Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 61


__ADS_3

Siang yang begitu cerah, namun tidak dengan hati Farah. Gundah dan gelisah mulai mengganggu pikirannya. Berbagai pikiran buruk mulai kembali bersemayam di dalam otaknya.


Sekuat apapun ia mencoba untuk menepis segalanya, tetap saja ragu yang sudah terbentuk karena sikap abai Zidan selama ini, terus saja menghantui hati dan pikirannya.


Tidak ! Jangan lagi. Farah menjerit memohon di dalam hatinya. Semoga kali ini Zidan tidak akan lagi mengecewakannya. Semoga lelaki yang ingin ia jadikan tujuan terakhir hidupnya, tidak akan lagi menciptakan luka. Semoga kali ini, hati yang berulang kali salah memutuskan sesuatu, tidak akan kembali tersakiti. Semoga tidak akan ada lagi sesal yang akan menemani harinya.


Jalanan kota Jakarta yang tidak pernah sepi dari lalu lalang kenderaan, mulai mereka lewati perlahan. Mobil mewah milik Dimas, sang Ayah mertua semakin menjauh dari gedung perkantoran milik kelurga Prasetyo.


Gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di area perkantoran seakan ikut berjalan, kala mobil yang membawa mereka terus melaju perlahan.


Sopir keluarga yang selalu mengantarkan Anisa kemana-mana, terus berkonsentrasi dengan jalanan. Sedangkan Farah dan Anisa sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Pikiran mereka sibuk pada satu masalah yang sama, akan tetapi keduanya memilih tenggelam dalam kebisuan.


Anisa masih percaya jika Dimas akan melakukan hal yang baik hari ini, berbeda dengan Farah wanita yang saat ini tengah berbadan dua, mulai menciptakan pikiran buruk di dalam otaknya. Jangan di tanya lagi kenapa, kekecewaan yang ia rasakan selama pernikahan bukanlah waktu yang singkat. Empat tahun lamanya ia trus bertahan dalam luka, dan berharap kali ini tidak akan lagi merasakan hal yang sedang ia usahkan terkubur dalam-dalam.


Berulang kali meyakinkan hatinya, jika kali ini Zidan bisa ia andalkan, tetap saja logikanya yang seakan meledek keputusannya yang begitu mudah memaafkan, terasa semakin mengganggu.


Hingga mobil berhenti di depan sebuah restoran, dan membuat dua wanita dewasa itu tersadar dari pikiran mereka masing-masing.


"Bapak meminta saya untuk mampir ke Rumah Makan, karena Nona Farah belum makan." Ucap sang sopir menjawab wajah penuh tanda tanya dari dua wanita yang berada di bangku penumpang di belakangnya.


Anisa mengangguk mengerti


"Kita makan dulu Ra." Ajaknya.


"Bapak juga makan dulu." Perintahnya pada lelaki paruh baya yang sudah beberapa tahun ini menjadi sopir pribadinya.


"Farah ngga selera makan Bu." Ucap Farah.


"Kamu harus makan Nak, anak kalian membutuhkan nutrisi." Ujar Anisa.


Farah menatap lekat wajah Ibu mertuanya, ia baru berencana mengatakan kabar ini pada Ayah mertuanya di kantor tadi, tetapi tamu yang datang tanpa sepengetahuannya merusak semua rencana yang ia susun hari ini.

__ADS_1


"Zia sudah memberitahu Ibu tentang hal ini." Ujar Anisa menjawab pertanyaan menantunya. " Tenang saja, semu pasti akan baik-baik saja." Sambungnya berusaha meyakinkan Farah.


Farah akhirnya menurut dan ikut masuk ke dalam restoran. Seperti restoran-restoran pada umumnya, yang pasti akan banyak pelanggan di jam makan siang seperti ini. Ia memilih meja yang tidak jauh dari pintu masuk, sedangkan Alfaraz sudah berpindah ke pangkuan Eyangnya, saat seorang pelayan datang mendekat dan mulai mencatat semua pesanannya.


***


Rati tertunduk lesu, meskipun video itu di blur tetap saja orang yang mengenal dirinya pasti akan bisa mengetahui siapa yang ada di dalam video tersebut.


Nina sudah mengepalkan kedua tangannya, menatap keponakannya penuh amarah.


"Karena kebodohanmu ini, aku kehilangan Farah selama sebulan." Geram Zidan.


