
Restoran mewah di tengah kota Jakarta menjadi tempat makan malam Danira dan Arion malam ini. Tidak hanya mereka berdua, tetapi lengkap dengan kedua orang tua mereka. Sayangnya, Ibu dari Arion sedang bersama keluarga barunya di Singapura, untuk mengurus persiapan pernikahan dari adiknya, Feri bersama kekasihnya.
Wajah bahagia begitu jelas terlihat di wajah tiga orang paruh baya yang ada di sana, setelah mendengar berita bahwa Danira kini sedang mengandung.
Abimanyu adalah orang yang paling bersemangat mendengar berita bahagia itu. Binar bahagia nampak terlihat jelas di wajah tuanya. Bagaimana tidak, dia paling tahu keadaan seperti apa yang dulu di alami putranya, dan mendapati hal ini seakan Allah sedang memberikan keajaiban pada keluarganya melalui keluarga Alfaraz.
Lelaki paruh baya itu tidak pernah lelah mengucapkan terimakasih pada menantunya, karena sudah memberikan hadiah berharga ini untuk keluarganya. Danira adalah keberuntungan, dan sampai hari ini ia tidak pernah berhenti bersyukur karena yang ada di samping putranya saat ini adalah Danira.
"Jadi kapan pernikahan Feri Pa ?" Tanya Arion setelah mereka menyelesaikan makan malam hangat itu.
"Papa belum mendapatkan kabar yang jelas. Mama kamu bilang masih dalam tahap persiapan, karena calon istrinya masih sedang menyelesaikan profesi kedokterannya di Berlin." Jawab Abimanyu. "Jika berkenan, kita akan berkumpul di sana." Sambung lelaki paruh baya itu pada besannya.
"Boleh, Singapura negara yang cukup layak di jadikan destinasi liburan keluarga." Jawab Alfaraz.
"Saya akan menyiapkan pesawatnya agar cucu kita bisa ikut bergabung." Ujar Abimanyu.
"Arion harus menanyakan pada dokter dulu." Arion menimpali. Dia akan memilih tidak datang ke pernikahan adik tengilnya itu, jika perjalanan nanti hanya akan membahayakan calon bayinya.
"Masih lama, dan kamu masih punya banyak waktu untuk memastikan Danira dan calon bayi kalian sehat." Jawab Abimanyu.
Arion mengangguk patuh.
Setelah makan malam hangat itu, Alfaraz dan Zyana berpamitan untuk pulang ke kediaman mereka, begitu pula dengan Abimanyu.
Tersisa Danira dan Arion yang ada di sana. Sepasang suami istri itu masih menikmati waktu berdua di dalam ruang private restoran, bersama rasa bahagia yang terus membuncah di dalam dada keduanya.
Di saat kita sudah benar-benar pasrah dan memilih untuk tidak terlalu berharap, kemudian Allah justru memberi keajaiban. Sungguh, rasa bahagia yang akan kita rasakan, tidak akan mampu di ukur dengan alat ukur manapun.
Begitulah yang kini di rasakan oleh keduanya. Danira yang memang sangat pintar menekan perasaan yang berlebihan, nampak terlihat biasa saja dengan kabat kehamilannya hari ini, tapi sebenarnya rasa bahagia yang kini ia rasakan seakan mampu memenuhi seluruh ruang yang ada di dalam dada. Beberapa kali manik indahnya melirik tangan yang terasa begitu hangat sedang menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Aku bahagia." Ucap Arion.
Danira tersenyum mendengar dua kata yang sudah kesekian kalinya terdengar di indra pendengarannya itu.
"Aku mencintaimu Danira Florence Prasetyo."
Kalimat yang juga sering ia dengar, kembali meluncur dari bibir Arion dan hanya di tanggapi oleh senyum manis dari bibir tipisnya.
"Aku batal merasakan ranjang baru kita." Ujar Danira merengek.
Arion menatap Danira dengan tatapan tidak percaya. Dua kalimat penuh penghayatan yang keluar dari bibirnya, hanya di tanggapi dengan kalimat mengesalkan namun membuatnya candu, oleh istri nya. Tidak tahan lagi, ia membungkam bibir yang sudah membuatnya candu itu dengan ciuman panjang nyaris membuat Danira kehabisan stok oksigen di dalam paru-parunya.
