Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 263 Season 4


__ADS_3

Setelah kepergian Daniza dan suaminya, Trias kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum ia dan Mami mertua pergi ke rumah lama, untuk mengikuti tahlilan yang akan di langsungkan sore nanti.


Trias memilih duduk di tepi ranjang besar yang ada di dalam kamar itu sebentar. Debaran jantungnya masih menggila. Ini pertama kalinya ada seorang laki-laki yang mengecup pipinya.


"Sekarang kamu seorang istri, Tri." Gumamnya pada diri sendiri.


Setelah beberapa saat duduk di sisi ranjang mewah milik Azam, Trias beranjak dan masuk ke dalam ruang ganti untuk merapikan pakaiannya di sana.


Entah berapa lama waktu yang ia habiskan di dalam ruangan itu. Bukan hanya pakaiannya yang ia rapikan, tetapi pakaian Azam juga. Hingga beberapa saat kemudian, ia mendengar suara ribut-ribut di dalam kamar. Gegas ia keluar dari ruang ganti, untuk memeriksa apa yang sedang terjadi di dalam kamar tempat ia berada.


"Oke, pas. Makasih ya Mang." Ujar Danira pada dua orang yang baru saja membawa masuk meja rias ke dalam Azam.


"Mami." Ucap Trias.


Danira menoleh, lalu tersenyum pada menantunya.


"Mami mau antar meja rias ini, buat kamu dandan." Ujar Danira. "Bentar, pesanan Mami udah sampai." Wanita paruh baya itu kembali melangkah keluar dari dalam kamar.


Trias membiarkan Mami mertuanya itu melangkah keluar dari dalam kamar. Debaran jantung nya masih saja menggila, walaupun Tiara sudah menjelaskan banyak hal tentang keluarga ini tetap saja rasa takut dengan keluarga suaminya ini masih saja mengganggu. Beberapa saat kemudian, tatapan Trias tertuju pada satu buah meja rias yang bisa di pastikan sangat mahal harganya.


Seorang wanita yang mengenakan pakaian normal masuk ke dalam kamar, lalu di susul wanita paruh baya yang selalu saja membuatnya menahan nafas karena takut.


"Terimakasih ya." Ucap Danira lagi sebelum wanita yang membawa beberapa buah paper bag itu keluar dari dalam kamar menantunya.


"Ayo sini." Panggil Danira.


Trias mendekat dengan jantung yang terus saja berdetak kencang. Ah, setelah ini ia pasti akan masuk rumah sakit karena serangan jantung.


"Kamu suka ?" Tanya Danira.


"Ini punya siapa Mi ?" Tanya Trias.

__ADS_1


Danira seketika cemberut, membuat Trias melotot. Menggemaskan ? Yah Mami mertuanya sungguh sangat menggemaskan, eh.


"Punya kamu lah Nak, terus punya siapa lagi." Jawab Danira. "Kamu ngga suka ya ?" Tanyanya.


Trias melihat barang-barang mahal yang ada di atas lantai kamar.


"Suka kok Mi, tapi apa ga kebanyakan ? Tapi Tri ga biasa pakai make up seperti ini." Jawab Trias merasa bersalah.


"Nanti Mami ajarin. Ayo bantu Mami." Ajak Danira dan mulai memindahkan satu per satu barang yang ada di salah satu paper bag, ke atas meja rias.


Trias pun tidak lagi bersuara. Ia hanya melakukan apa yang di perintahkan oleh Mami mertuanya itu. Beberapa setel pakaian yang ada di dalam paper bag pun sudah berpindah ke dalam lemari yang ada di ruang ganti.


"Bersiaplah, kita harus pergi." Daniza mengusap kepala menantunya, kemudian melangkah keluar dari dalam kamar itu dengan senyum yang selalu setia bertengger di wajah cantiknya.


