Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 137 Season 2


__ADS_3

Alfaraz mendorong pintu kamarnya dengan keras, dan mencari sosok yang membuatnya gila hari ini. Tatapannya tertuju pada wanita yang kini tengah tersenyum manis di atas ranjang. Suara tangis yang membuatnya ketakutan tadi, tidak nampak terlihat di wajah cantik itu.


"Apa-apaan ini ?" Tanyanya kesal sambil melangkah menuju wanita yang ia tahu sudah mengerjainya habis-habisan pagi ini.


"Aaaa Al oke maafkan aku.." Mohon Yana saat tubuhnya sudah terlentang di atas ranjang.


"Ga akan aku maafin. Kamu tahu aku hampir mati ketakutan karena kenakalan kamu ini." Jawab Alfaraz. "Dan apa ini ? mau menggodaku di pagi hari. Apa jatah double entar malam sudah bisa di minta sekarang ?" Lingerie yang menempel di tubuh Yana sudah robek mengenaskan dan terjatuh begitu saja di atas lantai.


"Aku kesal, dan terimalah sampai siang nanti kamu ngga akan aku izinkan keluar dari dalam kamar." Sambungnya sambil menciumi apa saja yang bisa di gapai bibirnya.


"Tapi kita harus ke rumah sakit." Ucap Yana di sela-sela kekehan geli karena perbuatan suaminya.


"Aku ga percaya lagi sama omongan kamu." Bibir Alfaraz sudah menjelajah ke bagian favoritnya.


"Kita harus memeriksakan anak kamu." Ujar Yana, dan itu berhasil membuat Alfaraz berhenti. "Aku hamil." Sambung Yana lagi saat Alfaraz sudah menatapnya dengan lekat.


"Jangan mengerjai aku lagi." Wajahnya kembali terbenam di bagian tubuh kenyal istrinya yang hanya terbungkus kain berenda berwarna hitam.


"Aku ga bohong Al, aku positif hamil." Ucapnya di iringi ringisan kecil saat Alfaraz berhasil meninggalkan jejak kepemilikan di atas dadanya.


Alfaraz tidak lagi melanjutkan aktivitasnya, tapi ia tidak beranjak dari atas tubuh istrinya.


"Kamu ngga lagi ngerjain aku kan ?" Ucap Alfaraz pelan sambil menatap manik istrinya. Memastikan jika tidak ada kebohongan di mata indah itu.


"Aku akan jadi Ibu Al, aku benar-benar akan menjadi seorang Ibu." Lirih Yana sambil mengulurkan satu benda dengan dua garis di sana. "Kamu tahu selama tujuh tahun aku menanti waktu ini tiba, dan hari ini baru bisa terwujud." Sambungnya.


Alfaraz sudah menggulingkan tubuhnya di samping Yana, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh yang nyaris polos di sampingnya. Baru setelah itu ia meraih benda yang ada di dalam genggaman istrinya.


"Terimakasih." Ujar Alfaraz. Ia meraih tubuh Yana yang terbungkus selimut, lalu mendekapnya erat. "Terimakasih." Ucap Alfaraz lagi.


Sungguh, ia tidak tahu apa lagi yang harus ia ucapakan untuk kebaikan Allah hari ini. Setelah tiga tahun ia berharap dan berusaha membujuk Nara, tapi selalu saja mendapat penolakan dengan berbagai macam alasan. Namun, hari ini semua terwujud dan dengan orang yang berbeda. Ah mungkin Allah mewujudkan keinginannya bersama orang yang tepat.


Kecupan bertubi-tubi terus ia darat kan di seluruh bagian wajah Yana, sambil mengucapkan kalimat penuh cinta.


"Al sudah dong, kita harus ke dokter, aku mau tahu anak aku ini perempuan atau laki-laki." Ujar Yana antusias.


Alfaraz tertawa lucu.


"Masih sekecil ini belum bisa di lihat jenis kelaminnya sayang." Jawabnya.


"Gitu ya, padahal aku penasaran banget sama anak aku." Ucap Yana sedih.

__ADS_1


"Anak aku, anak aku. Anak kita Yana ! Memangnya kamu bikin sendiri, aku juga ikut andil dalam prosesnya." Protes Alfaraz.


"Iya anak kita. Eh, tapi gimana kan cuma satu."


"Maksudnya ?" Tanya Alfaraz tidak mengerti.


"Aku tidak ingin membaginya Al. Yang ini anak aku aja, nanti kita buat lagi, nah itu baru anak kamu." Jawab Yana.


Alfaraz kembali tertawa, lalu mengangguk mengiyakan sambil memeluk erat tubuh Yana.


"Baiklah, semua milik kamu. Kamu aja yang milik aku." Jawabnya.


"Ayo kita ke dokter." Ajak Yana.


"Lanjutin dulu, mumpung baju kamu sudah terjatuh di lantai."


