
"Kenapa sih cepat-cepat banget keluar dari dalam kamar." Arga berdiri di pintu kamarnya, dan berusaha menahan Dira untuk tetap di dalam kamar.
"Minggir Kak, ga enak sama Mama." Dira melihat jam tangan yang sudah melingkar rapi di pergelangan tangannya.
Dasar suami, mereka maunya ngurung istrinya di dalam kamar, tpi mereka ga tahu gimana ga enaknya perasaan istri saat buka segel di rumah mertua.
"Mama tahu kok kira lagi buatin cucu untuknya. Jadi ga apa-apa kamu di kamar aja dulu." Ujar Arga sontak membuat mata Dira melotot tajam.
Dengan sekuat tenaga, gadis berjilbab itu mendorong tubuh Arga dari depan pintu lalu bergegas keluar dari dalam kamar.
"Benar-benar gila." Gumam Dira sambil terus melangkah menuju tangga dan turun ke lantai bawah. Ringisan kecil sesekali terdengar dari bibirnya. Ah, semalam nikmat banget sekarang malah perih dan benar-benar ga nyaman di pake buat jalan.
Dira terus melangkah menuju ruang keluarga, beruntung sepasang suami istri paruh baya yang tidak lain adalah mertuanya masih belum berada di ruangan itu. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur, lagi-lagi ia bisa bernafas lega karena Mama mertuanya juga tidak berada di sana.
"Eh Non Dira, ngapain pagi-pagi skali udah di sini." Tanya salah satu asisten yang sedang memindahkan makanan yang sudah ia masak menuju meja makan.
"Dia mau jadi menantu yang baik Mbok." Ujar seseorang yang juga baru memasuki ruang makan.
"Owalah begitu toh. Bagus itu, pasti Ibu bakalan sayang banget sama Non Dira." Ujar Asisten rumah tangga itu lagi.
Dira tidak menanggapi. Gadis yang baru semalam di perawani itu melangkah menuju tempat makanan lain berada, lalu membantu asisten tersebut untuk membawa makanan-makanan itu menuju meja makan dengan langkah yang terlihat tidak nyaman.
"Non Dira baru buka segel semalam ya ?" Tanya Asisten itu dengan senyum jail menatap anak majikannya.
"Segel,, memangnya istriku si kurama harus buka segel." Jawab Arga.
Meskipun tidak mengerti apa yang sedang menjadi perdebatan suami dan asisten dari mertuanya, Dira sama sekali tidak berniat menimpali pembicaraan itu dan hanya terus melanjutkan tugasnya menyajikan makanan di atas meja makan.
Setelah semuanya sudah rapi, Dira melangkah dan duduk di samping suaminya.
Kecupan jail yang membuat bibi asisten meleleh terus saja di lancarkan Arga di pipi merona istrinya. Hingga beberapa saat kemudian tabokan di kepalanya berhasil menghentikan kejailannya pada wanita yang terus memasang wajah tanpa ekspresi.
"Dasar, ngga tahu tempat." Omel Rara. "Kamu ngga lihat Mbok sampe netes gitu ilernya. Jail banget sih." Omelnya lagi lalu duduk di samping Reno, suaminya.
"Makan Nak." Ajak Reno pada menantunya.
Dira mengangguk sopan, lalu keluarga itu memulai sarapan dengan diam.
****
__ADS_1
"Pa, kami akan berangkat besok." Ucap Arga setelah meneguk setengah gelas air putih. Ia lantas mendorong piring bekas sarapan, agak menjauh dari hadapannya.
"Masih berapa lama Nak ?" Tanya Reno pada menantunya.
"Kurang dari dua bulan lagi Pa." Jawab Dira.
"Spesialis apa Dir ?" Kali ini Rara yang bertanya.
"Ortopedi Ma." Jawab Dira.
Rara mengangguk.
"Nanti setelah selesai akan kembali ke Indonesia kan ?" Tanya Rara lagi.
"Iya Ma, Kak Rayan sudah menyediakan tempat untuk Dira di rumah sakit keluarga." Jawab Dira.
"Tante Zia dokter Ortopedi yang handal." Ujar Rara.
"Mama kenal Oma Zia ?" Tanya Dira terkejut.
Rara mengangguk.
"Tidak dekat, tapi kenal."
Dira mengangguk.
Setelah kepergian sepasang suami istri paruh baya itu, Dira dan Arga kembali ke kamar mereka untuk membereskan barang-barang penting milik Arga yang akan di bawa ke Berlin besok.
"Dir kamu tahu nggak jia Ibu, mantan istri dari Papa ?" Tanya Arga.
Dira yang hendak menaiki anak tangga berhenti, lalu menatap wajah suaminya yang terlihat biasa-biasa saja usai mengungkapkan kalimat aneh itu.
