
"Akhhss siapa yang berani mengganggu kesenangan ku ?" Umpat Danira kesal sambil beranjak dari atas pangkuan Arion.
Kancing kemeja yang sudah terbuka beberapa, ia pasangkan kembali. Kemudian melangkahkan kakinya menuju benda yang terus bergetar di atas meja kerjanya.
"Ada apa ? Awas aja kalau bukan perihal penting, aku pastikan kamu ngga akan dpat izin jenguk anak kamu lagi." Kesal Nira setelah mengusap ikon berwarna hijau di layar ponselnya.
Lelaki di ujung ponselnya hanya tertawa lucu mendengar umpatan dari sahabat sekaligus iparnya.
"Kasian yang lagi cetak bayi siang-siang. Dasar ga tahu tempat." Ledek Arga.
"Kaya kamu tahu tempat aja. mau bilang apaan, aku matiin nih." Ancam Nira.
"Kabar duka dari tangkapan kamu. Lelaki yang ingin kamu penjarakan seumur hidup sudah mengakhiri hidupnya." Jelas Arga dari ujung sana.
Danira terdiam, ia membalik tubuhnya lalu menatap laki-laki yang sedang berada di sofa di dalam ruang kerjanya.
"Ayah meminta kamu dan Arion untuk segera menuju ke kantor kepolisian guna memastikan hal ini." Arga kembali bersuara.
"Aku tutup." Ujar Nira lalu mengakhiri panggilan tersebut usai mengucapkan salam.
"Sepertinya kita harus menunda acara siang ini, lelaki pengecut itu memilih mati dari pada harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Ajak Danira sembari merapikan pakaiannya yang sudah acak-acakan karena ulahnya sendiri. Tidak lupa pula ia meraih tas mahal yang ada di atas meja kerjanya, lalu keluar dari ruangan itu sambil menggenggam tangan Arion dengan begitu eratnya.
Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali bergetar. Danira menjawab panggilan tersebut sambil berpamitan pada gadis cantik yang baru beberapa bulan ini menjadi sekretarisnya, menggantikan sekretaris sang Ayah yang suah memilih pensiun.
"Ada apa Ayah ?" Tanya Danira.
"Mampir ke rumah dulu, ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan." Jawab Alfaraz di ujung sana.
"Baik Yah."
"Ada apa ?" Tanya Arion berbisik setelah melihat Danira kembali memasukkan benda pipih yang baru saja dia gunakan ke dalam tas.
"Jangan godain aku, ini ada di dalam lift kamu ga lihat ada CCTV." Kesal Danira.
__ADS_1
Arion tertawa lucu melihat wajah galak istrinya.
"Siapa suruh kamu begitu cepat tergoda dengan ketampanan ku." Ujar Arion dengan senyum menggoda.
"Nira kita sedang berada di dalam lift.." Arion melangkah mundur sambil menahan tubuh istrinya yang terus melangkah mendekat.
Ting....
"Hufttt Alhamdulillah aku selamat." Ujar Arion sambil mengusap-usap dadanya. Lelaki itu lalu terbahak karena mendapat tatapan tajam dari mata indah istrinya.
"Gila ya !" Danira memukul tubuh Arion menggunakan tas yang berada di di tangannya. "Kesannya aku aja yang mesum, padahal kamu yang lebih mesum." Sambungnya kesal.
"Iya, iyaa.. Nanti setelah semua masalah ini selesai kamu jadi istri ku aja biar kita lebih punya waktu berduaan. Gimana ?" Tawar Arion.
"Terus gimana sama perusahaan Ayah ?" Tanya Danira. Wanita itu berhenti di samping mobil yang sudah terbuka pintunya, lalu menatap suaminya yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Nanti kita bicarakan lagi. Selesaikan dulu semuanya, kasian Abizar jika bulan madunya terus saja tertunda." Kekeh Arion.
Danira ikut tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil yang sama, Danira menatap jalanan yang begitu padat oleh kenderaan. Sesekali ia melirik laki-laki yang begitu tenang dan berkonsentrasi dengan kemudi mobil yang terus melaju lamban di jalanan.