Setelah ciuman panjang yang membuat keduanya hampir kehabisan nafas itu berakhir, Danira tertawa dengan nafas terengah-engah.
Sedangkan Arion menangkup pipi Danira dengan kedua tangannya. Hingga beberapa saat kemudian, ciuman panjang yang sempat terhenti, kembali berlanjut.
"Kenapa ?" Tanya Arion heran. Biasanya Danira adalah orang yang paling antusias menyambut aksi liarnya.
"Ini tempat umum, dan lebih mengesalkan lagi kita belum boleh melakukan aktivitas ranjang sampai calon anak kamu benar-benar kuat dan mau di jenguk." Jawab Danira.
Arion hanya bisa tertawa melihat wajah cemberut istrinya.
"Ayo pulang, aku mau tidur sambil peluk kamu." Ajak Danira.
Arion kembali mengangguk. Ia lalu membawa istrinya keluar dari ruang private itu, menuju parkiran di mana mobilnya berada dengan tangan yang saling menggenggam erat.
Cinta tidak selalu menjadi awal dalam sebah hubungan, akan tetapi kita harus memastikan jika cinta yang akan menjadi akhir dari sebuah hubungan.
Kita memang tidak bisa memaksa hati kepada siapa harus berlabuh, akan tetapi kita bisa menentukan sikap seperti apa yang harus kita beri pada seseorang. Cukup perlakukan dengan baik, dan tunggulah waktu yang tepat saat Allah sudah melabuhkan hati kita pada orang yang kita inginkan.
__ADS_1
Mobil mewah milik Arion mulai melaju di jalanan Jakarta. Dulu saat melabuhkan hatinya pada seseorang, ia rela mengorbankan sesuatu yang berharga dalam dirinya, agar bisa menjalani pernikahan yang ia impikan. Tapi kini Allah begitu berbaik hati mengabulkan pernikahan, dan bahkan memberikan hadiah yang ia tahu sulit untuk ia dapatkan.
"Membayangkan saat kembali ke rumah usai melakukan pekerjaan yang menguras tenaga, dan sudah di tunggu oleh orang-orang yang berharga di rumah, membuatku sangat bahagia." Ujar Arion.
"Aku akan jadi istri dan Ibu yang baik." Jawab Danira. "Menyiapkan makanan untukmu, lalu menunggumu pulang sambil menonton darma korea seperti ibu-ibu pada umumnya pasti menyenangkan." Sambungnya.
Arion menyetujui rencana masa depan yang sedang di susun oleh istrinya.
"Oh iya, aku juga mau menikmati bagaimana rasanya antrian minyak goreng di mini market." Ujar Danira lagi, dan kali ini berhasil membuat Arion tertawa geli.
Apa-apaan rencana aneh itu. Dia bahkan bisa membeli pabrik minyak goreng, jika memang Danira menginginkannya.
"Aku lihat yang lagi viral di media sosial, ada sepasang suami istri yang pura-pura ga kenal hanya biar dapat minyak goreng." Ujar Danira lagi semakin membuat Arion tertawa geli.
"Aku ga punya waktu buat temanin kamu antrian beli minyak goreng." Jawabnya. "Diam di situ." Pintanya setelah memarkirkan mobilnya di depan rumah minimalis namun mewah milik mereka.
"Mau ngapain ?" Tanya Danira.
"Jangan ke mini market, apalagi mengantri minyak goreng. Nanti anak aku minta di belikan produk dengan kemasan warna merah di meja kasir." jawab Arion sambil mengangkat tubuh Danira keluar dari dalam mobil, lalu kembali menutup pintu mobil menggunakan kaki panjangnya.
"Buka pintu." Perintahnya.
Dengan wajah bahagia, Danira merogoh kunci rumah dari dalam tasnya lalu membuka pintu dengan ukiran kayu itu dengan cepat.
"Ke kamar dong." Pintanya cemberut karena Arion hanya membawanya ke sofa yang ada di ruang keluarga.
"Ogah, kamu berat. Mati aku kalau masih harus berjalan lebih jauh lagi sambil mengangkat tubuhmu." Jawab Arion dengan nafas yang terputus-putus.
"Makanya ga usah sok romantis, habis kan nafas mu." Danira tertawa keras.
__ADS_1