Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 249 Season 4


__ADS_3

Di sebuah bangunan megah dengan puluhan lantai, Ayiman terdiam di kursi kerjanya. Ayura, adik kembarnya yang merangkap sebagai sekretaris pribadi sedang berdiri sambil menatap nyalang ke arahnya.


"Aku bakal laporin Ayah, biar sekalian saham nya di bagi dua." Ujar Ayu dengan mata tajam.


Beberapa saat yang lalu, keduanya baru saja kembali dari pertemuan. Dan yang membuat Ayu kesal, laki-laki gila di hadapannya ini memberikan nomor ponsel pribadinya sebagai transaksi agar klien mereka itu mau menandatangani surat persetujuan kontrak dengan perusahaan mereka.


"Kamu itu udah tua Yu, sudah waktunya menikah..


Bugh...


Kepalan tangan lentik Ayura mendarat dengan sempurna di kepala Ayiman.


"Sekali lagi kamu ngomong gitu, akan aku pastikan kamu jadi pengangguran." Ancam Ayura.


"Kalau aku jadi pengangguran, Tania dan anak kami mau di kasih makan apa." Kesal Ayiman sambil mengusap kepalanya yang terasa panas akibat hantaman Ayura.


"Bukan urusan aku. Cepat selesaikan masalah ini. Jika laki-laki gila itu berani mengganggu ku, bersiaplah keluar dari perusahaan ini." Tegas Ayura. Gadis cantik yang terkenal kiler di lingkungan kantor itu keluar dari dalam ruangan mewah yang sudah di tempati secara turun temurun oleh keluarga Prasetyo itu.


Baru saja hendak kembali menutup pintu ruangan, ponsel yang berada di saku blezer Ayura bergetar. Dengan kesal gadis itu merogoh benda pipih yang ada di dalam kantong pakaiannya, lalu memeriksa siapa gerangan yang berniat menambah kekesalannya siang ini.


"Aku akan membunuhnya." Ayura mengurungkan niatnya yang ingin kembali ke meja kerjanya. Ia kembali melangkah masuk ke dalam ruangan sang abang dengan wajah menahan kesal.


"Ada apa lagi ?" Tanya Ayiman. Gadis kesayangan Ayah nya ini sama sekali tidak pernah absen mengamuk di dalam ruangannya selama mereka bekerja di perusahaan ini. Jika Ayura hanya sebatas sekretaris biasa, pasti sudah sejak lama ia memecatnya. Namun, sayang gadis yang begitu mirip dengannya ini menjadi saingan beratnya jika menyangkut saham perusahaan.


"Orang gila itu berani menghubungi ku." Ayura melempar ponsel mahalnya ke atas meja kerja Ayiman.


"Lalu apa hubungannya dengan ku ? Ayo angkat, siapa tahu kalian berjodoh. Aduh,, aduh,, sakit Yu.." Ujar Ayiman saat tangan lentik yang baru saja menghantam kepalanya beberapa saat yang lalu, kini menjewer telinganya dengan brutal.


"Cepat kamu selesaikan sekarang, kalau tidak aku laporin ke Ayah." Ujar Ayura sambil menarik telinga Ayiman, sedangkan tangan satunya terus memukul-mukul bahu abang kembarnya.


"Ayu sakit banget. Lepaskan nanti telingaku keluar dari tempatnya" Keluh Ayiman. "Ayah sudah tahu hal ini Dek." Bujuk Ayiman agar adiknya ini berhenti mengamuk padanya.


"Bodoh amat, aku ga perduli yaa.. Pokoknya Abang harus menyelesaikan ini tanpa harus mengorbankan kerja sama perusahaan." Ayura melepaskan tangannya dari tubuh Ayiman, lalu berniat melangkah keluar dari dalam ruangan. Tapi, langah kakinya seketika terhenti saat mendapati orang yang menjadi pokok permasalahan siang ini sudah berdiri di depan pintu ruangan Ayiman yang tidak sempat ia tutup tadi.

__ADS_1


Ayura melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja Ayiman. Getaran di ponsel itu masih belum berakhir. Dengan hati yang masih di liputi kekesalan, Ayura melangkah cepat dan keluar dari sana.


"Mau masuk ?" Tanya Ayura ketus.


