Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 124 Season 2


__ADS_3

"Cantik banget sih." Adelia masih berada di dalam kamar tempat Yana berada. Gadis yang sudah rapi dengan gaun dan hijab andalannya itu sedang duduk di atas ranjang pengantin sambil melihat kakak iparnya yang sedang di siapkan oleh penata rias.


Di kamar yang sama, pintu baru saja terbuka. Terlihat Alfaraz masuk ke dalam dengan senyum hangat yang masih terlihat di bibir tipisnya.


"Sudah selesai ?" Tanya Alfaraz.


"Sebentar lagi, ngga sabar menunggu acaranya cepat selesai yaa." Goda Adelia.


"Pikiran anak kecil jangan aneh-aneh." Ucap Alfaraz


Yana tersenyum jail.


"Tapi benar kan ?" Ujarnya menimpali.


"Cepat, tamunya sudah pada pulang pengantinnya masih belum keluar kamar."


"Ngga apa-apa, nanti bilang aja kita satu ronde dulu." Ucap Yana membuat Alfaraz melotot tajam. Masalahnya yang sedang ikut tersenyum sambil merapikan riasan istrinya adalah seorang laki-laki, dan dengan santainya Yana mengucapkan kalimat aneh itu.


"Nah itu alasan yang tempat Mbak, bilang aja kalian buat anak dulu biar malam nanti ngga perlu repot-repot lagi." Adelia ikut membuat suasana di dalam kamar semakin panas.


"Enak aja, malam pertama ngga boleh satu ronde aja Del." Sambung Yana.


"Iya juga.. hmmmppp...


Adelia memukul-mukul lengan Alfaraz.


"Gila ya, aku juga masih pengen ngerasain malam pertama. Kaka mau bunuh aku." Ujar Adelia kesal, pasalnya kakak kesayangannya ini membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan hingga membuat nafasnya terhambat.


"Aku tunggu di luar." Ucap Alfaraz.


"Di kamar aja, kalau si dia nakal pegang-pegang aku gimana ?" Cegah Yana sambil menunjuk laki-laki cantik yang sedang sibuk merapikan penampilannya.


"Aku ngga minat ya Mbak." Lelaki hello Kitty yang menjadi topik pembahasan langsung membantah tuduhan Yana. "Kalau Pak Alfaraz sih saya minat." Sambungnya.


Alfaraz melotot tajam..


"Sudah, ga usah di benarin istriku sudah cantik." Ujarnya merinding.


Yana dan Adelia sama-sama tertawa geli.


"Sudah siap ?" Wanita paruh baya yang paling terlihat sibuk, kini sudah ikut masuk ke dalam kamar pengantin.


"Ya ampun kenapa kamu duduk di situ ?" Farah melangkah cepat lalu memukul bahu putrinya. "Kakak kamu belum menggunakannya, kamu malah sudah merusaknya." Omelnya lagi pada sang putri sambil merapikan kelolak-kelopak mawar yang berantakan karena ulah Adelia.

__ADS_1


"Bun." Tegur Alfaraz frustasi.


Punya tiga wanita satu server memang membuatnya gila. Ini baru sehari, bagaimana dia akan menjalani hidupnya jika setiap hari akan di recoki oleh tiga wanita ini.


"Sudah ngga usah malu-malu kucing kamu. Itu kan yang paling kamu tunggu-tunggu." Ujar Farah.


Yana dan Adelia hanya tertawa lucu melihat wajah cemberut Alfaraz.


"Ayo keluar, tamu sudah pada berdatangan." Ajak Farah lagi, lalu membawa menantunya keluar dari dalam kamar.


***


Di ballroom hotel, tempat akan berlangsungnya acara resepsi pernikahan Alfaraz dan Yana terlihat begitu meriah. Karyawan di perusahaan yang ikut menghadiri resepsi atasan mereka, masih terus membahas tentang Zyana.


Tidak jauh Berbeda dengan empat orang rekan kerja Yana di kantor, mereka masih terus mengungkapkan ketidakpercayaan mereka atas hari ini. Nia, si gadis cantik berhijab, tidak pernah lelah mengutarakan kekagumannya pada atasan mereka itu. Selama ini tidak ada yang mengetahui hubungan atasan mereka dengan direktur utama yang baru itu, dan dengan tiba-tiba undangan pernikahan sudah tersebar di area kantor.


Suara dari pembawa acara, yang meminta para tamu undangan agar berdiri sudah terdengar. Dan waktu yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi akhirnya tiba, semua karyawan yang hadir menyiapkan ponsel mereka masing-masing untuk mengabadikan momen malam ini.


Tatapan takjub bercampur iri tertuju pada Yana. Wanita yang menjadi pemeran utama malam ini terlihat begitu tenang dengan senyum manis yang masih setia menghiasi wajah cantiknya.


Gaun pengantin mewah berwarna putih yang sudah di pastikan harganya selangit, terlihat begitu sempurna di tubuh Yana. Cahaya dari blits setiap ponsel dan kamera yang sedang mengabadikan momen, sama sekali tidak mempengaruhi raut tenang di wajahnya. Meskipun dadanya terus berdebar seakan jantungnya ingin melompat keluar dari tempatnya.


"Santai aja sayang, kalau kamu gugup nanti malam pertama kita ngga jadi lagi." Bisik Yana setelah ia dan Alfaraz sudah duduk di kursi pelaminan.


"Habisnya kamu tampan banget kalau lagi kesal. Pengen aku bawa ke kamar aja dan di kurung di sana." Ujar Yana.


"Awas aja abis acara kamu pura-pura tidur." Kesal Alfaraz.


"Kok kamu tahu ?"


