Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 284 Season 4


__ADS_3

Waktu terus berjalan dengan begitu cepat. Waktu pagi menuju malam, sama sekali tidak terasa karena begitu padatnya pekerjaan. Mobil Daniza memasuki area parkir hotel milik Daren. Wanita yang sedang membawa berita menggembirakan untuk suaminya itu, segera melangkah masuk ke dalam lobi hotel. Sapaan penuh hormat dari para karyawan yang ada di sana, di balas Daniza dengan ramah.


"Pak Daren ada ?" Tanya nya pada gadis yang baru saja keluar dari dalam ruangan Daren.


"Ada Bu. Silahkan masuk." Jawab gadis itu, lalu mempersilahkan Daniza masuk ke dalam ruangan.


Daniza mengangguk, lalu mengucapkan terimakasih pada gadis yang sedang memeluk tumpukan berkas itu.


"Assalamualaikum.." Sapa Daniza saat memasuki ruangan suaminya.


"Waalaikumsalam.." Balas Daren. Senyum bahagia di wajah tampannya segera berkembang saat melihat siapa yang datang bertamu ke ruangannya sore ini. "Kok ga bilang-bilang kalau mau datang." Tanya Daren sambil beranjak dari atas kursi putarnya.


Daniza tersenyum. Ia merentangkan tangannya saat Daren semakin memangkas jarak mendekati tubuhnya.


"Tumben banget jadi manja kayak gini." Daren tertawa saat Daniza segera menghambur dan memeluk tubuhnya erat.


"Aku kangen aja." Jawab Daniza masih sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Daren.


"Apa ada sesuatu yang terjadi ?" Daren mencoba menarik tubuh Daniza sebentar, tetapi wanita yang ia nikahi hampir dua bulan yang lalu itu, semakin mengeratkan pelukan di tubuhnya. "Hei, jangan buat aku takut dong. Apa yang terjadi ?" Tanya Daren lagi.


"Aku hamil, Mas. Anak kita akan jadi dua, sebentar lagi Fatih akan punya adik." Ucap Daniza membuat Daren terdiam. Laki-laki itu masih mencerna dengan baik kalimat yang baru saja meluncur dari bibir istrinya.


"Kamu hamil, Niz ?" Tanyanya meyakinkan. Daniza hanya mengangguk dalam pelukannya. "Kamu hamil anak aku ?" Daren kembali bertanya. Kali ini dengan suara yang penuh semangat juga binar bahagia di matanya.


"Iya, Mas. Aku hamil anak kamu. Anak kita." Jawab Daniza.


"Terimakasih banyak, Sayang. Aku bahagia, benar-benar bahagia." Ujar Daren lalu kembali memeluk erat tubuh Daniza, juga mengecup puncak kepala istrinya itu berulang kali. "Terimakasih." Ucapnya lagi.


Setelah puas menciumi puncak kepala Daniza, Daren mengurai pelukan mereka, lalu menuntun Daniza menuju sofa yang ada di dalam ruangan itu.


"Duduk sini sebentar, aku mau bersiap. Kita pulang ke rumah Mami dan Papi. Mereka harus tahu kabar bahagia ini." Ujar Daren antusias.


"Kita pulang ke rumah Mama dan Papa. Hari ini tidak hanya aku, tapi Mbak Trias juga hamil." Ucap Daniza terkekeh.


"Kok bisa ?" Tanya Daren.

__ADS_1


"Ya bisalah, orang kita nikah di hari yang sama." Jawab Daniza.


"Maksud aku bukan itu, masa iya Azam langsung meniduri gadis yang tidak ia kenal." Ucap Daren tidak percaya.


Kening Daniza mengkerut. Memangnya apa yang salah di sana, bukannya Azam memang berhak atas itu. Terlepas mereka hanya sebatas orang asing yang di persatuan dalam ikatan takdir pernikahan, Azam tetaplah berhak.


"Jangan mikir macam-macam. Kita berdua kan tahu bagaimana sikap Azam. Dia adalah laki-laki yang sulit berbaur dengan orang baru. Jangankan meniduri Trias, bahkan mengajak Trias berbicara pun aku rasa Azam tidak akan secepat itu melakukannya." Ujar Daren menjelaskan.


"Ya tapi buktinya Trias hamil anak Bang Azam. Aku lihat sendiri bagaimana bahagianya Bang Azam mendengar berita itu. Dia sampe nyusulin Trias dan Mami ke rumah sakit loh."


Daren mengangguk paham. Pertama kali jatuh cinta, memang akan sulit terlepas. Terlebih Azam jatuh cinta pada wanita yang memang sudah berhak laki-laki itu miliki.


Setelah beberapa saat menunggu, sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu, melangkah keluar dari dalam ruangan. Senyum bahagia masih terus terpancar di wajah keduanya. Daren sesekali mengusap lembut perut rata istrinya dengan hati yang membuncah. Membayangkan ia akan memiliki anak dari wanita yang ia cintai, sungguh begitu membahagiakan baginya.