Laki-laki tampan yang masih menempelkan ponsel di telinganya, menatap Ayura lalu mengangguk.


"Em, tapi aku kesini mau ajak kamu makan malam." Ujar laki-laki itu.


Ayura menatap tajam ke arah kakak kembarnya, lalu segera melangkah keluar dari dalam ruangan itu tanpa berniat menjawab ajakan laki-laki yang masih saja menatapnya.


****


Setelah kepergian Ayura, Ayiman beranjak dari atas kursi kerjanya lalu melangkah mendekati laki-laki yang masih terus menatap kepergian adik kembarnya.


"Aku mau ajak dia makan siang, tapi sepertinya Ayura tidak memiliki kepribadian seperti yang di gambarkan oleh Papa." Ujar laki-laki itu.


Ayiman menghela nafasnya yang terasa berat.


Laki-laki yang bernama Samudra itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam ruangan Ayiman.


"Om Gio dan Tante Mei, gimana kabarnya ?" Tanya Ayiman.


"Mama dan Papa baik." Jawab Sam.


"Maafkan dia." Ucap Ayiman merasa bersalah, terlebih saat Samudra melirik ponsel pintar milik Ayura yang tergeletak begitu saja di atas meja kerjanya.


"Apa Papa ga salah orang ?" Tanya Samudra.


Ayiman menggeleng.


"Kata Papa sekretaris kamu itu gadis yang baik. Kok berani mukulin bos nya ?" Tanya Samudra.


Ayiman memijit kepalanya yang mulai berdenyut sakit. Bisa ga dia menendang kliennya ini keluar dari dalam ruangan. baru saja ia terlepas dari amukan singa betina, kini ia harus menghadapi laki-laki yang memiliki tingkat kekepoan yang luar biasa.

__ADS_1


"Dia bukan hanya sekretaris ku Sam, tapi adik kembar ku juga. Om Gio ga cerita soal ini sama kamu ?" Tanya Ayiman.


Sam hanya menggeleng. Sang Papa hanya mengatakan jika gadis yang akan di jodohkan degannya itu seorang sekretaris, ia tidak tahu jika Ayura adalah anak pemilik perusahaan ini.


"Mungkin Om Gio mau kamu menerima Ayu sebagai gadis biasa bukan sebagai anak dari pemilik perusahaan." Ujar Ayiman.


"Aku mau ajak dia ke rumah. Beberapa saat yang lalu setelah kalian kembali, Mama meminta ku untuk membawa Ayura ke rumah." Ujar Sam.


Beberapa saat kemudian, ketukan pintu di ruangan Ayiman terdengar. Dua laki-laki yang sedang duduk di atas sofa yang ada di dalam ruangan itu, sama-sama menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang baru saja mengetuk pintu ruangan itu.


"Saya membawakan minum untuk tamu Pak." Ucap Ayura sopan, membuat Sam kebingungan. Baru beberapa saat yang lalu, Ayura mengamuk dan dengan cepat gadis ini berubah menjadi sesopan ini.


"Masuk Yu." Ucap Ayiman.


Ayura pun melangkah masuk ke dalam ruangan Ayiman untuk menyeduhkan segelas minuman untuk tamu perusahaan mereka.


"Ayu, Sam kemari karena di suruh Tante Mei untuk datang menjemputmu." Ucap Ayiman takut-takut sebelum Ayura keluar dari dalam ruangannya.


Ayura melirik laki-laki yang sejak tadi terus saja menatap ke arahnya.


"Buat apa ?" Tanyanya pada sang Abang.


"Tante Mei dan Om Gio, mau ajak kamu makan sian bersama di rumah mereka." jawab Ayiman.


"Aku masih banyak pekerjaan." Tolak Ayura lalu melangkah keluar dari dalam ruangan itu.


"Minum Sam." Ajak Ayiman.


Laki-laki yang terus saja menatap pintu keluar yang di lewati Ayura itu, mengangguk kemudian meraih satu gelas orange jus yang ada di atas meja sofa.


"Sepertinya dia tidak mau Sam." Ucap Ayiman.


Sam hanya tersenyum. Ia mulai bisa membaca, seperti apa kepribadian gadis yang di jodohkan oleh orang tua angkatnya ini.

__ADS_1


__ADS_2