Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 113 Season 2


__ADS_3

Mobil Yana kembali melaju di jalanan menuju butik tempat calon mertuanya sedang menunggu. Mobil yang biasanya sepi kini ramai dengan tawa Adelia.


"Kita satu server Mbak." Ujar Adelia di sela-sela tawanya.


Yana ikut tertawa geli.


"Entahlah enak banget lihat wajah kesalnya." Ujar Yana kembali membuat Adelia tertawa.


"Jelek banget kan ?"


"Enggak kok, tampannya ga ilang." Jawab Yana.


"Ya elah dasar bucin."


"Enak banget ya punya Kakak menyenangkan seperti dia ?" Tanya Yana.


Adelia menggeleng.


"Kami dekat baru beberapa bulan ini, setelah Kak Al kembali dari Berlin. Aku benci banget sama dia yang terlalu gampang di buta kan oleh keadaan, dan lebih membuat aku marah, wanita yang sangat ia cintai itu hanya menggunakan cinta tulus Kak Al untuk membalas kan dendam ibunya terhadap keluarga kami. Ibunya terobsesi dengan Papa sejak lama, tapi ga kesampaian."


"Terus Al ngga tahu soal itu ?"


"Bunda memberitahu semuanya, tapi Kak Al tidak hanya menutup telinga tapi juga hatinya untuk kami. Ya udah akhirnya Bunda membiarkan saja, toh cepat atau lambat semu kebusukan pasti akan tercium juga tanpa harus kita bekerja keras membuktikan semuanya."


Yana mengangguk membenarkan, karena ia pun sudah merasakan hal itu.


Sebaik apapun Reno menutupi perselingkuhannya, cepat atau lambat tetap diketahui olehnya.


"Itu mantan istri Kak Al." Tunjuk Adelia saat mobil yang di kendarai Yana berhenti di persimpangan lampu lalu lintas.


Yana ikut menoleh, menatap wanita cantik dengan senyum menawan yang terpampang di banner dengan salah satu produk kecantikan.


"Dia model, dan beberapa kali terlihat membintangi film layar lebar. Pernikahan mereka tidak sampai tiga tahun, Nara memilih ibunya dan mengabaikan Kak Al. Dan akhirnya Kak Al sadar, jika wanita itu tidak benar-benar mencintainya." Ujar Adelia menjelaskan. "Aku mencari tahu tentang semua yang terjadi di masa lalu orang tuaku, untuk itu aku benci banget sama mereka. Senyum sinis Nara saat Kak Al lebih mengutamakan dirinya dari pada aku, membuat aku muak dengan Kakak ku sendiri." Sambungnya.


Yana menatap Adelia sebentar lalu kembali memacu mobilnya perlahan saat lampu lalu lintas sudah kembali berganti warna. Ia hanya menjadi penyimak yang baik, tanpa berniat menimpali setiap kalimat yang keluar dari bibir calon adik iparnya ini.


"Tapi aku senang, Allah ngga tidur. DIA menunjukkan semuanya, bahkan sebelum kemauan mereka terwujud. Keluarga kami masih baik-baik saja sampai saat ini, dan Kak Al sudah memilih untuk kembali." Ujar Adelia lagi.


"Aku harap Mbak bisa benar-benar merubahnya. Aku berharap pernikahan kalian yang terkesan sangat mendadak ini, bukan hanya sebagai alat untuk terlepas dari masa lalu kalian yang suram."


Yana mengangguk mengiyakan. Ia tidak pernah berniat untuk mempermainkan ikatan sakral yang sedang mereka rencanakan, meskipun memang terbesit niat untuk menggunakan pernikahan ini agar ia bisa terlepas dari masa lalu.


***

__ADS_1


Di sebuah butik mewah di Jakarta, Farah sesekali melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Mereka masih kemana sih ? katanya hanya makan siang." Gumamnya.


Baru saja ingin menghubungi putrinya, gadis berhijab itu sudah terlihat masuk ke dalam butik bersama wanita yang sudah ia tahu bernama Yana walaupun ini kali pertama ia bertemu dengan wanita yang di sukai putranya.


