
"Ra..
Zidan masih ingin menahan langkah Farah. Ia ingin membawa Farah untuk pulang saja, karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi dengan istri dan calon anaknya yang baru ia ketahui hari ini.
"Kita selesaikan ini." Ujar Farah tanpa ingin di bantah.
Ia sudah sering kali menghadapi masalah dalam kasus-kasus di firma hukum, dan hari ini ia ingin menerapkan apa yang sering dia lakukan dalam pekerjaan nya. Tidak ingin lari lagi, dan memilih untuk menyelesaikan nya. Soal hasilnya yang mengecewakan atau tidak itu urusan belakangan, yang terpenting saat ini ia sudah berusaha untuk menyelesaikan. Begitulah hatinya berbicara saat ini.
Alfaraz sudah berpindah dalam pelukan Anisa. Wanita paruh baya yang hendak mengantarkan makan siang untuk sang suami, dan mendapati sahabatnya sedang berlutut di hadapan suaminya siang ini, sudah membawa cucunya menjauh dari orang-orang dewasa itu.
Ia mengajak Alfaraz duduk di kursi kebesaran yang biasa di gunakan Zidan dan suaminya bekerja. Memberikan selembar kertas, juga satu buah pena untuk di gunakan cucunya mencoret apa saja agar tidak mengganggu pembicaraan di ujung sana.
"Rita hamil." Nina memulai pembicaraan.
Farah menarik nafasnya yang mulai sesak. Ia mengusap lembut perutnya, karena umpatan yang meluncur begitu saja di dalam hati untuk dua wanita yang entah mengapa begitu membencinya.
Entah apa salahnya, menjadi wanita kedua dalam pernikahan Nadia bukan hanya keinginannya semata, namun juga semua kelurga termasuk Nadia. Jadi, sekeras apapun Farah berpikir, tidak sepantasnya Tante Nina membenci dirinya dan menuduh seakan-akan ia merebut Zidan dari Nadia.
"Itu bukan perbuatan ku Ra." Ujar Zidan segera.
"Aku tahu." Ucap Farah cepat. "Aku tahu semurahan apa wanita yang sedang berlutut di kaki mertuaku ini, tentu saja aku percaya itu bukanlah anak dari suamiku." Sambungnya santai.
"Aku tidak tahu apa yang membuat Tante Nina begitu membenciku, hingga terus memaksakan wanita lain masuk dalam rumah tanggaku. Tapi Tante, aku tidak akan pernah mau apapun alasannya." Ujar Farah. Matanya sudah tertuju pada wanita yang juga sedang menatapnya tajam penuh hinaan.
"Jangan serakah Farah, Nadia saja mau menerimamu untuk menjadi wanita ke dua dalam hidupnya. Dia mau berbagi ranjang yang seharusnya hanya ia tempati seorang diri, agar kalian tidak selingkuh di belakangnya, seperti yang sudah di lakukan Dimas pada sahabatku." Ujar Nina.
"Sayang sekali Tante, aku memang serakah dan tidak sebaik Mbak Nadia. Apa Kak Rehan tidak pernah bercerita jika aku adalah gadis yang jahat tanpa belas kasih terhadap musuh yang sengaja mengusikku. Dan satu lagi, aku tidak pernah bertemu dengan Mas Zidan sebelum Mbak Nadia datang dan membawanya padaku." Ucap Farah meneyela kalimat wanita paruh baya yang sudah kembali terdiam di tempatnya.
"Ra..
__ADS_1
"Jangan menyebut namaku dengan mulut busuk mu ! Kamu tahu, hanya orang-orang tertentu yang boleh menyebutnya." Bentak Farah. Kali ini tatapannya sudah tertuju pada gadis yang masih bersimpuh di dekat kaki Ayah mertuanya.
Sungguh ia mulai muak dengan orang-orang yang seakan tidak pernah lelah mengganggu ketenangan hidupnya. Apa di sini hanya kesalahannya ? Bukankah selama empat tahun ini, ia juga sudah merasakan bagaimana menderitanya menjadi wanita kedua dalam pernikahan orang lain ? Lalu mengapa sampai saat ini wanita paruh baya yang katanya begitu mencintai keponakannya yang telah tiada, terus saja menghakimi dirinya.
Dan tolong beritahu pada dua wanita di hadapannya ini, baru saja hari ini ia memutuskan untuk memulia kembali. Membuka lembaran cerita baru tentang kehidupannya bersama Zidan, kini sudah ada lagi pengganggu yang ingin merusak semuanya.
"Ayahku akan membunuhku Zidan. Tolong bantu aku kali ini saja." Ujar Rita memohon.
"Tidak." Tolak Zidan cepat tanpa basa basi.
"Kamu lagi, benar-benar anak tidak tahu diri. Kamu tahu siapa dirimu ini ? Kamu hanyalah anak haram yang di bawah Rania dan di besarkan oleh sahabatku." Ujar Nina sinis.
