
Setelah menyiapkan paper bag berisi kotak makan siang untuk Azam, Trias berpamitan pada asisten rumah tangga Mami mertuanya untuk bersiap. Di dalam kamar, Trias menatap penampilannya di depan cermin. Tunik selutut di paduan dengan celana panjang berbahan jeans lengkap dengan hijab yang di berikan Mami mertuanya beberapa hari yang lalu, sudah melekat sempurna di tubuh rampingnya.
Berulang kali ia menatap penampilannya hari ini, dan berusaha meyakinkan diri jika ini memang terlihat pas. Sungguh, ini pertama kalinya ia mengenakan pakaian tertutup seperti ini. Biasanya ia hanya akan mengenakan celana panjang jeans dengan atasan blouse atau kaos. Setelah merasa yakin dengan apa yang ia kenakan hari ini, Trias keluar dari dalam kamar, lalu menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai bawah.
"Wah, putri kita cantik banget Pi." Ujar Danira saat melihat menantunya memasuki ruang makan.
Arion melihat menantunya yang terlihat berbeda siang ini, kemudian mengangguk mengiyakan pernyataan istrinya.
"Pasti saat pulang nanti kamu ga akan bisa jalan normal." Danira tersenyum jail sambil menatap menantunya yang nampak terlihat cantik dengan balutan hijab. "Nanti kalau pulang minta di gendong sama Azam." Sambungnya masih sambil tertawa geli.
Trias yang menjadi bahan olok-olokan siang ini, hanya bisa menahan malu. Wajah cantik tanpa polesan itu hanya bisa memerah karena ledekan mami mertuanya.
"Mi.." Tegur Arion dengan wajah memohon agar istrinya ini berhenti membuat menantu mereka malu.
Danira hanya tertawa lucu. Wanita cantik dengan perbedaan usia lebih dari sepuluh tahun dengan putra sulungnya itu, begitu menggemaskan.
"Tri pamit ya, Mi." Pamit Trias sambil mencium punggung tangan Mami mertuanya. Hal yang sama pula ia lakukan pada laki-laki paruh baya yang tidak lain adalah papi mertuanya.
Setelah mencium punggung tangan dua orang paruh baya yang ada di ruang makan, Trias melangkah keluar dari sana sambil menjinjing paper bag bersisi kotak makan siang untuk Azam.
Sopir pribadi Arion sudah menunggu menantu dari majikannya sambil membukakan pintu mobil mewah yang sudah terparkir di pelataran rumah.
"Terimakasih Pak." Ucap Trias sopan saat sopir itu sudah kembali menutup pintu mobil itu.
Tidak lama kemudian mobil mewah itu mulai melaju keluar dari pelataran rumah dan berbaur dengan kenderaan lain yang ada di jalan Jakarta.
"Pak jendela mobil nya di buka, boleh ga ?" Tanya Trias pada laki-laki paruh baya yang sedang berkonsentrasi dengan jalanan yang ada di hadapannya.
"Boleh Neng, bentar yaa." laki-laki yang biasa di panggil Mamang oleh anak-anak dari majikannya itu membuka jendela mobil di samping Trias.
Trias menutup mata, menikmati udara yang masuk dan menerpa wajahnya.
"Udaranya kurang sehat Neng." Ucap lelaki itu lagi.
Trias hanya tersenyum.
"Tapi saya lebih suka udara seperti ini pak, lebih alami." Jawab Trias. Lelaki paruh baya yang sedang sibuk dengan kemudi di tangannya hanya mengangguk paham.
Karena sopir yang sedang mengendarai mobil yang ia tumpangi tidak lagi menimpali pembicaraan, Trias kembali menatap jalanan yang begitu padat oleh pengguna jalan yang lain.
Dadanya kembali berdebar saat membayangkan akan bertemu Azam beberapa saat lagi. Wajahnya merona saat ingatannya kembali memutar kejadian semalam.
__ADS_1
"Neng.."
"Iya ada apa Pak ?" Tanya Trias terkejut dari lamunannya.
"Ponsel Neng terus bergetar." Ujar laki-laki paruh baya itu tak enak karena sudah mengagetkan istri majikannya.
Trias segera merogoh ponselnya yang ada di dalam tas, untuk memeriksa siapa yang sedang menghubunginya. Saat melihat nama Azam yang tertera di layar ponselnya, Trias segera menjawab panggilan itu.
"Kamu di mana ? Kenapa lama banget jawab panggilan dari aku ?" Pertanyaan beruntun itu hanya membuat Trias terdiam.
"Kamu di mana kok diam aja ?" Tanya Azam lagi di ujung sana.
Trias masih belum menjawab, karena mobil yang sedang membawanya sudah berhenti di pelataran gedung dengan puluhan lantai yang sudah ketiga kalinya ini ia datangi.
Dengan ponsel yang masih menempel di telinga, Trias keluar dari dalam mobil yang baru saja di buka oleh sopir pribadi Papi mertuanya.
"Oh kamu sudah sampai ya." Laki-laki yang sedang berdiri di depan gedung segera mengakhiri panggilan itu, lalu melangkah cepat menuju istrinya berada.
Trias kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu melangkah mendekati Azam dengan satu buah paper bag di tangannya.
