
Mobil yang membawa Zidan dan keluarga kecilnya sudah berhenti di depan rumah yang mulai hari ini akan menjadi tempat tinggal mereka.
Zidan membuka pintu mobil di samping Farah dengan perlahan, lalu membawa putranya yang sudah terlelap di pangkuan sang istri, ke dalam pelukannya. Tidak lupa pula ia meraih tangan Farah, lalu mengajak istrinya itu masuk ke dalam rumah.
"Aku antar Al ke dalam kamar dulu." Pamit Zidan saat mereka sudah berada di ruang keluarga.
Farah mengangguk, mengiyakan. Sebelum Zidan berlalu dari ruangan itu, Farah lebih dulu mengecup pipi gembul putranya.
Langkah kaki Farah kembali menyusuri ruang keluarga, foto pernikahan mereka dengan ukuran besar sudah terpajang di sana. Apakah dia terlalu jahat sekarang ? Entahlah, yang jelas ia hanya ingin memiliki Zidan sendirian. Egois dan serakah, terserahlah orang memandang dirinya seperti apa, karena inilah yang ia inginkan. Tidak ingin hidup dalam kepura-puraan lagi, dan melukai diri sendiri. Ia ingin tersenyum karena bahagia, bukan karena tersenyum hanya untuk menutupi luka.
"Apa ini kamarku." Gumamnya di sertai langkah kaki yang mendekat ke arah pintu. Satu-satunya pintu kamar yang ada di ruangan itu, ia buka perlahan lalu melangkah masuk kedalam ruangan itu.
Yah ini kamar mereka, dan sudah ia lihat saat datang berkunjung kemarin. Namun, kini bukan lagi sebuah ruangan kosong, akan tetapi sudah berubah menjadi jauh lebih indah. Ranjang yang besar, juga sebuah meja rias sudah tertata rapi di ruangan itu.
Senyum kembali terlukis di wajahnya, satu buah foto dirinya terpampang di atas ranjang. Foto yang ia lihat tertata rapi di atas meja kerja Zidan, kini menggantung indah di atas kepala ranjang dengan ukuran besar.
Farah kembali melangkah, tangannya menyibak gorden yang menutupi kaca yang menjadi di dinding kamar itu dengan hati-hati. Ada taman kecil di luar sana, sayangnya belum ada apapun di sana. Biarlah, ia akan menanam banyak bunga di taman kecil ini agar terlihat jauh lebih indah.
"Kamu suka ?" Tanya Zidan.
Lelaki itu memeluk istrinya dari belakang, sambil ikut menatap keluar kamar.
"Aku suka, ini sangat nyaman." Jawab Farah.
Zidan mencium puncak kepal Farah berulang kali.
"Kamu tahu Ra, keadaan kita yang seperti ini sudah sejak dulu aku impikan." Ujarnya.
Farah menutup matanya rapat-rapat. Ia tidak menjawab, hanya menikmati hembusan nafas Zidan di kepalanya, dan juga usapan lembut di perutnya yang masih rata.
Tidak hanya Zidan, ia pun memimpikan ini sejak dulu. Saat Nadia datang menawarkan sebuah kebahagiaan untuknya, hal inilah yang ia harapkan. Namun, sepertinya jalan untuk mencapai impian itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Ada banyak air mata yang ia curahkan. Luka di hati karena sikap abai, juga kecemburuan yang nyaris membuat hatinya mati rasa, menjadi temannya selama empat tahun pernikahan sebelum mencapai titik ini.
__ADS_1
"Aku ingin sekali mengusap lembut perutmu saat mengandung Al dulu, namun, aku terlalu pengecut untuk melakukannya." Ujar Zidan lagi.
Farah menghembuskan nafasnya.
"Ada banyak hal yang harus kamu jaga, hanya saja aku tidak memiliki pengertian yang seharusnya istri kedua miliki saat itu. Aku hanya ingin selalu memintamu bersikap layaknya suami, tanpa ingin mengerti jika ada orang lain yang harus kamu jaga hatinya." Jawab Farah.
"Maafkan aku." Ucap Zidan lagi.
Farah membalik tubuhnya, lalu memeluk pinggang Zidan dengan begitu erat, lalu membenamkan wajahnya di dada biang suaminya.
Zidan ikut mendekap erat punggung Farah, kepala yang masih tertutup hijab itu kembali di kecupnya berulang kali.
"Lupakan masa lalu, ayo kita mulai semuanya dari awal lagi. Memori memang tidak akan terhapus begitu saja, kenangan pahit yang kita ciptakan selama empat tahun ini pasti akan selalu ada. Tapi Mas, Aku ingin bahagia, benar-benar ingin merasa bahagia. Aku ingin tersenyum saat aku ingin, dan marah padamu seperti istri pada umumnya jika kamu berbuat salah. Begitupun sebaliknya, aku ingin kamu juga melakukan hal yang sama Mas." Ujar Farah panjang lebar.
