
Pagi kembali menyapa, Farah dan Diana sudah sibuk dengan berbagai bahan makanan di dapur yang duku pernah mereka gunakan. Diana sudah menjadi bagian dari keluarga Andra sejak lama, bahkan sebelum kecelakaan Andra dengan Ibunya, lelaki itu sudah melamar Diana. Namun, begitulah tidak ada satu manusia pun yang bisa menentukan sebuah takdir. Jodoh dan maut sudah menjadi rahasia Allah.
"Ini di potong kecil-kecil kan Kak ?" Tanya Farah pada Diana yang sibuk memotong-motong sayur hijau.
"Iya Ra, Rehan lebih suka dagingnya di potong kecil-kecil agar tercampur bagus dengan nasi gorengnya." Jawab Diana.
Farah mengangguk, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya memotong-motong kecil daging sapi yang sudah di rebus itu.
Keduanya kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing untuk menyiapkan sarapan pagi ini sebelum keluarga kecil ini pulang ke Jakarta.
"Wah ternyata kita nerdua masih sepintar dulu ya Ra." Ucap Diana sembari menatap nasi goreng spesial yang sudah tersaji di atas meja makan.
"Yah kita berdua memang seserver Kak." Jawab Farah. Ia pun ikut menatap takjub hasil kreasinya bersama Diana pagi ini.
"Baiklah Kakak mau ngajak Rehan dan Liana sarapan." Pamit Diana.
Farah mengangguk. Dan setelah kepergian Diana, Farah kembali melangkah menuju tempat masak. Alat-alat yang baru saja mereka gunakan mulai ia bersihkan, kemudian merapikannya kembali di tempat semula. Tidak memerlukan waktu yang banyak, karena tidak banyak alat masak yang mereka gunakan.
Kini keempat orang itu kembali bercengkrama di meja makan sembari berbicara hal-hal yang membuat Farah lupa akan lukanya.
Tawa Diana karena celotehan lucu sang suami, seakan ikut menular pada Farah. Wanita itu ikut tertawa lepas, apalagi jika Rehan mulai membicarakan tentang sifat Diana yang membuat ia kesal dan gemas dalam waktu bersamaan
"Benarkan kata Kakak, Kak Rehan ini juga sering marahin Kakak tahu nggak. Bahkan pernah dia minta Kakak tidur di luar." Adu Diana pada Farah.
Farah kembali terbahak, karena selama ini yang dia tahu selalu seorang istri yang akan meminta suaminya tidur di luar, bukannya sebaliknya.
"Yah mu gimana lagi Ra, aku kesal padanya. Tidurnya kayak kebo, bahkan aku pernah jatuh dari ranjang karena terkena tendangannya. Mau marah sayang, ga marak badan aku sakit membentur lantai. Ya udah aku suruh dia tidur di luar." Ucap Rehan acuh.
Diana hanya tertawa melihat wajah suaminya yang memberengut. Tentu saja, siapa sih yang tidak kesal, lagi lelap-lelapnya tidur, eh taunya jatuh menghantam lantai.
"Terus Kak Diana tidur di luar juga ?" Tanya Farah penasaran.
"Ya enggaklah, mana tahan dia kalau tidur ngga peluk Kakakmu yang cantik ini." Ejek Diana pada sang suami.
__ADS_1
Farah kembali tertawa lucu, apalagi kini Rehan semakin mendengus karena kesal.
****
"Sampai ketemu di Jakarta ya Ra." Ucap Diana.
Wanita yang sempat menjadi wanita berharga bagi Andra itu mengecup pipi Farah, kemudian memeluk tubuh mungil Farah dengan begitu erat.
Lambaian tangan Farah mengiringi mobil yang semakin menjauh dari pekarangan rumahnya. Teriakan mulut mungil Liana yang meminta dirinya untuk cepat pulang ke Jakarta, semakin menghilang seiring menjauhnya mobil yang di kendarai Rehan.
Farah berdiri sebentar di pekarangan rumahnya yang sudah terlihat jauh lebih indah. Tari dan Rian membantunya menata kembali pekarangan rumah yang sudah lima tahun terbengkalai. Beberapa buah pot yang sudah terisi bunga kembali menghiasi pekarangan itu.
