
Zidan mulai melajukan mobilnya dengan perlahan keluar dari pelataran rumah. Hari ini ada dua agenda yang harus segera mereka selesaikan. Ke rumah Sakit, kemudian berlanjut menuju rumah yang di perkirakan cocok dengan keinginan Farah.
Lelaki yang memakai pakaian kasual itu terlihat begitu menikmati suara berisik dari sampingnya. Putranya yang terus berceloteh riang, bertanya berbagai hal yang tertangkap oleh netra kecilnya, sedangkan sang Istri tidak kalah antusias menjawab semua pertanyaan yang kadang terdengar lucu dari bibir Alfaraz.
Sikap dingin Farah padanya, akan hilang jika wanita ini sudah berhadapan dengan putranya. Marah, tidak. Karena dari dulu mereka tidak dekat, jadi untuk marah dengan sikap Farah yang terlihat tidak terlalu bersahabat, itu sangatlah tidak tahu malu namanya.
Sejak dulu, dirinyalah yang terus bersikap dingin dengan istrinya ini, jadi jika Farah saat ini tidak bisa bersikap manis dan lembut selayaknya seorang istri pada umumnya, itu karena telah terbiasa dengan sikap abainya selama empat tahun pernikahan mereka.
Zidan kembali fokus dengan kemudi, dadanya bergemuruh melihat Farah yang seperti tidak terlalu menganggap dirinya dan, dan hanya selalu mengajak Alfaraz bercerita berbagai hal.
Rumah sakit milik keluarga besar mendiang Nadia sudah terlihat. Zidan mulai memasuki area parkir di salah satu rumah sakit terbaik itu dengan hati-hati.
"Al tunggu Bunda di sana ya, di dalam banyak virus." Bujuk Farah pada putranya.
Alfaraz sejenak menoleh, menatap wajah sang Papa dengan mata polosnya lalu menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya di leher Farah.
Farah tertawa gemas dengan sikap putranya, lalu mencium pipi Al berulang kali sembari meminta maaf karena sudah meninggalkan bocah ini selama sebulan penuh. Ia merasa bersalah, dulu Al tidak seperti ini, namun, setelah pertemuan mereka kembali, bocah laki-laki yang ia lahir kan lebih dari tiga tahun yang lalu, tidak mau di tinggalkan walau hanya sebentar.
"Bunda harus periksa sayang, biar virusnya hilang, lalu bisa terus bersama Al." Ujarnya lagi, menjelaskan agar putranya ini mau di tinggalkan.
Setelah mendengar banyak penjelasan dari Farah, juga janji tidak akan meninggalkan dirinya lagi, Alfaraz akhirnya mengangguk patuh, kemudian berpindah ke pangkuan Zidan.
"Apa tidak perlu aku temani Ra ?" Tanya Zidan saat Farah hendak membuka pintu mobil.
Farah menggeleng
"Bahaya kalau Al di bawah masuk. Di dalam rumah sakit itu tempat virus, dan Al masih sangat rentan." Jawabnya.
Zidan akhirnya mengangguk, namun, ia ikut keluar dari dalam mobil lalu membawa Al menuju taman Rumah Sakit agar putranya ini tidak bosan menunggu.
***
Baru beberapa langkah Farah memasuki Rumah Sakit, tatapannya sudah tertuju pada gambar yang terpajang di lobi rumah sakit. Foto keluarga besar Wijaya terpampang di sana, termasuk mendiang madu nya yang telah pergi beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Siapa dirinya jika di bandingkan dengan wanita itu ? Yah, sejak awal Farah sadar jika dirinya bukalah apa-apa jika di bandingkan dengan Nadia.
"Farah ?" Tegur Zia.
Farah yang masih menatap foto keluarga besar Wijaya yang terpampang di hadapannya, sembari mengenang masa lalu tersadar. Ia mengalihkan tatapannya pada sosok yang sudah berdiri di sampingnya dan ikut menatap gambar dirinya yang juga ada di sana.
"Baru sampai Ra ?" Tanya Zia.
Farah mengangguk mengiyakan.
"Sendirian ?" Tanya Zia lagi.
"Sama Mas Zidan dan Al." Jawab Farah.
"Terus mereka kemana ?" Tanya Zia lagi sembari mengedarkan pandangannya mencari dua sosok yang Farah sebutkan ikut datang menemani adik iparnya ini.
