Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 278 Season 4


__ADS_3

"Mas, bentar ada tamu." Dorong Trias di tubuh kekar Azam yang sejak tadi terus saja mengerjainya.


"Mbok akan membuka pintu itu, paling juga Mami habis keluyuran ke rumah Om Abi." Azam masih belum ingin beranjak dari atas tubuh istrinya.


"Tadi siang kan udah, aku lelah." Mohon Trias. Namun, wajah cantik dengan raut memohon itu justru membuat laki-laki yang sudah gila semakin gemas.


"Hentikan, Mas. Tulang-tulang aku rasanya mau retak ini." Ujar Trias sambil terkekeh geli, karena bibir yang tadi mencium wajah nya, sudah berpindah ke tempat lain.


"Bang Azam, Non Trias ada tamu."


Ketukan di pintu kamar yang tertutup rapat, membuat laki-laki yang sudah tergila-gila dengan istrinya itu, menghentikan aktivitasnya.


"Itu bukan Mami, Mas, tapi tamu." Trias mendorong tubuh Azam dengan keras, lalu segera beranjak dari atas sofa yang ada di dalam kamar tidur mereka.


"Pakaian kamu di rapikan dulu, Tri." Azam segera bangkit dari atas sofa, lalu melangkah cepat mendekati istrinya yang hampir mencapai pintu kamar. Beberapa kancing piyama yang tidak terpasang karena ulahnya, ia rapikan dengan perlahan.


Setelah memastikan Trias sudah terlihat jauh lebih baik, barulah Azam membuka pintu kamar untuk menanyakan siapa gerangan yang bertamu di jam seperti ini, dan menganggu kesenangan nya.


"Di depan ada Bang Ayiman dan calon istri." Jawab asisten rumah tangga yang sudah berdiri di depan pintu kamar Azam.


"Baik, Mbok. Buatkan minum untuk mereka, saya dan Trias bentar lagi turun ke bawah." Ujar Azam dan di angguki oleh wanita paruh baya yang sudah sekian tahun bekerja di rumah kedua orangtuanya itu.


Setelah wanita yang di panggil Mbok, oleh Azam sudah berlalu dari depan kamar mereka, Azam kembali membalik tubuhnya dan menatap wanita yang sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


"Di bawah ada sepupu ku. Kita temui mereka ya." Ucap Azam sembari melangkah mendekati istrinya.


Trias mengangguk patuh. Sebelum keluar dari kamar yang baru beberapa hari ini ia tempati, dan sudah membuat tubuh mungilnya remuk, Azam kembali mengecup bibirnya dan kembali membuat wajahnya merona.


****


Satu persatu anak tangga mulai merea tapaki, menuju ruangan di mana Ayiman dan Tania berada. Azam masih menggenggam erat tangan Trias, hingga mereka berdua sampai di dalam ruang kelurga dimana Tania dan Ayiman berada.

__ADS_1


"Tumben, ada apa kemari ?" Tanya Azam masih sambil menggenggam tangan Trias, lalu membantu istrinya itu duduk di sofa yang ada di sana.


Semua itu tidak lepas dari pandangan Ayiman. Kata Ibu nya, Azam menikah dadakan, dan bahkan tidak saling mengenal sebelumnya. Tapi apa yang sedang ia tonton secara live sekarang ? Pasangan kasmaran yang baru menikah ? Dan lihatlah wajah merona gadis yang terlihat jauh lebih muda dari Daniza ini.


"Cih dasar, lepasin tangan dia Bang, ga kasian apa. Itu pipinya memerah karena malu." Ujar Ayiman.


"Nikah sana biar tahu gimana rasanya melindungi istri. Ini namanya melindungi istri." Azam mengangkat tangannya yang masih menggenggam tangan Trias.


Tawa Tania hampir saja meledak di dalam ruangan itu. Jika saja tidak mengingat dirinya yang masih sebatas calon anggota keluarga baru, ia pasti sudah terbahak di dalam ruangan ini. Ah manisnya, apakah Ayiman akan bersikap seperti ini juga ? Semoga.


"Kamu ngapain kemari ?" Tanya Azam kesal. Apa Ayiman tidak tahu jika kedatangannya ini mengganggu kesenangan pengantin baru.


