
Saat Danira dan Arion sedang terlelap di Jerman, berbeda dengan kondisi di apartemen Danira yang ada di Jakarta. Seorang pemuda sedang duduk diam tepat di depan sepasang suami istri paruh baya yang sedang menatapnya penuh kecewa.
Bagaiman tidak kecewa, usai menunaikan shalat subuh sepasang suami istri paruh baya itu, mendapat kabar dari Danira, bahwa Abizar menginap di apartemen milik putri sulungnya itu. Dan saat tiba di sini, keduanya mendapati pengakuan jika putra bungsu mereka telah melakukan hal yang tidak pernah terlintas di benak mereka.
Ruangan yang sudah seperti ruang penghakiman bagi Abizar itu, bertambah tegang saat tiba-tiba seorang gadis yang hanya terbungkus selimut, keluar dari dalam kamar.
Berbeda dengan Abizar yang terlihat begitu tenang, Aira justru sangat terkejut, saat mendapati tidak hanya dirinya yang berada di ruangan itu.
Ketika melihat Aira terdiam mematung di depan pintu kamar, Abizar berniat beranjak dari atas sofa. Namun, Zyana segera menahan putranya itu, dan ia sendiri yang melangkah ke arah gadis dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya, dan mengajak gadis itu untuk kembali masuk ke dalam kamar.
"Ayah sangat kecewa padamu." Ujar Alfaraz sambil menatap lekat wajah putranya yang tertunduk dalam. "Kita harus ke rumah orang tuanya hari ini juga." Sambungnya dengan nada yang tegas.
Abizar diam, dia tidak menyela kalimat penuh kekecewaan yang keluar dari bibir Ayah nya.
Di dalam kamar, Aira duduk diam di atas ranjang sambil memperhatikan wanita paruh baya yang sedang memilih-milih isi lemari.
"Pakai ini, kita harus bicara." Ujar Yana sembari mengulurkan sepasang pakaian milik Danira ke arah gadis yang diam membisu di atas ranjang.
Aira patuh, dia tidak tahu apa yang sudah terjadi. Untuk itu, ia memilih untuk menurut apa pun yang di katakan oleh wanita paruh baya yang sedang menatapnya sendu.
Setelah berhasil mengenakkan pakaian, Aira ikut melangkah keluar dari dalam kamar menuju ruang di mana Abizar dan satu lelaki paruh baya berada.
Aira patuh, saat tubuhnya di tuntun duduk tepat di samping wanita yang baru saja membantunya mencari pakaian ganti.
"Di mana orang tuamu ?" Tanya Alfaraz sambil menatap wajah gadis yang terlihat kebingungan.
"Saya,, orang tua saya sudah meninggal Om." Jawab Aira takut-takut.
"Lalu bagaimana cara kami bertanggung jawab atas apa yang sudah di lakukan Abizar terhadap kamu ?" Tanya Alfaraz.
Aira mengalihkan tatapannya. Ia menatap bingung ke arah Abizar, seakan meminta bantuan penjelasan dari masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.
__ADS_1
"Saya minta maaf Om, jika saya sudah merepotkan anak Om. Tapi saya tidak perlu pertanggung jawaban, karena ini memang bukan salah Abizar." Jawab Aira solan.
"Bagaiman bukan salahnya, dia melakukan hal yang tidak pantas terhadap kamu." Ucap Alfaraz.
Aira semakin kebingungan. Ia kembali menatap wajah tenang Abizar.
"Aku akan menikahi mu sebagai bentuk pertanggung jawaban dari apa yang sudah kita lakukan semalam." Ucap Abizar.
Aira mengerinyit heran. Pasalnya ia sama sekali tidak mengingat tentang hal yang sedang di bicarakan oleh Abizar saat ini.
"Kamu memintaku untuk meniduri mu semalam, karena kamu dalam pengaruh obat perangsang." Abizar kembali menjelaskan.