Zidan mengangguk, lalu semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri.
"Kali ini aku akan melakukan apa yang seharusnya seorang suami lakukan terhadap istrinya. Aku mencintaimu Farah." Ucapnya.
"Aku masih sama Mas, aku juga masih mencintai mu. Sejak dulu tidak pernah berubah." Jawab nya. Jemari lentiknya mengusap lembut pipi suaminya.
Zidan tersenyum, meraih tangan yang berada di wajahnya lalu mengecup tangan itu berulang kali. Tidak hanya tangan, seluruh bagian wajah istrinya di ciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Boleh ?" Tanya Zidan.
Farah bersemu, ia tidak menjawab namun, Zidan tahu jika Farah mengizinkan. Ia kembali memangkas jarak, mengecup bibir yang selalu membuatnya candu itu dengan lembut.
Melihat Farah tidak menolak, dan memberinya akses, Zidan tidak lagi bisa menahan dirinya, dan bergegas membawa tubuh Farah ke atas ranjang.
"Ini masih siang Mas." Ucap Farah, wajahnya semakin memerah dan itu membuat Zidan semakin tidak bisa menahan diri.
"Mumpung Al sedang tidur." Ucapnya sambil tersenyum jail.
"Apa sih." Ujar Farah dengan wajah yang semakin bersemu merah.
__ADS_1
Farah mengangkat tangannya hendak memukul kepala Zidan. Namun, tangannya segera di tahan oleh laki-laki yang kini menatapnya jail.
Zidan menggenggam tangan itu, mengecupnya berulang kali, lalu menahan tangan itu di sampjng kepala Farah.
Ciuman yang terhenti tadi, kembali berlanjut. Farah membalasnya, Zidan tersenyum di tengah-tengah ciumannya yang terbalas. Ini pertama kalinya mereka melakukan hal yang paling menyenangkan ini dengan sama-sama suka. Ini pertama kalinya Farah membalas, dan begitu menikmati apa yang ia lakukan.
"Hati-hati Mas." Ucap Farah.
"Aku akan berhati-hati." Jawab Zidan.
Ia kembali melanjutkan apa yang sudah sebulan lebih ini tidak ia rasakan. Tubuh yang selalu membuat ia gila sudah berada di bawahnya dengan peluh yang membasahi tubuh keduanya.
Tirai yang menutupi kaca pembatas dengan taman kecil di kamar itu di biarkan terbuka, hingga cahaya mentari yang semakin beranjak naik, ikut masuk dan menerangi kamar yang pertama kali mereka gunakan.
Kenangan pertama kalinya, dan hanya ada kenangan mereka di kamar ini. Tidak ada lagi tentang bekas kamar Nadia atau apapun di sini. Hanya ada Farah, dan selanjutnya hanya tentang Farah.
Mengukir kisah yang baru dan semua berawal dari kamar ini. Kamar yang kedepannya akan menjadi tempat favorit Zidan untuk mengerjai istri kecilnya.
"Aku mencintaimu Farahdilah." Ucapnya dengan nafas yang tersengal.
Farah menutup matanya, dadanya berdebar saat Zidan masih mengecup seluruh bagian wajahnya, padahal aktivitas panas di atas ranjang ini selesai beberapa menit yang lalu.
Selimut putih yang baru pertama kali di gunakan sudah menutupi tubuh polos keduanya. Zidan membawa tubuh polos Farah, lalu mendekapnya erat tubuh mungil istrinya dari belakang. Menghirup aroma wangi yang menguar dari rambut panjang yang selalu tertutup dengan hijab, lalu mengecupnya berulangkali.
Hingga beberapa saat kemudian, hembusan nafas teratur di sertai dengkuran halus sudah terdengar di telinga Farah. Wanita yang masih belum mengenakkan apapun itu membalik tubuhnya. Menatap wajah tenang suaminya dengan begitu lekat. Ia mengusap lembut wajah tampan itu dengan jemarinya, lalu bangkit dari atas ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Usai membersihkan diri, Farah melangkah menuju ruang ganti untuk mencari pakaian yang bisa ia kenakan. Dan benar, semua sudah tertata rapi di dalam lemari.
Satu terusan panjang rumahan sudah terbalut rapi di tubuhnya, lalu keluar dari ruangan itu dengan hati-hati agar tidak menggangu tidur lelap suaminya.
Farah memunguti satu persatu pakaian mereka yang sudah berserakan di atas lantai, lalu membawanya ke dalam ruang ganti dan mengisinya ke dalam keranjang tempat pakaian kotor yang tersedia di sana.
Setelah semuanya sudah terlihat rapi, hanya ranjang saja yang masih terlihat acak-acakan, Farah melanjutkan langkahnya keluar dari dalam kamar.
__ADS_1