Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 158 Season 2 Bonus Chapter


__ADS_3

Nadira membuka pintu kamar tidurnya dengan perlahan, dan tatapannya langsung tertuju pada bocah laki-laki yang kini berdiri di depan kamarnya dengan tatapan sedih.


"Kakak mau pergi lagi." Tanya Abizar pelan.


"Nanti setelah plang sekolah, aku akan balik lagi kok." Jawab Dira.


Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya menuruni satu persatu anak tangga, menuju lantai bawah.


Abizar tidak lagi mencegah, ia membalik tubuhnya dan masuk ke dalam kamarnya dengan sedih. Dia tahu jika kedua kakaknya itu terlibat keributan, pasti Nadira selalu memilih untuk pergi dari rumah.


***


"Mau kemana ?" Tanya Yana saat melihat putri keduanya sudah rapi sambil membawa tas ransel.


"Dira mau nginap di rumah Aunty, tadi Gio bilang bulan depan akan ikut olimpiade, dan minta di ajarin." Jawab Dira takut-takut. Melihat wajah tak bersahabat sang Ibu selalu membuat nyalinya menciut.


"Maaf atas kelancangan ku Dir." Ucap Nira pelan sambil menatap adik kembarnya dengan perasaan bersalah.


Nadira mengangguk, namun, wajahnya masih saja datar tanpa ekspresi.


"Ayo Ayah antar." Ujar Alfaraz. Dia sudah sangat hafal apa yang akan di lakukan oleh putri keduanya jika mendapatkan masalah di rumah.


"Yah.." Yana mencoba menahan suaminya. Ia tidak ingin Nadira selalu memilih pergi setiap kali ada sesuatu yang terjadi di rumah.


Alfaraz menggeleng, meminta istrinya agar tidak semakin memperburuk keadaan.


"Dira Pamit Bu." Ucap Dira sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan ibunya.


Yana tidak menjawab, tapi dia membiarkan putrinya mencium punggung tangannya.


"Aku pergi."


Alfaraz mencium puncak kepala istrinya, kemudian melangkah keluar dari rumah bersama putrinya.


***


"Dira anak nakal ya Yah." Ucap Nadira sambil menatap kerlap-kerlip lampu yang menghiasi jalanan ibu kota.


"Nggak kok, hanya belum mampu mengendalikan diri, itu aja." Jawab Alfaraz.


"Yah, bisa nggak percepat kepergian Dira ke Berlin. Ayah bilang ke Om Kenan, nanti Dira akan ngirim pesan lewat email ke Kak Rayan buat jemput Dira di airport." Pinta Nadira.


"Apa ngga sebaiknya kuliah di sini saja Nak ? Nggak apa-apa tinggal di apartemen, asalkan masih di Indonesia." Bujuk Alfaraz.


"Ayah, Dira sudah membicarakan hal ini dengan Ayah sejak dulu. Kenapa. tiba-tiba seperti ini ?" Nadira menatap sedih wajah Ayahnya.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti Ayah akan bicara dengan Om Kenan." Putus Alfaraz akhirnya. Melihat wajah sedih Nadira setiap kali mendapatkan masalah di rumah, membuat nya tidak sampai hati untuk terus menahan putrinya tetap di sini.


"Terimakasih Ayah." Ucap Dira.


Tangan Alfaraz terulur, lalu mengusap lembut puncak kepala putrinya yang tertutup hijab.


Perjalanan dari rumahnya menuju rumah adiknya memang cukup jauh, dan memakan waktu cukup banyak. Belum lagi di tambah dengan jalanan macet yang entah kapan bisa terurai di ibu kota ini.


"Ayah tidak bisa mampir. Nanti besok ke sekolah bareng Gio aja." Ujar Alfaraz.


"Iya Ayah, Dira pamit ya." Jawab Dira sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami punggung tangan sang Ayah.


Alfaraz kembali mengusap lembut kepala putrinya, lalu menatap gadis kecilnya yang sudah keluar dari dalam mobilnya dengan perasaan sedih. Membayangkan Nadira akan berada jauh dari jangkauannya, sedikit membuat perasaannya terganggu.


Setelah melihat pintu rumah adiknya sudah kembali tertutup, dan memastikan putrinya sudah masuk ke dalam, Alfaraz kembali melajukan mobil menuju rumahnya.


