Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 115 Season 2


__ADS_3

"Kamu tuh, tunggu Ibu panggil dulu baru keluar kamar." Marah Dinda pada putrinya yang sudah melangkah keluar dari dalam kamar menuju ruangan di mana calon keluarga barunya berada sebelum ia mengetuk pintu kamar putrinya itu.


Yana tertawa geli mendengar omelan ibunya.


"Ga usah drama Bu, kita ga lagi buat film. Di gandeng keluar dari dalam kamar, terus menuruni satu persatu anak tangga lalu si calon suami yang terkejut melihat kecantikan calon istrinya. Ibu lupa rumah kita ngga ada tangganya, kamar Yana dan ruang tamu itu dekatan, ga akan dapat Bu, feel-nya."


Yana tertawa geli sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.


Di ruangan yang sama, Alfaraz menatap takjub dengan sosok wanita yang kini melangkah mendekat ke arah mereka dengan senyum yang semakin membuat dadanya berdebar. Kebaya serupa dengan yang di kenakan sang Bunda melekat sempurna di tubuh Yana. Bedanya, wanita yang mulai menempati ruang spesial di hatinya ini, tidak mengenakan hijab seperti Bunda dan adiknya.


"Cantik kan pilihan Bunda." Bisik Farah di telinga putranya. Farah melihat wanita yang akan menjadi calon istri dari putranya itu, sambil tersenyum. Hidup putranya yang datar akan segera berwarna dengan kehadiran wanita seperti Yana. Wanita yang mampu menempatkan diri dengan baik, dengan keahlian merubah suasana canggung menjadi begitu menyenangkan. Sehari mereka bersama, ia sudah bisa menilai wanita seperti apa yang akan menjadi menantunya ini.


"Bunda punya hutang penjelasan ya." Ah rasanya dia mau marah, tapi melihat bidadari yang mulai menghuni dunianya semakin memangkas jarak, melangkah menuju ke arah mereka, luntur sudah kekesalnnya. Niatnya mau memberikan kejutan untuk Yana malam ini, eh justru dia yang terkejut.


Yana menyalami punggung tangan calon Ayah dan Ibu mertuanya secara bergantian.


" Punggung tangan aku ngga kamu cium juga ?" Tanya Alfaraz sambil mengulurkan tangannya ke arah Yana.


"Belum sah Bambang." Pukul Adelia di tangan kakak nya.


"Mbak Yana cantik banget sih." Rey memuji.


"Woi jangan puji-puji calon istri orang. Kamu mau ngga aku kasih restu." Ancam Alfaraz sambil menatap tajam laki-laki yang selalu mengikuti adiknya kemana-mana.


Rey hanya terkekeh lucu mendengar ancaman dari calon kakak iparnya.


"Begini Dinda, maaf jika kedatangan kami begitu mendadak. Sebenarnya hari ini saya dan Farah hanya ingin menemui mu dan mengucapkan terimakasih yang belum pernah terucap setelah tragedi itu. Akan tetapi setelah mendengar putar ku yang berencana melamar putrimu seminggu lagi, aku dan Farah memutuskan untuk di laksanakan bersamaan saja malam ini. Terimakasih telah menyelamatkan istri dan putra ku, dan saya meminta izin padamu untuk meminta putrimu menjadi istri dari Alfaraz, putraku." Ujar Zidan.


Ruangan itu hening, Yana dan Alfaraz bertatapan sebentar, lalu menoleh pada orang tua mereka yang terlihat sudah saling mengenal sejak lama.


"Saya sangat berterimakasih karena masih ada keluarga sebaik ini datang meminta putri saya yang banyak kekurangan ini. Akan tetapi, saya menyerahkan semuanya pada Yana. Jika dia bersedia, maka tidak ada alasan bagi saya untuk menolaknya." Jawab Dinda.


"Sebentar Pa, kalian sudah saling kenal ?" Tanya Alfaraz menyela acara lamaran yang sudah di mulai oleh sang Papa.


"Kamu mau dengar jawaban aku ngga." Ujar Yana kesal sambil menatap penuh ancaman pada laki-laki di hadapannya.

__ADS_1


Farah tertawa lucu, sedangkan Dinda justru memukul lengan putrinya yang menyela kalimat calon menantunya.


Alfaraz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tolak aja Mbak, biar tahu rasa dia." Ujar Adelia.


Farah hanya tertawa geli, begitupun Zidan. Acara lamaran yang seharusnya di penuhi air mata haru, kini berubah menjadi canda tawa karena sikap konyol kedua calon pengantin.