"Arion kamu ga mau bawa aku pindah dari rumah Ayah ?" Tanya Danira.
"Nanti kita bicarakan. Kita harus menyelesaikan masalah yang terus saja mengurung Aira di dalam kamar, jika tidak Abizar akan mengamuk." Jawab Arion tertawa geli. Wajah memohon Abizar yang memintanya agar segera menyelesaikan masalah ini kembali terngiang, dan itu membuat perutnya serasa di gelitik. "Kalian berdua benar-benar mirip." Sambungnya.
"Siapa ? Abi ?" Tanya Danira.
Arion mengangguk mengiyakan.
"Mungkin karena pembawaan kami yang mirip sehingga membuat kami tidak dekat di masa lalu." Ujar Danira lagi.
Arion menggeleng tidak setuju.
__ADS_1
"Pada dasarnya seorang adik laki-laki sangat menyayangi kakak perempuannya. Meskipun aku tidak pernah berada di posisi Abi, tapi aku tahu dia hanya ingin memberikan kasih sayang secara adil di antara kamu dan Dira. Mungkin Ibu terlalu takut sesuatu yang buruk kembali terjadi padamu, hingga beliau tidak menyadari jika masih ada anak gadis yang lain yang juga membutuhkan perhatian yang sama. Dan Abi memilih untuk lebih dekat dengan Dira, agar Dira tidak merasa sendirian." Jelas Arion.
"Tapi dia masih saja ketus padaku." Ucap Danira pelan.
"Itu karena kamu selalu saja mengusik kesenangannya. Tentu saja dia kesal, bagaimana bisa seorang kakak tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar adiknya dengan tatapan meledek." Jawab Arion. "Ayo turun" Ajaknya setelah mobil yang ia kendarai sudah terparkir rapi di depan rumah mewah milik mertuanya.
Danira menatap keluar jendela mobil, dan benar saja mereka sudah tiba.
"Karena terlalu banyak bercerita, aku sampai ga sadar kita sudah sampai di rumah." Ucapnya.
Keduanya lantas melangkah masuk ke dalam rumah. Saat memasuki ruang keluarga, Danira tidak mendapati laki-laki paruh baya yang baru saja menghubunginya.
"Ayah dan Ibu di mana ?" Tanya Danira pada dua wanita yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Ibu sedang bersama perawat, menyiapkan obat untuk Aira. Dan Ayah sudah menunggumu di ruang kerja." Jawab Dira.
Danira mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja sang Ayah.
Saat memasuki ruang keluarga, tidak hanya sang Ayah yang ada di sana, tapi Abizar dan Arga juga sedang berada di sana.
Arion Dan Danira ikut duduk di sofa yang sama di mana Arga dan Abizar duduk.
"Ayah dan Om Reno sudah mendapatkan bukti keterlibatannya atas kasus penculikan kamu dulu. " Ujar Alfaraz sambil mengulurkan dokumen ke arah putrinya.
Setelah membaca lembaran itu, Danira segera melihat laki-laki yang masih terlihat begitu tenang di samping Ayahnya.
"Tapi lelaki itu sudah memilih jalan pintas. Mungkin dia sudah tahu, jika mantan pengacara keluarganya sudah menyerahkan bukti ini kepada kami, untuk itu dia memilih mengakhiri hidupnya." Jelas Alfaraz lagi.
"Ah ga seru. Padahal Nira masih pengen bermain-main dengannya. Dasar pengecut." Ujar Danira.
"Tidak apa-apa kan jika Ayah meminta bantuan mu lagi untuk mengurus semua ini sampai akhir ?" Tanya Alfaraz pada putrinya.
"Tentu Yah, karena setelah ini Nira ingin berhenti dari perusahaan." Jawab Danira. "Suruh Abi saja yang mengurus perusahaan." Sambungnya.
__ADS_1
Alfaraz tersenyum.
"Sejujurnya memang ini yang ingin Ayah bicarakan. Setelah Aira sudah benar-benar sembuh, Abizar yang akan mengambil alih pekerjaan kamu. Dia butuh uang untuk menghidupi istrinya, jadi dia harus bekerja." Ujarnya.