Ada banyak hal yang harus dia bicarakan dengan istrinya mengenai permintaan putri keduanya.


***


"Assalamualaikum." Ucap Dira sambil melangkah masuk, setelah asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya.


"Kak Dira.." Teriak gadis kecil dari ruang keluarga saat melihat kedatangan Nadira.


Gadis berhijab itu melangkah menuju Aunty dan Om nya yang juga sedang duduk di atas sofa di dalam ruangan itu.


"Bawa tas Kak Dira ke kamar Gia yaa." Perintah Adelia pada putrinya.


"Sama Gio aja Ma." Lelaki yang hampir seumuran Dira itu meminta Kakak sepupunya untuk tidur di kamar nya malam ini.


"Ngga boleh, nanti kalau kamu naksir Dira, Papa ngga bisa lamar Dira sama Om Al." Celetuk Gerald yang juga berada di sana.


Adelia segera memukul kepala suaminya karena selalu saja berkata yang tidak pantas di depan putranya.


"Gio mau minta di ajari matematika Ma, ada olimpiade bulan depan." Pemuda tampan itu kembali meminta agar Dira tidur di kamarnya malam ini.


"Nanti kita belajar bersama di kamar Gia." Ujar Dira.


"Nanti malah Gia yang di ajarin." Ucap Gio cemberut.


Dira hanya tertawa.


"Kata Oma tadi pulang sekolah kamu langsung minta antar ke sana." Tanya Adelia.


Dira menatap tantenya lalu mengangguk.

__ADS_1


"Rindu Oma dan Opa." Jawabnya.


"Kak Dira ayo." Gadis kecil yang baru berusia sembilan tahun itu kembali berteriak untuk mengajak kakak sepupunya ke dalam kamar.


"Gia duluan aja, Kak Dira harus makan dulu." Pinta Adelia pada putrinya.


"Papa temani Gia." Tawar Gerald saat melihat wajah cemberut putrinya.


Gadis kecil itu tersenyum, lalu mengangguk antusias. Sedangkan Adelia segera membawa keponakannya menuju dapur.


***


Satu gelas susu hangat sudah berada di depan Dira. Gadis itu meminum cairan berwarna cokelat itu dengan perlahan.


"Apa yang terjadi ?"Tanya Adelia.


"Dira jahat banget sama Kak Nira." Jawab Dira sambil tertunduk dalam.


Adelia menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Sifat Nadira memang lebih mirip Alfaraz yang sangat cepat merasa tersisih dan sensitif.


"Lain kali jika ada sesuatu yang mengganggu perasaan kamu, jangan langsung bertindak. Istigfar dulu, lalu bicarakan semuanya dengan baik." Ucap Adelia sambil menatap keponakannya yang masih tertunduk di hadapannya.


"Apa yang terjadi ?" Tanya Adelia lagi.


"Kak Nira mengotak atik komputer Dira..."


Adelia tidak lagi menimpali atau bertanya. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi, dan keponakannya ini pasti akan melarikan diri ke rumahnya sama seperti hari ini.


"Mau makan dulu ?" Tanya Adelia.


"Ga usah Aunty. Tadi sebelum pulang ke rumah, Dira sudah makan malam sama Oma dan Opa." Jawab Nadira.


"Ya sudah. Ayo kita ke sana. Lihat, anak tampan Aunty masih menunggu dengan setia di sana." Ajak Adelia setelah gelas yang ada di depan keponakannya sudah kosong.


Dira mengangguk patuh, lalu beranjak dari kursi yang ia duduki kemudian melangkah menuju ruang keluarga di mana adik sepupunya berada.


"Aunty tinggal yaa, nanti jangan sampai malam-malam belajarnya." Ujar Adelia memperingati saat melihat suaminya sudah turun dari kamar putrinya.


"Bentar Kak, aku ambil buku dulu. Sepertinya di sini jauh lebih nyaman." Pamit Gio.


Dira kembali mengangguk mengiyakan.


Setelah beberapa saat, Gio kembali keruang keluarga sambil membawa beberapa buah buku bersama benda lipat miliknya.


Keduanya kemudian mulai membahas beberapa rumus yang sering muncul dalam soal olimpiade.

__ADS_1


__ADS_2