Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 234 Chapter Bonus


__ADS_3

Dira menuruni satu persatu anak tangga menuju dua laki-laki yang sedang menunggunya di ruang keluarga. Senyum manis di bibirnya terlihat, kala mendapati dua laki yang begitu mirip wajahnya namun, memiliki kepribadian yang berbeda sedang sibuk dengan gawai masing-masing, hingga tak menyadari keberadaannya.


"Ayo." Ajaknya. Membuat dua laki-laki bagi pinang dibelah dua itu serentak menoleh ke arahnya.


Arga begitu antusias mendekati Dira, sedangkan remaja tampan yang hampir berusia tiga belas tahun itu beranjak dari sofa dan melangkah menuju pintu utama.


"Daren ga pamit sama Opa dan Oma dulu." Tegur Dira.


Daren kembali membalik tubuhnya, lalu melangkah menuju ruangan di mana Oma dan Opa nya berada. Dira pun ikut melangkah menuju Mama dan Papa mertuanya karena malam ini mereka akan menginap di rumah kedua orang tuanya.


Berbeda dengan Arga, laki-laki dengan tingkat kemesuman yang tidak termakan usia itu, terus saja menggoda istrinya yang katanya selalu cantik. Dira tidak lagi asing dengan tingkah suaminya, dan hanya terus melangkah mengikuti putranya.


"Oma Daren masuk ya.." Ucap Daren sambil mengetuk pintu kamar Oma dan Opa nya.


"Masuk Nak." Jawab Rara dari balik pintu kamar yang masih tertutup rapat.


Daren masuk lebih dulu, lalu di susul kedua orang tuanya yang terus saja bertingkah seperti remaja.


"Cucu Oma mau pergi ya ?" Tanya Rara saat melihat anak remaja yang sudah terlihat rapi dengan pakaian kasual nya.


Daren mengangguk. Anak laki-laki yang baru berusia hampir tiga belas tahun itu mencium punggung tangan sang Oma.


"Hati-hati ya." Ucap Reno sambil mengusap


Dira pun melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan putranya, kemudian di susul Arga.


Setelah selesai berpamitan, keluarga kecil itu kembali melangkah keluar dari dalam kamar menuju halaman depan di mana mobil mereka berada.


"Pa, apa sih !" Tepis dira saat Arga mulai melakukan aksinya yang tidak tahu tempat.


"Papa mau pergi ga ?" Si anak tampan dan dingin menatap Ayahnya dengan kesal, karena sejak tadi hanya terus mengganggu Ibunya.


"Iya ini mau pergi kok, kamu duluan aja." Jawab Arga sambil menatap laki-laki muda yang menjadi saingannya di rumah karena berhasil membagi cinta Dira.


Daren kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil yang sedang terparkir di halaman rumah, mengabaikan laki-laki tua yang selalu saja cemburu dengan keberadaannya.

__ADS_1


Di ruangan yang sama Dira hanya menarik nafasnya yang terasa begitu berat, lalu kembali menghembuskan nya perlahan seperti biasa, berharap apa yang ia lakukan itu mampu mengurangi kekesalan di dalam hatinya karena tingkah laki-laki dewasa yang terus saja bersikap seperti anak-anak.


*****


Di sebuah rumah lain di tengah kota Jakarta, seorang ibu yang tidak ada kalem-kalemnya terus melangkah kesana-kemari untuk menyiapkan semua barang-barang yang akan di bawah ke rumah ibunya. Empat orang anaknya sudah duduk manis di dalam mobil, sedangkan Mami dan Papi mereka sedang sibuk memasukkan makanan-makanan yang sudah terlanjur di masak oleh ibu mereka.


"Mami makin tua ya Pi, masa hari Mami bisa lupa." Tanya Danira saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil.


"Bagus dong.." Jawabnya.


"Kok bagus ?" Tanya Danira heran bercampur kesal.


"Itu berarti janjiku yang ingin mencintaimu sampai tua, terpenuhi." Jawab Arion dengan senyum hangat di bibirnya.


Danira bersemu, lalu menoleh pada empat anaknya yang sedang melihat kelakuan Papi mereka.


