-orang tercinta.


****


"Mas, nanti Mami cariin aku." Ujar Trias memelas, karena setelah resepsi pernikahan Ayiman usai, Azam segera menariknya menuju lantai atas.


Setelah dua orang itu sudah memasuki lift, Trias segera memeluk lengan kokoh yang begitu nyaman.


"Aku terlalu senang bisa jadi bagian dari keluarga kalian, Mas." Ujar Trias masih sambil memeluk lengan kokoh Azam.


Azam tersenyum.


"Aku senang mendengarnya, itu berarti aku tidak gagal menjadi seorang suami."


"Mas Azam, nanti orang liat." Protes Trias saat tubuhnya sudah terangkat dalam pelukan Azam. Wanita itu menyembunyikan wajah di dada suaminya. Malu, tentu saja. Di hotel ini tidak hanya ada mereka berdua, tapi suaminya ini melakukan hal kekanakan seperti ini.


"Buka." Perintah Azam setelah mereka berada di depan pintu kamar hotel.


Trias membuka pintu kamar itu. Pasrah ? Yah, apapun yang akan ia lakukan, dirinya pasti akan tetap terjebak di sini. padahal ia masih sangat ingin bergabung dengan keluarga besar yang ada di lantai bawah. Bagaimana ia bisa berkenalan dengan keluarga yang lain jika selalu di kurung di dalam kamar seperti ini. Benar-benar sudah gila laki-laki ini.


Trias mengusap wajah tampan yang kini sedang berada di atasnya. Senyum manis terlihat di bibirnya, saat satu kecupan manis mendarat.

__ADS_1


Dan malam ini, ketika pengantin baru masih berbaur dengan keluarga besar yang masih berkumpul di lantai bawah, pengantin lama justru sedang asik melakukan ritual indah ala pengantin baru.


****


"Mas Azam mana, Mi ? Kok ga keliatan ?" Tanya Alfan sambil mengedarkan pandangannya mencari Abang nya itu.


Danira terkekeh. Ah putranya itu, diam-dia pohon ubi, tetapi berisi.


"Jomblowan ga boleh nanya-nanya." Jawab nya.


Alfan cemberut di katai jomblowan oleh sang Mami.


"Pacar kamu mana, Fan ?" Tanya Ayiman sombong.


Alfan mendengus. Apa kini hanya tinggal dirinya yang akan menikmati kesendirian bersama game online di ponselnya ? Terserahlah, malas mikirin kejonesannya.


"Bang Azam sama Mbak Trias kemana, Mi ?" Kali ini Daniza yang sedang membantu Al Fatih makan kue, bertanya.


"Di toilet mungkin." Jawab Danira acuh. Namun, dalam hatinya ia sedang tertawa, terlebih ingatannya kembali mengingat wajah tampan yang datang meminta izin membawa menantunya beberapa saat yang lalu. "Dasar." Gumamnya geli.


"Kita nginap ya Niz, Fatih biar ikut Mama dan Papa pulan ke rumah." Bisik Daren memohon, tetapi langsung mendapat tatapan tajam dari Daniza.


"Jangan mulai ya, Mas." Tegasnya.


Wajah tampan Daren segera berubah cemberut.


"Jangan rusak malam pengantin orang." Ujar Ayiman kesal. Dasar si bucin Azam itu. Dia yang notabene sebagai pengantin baru masih duduk di ruangan ini, sedangkan si gila itu sudah lebih dulu menarik istri ke dalam kamar.


Semua orang yang ada di sana tertawa geli. Danira menceritakan ketika Abizar menikah dulu, dan malah dirinya yang menghabiskan malam panas bersama Arion.


"Padahal aku dan Aira ga ngapa-ngapain." Ujar Abizar kesal, dan kembali membuat orang-orang yang ada di sana tertawa.


"Sia suruh kamu ga melakukan apa-apa.Padahal kan sudah berada di dalam satu kamar, iya Kan Dir. Kamu juga menggunakan mlam pengantin Abi untuk mencetak Daren, kan ?" Tanya Danira dengan mulut mesumnya membuat Nadira mendengus kesal.


"Kalau ngomong di filter dong, Mi. Kasian putra ku." Protes Daniza sambil menutup telinga Fatih agar tidak tercemar dengan kata-kata tidak berfaedah dari nenek nya. Mami nya ini, memang suka sekali ceplas ceplos dengan kalimat mesum tanpa sensor.

__ADS_1


Danira mengusap lembut kepala cucunya, sambil tertawa geli.


__ADS_2