
Tiga bulan berlalu begitu saja. Perut rata dan langsing kini sudah mulai membuncit. Alfaraz masih setia membenamkan wajahnya di atas perut buncit itu, menanti pergerakan bayi yang tak kunjung datang.
Zyana terus tertawa geli. Meskipun ini kehamilan pertamanya, tapi ia tahu jika kandungan yang belum berusia lima bulan tidak akan bergerak seperti yang sedang di harapkan oleh suaminya ini.
"Kok ngga ada sih sayang ?" Tanya Alfaraz.
"Belum lah, sedikit lagi. Tujuh sampe delapan bulan baru kerasa banget gerakannya." Jawab Yana masih dengan senyum bahagia.
Alfaraz tidak beranjak dari tempat ternyamannya. Ia memeluk pinggang Yana dan tetap membenamkan wajahnya di sana.
"Kamu ngga mau mandi dulu ?" Tanya Yana sambil mengusap lembut punggung Alfaraz yang masih berbalut kemeja kerja.
"Nanti aja, aku mau tidur sama dia dulu. Pinjam sebentar ga apa-apa kan ?" Tanya Alfaraz.
Yana tidak lagi menjawab, ia membiarkan kepala Alfaraz tetap berada di atas pangkuan, sambil mengusap lembut kepala suaminya itu.
Tanya lentiknya masih terus mengusap lembut kepala Alfaraz yang ada di atas pangkuannya, sambil menikmati kebahagiaan yang mengisi seluruh rongga dadanya. Berulang kali ia mengingatkan hatinya untuk jangan berlebihan, namun, tetap saja ia terus menikmati rasa yang begitu membuncah di dalam hatinya.
Dengkuran halus terdengar dari bibir yang berada tepat di depan perutnya. Yana ingin beranjak, namun, tangan yang menahan tubuhnya semakin memeluknya erat.
Senyum kembali terlihat di sudut bibirnya.
"Jangan buat aku terlalu cinta." Ucapnya pelan sambil menarik nafasnya dalam-dalam.
"Aku sungguh takut kembali terluka lebih dalam dari yang kemarin." Lirihnya lagi.
Dengan perlahan ia memindahkan kepala Alfaraz ke atas bantal yang ada di ranjang, lalu menatap wajah tampan yang sedang ia telusuri dengan jemarinya itu, dengan begitu lekat.
"Aku sungguh mencintaimu Al." Ucapnya lagi.
"Aku juga." Alfaraz segera menarik kembali tubuh Yana, lalu memeluknya dengan sangat erat. "Dari tadi ngomong terus, kan aku jadi ga bisa tidur, dan malah baper." Sambung Alfaraz. Matanya masih tertutup rapat, namun pelukan nya di tubuh Yana semakin erat.
Yana pun ikut membenamkan wajahnya di dada bidang Alfaraz. Menikmati wangi maskulin yang selalu ia rindukan saat mentari mulai beranjak, karena ia hanya akan sendirian di rumah. Sedangkan Alfaraz akan pergi ke kantor.
"Jangan tinggalkan aku ya Al." Ucap Yana.
__ADS_1
"Tentu saja, sekalipun kamu ingin pergi aku tidak akan pernah mengizinkan nya." Jawab Alfaraz. "Temani aku mandi.." Ajaknya dengan wajah yang selalu membuat Yana ketakutan.
"Nggak, kamu pasti akan aneh-aneh. Kamu mandi sana, aku akan siapin pakaian ganti untukmu." Jawab Yana.
"Al jangan maksa dong." Protesnya lagi saat tubuhnya sudah berada di dalam gendongan Alfaraz dan bersiap membawanya menuju kamar mandi.
"Berendam di bathtub sepertinya menyenangkan." Alfaraz tersenyum jail.
"Hanya berendam yaa, jangan lebih." Ucap Yana memastikan.
"Ngga janji."
Dan akhirnya, berendam plus plus pun di mulai, dan entah kapan berakhir saya pun tak tahu. Begitulah yang ada di dalam pikiran Author saat ini, karena sejujurnya sudah kehabisan materi. Tertawa mengenaskan ala Nara.
****
"Kamu jangan dekat-dekat aku, bau tubuhmu bikin aku mual. keluar.." Teriak Adelia sambil memuntahkan seluruh stok makanan yang masih tersisa di dalam perutnya.
