Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 88 Season 2


__ADS_3

Mentari pagi yang begitu hangat mulai terlihat di sela-sela gedung pencakar langit. Yana masih berkonsentrasi pada kemudi mobil sedan kesayangannya menuju perusahaan tempat ia bekerja.


Rumah tangganya sudah hancur, karirnya tidak boleh ikut hancur. Itulah yang ada di dalam otaknya saat ini. Masih ada seorang Ibu yang membutuhkan semangatnya, jadi ia tidak boleh terpuruk dengan masalah ini dan menghancurkan seluruh hidupnya.


"Terimakasih Pak." Ucap Yana sopan seperti biasa.


Lelaki paruh baya yang bertugas sebagai penjaga keamanan di perusahaan sudah menyambutnya dengan senyum hangat sembari mengulurkan tangannya untuk mengembalikan kunci mobil yang baru saja ia parkiran dengan baik.


"Sama-sama Bu Yana." Jawab lelaki itu.


Yana melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lobi perusahaan. Sapaan demi sapaan dari sesama karyawan, ia balas dengan baik seakan saat ini ia tidak memiliki masalah dalam hidupnya.


Yah, pintar-pintarlah mengatur segala keadaan, karena hidup ini tidak selalu tentang luka. Setidaknya saat rumah tangganya hancur, karir yang sudah sekian tahun ia bangun tidak ikut hancur.


"Selamat pagi Bu." Sapa Vivi sang asisten saat melihat Yana memasuki ruangan divisi keuangan.


"Pagi Vi, yang lain belum pada datang ya ?" Tanya Yana.


"Tadi sudah ada kok Bu, mungkin sedang sarapan di cafe kantor." Jawab Vivi sopan.


Yana mengangguk, lalu mendorong pintu kaca dan masuk ke dalam ruangannya.


"Vi." Panggil Yana ragu-ragu. Langkah yang hendak masuk ke dalam ruang kerjanya terhenti.


"Ada apa Bu ?" Tanya Vivi.


"Ikut saya sebentar ke dalam ruangan." Pinta Yana.


Gadis itu beranjak dari kursi kerjanya, lalu melangkah masuk ke dalam bersama atasannya.


Vivi masih berdiri di depan meja kerja Yana. Gadis itu masih menunggu perihal apa yang ingin di sampaikan oleh wanita baik yang terlihat ingin mengutarakan seuatu tetapi ragu ini.


"Em,, Vi kamu punya kenalan seorang pengacara ngga ?" Tanya Yana pelan.


Gadis itu menggeleng.


"Mau saya bantu carikan ?" Tanya Vivi.


"Enggak ngerepotin kan ?"

__ADS_1


"Tentu tidak Bu, kan sudah tugas saya membantu mengurus keperluan Ibu." Jawab Vivi.


"Terimakasih ya Vi, nanti kasih tahu saya kalau sudah ketemu." Ucap Yana. "Lanjutkan pekerjaanmu." Sambungnya.


Gadis itu mengangguk, lalu memohon undur diri keluar dari ruangan Yana untuk kembali melanjutkan pekerjaannya.


***


Alfaraz duduk dengan tenang di dalam ruangan private di salah satu restoran mewah di tengah kota Jakarta. Lelaki tampan itu sesekali melirik jam tangan branded yang melingkar di pergelangan tangan. Wanita yang katanya ingin menyelesaikan ingin bertemu dan menyelesaikan permasalahan mereka, masih belum juga terlihat.


"Maaf aku terlambat."


Suara lembut yang masih saja mampu membuat hatinya berdebar, sudah terdengar di pintu ruangan yang baru saja terbuka perlahan.


Alfaraz masih diam, ia tidak menyahut. Tatapannya masih tertuju pada gadis cantik yang kini menatapnya penuh kerinduan.


"Sudah lama ya Kak ?" Tanya Nara lagi.


Alfaraz menggeleng, lalu memalingkan wajahnya.


"Duduklah." Ucapnya dingin.


"Kita harus segera menyelesaikan ini." Sela Alfaraz cepat. Sungguh, melihat wajah sendu Nara, membuat hatinya seakan ikut di remas.


Nara melangkah lalu duduk di salah satu kursi tepat di hadapan Alfaraz. Gadis itu menarik nafasnya lalu kembali membuangnya.


"Aku ingin memulainya kembali Kak." Ucapnya memohon.


