Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 53


__ADS_3

Di dalam kamar yang dulu di tempati Farah, berulang kali Zidan menatap pintu kamar tersebut. Namun, sudah beberapa menit berlalu, wanita yang katanya akan kembali melanjutkan pembicaraan mereka yang tertunda sore ini, masih belum juga menampakkan diri.


Ia menanti Farah akan datang menemuinya kembali, namun, sepertinya ia tidak boleh terlalu banyak berharap. Farah sudah bersedia untuk pulang saja, sudah patut ia syukuri.


Zidan perlahan bangun dari ranjang, namun, dengan cepat kembali merebahkan diri di atas ranjang.


"Ah sial." Kesalnya entah pada siapa. Ingin menyusul ke kamar Alfaraz, namun, kepalanya serasa di hujam dengan banyak paku, sakit. Zidan tidak lagi memaksakan diri untuk bangun dan menemui Farah. Ia memilih untuk beristirahat, lalu akan melanjutkan pembicaraan besok pagi. Toh, ia akan punya banyak waktu di rumah.


Di kamar Alfaraz, Farah terjaga dari lelapnya. Ia menatap sejenak jam yang ada di atas nakas samping tempat tidur putranya, pukul tiga dini hari. Masih punya waktu untuk shalat malam, begitu pikirnya.


Tidak lagi membuang waktu, Farah bergegas bangun dari atas ranjang lalu melangkah keluar menuju kamar yang dulu ia tempati. Perlahan-lahan membuka pintu kamar itu, dan kini tatapannya tertuju pada seseorang yang sedang terlelap di atas ranjangnya.


Ruang ganti adalah tujuan Farah, ia melangkah pelan menuju ruang ganti, agar tidak mengusik seseorang yang masih begitu lelap dalam tidur. Satu setel mukenah yang sering ia gunakan sudah tersedia lengkap dengan sajadah. Terusan panjang rumahan yang sering ia kenakan ketika masih tinggal di sini pun sudah ia sisihkan.


Setelah semuanya siap, Farah berniat keluar dari ruangan tersebut, dan kembali ke kamar putranya. Menunaikan semua kewajibannya dengan sang maha kuasa di sana. Namun, langkah kakinya terhenti, ketika samar-samar terdengar seseorang yang terus muntah di dalam kamar itu.


Farah meletakkan begitu saja perlengkapan yang ia ambil dari lemari pakaian, kemudian bergegas keluar dari ruang ganti menuju kamar mandi, di mana suara seseorang berasal.


Ia menatap sejenak punggung yang kini sedang bersimpuh di samping closet. Meskipun ragu, Farah tetap melanjutkan langkahnya mendekat, lalu mengusap pelan punggung Zidan yang terlihat bergetar.


Farah membantu Zidan berdiri dari lantai kamar mandi, lalu kembali ke tempat tidur. Zidan menatap wanita yang masih terlihat datar tanpa suara dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Sejak dulu, Farah memang orang yang sangat irit berbicara, begitupun dirinya. Mungkin karena sikap mereka yang hampir sama ibu, membuat keduanya sulit untuk memulai komunikasi.


"Terimakasih." Ucap Zidan sambil menerima segelas air minum yang terulur ke arahnya.


Farah hanya menganggukkan kepalanya, dan setelah Zidan sudah terbaring di atas ranjang, ia kembali melanjutkan urusannya di dalam ruang ganti.


"Ra..


Mendengar Zidan memanggil namanya, Farah kembali menghentikan langkahnya lalu menatap lekat wajah pucat Zidan. Ia menunggu apa yang akan di utarakan oleh laki-laki ini selanjutnya.


"Lanjutkan pekerjaanmu, pagi nanti kita akan membahasnya lagi. Dua hari lagi kita pindah." Ucap Zidan.


"Mas kita masih perlu membicarakan semuanya dengan Ayah dan Ibu. Tidak bis langsung memutuskan sesuatu tanpa berembuk dulu."


"Ayah yang menyarankan ini Ra, beliau yang meminta kita agar pindah dan memulai semuanya dari awal. Lagi pula Ayah dan Ibu yang sudah menyediakan rumah itu." Jawab Zidan.


Zidan bangkit dari pembaringan, lalu duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menatap wajah istrinya dengan begitu lekat.

__ADS_1


"Apa Al bisa menyesuaikan diri di tempat baru ?" Tanya Farah pelan.


"Kan ada kamu Ra, mulai sekarang buat Al agar terbiasa dengan keadaan kita yang baru. Aku ingin kita bertiga akan saling membiasakan diri di sana. Di tempat yang baru, hanya ada kita bertiga." Ujar Zidan.


Farah mengangguk, ia mengalihkan tatapannya menuju jam weker miliknya yang masih tertata rapi di atas nakas samping tempat tidur.


"Aku ketinggalan waktu." Ucapnya.


Zidan mengangguk mengerti, lalu menyuruh Farah untuk kembali melanjutkan urusannya.