"Papi ga cinta Niza yaa." Lirih gadis kecil yang sedang duduk di samping Abang tertua.


Danira terbahak, lalu menjulurkan lida menggoda putri bungsunya.


"Mi, apa sih !" Tegur Azam sambil membujuk adiknya agar tidak menangis karena ulah Mami mereka.


"Mami siap menua bersama, Pi." Jawab Nira, dan semakin membuat gadis kecil yang sedang duduk di kursi penumpang, histeris.


Danira hanya terus tertawa, sedangkan Arion sudah membantu Azam untuk menenangkan gadis kecilnya.


"Papi juga cinta sama Niza kok, nanti Niza juga akan bersama Papi sampai Papi tua." Ujar Arion.


"Benar ?" Tanya gadis itu.


Arion mengangguk.


Azam membantu membersihkan air mata yang sudah membasahi pipi adiknya, sedangkan sang Mami sudah memasang wajah cemberut karena selalu saja kalah dari putri bungsunya.


Setelah memastikan putrinya sudah kembali tenang, Arion mulai melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mewah milik mendiang Ayahnya, yang baru beberapa tahun ini mereka tempati, menuju rumah mertuanya.

__ADS_1


Jalanan macet di sabtu sore, tak lantas semangat dari keluarga bahagia itu kehilangan semangat untuk berkumpul bersama keluarga besar di akhir bulan. Kini, mobil yang di kendarai Arion sudah memasuki pintu gerbang rumah mewah yang tidak lagi asing. Sebab, selama belasan tahun, Arion tidak pernah lupa untuk membawa istri dan anak-anaknya untuk datang ke rumah mewah milik keluarga Prasetyo ini.


Saat mereka tiba, satu mobil yang tidak lagi asing juga sudah terparkir di pelataran.


"Mas Daren sudah tiba." Ujar Nira pada anak-anaknya.


Keempat bocah itu bergegas keluar dari dalam mobi, dan langsung berlarian menuju pintu rumah kakek dan nenek mereka.


"Hati-hati." Teriak Nira. Mode singa nya keluar saat melihat putra nomor duanya sudah mulai mengeluarkan keusilannya.


"Iya Mami." Jawab ke empat bocah itu bersamaan.


"Heran deh , si Aidar itu ikut siapa sih, jail amat." Omel Danira kesal.


"Ikut kamu lah." Jawab Arion sambil melangkah mendekati petugas keamanan yang sedang berjaga. Lelaki tampan yang sudah memiliki empat orang anak itu, meminta bantuan pada penjaga keamanan untuk membawakan makanan yang ada di dalam bagasi mobil menuju dapur.


Saat tubuhnya sudah kembali berbalik menuju istrinya berada, tawanya tidak lagi bisa tertahan kala melihat wajah cantik istrinya berubah masam.


"Tapi Aidar tampan kok, mirip kamu." Hibur Arion sambil terkekeh.


"Aku cantik yaa, bukan tampan !" Kesal Danira lalu melangkah masuk menuju pintu rumah.


Masih dengan senyum di bibirnya, Arion pun ikut melangkah bersama Danira menuju pintu. Tak lupa, laki-laki tampan itu mendaratkan ciuman manis di pipi Danira, agar istrinya itu berhenti memasang mode singa yang membuatnya ketakutan.


"Senyum dong sayang, nanti malam ini aku kasih jatah lagi deh. Sudah sebulan kita ga pakai kamar masa kecil kamu." Goda Arion.


"Benar ya ?" Tanya Danira dengan mata berbinar.


"Cih, dasar mesum." Ucap Arion. Keduanya lalu tertawa, dan melangkah masuk ke dalam rumah.


****


*Note Author


Maaf yaa membuat kalian kecewa dengan update yang sedikit. Huhuhu aku ga kuat guys, banyak kerjaan πŸ₯ΊπŸ₯Ί

__ADS_1


Untuk novel terbaru, ga jadi di awal bulan. Semoga tetap update bulan ini yaa πŸ˜‡πŸ˜‡


Untuk si Abang Kean, hari ini mulai update. ❀️


__ADS_2