"Biar aku aja." Azam mengambil paper bag yang ada di tangan Trias.
Trias masih menutup mulutnya rapat-rapat, dan membiarkan azam melakukan apa yang di inginkan oleh suaminya itu. Rasa hangat dari genggaman Azam di jemarinya, membuat dada Trias semakin berdebar.
"Kenapa nungguin ? kan tadi aku bilang nanti aku kabari kalau sudah tiba." Jawab Trias.
"kan aku bilang jangan lama-lama. Kenapa lama banget." Ujar Azam tidak mau kalah.
Trias menatap laki-laki yang menurutnya tidak lagi seperti biasanya.
"Mas ngga salah makan kan ?" Tanya nya memberanikan diri.
"Aku kan sudah bilang tadi, aku kangen dan kamu harus cepat datang. Salah sendiri panggilannya kamu akhiri begitu saja." Ujar Azam.
"Maafkan aku." Cicit Trias. "Eh, ngapain ?" Tanya Trias saat tiba-tiba wajah Azam sudah berada dekat dengan wajahnya.
"Kan aku bilang, aku kangen mau cepat-cepat lihat kamu. Kamu lebih cantik kalau pakai hijab." Ujar Azam tersenyum.
Mata Trias melotot saat satu kecupan manis mendarat di atas bibirnya.
"Ayo.." Azam menarik tangan Trias keluar dari dalam lift, menuju ruangannya.
__ADS_1
Sebelum masuk ke dalam ruangan, Azam lebih dulu meminta sekretarisnya untuk menyiapkan makan siang yang di bawa Trias siang ini.
****
Di tempat lain di tengah kota Jakarta, mobil Daniza berhenti di depan gerbang salah satu sekolah dasar yang ada di Jakarta. Gadis itu masih belum keluar dari dalam mobil, tatapannya tidak senagaja menangkap siluet tubuh yang tidak asing sedang berdiri di samping mobil tidak jauh dari mobilnya berada.
"Mbak Maya ?" Gumamnya. Bukankah wanita yang sedang berdiri di samping mobil ini sudah berangkat keluar negeri, lalu mengapa ada di depan sekolah Fatih.
Beberapa saat berada di dalam mobil, Daniza berniat untuk menyapa mantan istri suaminya itu. Ada perasaan tidak nyaman saat melihat Maya masih berada di sini. Namun, saat kakinya hendak turun dari dalam mobil, wanita itu susah kembali masuk ke dalam mobil lain yang ada di sana. Bertepatan dengan itu pula, suara teriakan Fatih mengalihkan perhatian Daniza dari wanita yang baru saja menghilang di dalam mobil yang tidak jauh dari mobilnya.
"Ayah kemana Bu ?" Tanya Fatih.
"Ayah di kantor sayang. Kita akan makan siang bareng Ayah di sana." Jawab Niza.
"Tapi kata ibu guru, Ayah menungguku di sini." Ucap bocah laki-laki itu.
Daniza mengerutkan kening. Tanpa menunggu waktu lama, ia segera merogoh ponsel yang ada di dalam tas kecilnya, lalu segera menghubungi Daren.
"Kamu ke sekolah Fatih, Mas ?" Tanya Daniza saat wajah Daren sudah terlihat di layar ponselnya.
Daren yang sedang memamerkan senyum mesum saat mendapat panggilan video dari Daniza segera berubah serius setelah mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir istrinya.
"Ga kok, siapa yang bilang ?" Tanya nya dengan wajah khawatir.
"Pegang Hp Ibu." Daniza memberikan ponsel miliknya pada Fatih, dan meminta putranya itu untuk menjelaskan apa yang tadi terjadi di sekolah. Wanita cantik itu memasangkan sabuk pengaman di tubuh putranya, dan membiarkan bocah laki-laki itu menceritakan apa yang di katakan ibu guru padanya hari ini.
Daren kebingungan, karena semenjak ia dan Daniza menikah, semua urusan Fatih sudah di serahkan sepenuhnya pada sang istri.
Saat ponsel yang ada di tangan Al Fatih sudah berpindah ke tangan Daniza, raut khawatir di wajah Daren masih belum pergi. Laki-laki itu menatap wajah Daniza yang terlihat begitu tenang.
"Apa ada sesuatu yang mencurigakan di sekolah Fatih ?" Tanya Daren dari layar ponsel.
Daniza tersenyum, lalu menggeleng.
"Aku dan Fatih langsung pulang ke rumah Mama ya Mas. Nanti kita bicarakan di rumah." Ujar Jawabnya. Sejujurnya ia sedikit khawatir ada yang tidak beres dengan Maya, tapi ia tahu Daren sedang ada pekerjaan saat ini, dan tidak ingin menambah pikiran suaminya itu.
"Kalau ada yang serius, aku pulan sekarang sayang." Ujar Daren.
Daniza menggeleng.
"Nanti aja, kita ketemu di rumah Mama." Jawab Daniza. "Aku akhiri dulu ya, Fatih belum makan siang." Pamitnya.
__ADS_1
"Hati-hati Sayang." Ujar daren memperingati. Daniza mengangguk lalu mulai melajukan mobilnya setelah meletakkan ponsel pintarnya di dasbor mobil.