
Daniza keluar dari dalam lift, lalu melangkah menuju lobi di mana Daren sedang menunggu. Al Fatih masih menggenggam tangan Daniza. Bahkan saat keduanya semakin mendekat ke arah Daren, tangan mungil itu masih belum melepaskan jemari Aunty kesayangannya.
"Kenapa Ayah di sini ?" Tanya Fatih masih sambil Menggenggam erat jemari Daniza.
"Cih.." Daren mendengus saat mendapati tatapan tidak enak dari putranya. "Ini mau pergi lagi kok." Jawabnya kemudian.
Bocah laki-laki itu hanya menarik tangan Daniza, lalu melangkah keluar dari lobi apartemen, meninggalkan Daren yang merasa di acuhkan oleh dua orang yang sangat ia temui pagi ini. Ia sampai rela menunggu lama di lobi apartemen agar bisa menyambut pagi yang indah bersama dua orang yang sama-sama ia cintai.
Daren membuka pintu mobil yang ada di belakang dan membantu putranya masuk ke dalam. Sedangkan Daniza sudah lebih dulu masuk, dan duduk di bangku di samping pengemudi.
Beberapa saat kemudian, mobil mulai melaju meninggalkan pelataran apartemen Daniza, menuju Bandara. Masih belum ada yang bersuara, Daren hanya beberapa kali melirik putranya yang sedang cemberut di kursi belakang. Sedangkan Daniza sibuk mengusap layar ponsel, entah apa yang sedang ia lihat di sana.
"Santai aja Niz, ga usah canggung gitu. Pasti kita akan hidup bersama kok nanti. Kamu harus masakin aku, temanin aku tidur dan masih banyak lagi." Ucap Daren sambil menatap jalanan yang ada di depannya.
Daniza segera melirik bocah laki-laki yang semakin cemberut di kursi belakang, lalu beralih menata tajam laki-laki yang sama sekali tidak merasa berdosa dengan kalimat yang baru saja ia dengar.
"Boleh ga Mas kalimat nya di filter. Jadi Ayah kok hal ayak gitu aja ga tahu. Lihat tuh anak mu semakin cemberut." Tegur Niza kesal.
"Tapi kamu suka kan ?" Goda Daren.
Daniza memutar bola matanya malas. Yah, Daren memang seserver dengan tiga Abang nya yang lain. Hanya Ayiman yang selalu bersikap serius dengannya.
"Mas Daren itu lebih cocok jadi kakak aku, dari pada suami." Ujar Daniza dan itu berhasil membuat Daren memasang wajah serius. "Kalau aku benar jadi istri Mas daren, bisa-bisa aku mati muda karena selalu kesal setiap hari." Sambung Daniza.
Daren bernafas lega, lalu tersenyum.
"Hidup ga boleh terus-terusan serius Niz, ga enak." Ujarnya.
__ADS_1
Daniza memilih untuk tidak menimpali. Soal berdebat, ia pasti akan kalah dengan laki-laki yang terus tersenyum mengesalkan di sampingnya ini.
Beberapa saat hening, Daren merogoh ponselnya yang terus bergetar dan meminta bantuan Niza memeriksa siapa yang sejak tadi menghubunginya.
Niza pun tidak menolak. Hal-hal seperti ini sudah terbiasa di antara mereka. Tidak hanya Daren yang terlalu dekat dengannya, tetapi tiga abangnya yang lain pun sering melakukan hal seperti ini. Bahkan dulu gadis yang tertarik pada Alfan sampai menerornya, karena Alfan mengunggah foto dirinya di akun sosial media abang populernya itu.
Setelah membuka kunci layar ponsel Daren, Daniza terdiam sejenak. Ia menatap nama pengirim pesan yang kini terpampang di layar ponsel Daren dengan perasaan yang campur aduk. Tidak hanya kali ini ia memeriksa pesan dari Maya yang masuk di ponsel Daren, namun, baru kali ini ia merasa ada sesuatu yang aneh di hatinya saat melihat nama dari Ibu Fatih itu tertera di layar ponsel yang berada di genggamannya ini.
