
Pagi yang sepi di kediaman keluarga Prasetyo. Farah menghembuskan nafasnya yang terasa berat, melihat tiga orang yang terus saja bungkam yang ada di hadapannya membuat ia kesal. Sudah bermenit-menit waktu berlalu, namun, ketiga orang berharga dalam hidupnya ini masih menutup mulut mereka rapat-rapat.
"Bunda benar-benar kesal." Ujar Farah lalu meletakkan sendok dan garpu yang ada di tangannya ke atas piring kosong hingga menghasilkan suara yang mampu membuat ke tiga orang pendiam itu mengalihkan fokus mereka.
"Ada apa Bun ? Apa yang membuat Bunda kesal se pagi ini ?" Tanya Adelia.
"Kalian ! kalian bertiga buat Bunda kesal." Jawab Farah. Ia menatap bergantian pada wajah tiga orang yang kini menatapnya heran. Tentu saja heran, ini pertama kalinya ia marah-marah di meja makan seperti ini.
Zidan menghembuskan nafasnya, lalu menatap lekat wajah cantik yang tidak termakan usia di hadapannya.
"Al hari ini kamu punya kesibukan apa ?" Tanyanya.
Alfaraz yang juga sedang menatap wajah garang sang Bunda, sontak terkejut. Ini pertama kalinya sang Papa mengajaknya berbicara terlebih dahulu.
"Belum ada kesibukan Pa, hanya akan ada di rumah seperti biasa." Jawab Alfaraz.
Zidan mengangguk, lalu kembali fokus dengan makanannya.
Melihat sikap aneh sang Papa, Adelia tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Dasar susis !" Ejek Adelia.
Alfaraz pun yang tadinya heran dengan sikap Papa yang begitu tiba-tiba, ikut tertawa. Ternyata lelaki paruh baya yang duduk di depannya ini takut dengan kemarahan sang Bunda.
"Apaan itu ?" Tanya Zidan.
"Suami takut istri." Jawab Adelia dan membuat Farah tertawa terbahak, terlebih wajah tampan suaminya kini sudah terlihat cemberut mendengar ejekan putrinya.
"Pa, maafkan sikap kekanakan Al." Ucap Alfaraz pelan.
Belum ada jawaban dari sang Papa, Al mengalihkan tatapannya pada wajah cantik yang tak termakan usia di hadapannya.
Farah tersenyum lalu mengangguk. Ia yakin putranya saat ini sedang mengumpulkan keberanian untuk mengurai masalah yang ada di antara dua lelakinya ini.
"Al akan segera menyelesaikan semuanya, lalu mulai bekerja seperti yang Papa mau." Ujar Alfaraz lagi.
Zidan menoleh, ia menatap putranya yang kini sudah tertunduk dalam.
"Selesaikan jika menurutmu harus selesai." Jawabnya.
Alfaraz mengangguk, Farah mengangkat tangannya yang terkepal sembari mengucapkan kata semangat pada putranya.
***
Di pelataran rumah, Adel menatap kesal ke arah sepasang suami istri tua yang lebay nya masih belum pergi dari kehidupan mereka, padahal umur tidak lagi mudah. Kalimat-kalimat penuh perhatian untuk sang Bunda masih terus keluar dari bibir sang Papa, membuat Adelia memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Bun Adel berangkat. Jangan terlalu lebay, sakit mata Adel Bun." Pamitnya.
"Makanya cepat minta Rei lamar kamu." Goda Farah pada putri cantiknya.
"Siapa Rei ?" Tanya Zidan
"Adel pergi, Bye.." Ujar Adelia segera masuk ke dalam mobilnya tanpa ingin menjawab pertanyaan laki-laki tua posesif itu.
Farah tertawa lucu melihat tingkah putrinya.
"Siapa Rei ? Tanya Zidan serius pada istrinya.
"Ga kok sayang, rekan kerja aja." Jawab Farah. Wanita yang masih saja terlihat cantik dengan hijab andalannya itu segera masuk ke dalam pelukan suaminya.
"Pelukan ini belum bisa menjawab ya Bun, pokoknya pulang kerja nanti harus di jelasin." Tekan Zidan pada istrinya.
Farah tertawa, lalu mengangguk mengiyakan. Kecupan di puncak kepalanya yang tertutup hijab, mengakhiri pelukan mereka pagi ini.
"Hati-hati Mas." Ujarnya. Lambaian tangan, serta tatapan penuh cinta mengiringi kepergian lelaki yang begitu ia cintai menuju tempat kerja.
Setelah kepergian Aelia dan Zidan dengan mobil berbeda, Farah kembali masuk ke dalam rumah.
"Kamu mau pergi juga ?" Tanya Farah pada putranya yang sudah rapi dengan kemeja.
Alfaraz mengangguk, lalu mencium punggung tangan Bundanya kemudian berlalu dari sana.
