Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 287 Season 4


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Kamar yang di tempat Aidar sejak kecil, di sulap menjadi kamar pengantin yang begitu indah. Tiara menolak keinginan keluarga yang ingin melangsungkan pernikahan di sebuah hotel, dan memilih untuk melangsungkan acara sakral itu di kediaman calon mertuanya.


Sahabat tapi menikah ? Benarkah begitu ? Sejatinya persahabatan keduanya yang sudah terjalin sekian tahun, hanya agar mereka tidak saling menjauh karena memiliki rasa yang sama. Keduanya berpikir, jika dengan kata persahabatan membuat mereka tetap bersama walau saling mencintai, mengapa harus berpacaran dan berakhir dengan perpisahan ? Banyak hal yang ada di sekeliling mereka, membuat keduanya terlalu takut untuk memaksakan diri melangkah terlalu jauh.


Tiara yang kurang percaya diri dengan perbedaan status sosial mereka membuat gadis itu selalu menguatkan hati, menolak permintaan Aidar yang ingin melangkah lebih jauh. Sedangkan Aidar, selalu bersikap hati-hati dan terkesan bercanda, agar Tiara tidak akan menjauh darinya, meskipun berulang kali ia menyatakan cinta pada gadis itu.


Tiara menatap pantulan wajahnya yang sudah berhiaskan makeup, di depan cermin yang ada di dalam kamar pengantin. Hari ini adalah hari yang sakral baginya. Diaman ia akan melanjutkan hidup bersama laki-laki yang sudah sejak dulu menjadi sandaran nya.


Semua berlalu begitu cepat. Sejak dulu ia tidak terlalu berharap untuk menjadi bagian dari keluarga ini, namun, sepertinya Allah memang menentukan takdir hidupnya agar selalu bersama Aidar.


*****


Tidak hanya kamar pengantin yang nampak begitu indah, ruang tamu hingga menuju ruang keluarga di rumah mewah milik Danira, terlihat begitu indah di pandang mata.


Dekorasi yang tidak terlalu mewah, namun, tetap terkesan elegan, menghiasi rumah mewah itu.


Dua wanita hamil, dan dua wanita yang baru resmi menikah sedang asik mengobrol di ruangan tempat akan berlangsungnya acara.


"Kapan kalian berangkat ?" Tanya Daniza pada kakak sepupunya.


"Sam masih harus mengurus kepindahan kami." Jawab Ayura.


"Kak Ayu, dan Kak Sam akan tinggal di sana ?" Tanya Daniza.


Ayura mengangguk.


Trias dan Tania hanya menjadi penyimak obrolan antara dua wanita yang ada di ruangan itu. Dua wanita yang sejak kecil sudah di penuhi banyak cinta dan kasih sayang dari orang-orang yang ada di sekeliling mereka.


Trias menerawang jauh. Beruntung ? Yah, kehidupan yang sangat beruntung, dan tentu saja ia menjadi salah satu dari mereka karena di takdirkan ikut menikmati kasih sayang itu.


Ternyata, Allah punya cara tersendiri untuk menentukan takdir setiap umat Nya. Mungkin hari ini, ada orang di luar sana yang sedang menikmati kehidupan yang kurang baik, namun, percaya dan yakin jika suatu saat, kehidupan yang jauh lebih baik, akan datang menyapa.


Dulu saat masih tinggal di rumah kontrakan, Trias tidak pernah sekalipun berangan akan masuk dalam kehidupan Azam seperti hari ini. Namun, inilah kenyataannya. Dulu bahkan ia hanya bekerja sebagai karyawan paruh waktu di salah satu toko baju yang ada di tengah ota Jakarta, siapa yang akan menyangka jika hari ini ia bisa membeli toko baju tempat nya bekerja dulu dengan menggunakan uang bulanan yang selalu di transfer oleh Azam di dalam rekeningnya. Dan yang lebih membuatnya ingin tertawa adalah, ia bahkan tidak memiliki waktu yang cukup untuk menghabiskan uang itu untuk dirinya sendiri.


"Minum dulu." Segelas air putih dan satu gelas susu sudah berada di hadapan Trias. Daniza seketika cemberut, karena hanya ada satu gelas susu di sana, sementara itu wanita hamil ada dua orang.


"Abang tega banget sih, udah ga sayang sama aku ya." Daniza berkaca.


