Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 36


__ADS_3

Farah masih terbaring di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benang yang melekat. Ia tidak lagi memiliki niat menarik selimut putih untuk menutupi tubuh, sama seperti biasanya setelah Zidan selesai menuntaskan hasratnya.


Kain tebal dan lembut itu, ia biarkan teronggok begitu saja di bawah kakinya. Laki- laki yang baru saja kembali menggoreskan luka di hati yang memang belum sepenuhnya pulih, sudah tertidur dengan sangat lelap.


Dengan perlahan, Farah turun dari atas ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tidak menghiraukan inti tubuhnya yang sedikit terasa perih, juga tubuhnya yang terasa remuk.


Air panas mulai meluncur dari lubang-lubang kecil shower, dan membasahi tubuhnya yang sudah terduduk di atas lantai kamar mandi.


Dadanya sesak, namun air matanya enggan untuk keluar. Entahlah, mungkin stok air matanya sudah habis selama empat tahun pernikahan mereka, hingga tidak lagi memiliki stok untuk dikeluarkan malam ini.


Setelah merasa sedikit lebih baik, Farah keluar dari kamar mandi luas dan mewah itu dengan berbalut handuk putih. Sebuah rencana besar sudah bersemayam di otaknya, ia melangkah menuju nakas, lalu meraih benda pipih miliknya, waktu baru menunjukan pukul satu malam.


Hampir empat jam lamanya, Zidan menggerayangi tubuhnya. Farah tersenyum miris, tentu saja Zidan akan membayar lunas karena selama satu bulan ini berusaha menahan diri.


Waktunya tidak banyak, Farah bergegas masuk ke dalam ruang ganti dan memakai pakaiannya. Tidak lupa pula ia mengambil dua buah stelan dari sana, juga hijab.


Setelah siap, ia melangkah menuju kamar tidur putranya. Hatinya sudah terlanjur sakit untuk beradu dengan logika, jadi untuk kali ini, ia membiarkan logikanya yang mengambil alih semuanya.


Tidak banyak yang ia siapkan, toh di tempat yang baru ia masih memiliki cukup uang untuk membeli keperluan mereka berdua.


Setelah selesai membereskan keperluan Alfaraz, Farah kembali memasuki kamar. Ia menatap sendu wajah Zidan yang masih terlelap di atas ranjangnya. Sakit tentu saja, di perlakukan sebagai pemuas nafsu berkedok istri itu sangatlah tidak menyenangkan.


Entah apa yang terjadi dengan laki-laki ini. Berulang kali mencapai puncak, Farah berharap hanya satu kali namun, harapannya kembali di patahkan oleh kenyataan. Tentu saja Zidan tidak akan berhenti, karena laki-laki ini bahkan seminggu bisa dua sampai tiga kali memasuki kamarnya di tengah malam hanya meminta jatah di atas ranjang.


Dulu, ia ikut menikmati sentuhan lembut yang selalu membawanya terbang walau di akhir akan kembali meninggalkan luka, saat melihat Zidan yang begitu terburu-buru pergi dari dalam kamarnya.

__ADS_1


Meskipun malam ini Zidan terlelap di sampingnya setelah puas menyetubuhinya, namun itu justru terasa lebih menyakitkan. Dulu Zidan melakukannya, seperti halnya seorang suami yang memperlakukan istrinya di atas ranjang, namun, malam ini tidak ada kelembutan. Zidan melakukan semuanya sesuai keinginannya, tanpa memperdulikan berulang kali ia mengeluh perih di inti tubuhnya.


Farah kembali memalingkan wajahnya, ia menatap satu buah tas kecil yang berisi barang-barang pribadinya dan juga milik Al. Di luar masih gelap, bahkan suara adzan subuh masih belum terdengar. Beruntung masih ada orang yang bersedia menerima orderannya di salah satu aplikasi penyedia jasa transportasi.


Saat melihat notifikasi dari aplikasi tersebut, dengan hati yang kembali patah, di sertai tubuh yang remuk, Farah memaksakan kakinya keluar dari dalam kamar itu, menuju kamar tidur putranya.


Ia meraih tubuh gembul menggemaskan Alfaraz, lalu membawanya turun menuju ruang keluarga. Ah dasar tukang tidur, putranya itu bahkan tidak terjaga saat ia mulai menuruni satu persatu anak tangga.