"Hati-hati." Ucap Daren sambil menahan pintu mobil dan membiarkan Daniza masuk ke dalam.


Daniza tertawa geli.


"Mobil kamu gimana, Mas ?" Tanyanya saat Daren ikut masuk ke dalam mobilnya.


Daniza mengangguk patuh.


Daren mulai melajukan mobilnya keluar dari area parkir hotel, dan berbaur dengan mobil-mobil lain yang sedang melaju di jalanan.


****


Di dalam kamar yang ada di dalam rumah milik Danira, Trias baru keluar dari ruang ganti dengan Azam yang terus mengekori nya. Wanita itu masih saja mengomel kesal karena Azam tidak terkejut dengan kabar kehamilannya.


"Aku minta maaf, salahkan Mami yang sudah memberitahu tentang kehamilan mu." Bujuk Azam karena wajah cantik istrinya masih saja masam.


"Aku baca hampir di semua novel ya, Mas. Orang kalau istri yang sangat dia cintai itu, suami akan kaget mendengar kabar kehamilan. Nah kamu, biasa aja." Trias melanjutkan langkahnya keluar dari dalam kamar.


Azam mengusap wajahnya. Salahkan saja mami nya yang memiliki mulut bocor itu. Dan jika ia tahu akan jadi seperti ini, lebih baik di berpura-pura terkejut sampai jantungan.


"Kamu pasti ngga cinta kan sama aku ?" Wanita itu kembali membalik tubuhnya yang sudah berada di ambang pintu kamar, kemudian menatap Azam yang juga sedang mengikutinya dari belakang, dengan tajam.

__ADS_1


"Mana ada yang seperti itu. Kalau aku ngga cinta sama kamu mana mungkin kamu hamil." Jawab Azam kesal dan semakin membuat Trias marah.


"Malam ini kamu tidur di sofa, ga boleh peluk-peluk, awas aja !." Tegas Trias lalu melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah. Sepertinya ia harus mengikuti saran Mami mertuanya yang ingin mengerjai laki-laki yang terus memohon di belakangnya ini. Trias tertawa jahat di dalam hatinya.


"Jangan gitu dong, Sayang. Aku ga akan terlelap tanpa memeluk mu." Azam masih mengiba.


"Nggak, aku mual dekat-dekat kamu. Sepertinya ini kemauan anak kamu. Salahkan dia aja." Trias mengusap lembut perutnya yang masih rata, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai bawah.


Trias begitu terkejut saat langkahnya sampai di ruang keluarga. Semua anggota keluarga yang jarang menyempatkan diri makan malam bersama di rumah, kini nampak hadir di ruangan itu termasuk Tiara, kakak kesayangannya.


"Wah selamat atas kehamilan mu ya, Mbak." Ujar Alfan penuh semangat.


Tidak hanya Alfan, Aidar juga menyambut calon keponakannya dengan antusias.


Trias tersenyum bahagia.


"Kalau benar-benar sayang seperti itu, Mas." Bisiknya kesal.


Wajah Azam berubah masam karena di bandingkan dengan dua laki-laki yang sedang ikut berbahagia karena kerja kerasnya siang dan malam.


"Aku Ayahnya ya.." Tegasnya.


Trias acuh tak acuh, dan hanya membawa langkahnya kemudian duduk di sofa kosong yang ada di ruang keluarga tempat keluarga yang lain berada. Wanita itu berusaha untuk menahan tawa.


Danira membicarakan tentang rencana pernikahan Aidar dan Tiara kepada anak-anak nya.


"Karena sebentar lagi mau ramadhan, ga baik terus menjalin hubungan yang tidak halal. Jadi, Mami dan Papi harus mempercepat rencana itu. Tia, pilih aja dekorasi yang kamu inginkan seperti apa. Untuk hotel, kita akan pakai hotel Mas Daren ya." Ujar Danira.


Tiara mengangguk. Ia sudah mendengar hal ini dari Aidar, jadi ia tidak lagi terkejut.


"Pernikahan Ayu kapan, Mi ? Kok ga ada kabar lagi ?" Tanya Azam.


"Pernikahan Ayura di tunda, karena Sam ada keperluan mendadak di luar negeri. Jadi waktu yang di tentukan untuk pernikahan Ayura, kita pakai untuk pernikahan kalian berdua. Tenang aja, Tia ga akan sendirian mengurus segala keperluan itu, Mami dan Tri akan bantu." Jawab Danira.


Trias mengangguk menyetujui perkataan Mami mertuanya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat bercengkrama di ruangan itu, Arion mengajak seluruh anggota keluarga nya menuju meja makan yang sudah di siapkan oleh asisten rumah tangga.


__ADS_2