Azam tertawa melihat wajah menyedihkan adiknya.


"Kamu kan punya suami, minta di buatin aja." Jawabnya membuat Daniza cemberut.


"Mas Azam bercanda, Mbak. Aku ga bisa minum susu di jam seperti ini, nanti mual. Ini susu Mbak, Mas Azam hanya membantu membawakan ini, tapi Mami yang membuatnya." Ujar Trias sambil menunjuk wanita paruh baya yang nampak begitu cantik dengan kebaya mahalnya.


"Cih, dasar. Kirain dia memang seromantis ini sama kamu. Aku kan jadi iri." Ujar Daniza kesal.

__ADS_1


Ayura dan Trias tertawa bersama.


"Acaranya masih lama ?" Tanya Ayura.


"Sebentar lagi." Jawab Daniza sambil melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya. Setelah meminum susu itu sampai tandas, ia kembali meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke atas nampan.


Azam memanggil salah satu pelayan untuk membereskan gelas bekas istri dan adiknya.


"Kamu ngga mau buat acara dulu, Yu ?" Tanya Azam.


"Malas, Bang. Bahagia nya sama aja, tapi lelahnya nambah. Mana aku sama Sam harus menempuh perjalanan jauh lagi. Ga ah, yang penting sah aja, udah." Jawab Ayura.


Azam mengangguk mengerti. Memang dari dulu, keluarga besar mereka tidak pernah mempermasalahkan kemeriahan suatu acara. Yang paling penting hanyalah kelancaran acara tersebut. Lagi pula di mana pun, dan sebesar apapun semua tujuannya sama.


Bukan masalah keuangan, harta di keluarga besar mereka tidak akan habis walaupun mengadakan acara yang mewah, hanya memang semua tergantung kondisi saja. Seperti hari ini, waktu tidak lagi banyak, jika masih harus mempersiapkan banyak hal maka tenaga akan habis terkuras di saat mempersiapkan acara. Dan setelah hari itu tiba, semua orang sudah terlalu lelah untuk menikmati acara tersebut.


Keputusan Tiara yang ingin menggelar acara pernikahannya secara sederhana, karena alasan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan agar bisa secepatnya resign dan fokus menjadi seorang istri, di sambut baik oleh seluruh keluarga. Toh orang yang akan palin di repot kan di sini adalah kedua mempelai.


Tidak banyak yang hadir. Hanya keluarga dekat saja yang di undang oleh Danira untuk ikut menjadi saksi hari spesial putranya.


Gio dan Meisya, juga putra semata wayang mereka Samudra serta menantu baru mereka, nampak hadir di sana.


Beberapa saat kemudian, petugas urusan agama yang akan mengurus segala administrasi sekaligus menjadi pengganti wali dari Tiara sudah terlihat hadir di rumah mewah itu.


Danira segera melangkah meninggalkan ruangan itu menuju kamar di mana calon menantunya berada, karena acara akad akan segera di mulai.


"Kamu yang menginginkan dia, jadi tidak ada alasan untuk tidak mencintai Tiara dengan sebaik-baiknya." Ujar Aron memperingati.


Aidar mengangguk paham. Tentu saja, sejak dulu ia selalu mencintai dan memperlakukan Tiara dengan baik.


"Pi, apa Ai sudah tampan ?"


Wajah tampan putra keduanya yang begitu mirip dengan wajahnya, namun memiliki sikap seperti Danira itu membuat Arion mendengus.


"Masih tampan mana Ai, atau Papi dulu ?" Tanya lelaki mudah itu sambil melangkah keluar dari dalam kamar menuju tempat yang sudah di siapkan oleh petugas untuk akad nikah.


"Gantengan Papi lah, kalian kan hanya keturunan aja jadi wajah Papi ini gantengnya original, begitu." Arion ikut bercanda. Ia tahu apa yang sedang di alami putranya ini. Gugup ? Tentu saja, tidak ada yang akan merasa biasa-biasa saja dalam menghadapi situasi seperti ini.


"Tiara kemana, Pi ? Kok ga ada ?" Tanya Aidar.


Arion kembali tertawa geli.


"Kamu dan Bapak yang di ujung sana harus mengucapkan ijab kobul dulu, setelah itu barulah istri kamu di bawa turun." Jelas Arion.


Aidar mengangguk dan kembali melanjutkan langkah menuju kursi yang ada di hadapan penghulu.