"Diam Zyana, kamu lihat itu orang-orang lagi ngeliatin kita."


"Bukan kita, tapi aku." Jawab Yana


"Kita ke kamar sekarang." Ajak Alfaraz.


Yana menutup mulutnya dengan bunga yang ada di genggamannya, lalu tertawa. Alfaraz pun ikut tertawa sambil menatap wajah istrinya.


***


Acara berjalan dengan sangat lancar. Setiap sesi acara di lewati dengan penuh canda tawa. Yana memiliki kemampuan untuk bisa mencairkan suasana, dan itu membuat Alfaraz tidak bosan duduk berjam-jam di kursi pelaminan. Bahkan setiap ledekan yang tertuju pada mereka, tidak terlalu terasa karena sudah terbiasa dengan sifat jail Yana.


Setelah drama yang panjang, serta ledekan tidak hanya dari rekan kerja tapi juga dari keluarga besarnya, kini Alfaraz berhasil membawa istrinya masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Hari yang membuatnya ingin masuk ke dalam tanah, begitulah yang ia rasakan. Tatapan jail Yana yang seakan ikut menggodanya, semakin membuat Alfaraz mati gaya. Beruntung ada Ibu mertua yang selalu membantunya agar bisa keluar dari situasi mengesalkan itu.


"Jangan melamun, nanti kemasukan setan. Kalau setan cinta sama aku kan bahaya, ini malam pertama kita loh ."


Alfaraz tersadar dari lamunannya, ia menatap istrinya yang masih berbalut bathrobe putih keluar dari dalam kamar mandi, dan mengambil pakaian yang sudah tersusun rapi di atas sofa.


"Bagus yang mana, ini atau ini ?" Yana mengangkat dua lingerie yang berbeda sambil menahan tawa geli saat melihat wajah suaminya yang memerah.


Alfaraz hanya menggelengkan kepalanya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri tanpa berniat menanggapi pertanyaan dari istrinya.


"Jangan pakai baju itu, kita harus shalat dulu nanti ga berkah." Ujarnya sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Yana hanya terkekeh geli, lalu kembali meletakkan dua set pakaian yang di siapkan oleh ibu mertuanya itu ke atas sofa. Ia lantas memilih satu dress berwarna putih dari dalam koper lalu memakainya.


Pakaian ganti untuk Alfaraz sudah tersedia di atas sofa, ia lalu duduk di sofa itu sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Hanya suara gemercik air yang terdengar jelas dari dalam sana.


Beberapa saat kemudian, bunyi pintu kamar mandi yang terbuka, membuat dada Yana kembali berdebar tidak karuan. Ia tahu suaminya sedang melangkah menuju tempat ia berada.


"Ini pakaian untukku kan ?" Tanya Alfaraz.


Yana mengangguk.


"Tumben ngga usil lagi." Ucap Alfaraz setelah mengenakkan pakaiannya. Ia lantas ikut duduk di sofa di samping Yana.


"Mau usil yang seperti apa ? apa begini cukup ?" Yana sudah berpindah duduk mengangkang di atas pangkuan suaminya sambil tersenyum jail.


"Kita shalat dulu." Ajak Alfaraz salah tingkah.


"Memangnya kita mau ngapain harus shalat dulu ?" Tanya Yana jail. Ia masih duduk di atas pangkuan Alfaraz sambil mengedipkan matanya Menggoda.


Alfaraz semakin salah tingkah, ia tidak tahu Yana akan senekat ini. Seakan di minta, tangannya reflek terangkat dan menyentuh pipi istrinya dengan lembut, lalu mengusap rambut panjang Yana yang terurai indah.


"Al.." Yana terkejut, ia ingin beranjak dari pangkuan suaminya, namun tangan Alfaraz segera menahannya. Hingga kecupan yang pertama kali, akhirnya mendarat juga di atas bibir tipisnya.


"Al apa yang kamu lakukan ? Nanti aku jatuh." Ucap Yana saat Alfaraz beranjak dari sofa tanpa melepaskan tubuhnya, lalu melangkah menuju ranjang.


Pipi Yana merona, tubuhnya sudah terbaring di atas ranjang yang di penuhi keloapak bunga hasil kreasi dari ibu mertuanya. Keusilan yang selama ini mampu membuat Alfaraz kesal, kini sudah menghilang entah kemana. Melihat Alfaraz yang lebih aktif, membuat Yana tidak tahu harus berbuat apa.


Kecupan di seluruh bagian wajah dengan penuh kasih sayang, tidak mampu ia tolak dan membuat dadanya berdesir hebat. Hingga bibir laki-laki yang kini sah menjadi suaminya berakhir di puncak kepala, dan akhirnya do'a meminta keberkahan untuk rumah tangga mereka terdengar samar di telinganya. Yana menutup matanya seakan ikut mengaminkan hal baik yang sedang di pinta oleh suaminya.


Mata yang sejak tadi terpejam masih belum ingin terbuka, entah karena terlalu malu, atau karena ingin menikmati setiap sentuhan lembut di tubuhnya.


Irama jantung yang menggila dari keduanya, seakan ikut menjadi pengiring malam ini.

__ADS_1


Malam yang panjang mereka mulai, meskipun ini bukanlah hal baru bagi keduanya, tapi ini memang sangat jauh berbeda. Alfaraz adalah sosok yang penuh kehati-hatian dalam segala hal, termasuk menyentuh tubuhnya. Dan itu membuat Yana merasa sangat di hargai. Jika biasa dirinya yang lebih aktif, kini Alfaraz yang lebih mendominasi. Lelaki yang pendiam, ternyata jauh lebih menakutkan jika sudah berada di atas ranjang.


__ADS_2