Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 276 Season 4


__ADS_3

"Karena aku mencintaimu !"


Tania terdiam di tempat duduk nya. Tiga kata yang baru saja meluncur dari bibir Ayiman terus menari-nari di otaknya.


"Ayo kita menikah. Kali ini aku yang meminta nya, bukan karena perjodohan atau apapun itu. Aku mau kita tetap melanjutkan semua yang sudah kita rencanakan, dan hidup bersama hingga nanti." Ujar Ayiman dengan wajah serius, semakin membuat Tania shock.


"Ayi, aku ga mau bercanda. Pulanglah ke Jakarta, dan maafkan aku atas semuanya." Ujar Tania mulai ketakutan. Ayiman yang ia kenal sangat suka bercanda dan mengerjainya.


"Aku tidak bercanda, Tania. Jika kamu tidak ingin melanjutkan pernikahan ini, maka kamu harus membayar kompensasi atas waktu yang sudah aku buang percuma karena mempersiapkan pernikahan ini." Ujar Ayiman tegas. "Ah iya, aku yakin kamu sudah mendengar informasi tentang rumah milik majikan kamu di Jakarta, akan menjdi milik kami karena pelanggaran kontrak kerja." Sambungnya dengan nada meledek sambil tersenyum geli saat melihat wajah khawatir calon istrinya.


"Tapi Ayi, gimana caranya aku jelasin ke Tante Aira tentang siapa aku sebenarnya ? " Tanya Tania lirih. Sejujurnya, meskipun ia ragu dengan kalimat Ayiman yang mengatakan, mencintai dirinya, tetapi ada sedikit rasa bahagia juga, yang ia rasakan saat ini setelah mendengar kalimat itu.


"Ibu akan menjadi orang pertama yang akan mengerti kondisi kamu, yang terpenting beliau harus mendengarkan langsung dari bibirmu. Percaya padaku." Ujar Ayiman meyakinkan Tania. Ia sangat mengenal siapa wanita yang paling ia cintai itu, dan dari mana dirinya berasal. Yah, sang Ibu dengan wanita yang ada di hadapannya ini, hampir memiliki nasib yang sama. Sepertinya, Allah memang merencanakan semua ini, agar ia dan Tania akan menjalani kehidupan ini dengan lebih baik tanpa ada yang di sembunyikan di kemudian hari.


"Mau makan malam dulu ?" Tanya Tania ingin mengalihkan pembicaraan yang semakin membuat dadanya ingin meledak, karena jantungnya yang terus berpacu dengan cepat.


"Ngga usah, kita makan di jalan nanti." Jawab Ayiman.


"Terus makanan yang aku masak, gimana ?" Tanya Tania.


"Kasih aja ke tetangga, atau ga bagi ke orang-orang yang lagi nongkrong di pos sana. Aku ga bisa nginap di sini, bisa-bisa malam pertama kita langsung jadi padahal belum nikah." Jawab Ayiman ketus, yang justru membuat pipi Tania memerah. "Ayo sana beresin." Perintah Ayunan lagi.


"Iya, iya. Dasar !" Tanya beranjak dari tempat duduk dengan perasaan yang sulit di gambarkan dengan kata-kata. Bahagia sekaligus takut bercampur aduk di dalam hatinya.


Entah berapa lama waktu yang di habiskan Ayiman di dalam ruang tamu sederhana itu. Pandangannya mengelilingi ruangan itu dengan seksama. Tidak banyak barang yang ada di rumah sederhana itu. Hanya ada satu buah TV yang sudah di pastikan model lama, juga beberapa pigura kecil yang menggantung di dinding ruangan.


Setelah hampir bosan menunggu, gadis yang tadi berpamitan untuk bersiap, sudah berdiri di ruangan itu dengan kotak makanan juga tas kecil yang berisi barang-barang pribadinya.

__ADS_1


"Kita ke Jakarta pakai apa ?" Tanya Tania karena tidak melihat mobil mewah milik Ayunan di halaman rumah nya.


Tanpa berniat menjawab pertanyaan dari Tania, Ayiman segera meraih tas kecil yang ada di atas lantai lalu menarik tangan gadis itu keluar dari rumah menuju mobilnya.


"Bentar, Ayi. Aku tutup pintu rumah dulu."


Ayiman melepaskan pegangan tangan nya di pergelangan tangan Tania, dan membiarkan gadis itu untuk mebutup rapat-rapat pintu rumah lebih dulu.


"Ayi, kamu yakin Om Abi dan Tante Aira masih mau melanjutkan rencana pernikahan kita ?" Tanya Tania.