"Tidak ada kata memulai dari sebuah kisah yang sudah berakhir Nara."Jawab Alfaraz.


"Aku tidak pernah mengakhiri kisah kita Kak. Aku masih mencintaimu." Ujar Nara.


"Kamu sudah mengakhirinya, saat di mana kamu memilih Ibumu dari pada aku. Dan sekarang aku pun sudah memilih keluargaku dari pada kamu."


"Kak jangan lakukan ini padaku."


Nara masih memohon.


"Permisi."

__ADS_1


Suara seorang pelayan yang membawakan makanan, menghentikan pembicaraan mereka.


Alfaraz mempersilahkan dua pelayang itu masuk ke dalam ruangan dan menata makanan ke atas meja.


"Makanlah, kita akan lanjutkan pembicaraan setelah makan." Perintahnya


"Aku tidak lapar."


Nara melipat tangannya di dada, lalu menatap laki-laki yang kini dengan acuhnya mulai makan siang tanpa peduli apa yang ia rasakan saat ini.


Bermenit-menit telah berlalu, Nara masih menatap lekat wajah serius Alfaraz yang tengah menikmati makan siang.


"Aku masih ingin bersama mu Kak." Pinta Nara ketika melihat Alfaraz sudah mengusap lembut bibir usai meneguk setengah gelas air putih.


"Tapi kita tidak akan pernah kembali bersama. Aku mau bertemu hari ini, karena inggin menyelesaikan semuanya. Kamu bisa meminta apa yang menjadi hak kamu selama menjadi istriku, aku akan memenuhi nya." Ujar Alfaraz.


"Jangan seperti ini Kak. Tidak ada yang aku inginkan di dunia ini selain kamu." Ucap Nara memelas.


"Jika itu kamu katakan empat tahun lalu, mungkin saat ini keadaan kita berbeda Nara. Namun, saat ini semuanya telah berubah, aku sudah melangkah ke arah berlawanan. Kamu sangat tahu, aku rela di benci keluarga ku hanya agar bisa bersama dengan mu, tapi itu dulu dan kamu sudah mengabaikan semua pengorbanan ku."


"Tapi sampai sekarang aku masih istri kamu." Ujar Nara. Sungguh, ia masih belum ingin berpisah dari Alfaraz apapun alasannya. Hanya Al yang dia punya saat ini.


"Pernikahan kita sudah berakhir sejak empat tahun yang lalu. Secara agama, pernikahan kita sudah berakhir sejak tiga bulan kamu memilih mama kamu dan mengabaikan permohonan ku." Tegas Alfaraz.


"Kak Al mengertilah, saat itu aku hanya ingin melihat Mama bahagia tidak lebih."


Alfaraz menggeleng.


"Apapun itu, seharusnya kamu masih memikirkan pengorbanan aku yang rela di tinggalkan oleh keluarga hanya agar tetap bersama mu."


Nara tercekat, apakah ia salah ? yah,, ia sudah sangat bersalah pada lelaki di hadapannya ini. Namun, sungguh ia sangat mencintai suaminya ini. Entah sejak kapan cinta ini benar-benar tumbuh, ia tidak tahu. Yang pasti saat ini ia benar-benar menginginkan Alfaraz.


"Jika tidak ada lagi yang ingin kamu utarakan, aku pamit pergi." Pamit Alfaraz. Lelaki itu sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Kak Al." Tahan Nara di tangan Alfaraz.


"Aku harap setelah ini kita tidak lagi memiliki masalah apapun. Hiduplah dengan baik, aku pun ingin hidup dengan baik. Jika sudah menentukan apa yang kamu inginkan, hubungi aku biar pengacara keluarga ku akan segera mengurusnya." Ujar Alfaraz lalu dengan perlahan ia melepaskan genggaman tangan wanita yang masih mengisi hatinya ini.


"Kau ga mau apa-apa Kak, aku hanya mau kamu." Nara sudah tertunduk. Isakkan samar sudah terdengar dari bibirnya, namun, Alfaraz tetap melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Meskipun cinta ini masih sama besarnya seperti dulu, tapi ia tidak ingin salah lagi dalam memilih langkah. Pengalaman yang sudah ia lewati dulu, begitu memberinya banyak pelajaran. Jika hanya cinta yang menggebu, belum tentu mampu untuk di pakai melawan kenyataan. Terkadang, kita perlu mempertimbangkan banyak hal agar segala sesuatu yang akan datang bisa teratasi dengan baik.


__ADS_2