Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 266 Season 4


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu setelah duka yang datang dengan tiba-tiba di rumah sakit. Bulan Maret yang sebentar lagi berakhir, seharusnya musim ini pun sudah harus berganti. Tapi lihatlah, rintik hujan masih saja berjatuhan dari langit Jakarta.


Trias Karisma Putri, gadis yang masih berstatus seorang mahasiswa di salah satu universitas yang ada di Jakarta itu, berdiri di balkon kamar sembari menatap rintik hujan yang terus berjatuhan membasahi rerumputan terawat di halaman rumah mewah milik mertuanya.


Hujan rindu, sepertinya itulah yang sedang ia rasakan saat ini. Rindu pada wanita yang sedang sendirian di rumah lama nya, juga rindu pada tiga orang yang sudah lebih dulu berpulang ke pangkuan sang maha kuasa.


Kini ia harus menjalani kehidupan baru, di rumah yang baru juga bersama keluarga yang baru. TIdak memiliki pilihan ? Entahlah, yang jelas ia anya ingin menjalani kehidupan yang sudah Allah pilihkan untuknya.


Di dalam kamar, seorang laki-laki yang baru saja tiba dari tempat kerja, berdiri sambil menatap gadis yang sedang terdiam di balkon kamar mereka. gadis yang sudah mengenakan piyama itu masih belum menyadari kedatangannya. Dan Azam pun tidak berniat mengganggu lamunan dari gadis yang sudah berhasil masuk ke dalam hati dan pikirannya itu. Setelah menarik nafasnya sebentar, Azam kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Suara gemercik air yang berasal dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar, menyadarkan Trias dari lamunan. Gegas ia melangkah meninggalkan balkon dan langsung menuju ruang ganti untuk menyiapkan piyama yang akan di kenakan oleh Azam.


Tiga hari setelah tahlilan, inilah rutinitas yang wajib ia lakukan setiap hari. Menunggu Azam pulang saat larut malam, menyiapkan pakaian lalu menemani suaminya itu makan malam.


Beberapa saat kemudian, pintu ruang ganti di dorong dari luar. Trias yang baru saja meletakkan pakaian ganti Azam, berniat keluar dari dalam ruangan itu.


"Aku mau siapkan makan malam untuk Mas Azam." Pamit Trias.


"Tri..." Azam menahan tangan Trias yang hendak terburu-buru keluar dari ruang ganti.


Trias semakin salah tingkah, terlebih melihat tubuh bagian atas milik Azam yang terekspos begitu saja.


"Aku sudah makan malam, kamu di kamar aja." Perintah Azam lalu melepaskan genggaman tangannya di tangan Trias.


Trias mengangguk patuh, lalu melangkah keluar dari ruang ganti. Setelah menutup pintu ruang ganti, Trias masih berdiri didepan pintu itu sambil menekan dadanya yang terus berdetak hebat.


"Kamu ngapain di situ ?" Tanya Azam saat melihat Trias masih berdiri di depan pintu ruang ganti.


Trias terdiam. Ia tidak sadar sudah berdiri di depan ruang ganti selama ini.


"Apa ada sesuatu ?" Tanya Azam khawatir, karena melihat Trias hanya terdiam di hadapannya.

__ADS_1


Trias menggeleng.


Azam menarik nafasnya dalam-dalam. Takdir ini membuat otaknya jungkir balik. Bagaimana tidak, kini ia menjadi lelaki yang cerewet karena menikahi gadis pendiam seperti ini.


"Mas.." Trias tercekat saat Azam memangkas jarak.


"Katakan jika ada sesuatu yang mengganggu. Kalau ga berani bicara sama aku, kamu boleh bicara dengan Mami atau dengan Niza." Azam menunduk, mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik Trias.


Cup....


"Ayo tidur." Ajak Azam setelah mengecup bibir tipis yang sejak tadi menggodanya. Ia melangkah menuju ranjang sambil mengumpat kesal pada dirinya sendiri.


Trias menyentuh bibir yang baru saja di kecup oleh Azam, lalu melangkahkan kakinya menuju ranjang.


"Ayo sini." Tepuk Azam ruang kosong yang ada di sampingnya.