"Dari Mbak Maya, Mas." Ucap Daniza pelan.
"Apa katanya ?" Tanya Daren.
"Aku tidak membukanya." Jawab Daniza.
Daren tertawa geli. Ia melirik wajah Daniza sebentar, lalu kembali berkonsentrasi pada kemudi. Sebentar lagi mereka akan sampai di Bandara, dan ia sengaja ingin memberitahu hal ini dengan menyerahkan ponselnya pada Daniza.
"Kok diam aja ? Ayo buka." Perintah daren sambil memarkirkan mobil Daniza di area parkir Bandara.
Daren kembali tertawa geli.
"Sejak kapan kamu jadi merasa ga enak sama aku, hm ? Tidak ada yang berubah dengan kita Niz. Aku menyayangimu sama seperti dulu. Bedanya saat ini, aku ingin kamu tahu semuanya. Mulai saat ini aku ingin jika Maya menanyakan perihal Fatih, harus melalui kamu." Ujar Daren.
Daniza menarik nafasnya dalam-dalam. Tatapan seperti ini sudah biasa ia terima, tapi entah mengapa kali ini mampu membuat jantungnya berdetak berkali-kali lipat dari biasanya.
"Mas, aku..."
"Ayo kita nikah, dan jadilah ibu untuk Fatih." Sela Daren cepat. "Biar Fatih akan lebih semangat menjaga mu nanti. Iya kan Nak ?" Daren mengalihkan tatapannya pada bocah yang ada di kursi belakang.
__ADS_1
"Ibu ?" Tanya Fatih.
"Iya Ibu. Kamu mau kan kalau Aunty kamu panggil Ibu ?" Tanya Daren lagi.
"Terus mau datang ke sekolah seperti Ibu dari teman-teman Fatih ?" Tanya bocah itu.
Daren tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan. Sedangkan Daniza menatap bocah yang selalu di titipkan di apartemennya saat libur itu, dengan sendu.
"Jadilah pelengkap di antara kami Niz." Ujar Daren. "Ayo kita buat doa yang pernah kita pinta pada Allah, tapi memilih selesai, untuk di kabulkan. Ayo kita tambah lagi ingatan yang tak saling lupa ini, dengan ingatan yang lebih indah lagi dari hari ini. Dan ayo bantu aku untuk memperjuangkan takdir yang sempat terencana dulu, namun terlalu takut kita realisasikan bersama. Hari ini di hadapan Fatih aku ingin meminta kamu untuk mau berjuang bersama, karena mungkin setelah ini akan banyak cerita yang sedikit membuat mu tidak nayaman." Sambung Daren panjang lebar.
"Mas akan ketinggalan pesawat." Jawab Daniza. Sejujurnya, ia pun belum tahu harus menjawab apa atas permintaan Daren hari ini. Bukan terlalu cepat, hanya saja beberapa tahun terakhir ia terus saja berusaha membunuh segala hal tentang Daren dalam hatinya. Dan tiba-tiba saja, lelaki ini datang memintanya untuk berjuang bersama.
Daren mengangguk mengerti.
"Aku akan pulang besok, dan aku harap kamu sudah menyiapkan jawaban yang tepat. Aku sih berharap jawaban kamu iya." Ujarnya lalu tertawa.
"Bagaimana dengan ini ?" Daniza mengangkat benda pipih yang ada di tangannya.
Daren tersenyum.
"Kamu belum membukanya." Jawabnya.
Daniza mulai mengotak atik pesan dari Maya.
"Mas aku belum menjawab iya." Ujar Daniza saat membaca isi percakapan Daren dengan Maya.
"Tapi aku yakin kamu akan menjawab iya." Jawab Daren.
__ADS_1
"Jika sudah seperti ini, apa aku masih memiliki pilihan jawaban yang lain." Ujar Daniza kesal.
"Itu kamu tahu jawabannya." Daren keluar dari dalam mobil, lalu membuka pintu belakang untuk memindahkan putranya di kursi depan. "Kamu pindah." Perintahnya pada Daniza.