"Mana bisa, aku belum memastikan bayi ini aman atau tidak. Kita tanyakan dulu pada dokter, bisa atau tidak." Tolak Yana.


"Kok gitu sih ?"


"Ya iya, kata Bunda gitu. Biasanya berhubungan badan di awal-awal kehamilan itu, sangat tidak di anjurkan. Sudah ah, aku mau pakai baju, tunggu di sini."


Yana beranjak dari atas tempat tidur sambil membungkus tubunya dengan selimut.


"Kamar mandi, kemana lagi." Jawab Yana.


"Jangan ke sana, langsung ganti baju aja." Alfaraz segera mengangkat tubuh Yana, dan membawanya ke dalam ruang ganti.


"Kenapa ?" Tanya Yana.


"Kamar mandi bahaya. Nanti kamu jatuh di sana." Jawab Alfaraz.


Yana menatap heran wajah Alfaraz, saat tubuhnya sudah terduduk di atas meja di dalam ruang ganti.


"Aku nonton di drama begitu. Banyak yang keguguran karena jatuh di dalam kamar mandi." Ujar Alfaraz menjelaskan sambil melangkah menuju lemari pakaian.


Yana sontak tertawa terbahak-bahak.


"Itu cuma akal-akalan dari penulis skenario Al. Ya ampun kamu lucu banget sih." Ucapnya sambil tertawa lucu. "Tanggung jawab yaa.."


"Tanggung jawab apa ?" Tanya Alfaraz sambil membawa satu buah dress yang baru saja ia ambil dari dalam lemari.

__ADS_1


"Tanggung jawab kalau aku semakin cinta." Jawab Yana lalu kembali tertawa.


"Berhenti tertawa." Satu kecupan mendarat di bibir Yana. Dan lelaki yang baru saja mengecup bibir istrinya itu, kembali melanjutkan apa yang ia lakukan.


Setelah satu dress panjang yang terlihat begitu cantik di tubuh Yana sudah terpasang rapi, Alfaraz segera membawa istrinya keluar dari dalam kamar.


Tujuan mereka hari ini adalah dokter kandungan. Ada banyak hal yang harus Alfaraz rencana kan, dan itu harus ia bahas dengan dokter terlebih dahulu.


****


Prang...


Barang yang ada di atas meja rias jatuh berhamburan bersamaan dengan kaca yang hancur karena hantaman ponsel mahal milik Nara.


Kamar mewah di sebuah apartemen tidak lagi berbentuk. Semua barang-barang yang ada di sana sudah berhamburan di atas lantai. Kaca yang menempel di meja rias sudah pecah, dan beling ikut berserakan di atas lantai kamar.


Nara masih terus meraung histeris. Tatapan tajam dan menusuk Alfaraz tadi, semakin menambah daftar luka yang sejak dulu sudah tergores di dalam hatinya.


"Benar kata Mama, mereka keluarga yang sangat jahat Ma. Mereka jahat padaku hari ini." Suara tangisan masih terus menggema di dalam kamar. Air matanya terus jatuh nyaris membuatnya tersedak.


Nara melangkah turun dari atas ranjang, darah yang keluar dari kakinya yang yang terkena beling, sudah mengotori hampir seluruh lantai kamar. Rasa sakit dari kakinya yang terluka, masih belum bisa menandingi sakit hatinya saat ini.


Ia melangkah menuju balkon kamar apartemen, dan bersiap untuk melompat.


"Mungkin kata Mama benar, rasa sakit akan terhapus jika kita sudah tidak lagi berada di dunia ini."


Namun, beberapa saat kemudian Nara kembali turun dari pagar pembatas, dan melangkah masuk ke dalam kamar.


Tidak, dia tidak akan mati sebelum memastikan keluarga arogan itu hancur.


Dengan kaki penuh darah, Nara naik ke atas ranjang lalu masuk ke dalam selimuti.


"Jika itu bukan aku, maka tidak akan aku biarkan siapapun menikmati bahagia bersama mu." Gumam Nara dari balik selimut yang sudah penuh dengan darah.


****


Entah jam berapa sekarang, Nara terjaga dari lelapnya. Mungkin bukan lelap tapi pingsnan. Wanita itu berusaha bangkit dari atas ranjang, lalu meraih gagang telepon untuk menelpon jasa pembersih.


Ia tidak boleh terpuruk, saat ini tidak ada yang bisa ia andalkan selain dirinya sendiri. Begitulah yang ad di dalam pikirannya saat ini.


Nara melangkah menuju kamar mandi, lalu membersihkan luka yang ada di telapak kakinya. Beruntung ada persediaan obat di dalam kamar mandi mewah itu. Dengan perlahan dia mulai mengobati satu persatu luka yang tertusuk beling, lalu menutup nya dengan plester.

__ADS_1


"Ah sial." Teriaknya saat perih begitu terasa di telapak kakinya.


Setelah semua sudah siap, Nara mulai mempersiapkan diri untuk menyusun rencana hidupnya ke depan.


__ADS_2