Sopir taksi yang sudah terlihat berumur itu, membukakan pintu mobilnya lebar-lebar, dan membantu memasukkan tas Farah ke dalam mobil dan meletakkannya di atas kursi penumpang di samping Farah.


"Ke stasiun Neng ?" Tanya Sopir tersebut.


Farah mengiyakan, lalu kembali menutup rapat mulutnya sambil mendekap erat tubuh Alfaraz.


"Maafkan Bunda Al." Lirihnya dalam hati.


"Di jam seperti ini Neng mau berangkat kemana ?" Tanya sopir taksi tersebut.


"Mau pulang ke Jogja Pak, ada kedukaan." Jawabnya bohong.


Sopir taksi itu mengangguk, lalu kembali fokus dengan jalanan. Karena jalanan yang begitu sepi, tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di stasiun tujuan. Usai membayar ongkos taksi, Farah keluar dari dalam mobil tersebut namun langkah kakinya kembali terhenti saat suara sopir taksi tersebut kembali terdengar.


"Alangkah baiknya setiap masalah di bicarakan lebih dulu neng." Ucap sang Sopir.


Farah menatap sendu laki-laki seumuran Ayah mertuanya itu. Jika saja ia masih memiliki Ayah, mungkin saja ia akan sertakut ini meninggalkan rumah. Namun, saat ini ia tidak memiliki siapapun untuk pulang agar bisa menghindar dari Zidan.

__ADS_1


Pulang ke Jogja, pasti suaminya itu akan menyusul nya ke sana.


"Terimakasih sudah bersedia menerima orderan saya Pak." Ucap Farah lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang tunggu stasiun.


"Bagaiman jika saya langsung antar kan langsung ke tempat tujuan ?" Tanya Sopir itu lagi. "Tarifnya nanti akan di sesuaikan." Tawar sopir itu lagi.


"Bisa antar kan saya ke tempat ini lebih dulu ?" Tanya Farah.


Laki-laki paruh baya itu mengangguk, dan Farah kembali masuk ke alam taksi tersebut menuju ATM terdekat.


Uang yang ia tarik sudah lebih dari cukup untuk biaya hidupnya dan Al selama sebulan. Untuk selanjutnya, nanti akan dia pikirkan lagi. Yang terpenting saat ini, dia perlu pergi jauh lebih dulu.


"Antar kan saya ke tempat ini Pak." Ucap Farah sembari memperlihatkan alamat yang tertera di layar ponselnya.


"Ini nama stasiun Neng." Jawab sang sopir.


Farah mengangguk membenarkan, ia memang hanya minta di antar kan ke stasiun berikutnya sambil menunggu pagi. Untuk tujuan selanjutnya, ia akan menggunakan kereta sebagai alat transportasi agar tidak mudah di ketahui kemana ia pergi.


Dan sesuai perkiraannya, saat ia tiba di stasiun yang menjadi tujuannya, mentari keemasan mulai terlihat keluar dari peraduan. Farah keluar dari dalam taksi, bersama Alfaraz yang terlihat begitu antusias melihat lingkungan yang belum pernah bocah itu lihat.


"Terimakasih Pak, mungkin ada seorang laki-laki yang akan datang menemui Bapak, dan menanyakan tentang saya.." Ujar Farah memperingati, sambil menyodorkan sejumlah uang pada laki-laki paruh baya tersebut.


"Saya tidak akan memberitahu, terimakasih untuk orderannya Neng, namun, saya tidak bisa menerima uang selain upah saya." Jawab Sopir tersebut lalu hanya mengambil dua lembar uang yang memang upah yang seharusnya ia terima.


"Tidak apa-apa Pak, ini bukanlah bentuk suap tapi rasa terimakasih karena sudah mengantarkan saya dan putra saya selamat sampai di sini. Beristirahat lah hari ini bersama keluarga di rumah." Ucap Farah, lalu kembali memberikan sejumlah uang yang ada di tangannya.

__ADS_1


Laki-laki tua itu mengangguk mengerti, kemudian menerima uang yang memang sebanding dengan pendapatannya selama satu minggu. Tidak lupa pula, sopir itu mengingatkan Farah untuk berhati-hati dalam perjalanan, serta mendo'a kan agar senantiasa selalu alam lindungan sang maha kuasa.


__ADS_2