Yah tidak ada yang tidak mungkin. Ia hanya perlu menata kembali hatinya yang sudah terbengkalai selama empat tahun ini, lalu semuanya akan kembali baik-baik saja. Farah mengitari pekarangan yang sudah terlihat jauh lebih baik itu dengan netra nya, lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
Baru beberapa langkah, Farah kembali berehnti karena bunyi mobil yang berhenti di depan rumahnya terdengar. Ia membalik tubuhnya, mungkin saja Rehan dan Diana melupakan sesuatu, dan kembali untuk mengambilnya.
Namu saat ia melihat siapa yang sedang tersenyum jail di dalam mobil, Farah tidak lagi melanjutkan langkahnya mendekati mobil itu.
"Hai Ra." Sapa laki-laki itu.
Farah tidak membalas sapaan, ia masih merasa heran dengan tingkah aneh Rio. Mereka tidak dekat, namun laki-laki ini bersikap seakan-akan mereka adalah teman lama yang sangat dekat.
"Aku mau pamit pulang ke Jakarta." Ucap Rio.
Farah mengangguk, namun, ia masih membungkam mulutnya, tidak ingin menanggapi keanehan Rio sejak kemarin pagi ini.
"Aku akan merindukanmu." Ucap Rio lagi.
Farah terbelalak.
"Maaf Rio, sepertinya ada makhluk gaib yang sedang merasuki tubuh mu." Ujar Farah.
Rio terbahak mendengar kalimat Farah.
__ADS_1
"Enggak kok, ini benaran." Jawab Rio di sela-sela tawanya.
"Aku akan pulang hari ini, jaga dirimu baik-baik ya Ra. Oh iya Ra, kamu udah ganti nomor baru ya ? semalam aku menelfon mu, tapi orang lain yang mengangkatnya dan kata orang itu dia tidak mengenalmu." Ucap Rio.
"Apa boleh aku minta nomor ponselmu yang yang baru ?" Tanya Rio dengan tatapan memohon.
Farah melangkah mendekati mobil yang berhenti di pinggir jalan tepat di depan pagar rumahnya. Kemudian menyodorkan benda pipih miliknya, agar Rio bisa menyimpan nomornya di sana.
"Aku ngga hafal, kamu ketik aja nomor kamu di ponselku dan mendialnya." Ujar Farah
Rio tersenyum, lalu mematikan panggilan Video di ponselnya lalu bergegas mengisi satu persatu digit angka ke dalam ponsel Farah lalu menghubunginya.
Beberapa detik kemudian, ponsel yang ada di dalam genggamannya bergetar.
"Terimakasih Ra, aku pamit ya. Kamu hati-hati di sini, hubungi aku jika ada sesuatu yang kamu butuhkan. Nomor ponsel ku masih tersimpan di handphone kamu." Ucap Rio.
Farah mengangguk, meskipun ia tidak akan pernah melakukan hal itu.
"Aku pergi." Pamit Rio lagi.
Farah kembali mengangguk, lalu membiarkan mobil yang membawa laki-laki aneh itu berlalu dari sana.
****
Langkah kaki Farah, kembali berlanjut menuju pintu rumah. Farah mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu yang menyatu dengan ruang TV itu, ternyata memilih hidup sendiri seperti ini, tidak terlalu menyenangkan, setelah empat tahun hidup bersama Nadia dan Zidan. Namun, tidak memungkiri jika dua hari ini hatinya mulai terasa jauh lebih baik.
Farah melanjutkan langkah kakinya menuju kamar tidur, ada banyak hal yang ingin ia lakukan di sana. Agenda membaca buku di waktu luang seperti dulu, mulai ia terapkan.
Menyusun beberapa jadwal yang akan ia lakukan mulai bulan depan. Membeli sebuah mobil, lalu akan menyewa Rian untuk membantunya belajar.
Semua akan berlalu seiring berjalannya waktu. Kita hanya perlu bertahan dan terus melaluinya, begitu pikir Farah.
Jemarinya mulai memilih satu buah buku yang akan menemaninya hari ini. Dan itu dia, buku kesukaannya, hadiah dari Andra saat pertama kali ia memutuskan untuk kuliah hukum.
__ADS_1