"Keluar sana !" Bentak Regina sambil memukul keras lengan putranya.
"Ma..." Gerald masih memohon agar bisa tetap berada di samping istri kecilnya itu.
Wanita paruh baya itu kembali berkonsentrasi mengusap sambil memberikan pijitan-pijitan lembut di punggung menantunya.
"Ma dada Adel perih banget." Keluh Adelia, wanita itu terduduk lemas di atas lantai. "Apa hamil memang menyiksa seperti ini Ma ? Huee Hueee...." Muntahan sudah kembali mengisi closet yang ada di dalam kamar nya.
Regina hanya menatap menantunya dengan prihatin. Sudah hampir dua bulan ini Adelia tersiksa seperti ini, namun, tidak ada yang bisa ia lakukan karena ini memang hal yang biasa di alami oleh ibu hamil di awal kehamilan.
"Gerald aku mau pindah ke ranjang." Teriak Adelia dari dalam kamar mandi. Wanita yang sedang hamil itu menutup hidungnya rapat-rapat sebelum suaminya masuk dan membawa tubuhnya menuju ranjang.
Gerald membawa tubuh Adelia dengan hati-hati menuju ranjang mereka. Meskipun kesal karena melihat Adelia yang tidak ingin dekat dengannya, tapi ia tetap berusaha sabar.
Regina sudah melangkah keluar dari dalam kamar, dan membiarkan putranya yang akan mengurus menantunya.
"Sayang jangan seperti ini dong. Ngga enak kalau ga bisa dekat-dekat kamu. Aku kan kangen banget sayang.." Mohon Gerald frustasi.
__ADS_1
"Tapi ini bukan mau aku. Yang mau anak kamu loh, mana bisa aku tolak. Kamu tidak lihat aku muntah-muntah tadi." Adelia masih menutup hidungnya agar tidak dapat menghirup wangi tubuh suaminya yang tiga bulan lalu sangat ia sukai itu.
"Tidur sana, nanti kalau aku pengen peluk baru aku bangunin." Perintahnya sambil menunjuk sofa yang sudah dua bulan ini menjadi tempat tidur suaminya.
"Sayang aku mau tidur sambil peluk.." Gerald masih membujuk.
"Tapi anak kamu masih belum mau. Tunggu dia tidur dulu, nanti aku beri tahu deh. Ayo sana, sakit nih hidung aku di pencet terus." Ujar Adelia masih terus menekan hidungnya agar aroma tubuh suaminya tidak masuk ke dalam Indra penciuman nya itu.
Meskipun kesal, Gerald tetap beranjak dari atas ranjang, lalu melangkah menuju sofa. Ia tidak tidur, tapi hanya duduk dan memperhatikan istrinya dari ujung sana. Menanti wanita yang mulai aneh sejak dua bulan lalu itu terlelap, lalu ia akan kembali ke ranjang dan terlelap sambil memeluk tubuh istrinya.
"Sayang aku mau peluk, tapi aku ngga suka bau tubuh kamu." Rengek Adelia.
"Lalu bagaimana ?" Tanya Gerald.
"Mana aku tahu, pikir dong gimana caranya. Aku pengen di peluk nih, atau carikan laki-laki lain aja yang bisa di peluk." Ujar Adelia memberi saran dengan wajah tanpa merasa bersalah dari atas ranjang.
"Coba aja kamu peluk laki-laki lain, akan aku mutilasi laki-laki itu lalu ku buang di dalam closet seperti muntahan kamu."
"Ngeri banget sih ngomongnya, sini aku mau peluk.." Pinta Adelia.
"Biasakan hidung mu itu, aku mau tidur sama kamu mulai malam ini." Kesal Gerald. Ia lantas melangkah menuju ranjang, lalu menangkap tubuh istrinya dan membawanya ke dalam dekapan.
"Enak aja, punya istri kok ga bisa di peluk. Minta laki-laki lain pula." Gerald terus menggerutu kesal..
"Aku susah bernafas."
"Ya udah ga usah di tutupin."
"Nanti muntah lagi.
"Enggak, di coba aja dulu..
Huuee... Hueee..
Muntahan keluar hingga mengotori piyama yang melekat di tubuh suaminya.
__ADS_1
"Tuh kan aku bilang apa, kamu sih..."
Gerald menatap nanar cairan yang sudah mengotori baju dan ranjang tempat dirinya berbaring...