"Aku yakin, tenang aja." Jawab Ayiman, kembali menggenggam tangan Tania dan segera melangkah meninggalkan rumah sederhana yang baru dua hari ini di tempati oleh pemiliknya, setelah beberapa bulan di tinggalkan. "Asalkan kamu harus jujur tentang segalanya. Ibu adalah orang yang paling tidak suka di bohongi. Dan aku yakin, setelah mendengar penjelasan dari mu langsung, beliau akan menjadi orang yang paling dekat dengan mu nanti." Sambungnya membuat Tania sedikit bisa bernafas lega.


Tania tidak lagi menimpali pembicaraan itu. Sesekali ia melirik jemari nya yang sedang di genggam erat oleh Ayiman, sambil terus melangkah menuju mobil yang sedang terparkir di ujung sana.


Setelah berpamitan pada orang-orang yang sedang nongkrong di pos dekat mobil Ayiman terparkir, dua orang yang kembali diam mulai melaju meninggalkan daerah itu.


*****


"Setelah beberapa hari ga ketemu, kamu makin cantik aja ya, Ra." Goda Danira saat melihat adik iparnya memasuki ruang keluarga sambil membawa nampan yang berisi minuman untuk dirinya dan sang kakak. "Kalau aku jadi kamu nih, Bakal punya adik lagi tuh si Ayura." Ledek Danira lagi.


Ayura yang sejak tadi sibuk dengan pekerjaannya, seketika mendengus kesal.


"Udah mau punya cucu, Aunty. Ga usah aneh-aneh deh. Nanti Ayah benaran bakal buat adik untuk Ayu." Jawab Ayura kesal.


"Jadi gimana ? Anaknya Om Gio, tampan ga ?" Tanya Danira.


"Siapa ?" Tanya Ayura pura-pura bingung.

__ADS_1


"Samudra." Ujar Danira. "Gantengan mana sama Om Arion ?" Tanyanya lagi.


Ayura memutar bola matanya malas. Aunty nya ini memang selalu menghubungkan soal ketampanan dengan Om tampannya, eh.


"Gantengan Sam lah." Jawab nya meledek.


"Cie yang udah jatuh cinta.."


Kalimat Danira terhenti saat mendengar salam dari dua orang yang sedang melangkah masuk ke dalam ruangan di mana mereka tengah berkumpul.


Ayura tersenyum. Abang menyebalkan nya ini benar-benar di luar dugaan. Hanya dalam hitungan jam, laki-laki yang selalu menjadi korban amukannya ini berhasil membawa pulang gadis yang kabur.


"Hai Tania." Sapa Ayura.


Tania tersenyum membalas sapaan dari calon adik iparnya.


"Cie yang mau berjuang bersama.." Ledek Ayura, lalu segera menjauh dari ruangan itu. Ia sudah mengetahu tentang Tania, untuk itu ia memilih melanjutkan pekerjaan di ruang kerja Ayahnya.


Ayiman dan Tania sama-sama tidak menanggapi ejekan Ayura barusan. Laki-laki yang masih terlihat tenang itu, mengajak calon istrinya untuk duduk di sofa yang sama di mana keluarga nya sedang duduk.


"Mbok, tolong antar tas ini ke kamar Ayura." Pinta Ayiman sembari memberikan tas kecil berisi barang pribadi milik Tania kepada asisten rumah tangga ibunya.


Di atas sofa, Tania hanya bisa menautkan jemarinya. Tatapan penuh tanya dari empat orang yang sedang duduk di hadapannya, semakin membuat nya gugup.


"Tania datang kemari ingin menjelaskan sesuatu." Ucap Ayiman membuka percakapan.


Abizar sudah mengetahui siapa Tania. Namun, saat melihat kesungguhan putranya untuk melepaskan diri dari keponakannya, Daniza ia tidak lagi mempermasalahkan rencana Tania itu. Menurut nya, Ayiman dan Tania sama-sama sedang memanfaatkan hubungan itu untuk kepentingan mereka masing-masing. Jadi dalam hal ini, bukan hanya Tania yang ia anggap bersalah, tetapi putranya juga.

__ADS_1


Ia tidak lagi memperbesar masalah itu, karena memang kedua bela piha sama-sama di rugikan. Ayiman menggunakan Tania untuk bisa menjauh dari Daniza, sedangkan Tania menggunakan Ayiman untuk mendapatkan bayaran dari klien nya.


"Ceritakan apa yang sedang terjadi." Pinta Abizar. laki-laki yang terlihat begitu tenang tapi serius itu menatap calon istri putranya. JIka Ayiman ingin tetap melanjutkan pernikahan, maka gadis di hadapannya ini harus menjelaskan dengan detail siapa dirinya yang sebenarnya.


__ADS_2