"Kita pulang." Ajak Nina tanpa berniat membahas apapun lagi dengan di laki-laki yang ada di dalam ruangan itu.


"Tante."


"Jangan lagi menambah masalah Rita." Bentak Nina.


"Kamu senang karena menghancurkan keponakanku ?" Kesal Nina saat melihat Dimas yang terlihat menghinanya.


"Kamu ngga salah ? Keponakan kamu yang berniat merusak dirinya sendiri. Ah tidak, tapi kamu yang merusaknya. Seandainya kamu tidak membawanya, dan mempengaruhinya untuk merusak rumah tangga putraku, mungkin saat ini Rita masih menjadi dokter yang hebat di Bandung." Jelas Dimas, agar wanita di hadapannya ini bisa membuka matanya, dan berhenti menyimpan dendam di dalam hatinya.


Nina segera menarik lengan keponakannya, tak lupa pula sebuah flash disk yang masih tertancap di benda lipat, ikut di tariknya keluar lalu memasukkan benda itu ke dalam tas tangannya, kemudian melangkah keluar dari ruangan Dimas.


Setelah kepergian dua wanita itu, Zidan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, lalu menghembuskan nafas lega. Ia berpikir masalah ini akan berlarut, namun ternyata Ayahnya sudah menyimpan sesuatu yang bisa membantunya keluar dari masalah menyebalkan ini.


"Semua sudah baik-baik saja, sekarang siapkan rumah baru kalian dan hiduplah dengan baik di sana." Ujar Dimas pada putranya.


"Terimakasih Yah. Terimakasih untuk segala yang Ayah lakukan." Ucap Zidan.


"Jika benar-benar berterimakasih, hiduplah dengan baik dan bahagia." Dimas tersenyum hangat. Lelaki paruh baya itu beranjak dari sofa, lalu kembali menuju kursi kebesarannya usai menepuk pelan bahu putranya.

__ADS_1


"Zidan masih butuh bantuan Ayah." Ujar Zidan.


Dimas menghentikan langkahnya, lalu menatap putranya yang terlihat ingin mengutarakan sesuatu padanya


""Zidan dan Farah sudah melihat Rumah, dan mau pindah besok ke sana. Tapi rumah itu masih kosong."


"Bodoh."


Zidan menatap Ayahnya yang baru saja mengatainya bodoh.


"Kamu siapkan sendiri, pilih sesuatu yang menurutmu paling baik agar istri dan anak mu nyaman di sana. Kamu yang harus menyediakan semuanya dengan sedetail mungkin, agar Farah merasa kamu menganggap nya wanita berharga." Ujar Dimas.


"Terimakasih Yah, tapi tetap saja Zidan butuh orang-orang yang harus membantu." Ucap Zidan penuh semangat.


"Kamu punya banyak bawahan, bawalah sebanyak yang kamu mau. Cepat selesaikan semua ini, Ayah ingin kembali menikmati waktu bersama Ibumu di rumah, dan bukan menghabiskan waktu di depan tumpukan kertas-kertas ini." Ujar Dimas dengan wajah kesalnya.


Zidan tersenyum, lalu mengangguk mengerti.


"Tentu Yah, dua hari lagi. Beri Zidan waktu dua hari lagi." Ujarnya.


Dimas kembali melangkah mendekati Zidan, lalu menepuk bahu putranya.


Usai berbincang sebentar masalah perusahaan bersama sang Ayah, Zidan keluar dari ruangan itu. Beberapa orang suruhannya sudah pergi terlebih dahulu menuju rumah baru yang sebentar lagi akan ia tempati bersama keluarga kecilnya.


Tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan. Serumit apapun masalah tersebut, pasti akan selalu ada jalan keluarnya.


Langkah kaki Zidan sudah keluar dari gedung perusahaan miliknya, lalu masuk ke dalam mobil yang ia bawa tadi.


Wangi tubuh Farah masih menguar di dalam mobil itu, membuat Zidan merutuki dirinya. Ia bergegas merogoh ponsel yang ada di saku celana, lalu menghubungi nomor yang selama satu bulan tidak berani ia hubungi.


Senyum di bibirnya kembali mengembang, ketika suara yang ia nantikan sudah terdengar di ujung sana.

__ADS_1


"Ternyata kontak ku masih tersimpan di ponselmu." Tebaknya meledek.


__ADS_2