"Hati-hati Al, kabari Bunda tentang apapun.x" Pinta Farah pada putranya.
Lelaki itu mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju pelataran rumah dan masuk ke dalam mobilnya.
***
Tangan lentik Yana dengan telatennya memasang dasi di leher suaminya. Wanita yang memang memiliki tinggi badan proporsional itu, begitu mudahnya melakukan pekerjaan yang paling ia sukai di setiap pagi. Kecupan berulang kali di kening yang terus di berikan oleh suaminya, semakin menambah semangatnya.
"Aku pergi." Kecup Reno lagi di kepala istrinya.
Yana mengangguk. Pagi ini ia akan sedikit terlambat, karena harus mampir ke rumah Ibu terlebih dahulu.
Ting..
Sebuah notifikasi terdengar, Fara segera meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja rias. Keningnya berkerut, tidak ada apapun di layar ponselnya.
Ting..
Bunyi dari notifikasi kembali terdengar, Farah berdiri dari kursi meja riasnya, lalu melangkah menuju ranjang. Tumben sekali suaminya itu melupakan barang sepenting ini.
__ADS_1
Rambut yang masih terikat asal-asalan itu tidak lagi ia hiraukan, gegas ia melangkah keluar dari dalam kamar menuju ruangan depan.
Tidak lagi mendapati suaminya di sana, Yana melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen. Wanita yang sudah memakai pakaian kerja, tapi dengan rambut yang belum di rapikan itu melangkah cepat menuju lift lalu urun menuju basemen apartemen. Berharap suaminya masih belum pergi dari sana.
"Mas..." Teriaknya. Namun sayang, mobil hitam dengan merek yang sama degan mobilnya itu sudah berlalu dari sana.
Yana kembali melangkah cepat menuju lift dan naik menuju apartemennya. Tidak banyak yang ia lakukan, hanya mengambil kunci mobil miliknya, lalu segera turun menuju mobilnya yang juga terparkir di basemen apartemen.
Jalanan sudah lumayan padat, namun masih bisa di lalui dengan lancar. Sampai di depan gedung megah, Yana bergegas turun dari dalam mobilnya lalu melangkah dengan cepat dan masuk ke dalam.
Tatapan aneh dari para karyawan yang mungkin baru tiba, tidak di pedulikan oleh Yana. Ia terus melangkah menuju resepsionis untuk mengantarkan ponsel suaminya.
"Permisi Mbak." Ucapnya sopan.
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu ?" Tanya gadis cantik itu.
"Saya mau mengantar ponsel suaminya saya, atas nama Reno Saputra." Jawab Yana.
"Sebentar ya Bu."
Yana mengangguk, menunggu gadis yang kini sedang berbicara di telepon entah dengan siapa.
"Pak Reno tidak masuk hari ini Bu, beliau sedang ada urusan keluar kota." Jawab gadis yang ber nametag Eva itu sopan. " Mungkin saat ini, beliau sudah menuju Bandara." Sambungnya lagi.
"Ah iya saya lupa, terimakasih ya Mbak." Ucap Yana tidak kalah sopan, kemudian melangkah cepat keluar dari sana.
Yana kembali memacu mobilnya cepat menuju Bandara.
Ting...
Notifikasi di ponsel Reno kembali terdengar, Yana mengabaikan itu. Ia terus berkonsentrasi dengan kemudinya agar segera sampai di Bandara. Ponsel termasuk barang penting yang tidak boleh di tinggalkan saat bepergian.
Bandara internasional di Jakarta ini memang tidak pernah sepi, bahkan di masa seperti ini. Yana memarkirkan mobilnya di area parkir Bandara.
"Ckck.. lihatlah dirimu Yana. Pantas saja karyawan di kantor Mas Reno menatapku aneh." Gumamnya.
Wanita cantik itu melepaskan ikatan rambutnya, lalu membiarkan rambut panjang itu tergerai indah di punggungnya.
"Wah hebat sekali Yana." Ia menatap sendal bulu berwarna putih yang melekat di kakinya.
Tidak ingin membuang waktu, Yana meraih ponsel suaminya lalu keluar dari dalam mobil.
Kali ini tidak hanya notifikasi tapi juga panggilan masuk dari mama mertuanya sudah tertera di layar ponsel milik laki-laki yang ia cintai.
"Assalamualaikum Ma." Sapa Yana sopan usai mengusap layar ponsel milik suaminya.
__ADS_1
Namun, tidak ada jawaban dari ujung sana, kemudian panggilan itu berakhir begitu saja.
Yana mengerinyit heran, ia kembali menatap layar ponsel milik suaminya itu. Beberapa pesan yang berasal dari wanita yang baru saja menghubungi, tertera di sana. Namun, Yana kembali mengabaikan itu.