
Mentari sudah mulai terbenam dan kembali ke peraduan. Langit yang cerah mulai berubah kelabu, tapi lelaki yang menjadi pemeran utama di acara lamaran malam ini masih belum juga menampakkan diri.
Farah masih mondar mandir di depan suami dan putrinya. Kebaya berwarna silver dengan hijab andalannya sudah terbalut rapi di tubuhnya yang masih terlihat menawan.
"Bun duduk dong, Adel pusing nih liatin bunda mondar-mandir kayak setrikaan." Ujar Adelia.
"Iya Ra, nanti kaki kamu sakit." Zidan menimpali.
"Ish liat aja anak itu, aku hancurin kepalanya kalau pulang nanti." Kesal Farah mengomel.
Zidan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri kesayangannya ini.
Bunyi mesin mobil milik Alfaraz sudah terdengar di depan rumah, Farah melangkah cepat menuju pintu depan untuk melampiaskan kekesalannya.
"Assalamualaikum Bun.."
Bugh...
Kepalan tangan Farah langsung mendarat di kepala Alfaraz, hingga membuat si pemilik kepala itu mengeluh kesakitan.
"Bunda apa-apaan sih main pukul-pukul aja." Ujar Alfaraz tidak terima.
"Kamu tahu ngga berapa lama Bunda nungguin kamu ?" Omel Farah. Kedua tangannya sudah bertengger di pinggang, dan bersiap mengomeli putranya yang bahkan tidak mengangkat panggilan di ponselnya. "Kenapa Bunda telfon nggak kamu angkat ?"
"Al kesal ah, lamaran malam ini batal. Makanya Al bilang Minggu depan, Bunda sama Papa maunya malam ini. Berharap itu ga enak Bun, Al kesal." Ujar Alfaraz. Lelaki yang terlihat tidak bersemangat itu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Kalian mau ke kondangan siapa sudah pada rapi begini ?" Tanyanya saat melihat Adelia sudah mengenakkan kebaya senada dengan sang Bunda sambil mengotak atik ponsel di atas sofa.
"Mau kemana lagi ? Kita mau melamar Mbak Yana, cepatan sana, bikin kesal aja." Adelia ikut mengomel kesal.
"Jangan malam ini, dia lelah baru pulang dari kantor cabang." Jawab Alfaraz.
"Cepat sana kamu mandi dan ganti pakaian kamu, Bunda sudah menyiapkannya di dalam kamar kamu." Dorong Farah di tubuh putranya, agar segera menaiki anak tangga dan bersiap.
"Yana capek Bun, bahkan mungkin dia belum sampai rumah. Kasihan dia, besok aja."
__ADS_1
"Ayo cepat sana." Farah kembali mendorong tubuh kekar putranya agar segera berlalu dari ruangan itu.
"Iya, iya ngga usah dorong-dorong."
Alfaraz melangkah cepat menuju kamar tidurnya untuk mempersiapkan diri.
Zidan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat tidak sabaran, padahal waktu masih sangat panjang malam ini.
"Ngga sabar pengen ketemu calon besan ya ?" Tanya Zidan menggoda.
"Iya, aku ga sabar ingin melihat reaksinya gimana saat tahu yang melamar putrinya adalah Alfaraz." Jawab Farah berbinar.
"Pasti dia senang banget." Jawab Zidan. "Duduk sini, nanti cantik kamu hilang, dan kalah sama kecantikan si penjual bunga di pinggir jalan." Sambungnya lalu menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya.
"Cih dasar, bikin sakit mata aja." Omel Adelia saat Bundanya dengan malu-malu duduk di samping sang Papa dan masuk ke dalam pelukan lelaki nomor satu di hatinya itu.
Melihat dirinya yang akan kembali menjadi obat nyamuk bakar di ruang keluarga itu, Adelia bangkit dari sofa sambil bergumam kesal, menuju ruang tamu. Meninggalkan dua orang tua dengan kelakuan yang tidak sesuai umur itu, berpelukan mesra di sana.
"Makanya Del, suruh Rey cepatan lamar kamu." Ledek Farah masih menempelkan wajahnya di dada suaminya.
"Kamu di mana sih ? Kok lama banget ga nyampe-nyampe ?" Omel Adelia pada seseorang yang sedang terhubung di ponselnya.
"Loh bukannya kamu tahu aku langsung ke rumah Mbak Yana ? Kita kan sudah bahas ini pagi tadi, Del."