"Begini Pak Zidan, mungkin Bapak hanya mengenal bagaimana saya bekerja di perusahaan, tapi tidak dengan kehidupan pribadi saya. Saya memiliki banyak kekurangan, dan sedang berusaha untuk memperbaikinya."


Yana menarik nafasnya sebentar, lalu menatap Alfaraz dengan lekat. Ruangan hening, tidak ada lagi canda tawa yang sejak tadi mengisi ruangan itu.


"Mungkin awal pertemuan kita tidak seserius malam ini, untuk itu sebelum aku memutuskan benar-benar menjadi bagian dalam hidupmu, aku ingin memastikan kembali jika hanya ada aku yang ada di hidupmu nanti. Aku tidak ingin ada wanita lain, selain Adelia dan Bunda yang masih mengisi hati mu. Cinta bisa kita bangun bersama nanti setelah menikah, tapi sebuah kepercayaan aku menginginkan malam ini juga, sebelum semuanya melangkah semakin jauh."


Yana masih menatap lekat wajah Alfaraz dengan dada yang berdebar. Hingga beberapa saat kemudian, Alfaraz mengangguk tanpa ragu.


"Kamu bisa mempercayai ku. Aku orang yang konsisten dengan apa yang ada di hidup ku. Jadi, maukah kamu menjadi teman berjuang memperbaiki semua yang pernah hancur ?"


Yana menggeleng..


Alfaraz tersenyum, lalu mengangguk.


"Kita adalah kita, yang terjadi di masa lalu biarlah tetap berada di masa lalu." Ujarnya.


"Bun mana cincinnya ?" Tanya Alfaraz.


"Bunda lupa, kamu sih.."


"Sepertinya Yana lebih suka kalung ini Tante." Ucap Yana menimpali sambil menyentuh kalung yang menggantung indah di lehernya.


Farah tersenyum, sejak tadi ia tidak memperhatikan kalung yang melingkar di leher calon menantunya.


"Tapi aku lebih suka cincin." Seru Alfaraz sambil menatap tidak terima pada calon istrinya.


"Kamu bisa memakaikan cincin itu setelah akad nikah nanti. Anak ini." Ujar Zidan.

__ADS_1


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa lucu, sedangkan Alfaraz semakin cemberut karena lamarannya tidak berjalan sesuai apa yang dia rencanakan.


"Bu, bagaimana ibu bisa mengenal kelurga Pak Zidan ?"


Yana sudah beralih menatap wajah sang Ibu. Sejujurnya ia penasaran sejak tadi, hanya saja ia ingin mempercepat lamaran sebelum ia akan semakin gugup.


"Kamu tahu kenapa Ibu tidak ingin merenovasi toko bunga dan rumah ini ?" Tanya Dinda pada putrinya.


Yana menggeleng, ia pun penasaran mengapa ibunya selalu menolak saat ia menawarkan untuk merenovasi rumah.


"Ini adalah pemberian Pak Dimas sebagai ucapan terimaksih." Jawab Dinda.


Zidan dan Farah terkejut mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Dinda.


"Ayah menemui mu ?" Tanya Zidan.


Dinda mengangguk.


"Beliau yang mengurus segala keperluan saya dan Zyana saat itu, dan memberikan toko dan rumah ini agar saya tidak perlu lagi berjualan bunga di pinggir jalan, dan bisa merawat Zyana dengan baik." Jawab Dinda.


"Dan kamu berhasil merawat putrimu dengan baik. Ayah pasti bahagia di sana, karena berhasil membuat mu mendidik putrimu menjadi wanita yang hebat seperti hari ini." Ujar Zidan. "Ayah sudah meninggal." Sambungnya.


"Innalilahi.... Maaf saya tidak mengetahui hal itu. Setelah pertemuan kami di rumah ini, saya tidak pernah lagi bertemu dengan beliau."


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Aku mencari mu di tempat biasanya aku membeli bunga untuk Farah, tapi kata orang-orang kamu tidak lagi berjualan di sana."


Alfaraz terdiam, selama ini ia berpikir takdirnya sudah berakhir setelah perpisahannya dengan Nara. Ternyata Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik.


"Aku mencintaimu." Batinnya, sambil menatap wanita yang kini berkaca sambil menatap calon ibu mertuanya.


***


*Note Author


Sebenarnya ini jatah makan siang kalian, tapi jariku gatal pingin up aja.

__ADS_1


Hayoo tinggalkan like dan komentar, bunga atau kopi juga boleh. Biar othor sulap malam lamaran, paginya langsung akad, malamnya lagi langsung malam pengantin. Uupsss 🤭🤭🤣🤣


__ADS_2