"Tante Nira


"Eh kalian sudah di sini yaa." Wanita cantik yang seharusnya sudah tiba lebih awal, baru saja melangkah masuk. "Ini calon istrinya Ayiman, Zam. Namanya Tania. Untuk sementara Tania akan nginap di rumah ini, biar Trias ada temannya." Sambung Danira menjelaskan.


"Kenapa ga tinggal aja di rumah Om Abi, Mi ?" Tanya Azam.


"Ah iya, nanti bantuin Tania untuk berberes di kamar tamu ya, Nak." Danira menghentikan langkahnya dan menatap Trias, menantunya.


"Iya, Mi." Jawab Trias sopan. Danira tersenyum manis pada menantunya, lalu kembali melanjutkan langkah menuju kamar di mana laki-laki yang ia rindukan sejak tadi, berada.


Tania mengikuti tubuh yang masih saja terlihat profesional wali di usia yang tidak lagi muda, dengan tatapan takjub. Hidupnya penuh keberuntungan karena di beri kesempatan mengenal keluarga yang sangat luar biasa ini.


"Ini Ayiman, Tri. Adik sepupu aku." Azam memperkenalkan Ayiaman pada Trias. Karena pernikahan dadakan di rumah sakit, dan langsung di hadapkan dengan jadwal yang padat di kantor, membuat Azam tidak memiliki waktu luang untuk mengenalkan Trias dengan keluarga besarnya.


"Hai Tri, aku Ayiman. Dan ini calon istriku, Tania." Ujar Ayiman sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami Trias.


"Ga usah." Tegas Azam.


Ayiman terkekeh.

__ADS_1


"Tania harus berjabat tangan dengan Trias, Bang." Ujar Ayiman.


Azam melepaskan genggamannya di tangan Trias, dan membiarkan istrinya itu menyalami Tania.


"Aku masih punya satu adik sepupu lagi, namanya Ayura, adik kembarnya Ayiman ini." Ujar Azam lembut. Tris mengangguk mengerti.


Setelah beberapa waktu keempat orang itu bercerita di ruang keluarga, Trias mengajak Tania untuk melihat kamar tidur yang akan di tempati Tania mulai malam ini. Dua wanita yang baru bertemu itu, terlihat sudah saling membiasakan diri. Tania yang memang memiliki kepribadian supel, berhasil membangun komunikasi dengan Trias yang memang pendiam.


"Kenal sama Mas Azam di mana, Tri ?" Tanya Tania saat mereka sudah berada di dalam kamar tamu.


Trias melangkah menuju ranjang sambil memeluk bedcover yang baru saja ia keluarkan dari dalam lemari yang tersedia di dalam kamar mewah itu.


"Ayah ku seorang buruh di perusahaan Mas Azam." Jawab Trias jujur.


Tania terkejut mendengar jawaban itu. Apa iya, keluarga yang sekaya ini sembarangan mengambil menantu.


"Berapa lama menjalin hubungan dengan Bang Azam ? Keliatannya kamu jauh lebih muda ya ?" Tania kembali bertanya.


Trias membawa tubuhnya dan duduk di atas Anjang yang baru saja ia dan Tania bereskan. Otaknya mulai menerawang jauh pada kejadian hampir dua Minggu yang lalu.


"Kami tidak pernah menjalin hubungan. Aku bahkan tidak pernah mengenal Mas Azam sebelum hari pernikahan kami." Jawab Trias membuat Tania semakin terkejut.


Trias menyentuh buah kalung yang menggantung di lehernya. Harta yang paling berharga, itulah yang ia pikirkan saat ini. Masih begitu jelas di ingatan, wajah Mami mertuanya saat melepaskan kalung ini untuk di jadikan mahar.


"Mereka keluarga yang luar biasa. Aku bahkan tidak pernah berpikir akan bertemu dengan orang-orang luar biasa ini." Ujar Trias haru.


Yah, sampai hari ini sebanyak apapun ras syukur yang selalu ia gumam kan di dalam hati untuk sang maha kuasa, rasanya belum cukup untuk membalas apa yang sudah Allah beri untuk dirinya hari ini. Suami, dan juga keluarga baru yang utuh dan sangat menyayangi nya.


"Apakah kamu begitu bahagia ?" Tanya Tania.


Trias mengusap matanya yang berembun, lalu mengangguk.

__ADS_1


"Kamu tidak salah menentukan pilihan, Mbak. Mereka adalah orang-orang yang sangat luar biasa."


__ADS_2