
Di dalam mobil yang terus melaju di jalanan Melbourne, Dira dan Evelyn terus bercerita banyak hal, termasuk persiapan pernikahan yang hour rampung padahal pernikahan masih sekitar dua bulan lagi. Evelyn menceritakan bagaimana antusiasnya Mama dari Ferri menyiapkan pernikahan yang luar biasa untuknya. Terlebih saat ia memutuskan akan menetap di Singapura bersama Mama mertuanya itu.
Wanita yang sebentar lagi akan bergelar sebagai seorang istri itu, juga menceritakan tentang karirnya yang begitu mulus ketika menetap di Singapura. Dan semua itu, berkat wanita hebat yang sudah melahirkan calon suami.
"Aku senang kamu dapat pengganti Tante, wanita yang luar biasa. Tante pasti bahagia di sana." Ujar Dira.
Evelyn mengangguk membenarkan. Yah, kebahagiaan ibunya di sana tergantung bagaimana bahagianya dia di sini.
Mobil yang di kendarai Feri sudah berhenti di depan mansion yang terlihat begitu mewah. Dira menatap bangunan mewah yang ada di hadapannya, lalu menatap laki-laki yang sedang bersiap turun dari dari mobil.
"Apa tidak sebaiknya aku dan Arga menginap di hotel saja ?" Tanya Dira.
Ferri yang hendak keluar dari dalam mobil kembali mengurungkan niatnya, lalu menatap wanita yang begitu mirip dengan seseorang yang sudah ia kecewakan di masa lalu.
"Mama dan Papa akan membunuhku jika kalian tidak menginap di sini. Mereka bahkan sudah menyiapkan beberapa kamar untuk seluruh keluarga yang datang dari Indonesia. Ayah sudah mengabari kami tentang kedatangan kalian." Ujar Ferri.
Dira tidak lagi menjawab. Ia memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana mereka yang akan memilih tinggal di kediaman keluarga Ferri selama berada di Singapura.
Evelyn segera membantu Dira keluar dari dalam mobil. Sedangkan Ferri membantu Arga untuk mengeluarkan barang-barang dari dalam bagasi.
Tidak banyak barang yang di bawa dari Indonesia. Dira berniat untuk membeli beberapa perlengkapan di sini, agar tidak terlalu repot karena membawa banyak barang dari Indonesia.
Mengetahui Ferri dan calon menantu serta tamunya dari Indonesia telah tiba, wanita paruh baya yang nampak terlihat begitu anggun segera melangkah keluar dari Mansion nya. Senyum hangat di wajah cantik yang selalu terawat, mengembang kala mendapati orang-orang yang sudah ia tunggu kedatangannya, sedang melangkah menuju tempat a berdiri.
Saat tiba di hadapan calon ibu mertua dari sahabatnya, Dira segera meraih dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Selamat datang Nak." Ujar Reni sambil mengusap lembut perut buncit Dira.
"Terimakasih Tante." Ucap Dira.
Arga pun melakukan hal yang sama. Lelaki yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah itu, melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh istrinya sebagai bentuk hormat terhadap orang yang lebih tua.
Ia sudah bersahabat dengan Ferri sekian tahun lamanya, namun sama seperti Nira, ia pun tidak mengenal keluarga dari sahabatnya ini.
__ADS_1
"Ayo mari masuk." Ajak Reni.
Arga dan Dira mengangguk sopan, lalu ikut melangkah masuk ke dalam bangunan mewah itu.
Saat semuanya sudah berada di dalam ruangan, terlihat Rey yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya datang dan menyapa anak-anak Alfaraz. Lelaki yang masih terlihat taman diusia yang tidak lagi muda itu, duduk di ruang tamu bersama Arga dan putranya.
Sedangkan Dira dan Evelyn mengikuti Reni menuju kamar yang sudah wanita itu siapkan untuk anak dari besannya ini.
"Ini kamar kalian." Ucap Wanita paruh baya itu sambil membuka pintu ruangan yang terlihat sudah di persiapkan dengan baik.
"Itu box bayi siapa Tante ?" Tanya Dira heran karena di dalam kamar itu tidak hanya terdapat sebah ranjang besar, tetapi juga satu buah box bayi.
"Untuk calon bayi kalian. Di sini lebih aman, jadi setelah lahiran kalian bisa langsung ke sini sambil menunggu pernikahan Elin dan Ferri." Jawab Reni.
Dira menatap wanita paruh baya itu dengan hati menghangat.