"Mas Zidan dan Al sedang menunggu di taman." Jawab Farah.
Zia mengangguk, kemudian membawa Farah menuju ruangan dokter kandungan yang ada di rumah sakit itu untuk memeriksa Farah.
Farah menautkan jemarinya di atas paha, sejujurnya ia sedikit gugup untuk pemeriksaan yang sudah kesekian kalinya ia lakukan ini. Apalagi, mengingat hubungannya dengan keluarga Zidan yang seakan merenggang, membuat Farah sedikit merasa tidak nyaman.
"Benar Dok, Ibu Farah sudah telat empat Minggu." Ucap dokter kandungan tersebut pada Zia yang sedang duduk di samping Farah.
Zia menggumamkan Alhamdulillah mendengar berita ini, sedangkan Farah kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Takdir memang masih ingin selalu mengikatnya dengan Zidan.
Tidak banyak pemeriksaan yang di lakukan, Zia hanya meminta dokter kandungan itu memastikan jika kandungan Farah kali ini benar-benar sehat, untuk menghindari kejadian beberapa bulan yang lalu menimpa Farah.
Dan Dokter menjelaskan, jika kali ini Farah benar-benar siap. Janinnya sehat, dan tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Zia menatap lembaran kertas hitam putih yang di sodorkan oleh dokter cantik ke arahnya, matanya berbinar.
"Aku iri kamu bisa cepat-cepat hamil seperti ini." Ujarnya.
__ADS_1
"Aku justru malu Kak."
"Loh kenapa ?" Tanya Zia heran. Wanita yang juga mengenakkan snelly itu menatap heran ke arah adik iparnya.
"Aku tuh malu, masa iya baru sekali langsung jadi aja." Ujar Farah. Wajahnya memerah menahan malu, sedangkan Zia tertawa mendengar kalimat yang di utarakan oleh adik iparnya.
"Itu karena Ibu sedang masa subur pasca keguguran. Di tambah lagi, selama sebulan Ibu rutin mengonsumsi obat yang membantu menyehatkan rahim." Jelas dokter wanita itu.
Farah menyimak penjelasan dari dokter mudah di hadapannya dengan seksama. Saran-saran yang di berikan dokter tersebut, ia simpan dengan baik di otaknya.
Setalah menerima resep obat dan vitamin yang harus di konsumsi oleh Farah selama masa kehamilan, dua wanita itu keluar dari dalam ruangan menuju tempat pengambilan obat.
***
"Ra..
Tangan hangat Zia yang menyentuh punggung tangannya menyadarkan Farah dari lamunan. Ia menatap wajah Zia yang sedang menatapnya bahagia juga rasa bersalah yang bersamaan. Keduanya kini duduk di kursi tunggu, menunggu obat Farah yang sedang di siapkan oleh petugas apotek rumah sakit.
"Maafkan aku." Lirih Zia. "Zidan adalah salah satu orang berharga dalam hidupku, aku hanya terlalu takut ketika dia jatuh sakit beberapa Minggu ini." Ucap Zia.
Farah masih diam, ia menyimak setiap kalimat permohonan yang terdengar dari kakak iparnya ini tanpa menyela sedikit pun.
"Kamu tahu aku menyayangimu sejak dulu. Saat pertama kali kita bertemu di restoran dengan Rehan dulu ketika kamu masih menjadi mahasiswi magang di perusahaan Ayah, aku sudah menyukai mu. Hanya saja, takdir yang Allah garis kan mungkin tidak mudah, hingga kita harus terjebak dengan situasi seperti hari ini." Jelas Zia.
"Maafkan aku." Sambungnya.
"Aku baik-baik saja Kak." Jawab Farah.
Zia menggeleng.
"Kamu tidak baik-baik saja selama ini, hanya terus berusaha untuk terlihat baik-baik saja." Ucapnya.
"Kak, jika aku ingin kembali apakah keluarga ini akan menerimaku seperti kalian menerima Mbak Nadia ?" Tanya Farah.
__ADS_1
"Tentu saja Ra, sejak awal kami sudah menerimamu. Hanya keadaan saja yang memaksa kami harus bersikap salah di mata kamu." Jawab Zia.
Farah masih belum bisa memahami jawaban Zia, namun, berusaha untuk meyakinkan dirinya jika semuanya akan segera baik-baik saja.