"Dan kamu, belajarlah dari Ibu mertuamu, yang sudah dengan ikhlas merawat dan membesarkan Zidan anak dari selingkuhan Ayahnya. Apa kamu tidak bisa menjadi wanita yang sedikit bermurah hati ? Apa kamu tidak malu sedang di kelilingi oleh orang-orang yang memiliki hati yang begitu baik ?" Cerca Nina.
"Sayangnya aku tidak memiliki hati sebaik Ibu Mertua dan Mbak Nadia. Aku gadis yang jahat dan tidak tahu diri. Jadi jangan pernah memintaku untuk berbaik hati menerima semua kebusukan kalian ini." Tegas Farah.
Setelah ia menjadi wanita kedua dalam pernikahan Nadia dan Zidan, Tante Nina yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri, berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi tatapan hangat, berganti dengan tatapan penuh hinaan terkesan jijik terhadap dirinya.
"Mas selesaikan masalah ini. Aku akan kembali ke Jogja, jemput aku jika semua sudah selesai." Putus Farah pada akhirnya. Ia tidak ingin lagi berdebat di dalam ruangan ini, karena sepertinya masalah ini sulit untuk menemui ujungnya.
"Ra aku mohon jangan pergi lagi." Zidan menatap Farah penuh permohonan.
"Mas masalah ini akan terus mengganggu kita jika tidak di selesaikan dengan segera. Aku akan membawa Al bersamaku. Datang dan jemput kami jika semua benar-benar telah selesai." Ujar Farah tidak ingin di bantah.
Wanita itu beranjak dari sofa yang ia duduki, kemudian mendekati Ibu mertua dan Putranya yang juga ada di ruangan itu.
"Farah jangan seperti ini." Cegah Zidan lagi.
Laki-laki itu ikut beranjak dari sofa yang ia duduki, lalu melangkah menyusul sang istri yang hendak membawa putranya pergi.
__ADS_1
"Bu." Protes Zidan saat Anisa justru menyerahkan Alfaraz pada istrinya.
Farah segera membawa Alfaraz ke dalam dekapannya, lalu bergegas keluar dari dalam ruangan itu. Zidan pun ikut keluar, tentu saja ia tidak akan membiarkan sang istri pergi begitu saja hanya karena masalah bodoh ini.
"Aku akan mengantar kalian ke Jogja." Putus Zidan akhirnya. Ia mengalah dan membiarkan Farah melakukan apa yang wanitanya ini mau.
Farah berhenti melangkah, ia menatap sendu pada laki-laki keras kepala di hadapannya. Menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali menghembuskanya perlahan.
"Aku bisa pergi sendiri Mas, yang paling penting saat ini Mas selesaikan semuanya." Kali ini Farah sudah berbicara lebih lembut dari biasanya.
"Aku takut Ra. Aku takut kamu akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi." Lirih Zidan.
Sungguh ia tidak perduli dengan apapun lagi, yang ia inginkan saat ini hanyalah hidup bahagia bersama Farah dan anak-anaknya.
"Aku tidak akan pergi jauh Mas, hanya ke Jogja di sana lebih tenang dan bisa membuat aku lebih baik." Ucap Zia pelan. Ia mengusap lembut pipi Zidan, meyakinkan laki-laki ini semua akan baik-baik saja. Hanya saja memang harus seperti ini, jika tidak di selesaikan, Rita akan selalu menjadi duri dalam rumah tangganya. Belum lagi Tante Nina yang terus saja mengungkit masa lalu Ayah mertuanya. Itu sangat mengganggu.
"Ibu akan menemani Farah, kamu selesaikan semua ini bersama Ayah." Ucap Anisa.
Zidan menoleh, menatap wanita yang begitu mencintainya seperti Zia padahal ia bukanlah darah daging wanita ini. Masih ragu untuk melepaskan Farah pergi, namun, jika ia memaksakan kehendaknya takut semua ini justru akan berimbas pada kehamilan Farah.
"Jangan jauh-jauh Ra, tinggal saja di rumah Ibu dan Ayah." Pinta Zidan lagi.
Farah menghembuskan nafasnya lelah, lalu mengangguk mengiyakan permintaan Zidan. Sejujurnya ini begitu mengganggunya, namun, jika tidak mengalah maka seterusnya mereka akan terus beradu argumentasi di sini.
"Aku akan datang menjemput kalian jika sudah selesai." Ujar Zidan.
Laki-laki itu memberanikan diri mengecup kepala Farah berulang kali, lalu berpindah pada pipi gembul putranya.
Setelah Ibu dan istrinya menghilang di balik lift, Zidan kembali masuk ke dalam ruangan. Ia mengepalkan tangannya menahan emosi yang semakin memuncak.
__ADS_1