****


Di salah satu ruangan yang ada di gedung berlantai, Azam melirik ponsel yang ada di atas meja kerjanya. Berharap gadis yang meminta nomor ponselnya pagi tadi, akan menghubunginya. Namun, nihil. Sejak tadi hanyalah panggilan dari Daren yang selalu saja masuk.


Pagi yang sejuk mulai berganti siang yang panas di ibu kota Jakarta. Di pelataran gedung dengan puluhan lantai, sudah terparkir mobil mewah yang tidak asing lagi di antara para karyawan.


Mobil milik Danira sudah terparkir rapi di samping mobil Azam.


"Ayo keluar." Ajak Danira.


Trias menarik nafasnya dalam-dalam. Ia sudah tahu kemana Mami mertuanya ini membawa dirinya, tapi tetap saja ini membuat tulang belulangnya seakan tidak tersambung.


Sambil menjinjing satu buah paper bag berisi makan siang untuk Azam, Trias menguatkan dengkulnya keluar dari dalam mobil mewah itu, lalu melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan.


Sapaan hormat dari para karyawan yang ia dan Mami mertuanya lewati, membuat Trias semakin menciut. Takut ? Entahlah. Perasaannya campur aduk. Sungguh, hal yang mustahil jika pria setampan dan sekaya Azam, tidak memiliki wanita dalam hidupnya.


"Kamu harus membiasakan diri seperti ini. Jangan biarkan Azam mencicipi makanan yang di bawaan oleh orang lain. Seorang suami harus terbiasa memakan makanan yang di sediakan oleh istrinya." Danira mengusap lembut kepala Trias.

__ADS_1


Gadis dengan rambut terurai itu mengangguk paham.


"Jika ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, jangan sungkan. Kami semua adalah keluarga kamu." Ucap Danira memperingati.


"Baik Mami." Jawab Trias.


Dua wanita berbeda usia itu melangkah keluar dari dalam lift bersama.


Di ujung sana, seorang gadis berhijab yang sedang sibuk menatap layar komputer yang ada di hadapannya, segera beranjak saat melihat kedatangan Ibu dari atasannya. Dengan cepat gadis itu melangkah menuju pintu ruangan direktur dan memberitahukan kedatangan tamu di perusahaan hari ini.


"Mulai hari ini tidak perlu menyiapkan makan siang untuk Pak Azam." Perintah Danira pada wanita yang sedang menahan pintu rungan putranya agar tetap terbuka lebar.


"Baik Bu." Jawab gadis itu sopan.


Trias hanya bisa menelan ludahnya. Kisah hidupnya ini seperti kisah-kisah yang ada di dalam novel. Semoga saja tidak akan ada drama sekretaris cantik yang jahat padanya, karena dirinya sudah berani menikah dengan atasan mereka.


"Ayo masuk." Ajak Danira lembut.


Suara Mami mertua menyadarkan Trias dari lamunannya tentang kisah sedih istri seorang direktur perusahaan.


"Kok datang ga bilang-bilang." Azam sudah beranjak dari kursi kerja, lalu melangkah menuju dua wanita yang sudah berada di dalam ruangannya.


"Mami cuma mau temanin Trias kemari. Mami harus kembali karena Aidar sudah menunggu di rumah Tiara. Nanti kamu anterin Trias ke sana setelah bekerja nanti." Ujar Danira.


Jantung Trias ingin sekali melompat keluar dari tempatnya. Ingin sekali ia protes, tetapi mulutnya tidak mau di ajak bekerja sama.


"Mami berangkat lebih dulu, kamu berangkat sam Azam nanti." Ujar Danira pada menantunya.


Azam menatap istrinya yang baru saja mengangguk ragu.


"Temani aku makan siang, setelah itu kita akan langsung berangkat ke sana." Azam menipali.

__ADS_1


Danira mengusap kepala Trias sebentar, lalu meninggalkan gadis yang masih menutup mulutnya rapat-rapat itu di dalam ruangan putranya.


__ADS_2