"Oh iya aku lupa." Adelia terkekeh lalu meminta maaf. "Habisnya kamu ngga bilang-bilang dulu sebelum berangkat, kan aku jadi nungguin." Sambungnya tidak ingin di salahkan.
"Jam berapa datangnya, semuanya sudah siap ini." Tanya Rey.
"Sebentar lagi, si bego itu ngga mau malam ini, maunya besok aja karena Mbak yang lelah." Adelia tertawa.
"Ayo kita pergi."
Suara sang Bunda sudah terdengar, Adelia menatap wanita berumur yang masih menempel manja di lengan sang Papa dengan wajah cemberut.
"Kita mau berangkat." Ucap Adelia di ponselnya, lalu segera mengakhiri panggilan setelah mendengar peringatan untuk berhati-hati di jalan dari sang pujaan hati.
__ADS_1
"Wishh tampan banget sih kakak aku ini." Godanya pada lelaki yang terlihat lemas di belakang papa dan bundanya.
Alfaraz tidak berniat menimpali, ia hanya terus melangkahkan kakinya menuju mobil.
Mobil yang membawa keluarga itu mulai melaju dan keluar dari pelataran rumah. Alfaraz mengendarai mobil kesayangannya dengan hati-hati, membelah jalanan yang masih saja padat di tengah ibu kota Jakarta, menuju rumah pujaan hatinya.
***
Yana mematut tubuhnya di depan cermin. Kebaya berwarna silver sudah melekat sempurna di tubuh rampingnya. Sapuan make up tipis di wajah, semakin menambah kadar kecantikannya. Ia menyentuh kalung yang di berikan oleh calon ibu mertuanya siang tadi dengan hati-hati. Kalung emas putih sederhana namun dengan harga fantastis itu, sudah melingkar sempurna di lehernya.
Senyum manis kembali terlihat di bibir tipis Yana. Ingatannya kembali melayang pada beberapa jam yang lalu, saat wanita yang tidak termakan usia itu, begitu memperlakukan dirinya dengan baik, padahal mereka baru bertemu hari ini.
"Ya Allah tolong jaga segala kebaikan yang datang padaku hari ini." Yana bergumam. Kemudian menyentuh dadanya yang semakin berdebar saat membayangkan sebentar lagi akan resmi menjadi calon istri dari seorang Alfaraz. Ini baru lamaran, tapi rasanya ia sudah se gugup ini, bagaimana nanti jika hari pernikahan tiba, mungkin saja jantungnya akan copot dari tempatnya.
"Ayolah Yana, kamu sudah pernah melalui tahap ini." Ujarnya pada diri sendiri. Berusaha mengurangi nervous yang begitu mengganggu. Meskipun lamaran Reno dulu tidak se istimewa lamaran Alfaraz hari ini, namun, ia sudah pernah merasakannya dulu.
Reno memang memperlakukan dirinya dengan begitu istimewa, tapi tidak dengan ibu mertuanya yang terkesan acuh tak acuh. Dan hari ini, melihat bagaimana antusiasnya wanita yang di sebut Bunda oleh Alfaraz, menyiapkan segala keperluan, membuat Yana semakin merasa bahagia karena di pertemukan dengan Alfaraz di restoran beberapa bulan yang lalu.
Di ruang tamu, sebuah keluarga yang baru saja tiba membuat Dinda terkejut. Ia menatap Farah dan Alfaraz bergantian, lalu berpindah pada sosok laki-laki yang selalu membeli bunga, saat dirinya masih berjualan di pemberhentian lampu lalu lintas.
"Kamu kaget ya ? Aku juga." Ucap Farah sambil tersenyum.
"Ya Allah, sudah sangat lama.." Ucapan Dinda terhenti. Dia masih tidak percaya apa yang sedang ada di hadapannya saat ini.
Sedangkan Alfaraz menatap bingung dua wanita yang seperti sudah saling mengenal sejak lama.
"Ayo mari silahkan masuk Pak Zidan, Mbak Farah." Ucap Dinda mempersilahkan. "Sebentar saya panggilkan Yana." Sambungnya dengan binar bahagia.
***
*Note Author
Hayoo kesal kan nungguin lamarannya ga jadi-jadi 😂😂
Aku tuh suka banget lihat kalian kesal, biar komen di bawah 🤭😘
__ADS_1
Lamarannya siang aja yaaa 😁😍