
Sebaik apapun kita menyembunyikan kebusukan, suatu saat nanti pasti akan tercium juga. Alfaraz duduk dengan tenang di hadapan laki-laki yang pernah ia temui sekali di masa lalu. Laki-laki yang sempat menghadiri sidang putusan pada wanita masa lalunya, kini duduk dengan angkuh bersama borgol di kedua belah tangannya.
"Apa kamu sudah merasa puas karena membuat adikku mati ?" Gertak lelaki itu.
Alfaraz hanya tersenyum sinis. Lelaki dengan ketampanan yang tak termakan usia itu masih diam dengan wajah tenang sambil menatap penuh cemooh ke arah laki-laki yang semakin terlihat geram dengan kehadirannya.
"Harusnya kamu yang masuk penjara karena sudah menikahi gadis di bawah umur." Ujar lelaki itu lagi sontak membuat Alfaraz tertawa geli.
"Aku tidak memaksanya menikah. Kami sama-sama mau menjalani pernikahan sialan itu, jadi jangan pernah menuduhku selama aku seorang pedofil." Jawab Alfaraz. "Dan satu lagi, bukan aku yang membunuhnya, tapi kamu. Kamu pikir aku tidak tahu bagaimana tamaknya dirimu terhdap Nara. Hanya saja aku bukanlah tipe orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain." Sambungnya.
"Lalu mengapa sekarang kembali membuka kasus itu ?" Lelaki dengan tangan terborgol itu nampak terlihat semakin geram dengan tingkah laku Alfaraz..
"Karena kalian sudah berani mengusik keluarga ku. Jika saja kamu mendidik Putri mu menjadi gadis yang baik-baik dan tidak terobsesi dengan putraku, mungkin saat ini kamu masih bisa menikmati kemewahan yang kamu curi dari Nara." Ujar Alfaraz tegas. "Sudah ku peringatkan sejak lama untuk jangan berani mengusik keluarga ku, sepertinya kalian memang harus di lenyapa kan dulu, baru bisa benar-benar belajar dari masa lalu." Sambungnya masih dengan tatapan tajam membunuh.
"Tarik tuntutan ini. Aku janji akan menjauh dari Jakarta dan hidup dengan tenang bersama istri dan putriku." Ucap lelaki itu memohon.
"Sayang sekali, hukum tetaplah harus berjalan. Tak adil rasanya jika hanya Nara yang akan merasakan kehancurannya karena tamak, dan kamu justru menikmati kehidupan mu tanpa merasa bersalah pada adikmu itu." Ujar Alfaraz lalu beranjak dari atas tempat duduk. "Kita akan bertemu di persidangan. Silahkan menyewa pengacara hebat, bukankah orang tua mu meninggalkan setumpuk harta untuk kamu gunakan ?" Sambung Alfaraz kemudian melangkah meninggalkan ruangan besuk itu dengan puas.
Setelah sampai di ruang tunggu kepolisian, Alfaraz mengulurkan tangannya ke atas wanita yang sedang duduk dengan diam di sana. Zyana pun meraih tangan itu, lalu beranjak dari atas tempat duduk yang ia duduk kemudian ikut melangkah bersama suaminya keluar dari sana.
"Putra dan menantimu sudah menunggu." Ucap Zyana setelah membaca pesan di layar ponselnya.
"Apa mereka sudah di rumah ?" Tanya Alfaraz.
Zyana mengangguk mengiyakan.
"Ayo kita pulang, dan jangan lupa minta putri dan menantu mi yang lain untuk segera pulang."
Zyana terlihat sedih. Ia tahu Arga sedang merasa tidak nyaman dengan mereka. Menantunya itu pasti merasa bersalah dengan kejadian di masa lalu yang kembali terungkap kepermukaan.
"Mereka akan baik-baik saja, jangan terlalu khawatir." Alfaraz mengusap lembut kepala istrinya yang tertutup hijab.
__ADS_1
"Benarkah ?" Tanya Zyana memastikan.
"Tentu saja." Jawab Alfaraz yakin. Ia lalu mulai melajukan mobilnya keluar dari pelataran kantor kepolisian menuju rumah mereka.