"Kamu ngga tahu ?" Tanya Arga heran. Pasalnya, sang Papa sering sekali menggunakan kisah masalalu itu untuk menasehatinya agar jangan melukai Nira. Nira, karena yang di ketahui oleh kedua orang tuanya adalah Nira dan bukan Dira.
Dira masih diam, ia masih mencerna kalimat yang cukup membuatnya terkejut itu dengan seksama.
"Ibu adalah istri pertama, sekaligus wanita yang paling di cintai Papa. Namun, sepertinya cinta itu tidak cukup bisa membuat Papa lepas dari sebuah salah dan khilaf, dan menikahi Mama diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu."
Arga melangkah santai usai mengucapakan kalimat yang mampu membuat Dira terdiam.
__ADS_1
"Kok diam aja di sana ? Masih sakit ya ? Mau aku gendong ?" Tanya Arga beruntun dengan wajah jail.
Dira tidak menjawab, ia masih terus berusaha mencerna kalimat yang baru saja membuatnya shock, meski begitu sulit untuk di terima oleh logikanya. Dengan hati-hati ia berbalik, lalu melangkah perlahan menuju sofa di ruang keluarga.
"Dira ada apa ?" Tanya Arga heran. Ia kembali bergegas turun lalu melangkah cepat menuju sofa yang ada d ruang keluarga menyusul Dira.
"Kak, gimana perasaan Ibu saat itu ?" Lirih Dira bertanya.
Arga terkejut, ia berpikir jika Dira sudah mengetahui akan cerita masa lalu dari orang tua mereka.
"Kamu ngga tahu soal ini ?" Tanya Arga hati-hati.
Dira menggeleng.
"Aku ngga dekat dengan ibu. Tidak hanya ibu tapi semua orang ruamah kecuali Abizar." Jawab Dira.
"Maafkan aku." Ucap Arga merasa bersalah.
Dira menatap wajah suaminya dengan lekat. Berbagai macam ketakutan mulai memenuhi kepalanya.
"Kak pernah dengar ga, istilah jika buah itu jauh tidak jauh dari pohonnya. Maaf jika ini menyinggung perasaan kamu, tapi jika ketakutan ini tidak aku keluarkan yang ada akan merusak hubungan yang baru mulai aku bentuk semalam." Ujar Dira.
Arga terkejut dengan kalimat yang baru saja di utarakan oleh istrinya. Dia tidak berpikir jika Dira akan sampai berpikir sejauh ini tentangnya.
"Dir.." Lirihnya.
"Aku ngga bermaksud menghakimi kesalahan seseorang, apalagi itu sudah terjadi di masa lalu sebelum aku lahir. Aku menyayangi orang tuamu Kak, sungguh aku menghormati mereka seperti Ayah dan Ibu. Aku hanya takut jika kejadian yang menimpa ibuku di masalalu akan kembali menimpaku." Ujar Dira sambil menatap lekat wajah Arga.
"Apalagi saat ini aku menjadi wanita kedua di antara kamu dan Kak Nira." Sambungnya dengan dada berdebar. "Sungguh Kak aku tidak bisa memberi toleransi walaupun itu saudaraku sendiri." Sambungnya sambil tertunduk dalam.
"Dira jangan seperti ini. Aku pikir kalian tahu akan hal ini. Karena Papa sering membuat cerita kelamnya sebagai alat untuk menasihati ku. Maafkan aku dan jangan berpikir terlalu jauh. Aku ngga akan mengulangi kesalahan yang sama. Bahkan hanya mendengar cerita, aku bisa merasakan bagaimana penyesalan menyiksa Papa sekian tahun karena kehilangan Ibu." Jelas Arga.
"Kamu tahu, sejak dulu Papa dan Mama meminta aku untuk menikah dan melindungi Nira, untuk menebus rasa bersalah atas apa yang sudah di lakukan Oma aku di masa lalu terhadap kakak kembar mu itu. Tapi aku tidak melakukannya , karena aku tidak ingin menyesal di kemudian hari karena kehilangan orang yang aku cintai yaitu kamu." Jelas Arga lagi.
Arga meraih tangan Dira dan menggenggamnya dengan sangat erat. Berusaha meyakinkan Dira jika apa yang sedang di khawatirkan oleh istrinya saat ini, tidak akan pernah terjadi.
"Maafkan aku soal ini. Maaf membuatmu tidak nyaman." Ucapnya lagi penuh sesal.
Dira menghambur masuk ke dalam pelukan Arga.
__ADS_1
"Aku hanya takut terluka. Aku ga siap untuk terluka." Lirihnya alam pelukan Arga.
Arga memeluk erat tubuh Dira, sambil menghujani kepala yang berbalut hijab itu dengan banyak ciuman.