Trias menarik nafasnya sebentar, lalu naik ke atas ranjang di mana Azam berada.


"Mas..." Panggil Trias saat tubuhnya sudah berada dalam dekapan Azam.


"Hm..."


Azam mengecup kepala Trias, membuat gadis itu menutup matanya.


"Mengapa memutuskan untuk menikahi ku ?" Tanya Trias.


"Entahlah. Mewujudkan impian Bapak mungkin. Aku ga tahu apa yang ada di dalam pikiran ku saat itu, tapi aku begitu iri melihat Aidar yang memiliki seseorang untuk dia lindungi selain Daniza." Jawab Azam.


Trias menari tubuhnya sebentar, lalu menatap wajah tampan itu dengan lekat. Datar tanpa ekspresi, dan tidak ada apapun di sana.


"Mas benar-benar mau hidup sama aku ? Mau melindungi ku seperti yang Bapak lakukan selama ini ?" Tanya Trias memastikan, dan langsung di angguki oleh Azam.

__ADS_1


"Mau jadi laki-laki kedua seperti Bapak ?" Tanya Trias lagi.


Azam mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi Trias membuat gadis itu terkejut dengan perlakuan tiba-tiba dari suaminya.


Kecupan lembut kembali mendarat di bibir tipis Trias. Gadis itu menahan nafasnya agar tidak berhembus, membuat Azam tertawa.


"Bernafas Tri, aku belum mau jadi duda kembang." Kekeh Azam membuat Trias ikut tertawa. "Ayo tidur.." Ajak Azam lagi.


"Ga jadi di lanjut ?" Tanya Trias polos.


Azam mengerutkan keningnya untuk mengartikan kalimat singkat yang baru saja keluar dari bibir Trias.


"Kamu yakin ?" Tanya Azam.


Wajah Trias memerah menahan malu. Otaknya terus mengutuk bibirnya yang begitu tidak tahu malu meminta Azam melanjutkan ciuman tadi.


"Kalau di lanjut, aku tidak akan berhenti walau kamu yang memintanya." Ujar Azam lagi, semakin membuat jantung Trias meronta.


Kecupan lembut kembali mendarat di bibir tipis Trias. Tidak ada penolakan, namun gadis itu kembali menahan nafasnya.


"Bernafas Tri." Bisik Azam serak, kemudian kembali mendaratkan bibirnya di dahi Trias. Kali ini bukan lagi ciuman singkat yang tiga hari ini ia lakukan sebelum berangkat kerja. Mata, pipi, hidung dan semua bagian wajah yang tiga hari ini mengisi otak nya, tidak seinci pun di lewatkan oleh Azam.


Trias hanya menutup matanya, menikmati gelenyar aneh yang terasa di relung hati terdalamnya. Cinta ? Secepat itu kah rasa itu tumbuh ? Entahlah, yang pasti ia bahagia bisa menjadi istri seutuhnya untuk Azam.


Hembusan angin malam masuk melalui pintu pembatas balkon yang tidak sempat di tutup tadi. Tirai putih yang menggantung indah di pintu pembatas itu, tidak mampu menghalangi udara dingin yang masuk kedalam kamar mewah itu.


Rintik hujan yang terdengar di luar sana, menjadi pengiring malam ini. Udara dingin yang keluar dari pendingin ruangan yang menempel di di dinding kamar itu, tidak mampu membuat peluh keduanya berhenti.


Seiring ringisan kecil yang keluar dari bibir Trias karena rasa tidak nayaman di bagian inti tubuhnya, bersamaan dengan itu pula ia memohon agar hubungan yang ia mulai malam ini, akan berakhir seperti yang ia harapkan nanti.


Tiga hari sudah mampu membuatnya yakin, jika laki-laki yang sedang berada di atas tubuhnya ini adalah laki-laki yang baik dan tepat untuk menggantungkan segala asa.

__ADS_1


Ia berharap laki-laki yang masih memacu tubuhnya sembari mengecup matanya yang sembab ini, adalah laki-laki yang tepat untuk menggantikan mendiang Bapak hingga nanti.


__ADS_2