****
Di jalanan yang sama, namun, di dalam mobil yang berbeda, Arga terus berkonsentrasi dengan kemudi. Setelah mendengar penjelasan dari sang Papa, hatinya mulai kembali merasa jauh lebih baik. Dan saat istrinya mengajaknya untuk pulang, ia tidak lagi menolak dengan berbagai macam alasan.
"Apa Aira sudah baik-baik saja ?" Tanya Arga.
"Sepertinya belum sepenuhnya sembuh, tapi Ayah meminta Aira untuk di rawat di rumah saja agar lebih aman. Orang-orang itu sangat nekat, dan akan lebih aman jika Aira di rumah saja. Nanti Kak Rayan akan datang setiap hari untuk mengecek luka gadis manis itu." Jawab Dira.
Arga mengangguk mengerti.
"Ayah dan Ibu kemana ?" Tanya Arga.
"Sepertinya masih ada hal penting yang harus mereka selesaikan."
"Ga, jangan seperti kemarin lagi ya. Aku takut banget kamu cuekin." Ujar Nadira.
"Maafkan aku." Sesal Arga karena sudah mengabaikan istrinya dua hari ini.
"Ngga apa-apa, aku ngerti kok. Hanya saja di cuekin sama orang yang kita cintai itu ga enak banget."
Arga tertawa.
"Nanti sampe rumah, aku mau jenguk anak aku yaa, kasian sudah dua dia ga lihat ayahnya." Goda Arga.
"Dasar.." Dira tersenyum. Melihat Arga seperti ini kembali membuat hatinya baik-baik saja. Ia bahkan sempat beradu mulut dengan Danira karena kembali membuka kasus lama, dan membuat suaminya sedih.
"Kamu harus meminta maaf pada Danira." Ucap Arga tiba-tiba seakan mengerti apa yang sedang bersarang di otak istrinya saat ini. "Aku pun akan meminta maaf padanya karena Oma hampir saja membuat dia tidak bisa merasakan bagaimana menikmati malam bersama Arion." Sambung Arga dengan tawa terbahak.
__ADS_1
Dira hanya melongo takjub dengan kalimat yang baru saja meluncur dari mulut mesum suaminya.
"Apa bisa kamu tuh tidak mengaitkan segala sesuatu dengan pikiran mesum mu itu ?" Tanya Daira.
"Tidak bisa, nanti kamu ga akan cepat hamil seperti sekarang." Jawab Arga.
"Apa-apaan ngga nyambung." Kesal Dira.
Arga tertawa.
"Kalau bukan karena kemesuam aku, kamu ga akan hamil sayang. Gadis lugu bin polos plus ga tahu apa-apa, jika ketemu sama laki-laki yang nggak mesum pasti akan lama hamilnya." Ujar Arga dan langsung mendapat tabokan dari tangan lentik istrinya.
"Diam dan kemudikan mobilnya dengan benar." Kesal Dira.
Arga mendengus kesal. Kepala ya terasa panas, padahal tangan istrinya ini kecil, namun, begitu terasa saat menghantam kepalanya.
Selang beberapa saat kemudian, mobil yang sedang di kendarai Arga sudah mulai memasuki pintu gerbang sebuah rumah mewah yang tidak lain adalah milik keluarga Prasetyo. Keduanya lalu keluar dari dalam mobil itu, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sambil berpegangan tangan.
"Kenapa ga istirahat di kamar Ra ?" Tanya Dira saat melihat adik iparnya sedang duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. "Abi kemana ?" Tanya Dira lagi.
Aira tersenyum melihat wajah panik kakak ipar cantiknya.
"Bosan Kak di kamar terus. Aku mau nonton sebentar. Kalau Abi, mungkin sedang di kamar." Jawab Aira.
Dira mengangguk, lalu duduk dengan hati-hati di samping adik iparnya. Arga pun melakukan hal yang sama. Jelang beberapa saat kemudian, Abizar sudah kembali dengan benda lipat miliknya, lengkap dengan buku-buku di dalam pelukannya.
*****
*Note Author
Maaf jika kalian mendapati banyak typo di setiap Bab. Aku benar-benar ga sempat periksa lagi sebelum di publish, tapi nanti pasti akan aku revisi perlahan jika punya waktu dan kesempatan. Terimakasih sudah menunggu di sela-sela kesibukan ku yang padat banget.
__ADS_1
Love kalian semuanya, setanah lapang 😘😘❤️❤️❤️❤️