"Maafkan saya Tante, Om. Sungguh saya tidak mengingat hal itu. Dan Abizar tidak perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang saya buat sendiri. Maafkan saya Om, Tante." Ujar Aira merasa bersalah. Kini ia mengerti mengapa sepasang suami istri paruh baya ini terlihat begitu kecewa.
"Maafkan aku Abi, sungguh maafkan aku karena sudah membuat kamu melakukan kesalahan itu. Kamu tidak perlu bertanggung jawab atas hal yang tidak sengaja kamu lakukan." Ucap Aira lagi.
Zyana iba melihat gadis manis yang kini tertunduk di sampingnya.
Aira menggeleng. Sungguh, dia tidak ingin membuat siapapun mendapatkan masalah hanya karena dirinya, termasuk Abizar.
"Saya harus kembali Tante, ini sudah waktunya saya masuk kerja. Maafkan saya tentang kejadian hari ini." Ucapnya tulus.
"Bagaiman jika kamu hamil ?" Tanya Abizar karena Aira terus saja menolak permintaan kedua orang tuanya.
"Itu akan menjadi urusanku Abi, ga apa-apa. Maafkan aku, sungguh maafkan aku." Jawab Aira.
"Dan kamu pikir, aku akan membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti darah daging ku nanti." Tegas Abizar mulai khawatir.
Aira melirik laki-laki paruh baya yang terlihat begitu emang di sofa yang sama dengannya. Tatapannya kemudian berpindah pada wanita paruh baya yang juga diam membisu di sampingnya.
"Aku,,, aku hanya tidak ingin merusak masa depan kamu. Jadi biarkan saja seperti ini, toh apa yang sedang kamu pikirkan belum tentu terjadi."
__ADS_1
"Berhenti menolak Aira ! Aku hanya ingin bertanggung jawab, apa itu sulit kamu terima ?"
Aira menutup matanya, dadanya bergemuruh saat mendengar kalimat ketus yang meluncur dari mulut Abizar.
"Saya hanya merasa tidak pantas Tante. Bukan karena tidak menghargai niat baik kalian. Saya bahkan tidak memiliki keluarga, untuk itu saya tidak merasa tidak pantas untuk menerima, meskipun saya sangat membutuhkan nya." Jelas Aja sambil meraih tangan wanita paruh baya yang ada di sampingnya.
"Terima saja, dan untuk langkah selanjutnya biarlah kita bicarakan nanti setelah pernikahan. Kami hanya ingin melakukan apa yang harus kamu lakukan. Jadi jangan menolak lagi, terlebih kamu juga membutuhkan hal itu." Jawab Zyana.
Aira terdiam. Kini ia tidak memiliki stok alasan lagi untuk menolak. Bersamaan dengan itu, hembusan nafas lega ikut meluncur dari mulut Abizar karena melihat tidak ada lagi penolakan dari Aira.
"Apa kamu sama sekali tidak memiliki sanak saudara. Paman atau Tante misalnya ?" Tanya Zyana.
"Tidak ada Tante." Jawab Aira.
"Lalu selama ini kamu tinggal di mana ?" Tanya Zyana lagi..
"Sebelumnya saya tinggal di panti asuhan, tapi sekarang sudah tidak lagi karena memang sudah bekerja." Jawab. Aira.
"Kamu tidak kuliah ?" Kali ini Alfaraz yang bertanya.
"Saya kuliah Om. Kuliah sambil kerja." Jawab Aira.
"Kalau begitu kita langsung ke kantor urusan agama saja Yah." Ujar Zyana pada suaminya.
"Nanti kamu antar Aira untuk mengambil berkas penting yang di perlukan, agar secepatnya kita selesaikan masalah ini." Perintahnya pada Abizar.
Abizar mengangguk.
Setelah membahas beberapa hal yang harus mereka sediakan, keempat orang itu melangkah bersama keluar dari dalam apartemen menuju basemen.
Aira ikut mengantar sepasang suami istri paruh baya itu menuju mobil. Kemudian mengikuti langkah Abizar menuju mobil lain yang ada di sana, usai kepergian Ayah dan Ibu dari temannya ini.
__ADS_1