"Terimakasih Tante." Ucapnya tulus.
Wanita paruh baya itu tersenyum, lalu mengusap lembut punggung Dira.
"Oh iya Nak, bagaimana kabar mantu Tante ? Dia dan bayinya sehat-sehat saja kan ?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.
Dira menatap Evelyn sebentar.
"Danira dan bayinya sehat-sehat saja Tante. Hanya Arion yang mulai ikutan aneh karena tingkah gilanya." Jawab Dira sambil tertawa lucu ketika wajah usil Nira melintas di benaknya.
Evelyn segera menatap wajah Dira saat nama yang sering kali di bicarakan Ferri terdengar dari bibir sahabatnya ini.
"Ya sudah, Tante tinggal yaa. Beristirahatlah, sebentar lagi kita akan makan siang." Ujar Reni lalu melangkah meninggalkan kamar mewah itu.
"Kamu kenal Danira ?" Tanya Evelyn cepat saat ibu mertuanya sudah berlalu dari sana.
Dira tersenyum lalu mengajak sahabatnya untuk duduk di sisi ranjang. Ia kemudian mulai merogoh ponselnya dari dalam tas kecil. Jelang beberapa saat ia mengusap layar ponselnya, lalu menyerahkan benda pipih itu pada sahabatnya.
__ADS_1
Evelyn melotot saat melihat gambar dua wanita yang begitu mirip di layar ponsel sahabatnya.
"Coba tebak di antara kedua wanita ini, aku yang mana ?" Tanya Dira sambil tersenyum geli ketika melihat wajah bingung sahabatnya.
"Jadi danira ini saudara kembar mu ? Ya Tuhan.."
Evelyn masih menatap layar ponsel itu dengan seksama.
"Pasti kamu si wanita galak ini." Tebaknya dengan mata berbinar. Ia sudah mengetahui banyak hal tentang wanita yang bernama Danira dari Ferri. Calon suaminya itu menceritakan gadis kuat yang selalu memperlihatkan senyum terbaiknya bahkan di saat takdir sedang seakan menjungkir balikkan dunianya.
"Aku mengenal sikap dan perilakunya dari Ferri. Aku merasa bersalah karena sudah membuat Ferri terjebak dalam pilihan yang sulit." Ujar Evelyn lagi.
"Tapi karena kejahatan mu itu, ia menemukan laki-laki sehebat Arion. Kamu tahu ngga Arion yang menikahi Danira, adalah Arion yang sempat kamu kagumi di rumah sakit beberapa bulan yang lalu." Jawab Dira.
Evelyn semakin terkejut mendapati fakta mengejutkan itu.
"Apa dunia sekecil ini ? Jadi Arion anak tertua calon Mama mertuaku adalah suaminya Danira ?" Tanya Evelyn tidak percaya.
Dira menautkan alisnya.
"Apa Ferri tidak pernah mengatakan tentang ini padamu ?" Tanya Dira heran.
Evelyn menggeleng.
"Dia hanya membicarakan tentang Danira, tidak dengan laki-laki yang menikahi wanita yang dia sayangi itu. Ferri memang terlalu malas membahas silsilah keluarganya. Aku bahkan tidak mengetahui jika ia punya seorang ibu yang tajir melintir." Jawabnya sambil terkekeh geli. Ingatannya kemabli pada saat pertama kali ia bertemu calon mama mertuanya. "Kamu tahu ngga, awalnya dia tidak suka padaku. Katanya aku pelakor yang merebut Ferri dari Danira." Sambung Evelyn masih dengan kekehan geli.
Dira pun ikut tertawa mendengar kalimat yang baru saja meluncur dari bibir sahabatnya.
"Tapi memang benar sih kamu pelakor." Ucapnya sontak membuat gadis yang sejak tadi terus tertawa geli, cemberut. "Keluar sana, aku mau tidur sambil memeluk suamiku." Usir Dira saat melihat Arga sudah berdiri di ambang pintu kamar yang di biarkan terbuka.
"Cih, sudah pintar mesum ya sekarang. Aku mau tanya-tanya malam pertama, tapi nanti aja setelah operasi kamu sukses." Ucap Evelyn sambil menatap sahabatnya dengan tatapan hangat penuh harap.
"Tentu, aku akan mengajari mu nanti." Jawab Dira.
__ADS_1
Evelyn mengangguk, wanita itu berpamitan keluar dari dalam kamar setelah mengusap kepala sahabatnya yang tertutup hijab.