__ADS_1


Ledekan dari para saudaranya yang ada di ruangan itu, hanya di tanggapi Aidar dengan wajah jenaka nya. Yang tidak mereka tahu, jantungnya terus meronta ingin keluar dari dalam dada.


Beberapa saat Aidar duduk di kursi yang sudah tersedia di sana, Tiara di bawa masuk ke dalam ruangan itu, kemudian di tuntun menuju kursi yang ada di samping Aidar.


"Kata Papi nanti setelah ijab kobul, kok malah di sini. Aku kan jadi grogi." Ucap Aidar sontak membuat seluruh keluarga yang ada di dalam ruangan itu tertawa.


Tiara ingin sekali memukul bahu calon suaminya itu, agar berhenti bersikap jail dan merusak hari pentingnya.


"Sudah siap, Nak Aidar ?" Tanya lelaki paruh baya itu.


Aidar menatap Tiara sebentar, kemudian mengedipkan matanya membuat calon pengantin wanita cemberut.


"Siap Pak, saya siap." Jawabnya antusias.


Danira ingin sekali menjewer telinga putranya yang terus saja membuat lelucon di hari bahagia ini.


Petugas urusan agama itu mengulurkan tangannya, dan menjabat tangan Aidar.


Kalimat ijab mulai terdengar dari penghulu, dada Aidar berpacu tidak karuan. Hingga akhirnya kata sah, kemudian di ikuti kata Alhamdulillah dari orang-orang yang ada di sana membuat Aidar lega dan segera membawa tubuh Tiara ke dalam pelukannya.


Kelakukan gilanya itu membuat orang yang ada di dalam ruangan kembali tertawa lucu.


"Sabar bodoh ! Kayak ga ada kamar aja kamu tuh." Pukul Danira di punggung putranya.


Makeup yang menghiasi wajah cantik Tiara, tidak mampu menyembunyikan semburat rona merah di wajah gadis itu.


Keluarga seperti apa yang ia masuki ini. Bahkan Pak penghulu yang masih duduk di hadapan mereka hanya bisa ikut tertawa lucu.


"Kita berdoa bersama dulu, untuk kebaikan bagi pasangan pengantin ya." Ujar lelaki paruh baya itu.


"Iya silahkan, Pak. Anak saya sudah ga sabar ini segera masuk ke dalam kamar." Jawab Danira kembali memuat orang-orang yang ada di sana tertawa. Hanya Aidar yang terlihat cemberut karena ledekan Mami nya.


Tiara mengaminkan setiap doa kebaikan yang berhembus dari bibir penghulu.


Hanya itu yang inginkan. Bukan tidak mau menerima cobaan dari sang pemilik kehidupan, namun, bisakah ia meminta di beri cobaan yang tidak akan melebihi kemampuannya ?


tapi jangan lupa, Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya. Selama ini Allah selalu mengganti setiap apa yang hilang dari hidupnya, dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Ujian yang di datangkan Allah pada umatnya, bukan hanya semata-mata untuk membuat manusia tersiksa. Tapi manusia bisa memetik sebuah pelajaran dari ujian itu. Dan pastinya, akan selalu ada hikmah yang tak terduga dari sebuah ujian.


*****


Rumah mewah milik Arion masih begitu ramai oleh sanak saudara. Tidak hanya keluarga dekat dari sang istri yang hadir di sana, tetapi adik tiri Arion, Ferri juga bisa menyempatkan waktu untuk berkumpul di sana.


Evelin, sahabat Nadira semasa kuliah di Berlin, tidak lagi canggung berbaur dengan keluarga besar sahabatnya itu. Dulu mereka pernah berada di keadaan yang rumit, namun, seiring berjalannya waktu semua membaik.


Semua orang berpikir logis, jika takdir yang datang menyapa mereka puluhan tahun silam, semua adalah yang terbaik. Buktinya saat ini mereka menikmati buah dari kesabaran, ketika dulu mengikhlaskan sesuatu yang menyakiti hati.

__ADS_1


Danira adalah orang yang paling sering berada di keadaan yang tdak mengenakan. Namun, lihatlah kini berkat semua keikhlasannya di masa lalu, hari ini ia memetik banyak kebahagiaan dari orang-orang di sekitarnya. Memiliki anak-anak yang baik, kemudian di berikan bonus, menantu yang tidak kalah baik.


__ADS_2