***


"Eh, selamat pagi Non Farah." Sapa asisten rumah tangga. Wanita yang hampir seumuran Anisa itu tidak lagi terkejut saat mendapati majikannya yang selama sebulan ini pergi, kini sedang menyiapkan bahan makanan yang akan di masak untuk sarapan pagi ini.


"Selamat pagi juga Mbok." Farah membalas sapaan dari asisten rumah tangga. "Aku yang akan masak, Mbok beres-beres rumah aja seperti biasa." Sambung Farah, masih dengan senyum yang menghiasai wajah cantiknya.


Wanita paruh baya itu mengangguk mengerti, kemudian berlalu dari ruangan itu menuju ruangan lain.


Setelah kepergian asisten rumah tangganya, Farah kembali melanjutkan kegiatannya. Tidak banyak yang akan ia masak pagi ini, hanya ingin membuatkan nasi goreng untuk dirinya dan Alfaraz, sedangkan untuk Zidan ia memilih membuatkan bubur ayam.Waktu baru menunjukan pukul enam pagi, dan semuanya sudah siap tersedia di atas meja makan. Farah menatap hidangan yang ia sajikan itu sambil tersenyum, sejak dulu inilah yang paling ia inginkan.


Setelah memastikan semuanya siap, Farah melangkah keluar dari ruang makan. Satu per satu anak tangga mulai ia naiki, menuju kamar Alfaraz putranya.


"Hey Boy, ayo bangun kita sarapan." Bocah kecil yang baru saja terjaga itu mengerjap perlahan, netra nya seketika berbinar kala menatap wajah cantik sang Bunda.


Farah terkekeh ketika Alfaraz segera bangkit dari ranjang dan menghambur memeluk tubuhnya yang sedang duduk di sisi ranjang putranya itu.


"Kita mandi terus sarapan." Ajaknya. Bocah menggemaskan itu mengangguk patuh, saat tangan Farah menuntunnya masuk ke dalam kamar mandi.


Alfaraz terus berceloteh riang, bertanya ini dan itu pada Bundanya. Dan sama seperti biasa, Farah selalu meladeni setiap pertanyaan putranya dengan tidak kalah antusias.


"Papa ?" Ucap Al.


Farah menoleh, dan yah laki-laki yang di sebut Papa oleh putranya ini memang sudah berdiri di alam kamar yang sama dengan mereka.


"Sama Papa." Ajak Zidan sembari merentangkan tangannya. Namun , Alfaraz bergegas memeluk Farah dengan erat.


Farah terkekeh melihat tingkah putranya, entah mengapa setelah pertemuan mereka kemarin di Jogja, Alfaraz terus saja menempel padanya.

__ADS_1


"Bunda lelah Al, sini sama Papa ya." Bujuk Zidan.


"Ngga apa-apa Mas, biar aku aja. Oh iya, kamu ngga sarapan di kamar aja ? Sarapannya biar nanti aku bawain ke kamar." Ujar Farah.


Zidan menggeleng, sungguh ia ingin kembali merasakan semua yang hilang satu bulan ini.


Melihat Zidan yang ingin sarapan bersama di dapur, Farah tidak lagi mencegah, dan keluarga kecil itu keluar dari kamar Al lalu turun menuju ruang makan.


Di ruang makan, Al masih menjadi pembicara aktif. Farah dan Zidan hanya ikut menimpali, namun, semua itu justru semakin membuat suasana di ruang makan yang terlihat mewah itu jauh lebih hangat dari biasanya.


"Kamu mau rumah yang seperti apa Ra ?" Tanya Zidan pelan. laki-laki itu mengusap sudut bibirnya dengan tisu, setelah bubur yang berada di dalam mangkuk sudah berpindah ke dalam perutnya.


"Jangan yang terlalu besar seperti ini, yang terpenting halamannya luas." Jawab Farah.


Zidan mengangguk


"kita akan melihat rumah itu hari ini." Ucapnya.


"Tapi aku masih harus ke Rumah Sakit Kak Zia." Ucap Farah menimpali.


"Kamu sakit Ra ?" Tanya Zidan cepat, dan Farah segera menggeleng.


"Hanya ada sesuatu yang ingin di pastikan Kak Zia." Jawabnya.


"Baiklah, setelah dari rumah sakit kita pergi." Putus Zidan.


Farah kembali mengangguk, mengiyakan keputusan suaminya.


****


*Note Author.


Maafkan jari othor yang nakal ini, Bab 51 jadi dua hihihi...


Oh iya, aku mau ingetin lagi soal giveaway, karena kisah Farah dan Zidan ini bentar lagi tamat.


Ayo kakak sayang, lumayan loh, pls 75K untung pendukung rangking 1, sedangkan 2 dan 3 masing-masing 50K. Nanti di akhir episode, sekalian akan aku SS siapa pemenangnya.

__ADS_1


Jadi, ayo jangan malas buat ninggalin jejak setelah membaca. Komentar marahin Zidan boleh, like juga boleh. Dan yang berkenan menyumbangkan sedikit hadiah dan vote, jauh lebih boleh lagi. Hihihi 😁😁


Love kalian semuanya ❤️🥰


__ADS_2