"Kalian kemana aja sih, pasti kamu ngajak Yana gibah dulu." Tuduhnya pada sang putri."


Adelia hanya tersenyum.


"Hai Tante." Sapa Yana.


"Eh iya Hai Yana." Farah membiarkan wanita yang sebentar lagi akan menjadi menantunya ini menyalami punggung tangannya.


"Bagaimana kabar ibu mu ?" Tanya Farah sambil menatap wajah yang terasa tidak asing di matanya.


"Alhamdulillah beliau sehat Tan." Jawab Yana.


"Cantik seperti Dinda." Gumam Farah dalam hati. Kenapa baru sekarang ia menyadari jika wanita yang sering ia lihat di layar ponsel putranya memang begitu mirip dengan wanita yang tidak sempat menerima ucapan terimakasih dari nya.


"Ayo sana ajak Yana mencoba kebaya yang sudah Bunda pilih." Perintahnya pada sang putri.


Adelia mengangguk, lalu mengajak Yana masuk ke dalam. Farah pun ikut masuk ke dalam ruang ganti.


"Kok dua Tan ?"


"Terimakasih banyak Tan, Yana jadi ga enak."


"Santai aja, kalau ada yang kamu mau boleh pilih lagi. Kita habisin uangnya Al, iyakan Del."


Adelia tersenyum jahat, beberapa rencana untuk membuat kakaknya bangkrut sudah bersarang di otaknya.


"Ayo sana di coba dulu." Perintah Farah pada calon menantunya.


Yana mengangguk patuh, lalu melangkah masuk ke dalam bilik kecil yang ada di ruangan itu.


"Uh cantik banget sumpah." Ujar Adelia saat melihat Yana keluar dari bilik kecil yang ada di dalam ruangan itu.


Farah tersenyum, kemudian mengangguk membenarkan kalimat putrinya.


"Cantik kan Bun ?" Tanya Adelia.


"Cantik banget, pilihan Bunda memang mantap." Jawabnya memuji dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah semua selesai, Farah mengajak putrinya pulang. Sedangkan Yana berpamitan untuk pulang juga, karena harus membantu menyiapkan acara dadakan malam ini.


***


Di ruang yang sederhana, beberapa orang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka, berpamitan untuk pulang. Dinda mengantarkan orang-orang suruhan Alfaraz itu hingga ke pintu depan, lalu mengucapkan terimakasih.


Di tempat yang sama, Yana baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah, lalu melangkah masuk dengan dua paper bag di tangannya.


Melihat putrinya yang baru saja tiba, Dinda mengurungkan niatnya untuk masuk dan menunggu putrinya yang sedang melangkah mendekati nya.


"Kata Tante Farah buat Ibu." Yana menyodorkan satu paper bag ke arah sang Ibu.


"Gimana Nak, mereka memperlakukan kamu dengan baik kan ?" Tanya Dinda.


"Mereka orang yang baik." Jawab Yana. Ia tersenyum menanggapi kekhawatiran ibunya. "Jangan khawatir, mereka orang baik." Sambungnya meyakinkan sang ibu.


Dinda mengangguk, meskipun rasa khawatir jika putrinya akan kembali di perlakukan tidak baik, masih saja mengganggunya.


Yana terdiam di tempatnya, ia mengelilingi ruang tamu itu dengan pandangannya.


"Nak Al menyuruh orang untuk datang membuatnya jadi seperti ini." Ujar Dinda menjelaskan.


"Apa dia benar-benar mencintaiku ?" Gumamnya dalam hati masih sambil menatap ruang tamu sederhana yang terlihat sangat sangat cantik.


"Kamu beruntung bertemu lelaki sebaik dia." Ujar Dinda.


Yana mengangguk. Selama ini ia tidak serius menanggapi semua yang Alfaraz lakukan. Namun, kali ini hatinya kembali berdebar saat melihat ruang tamu sederhana di rumah ibunya telah di berubah jadi seindah ini.


"Dia memperlakukan aku dengan baik Bu." Ucapnya.


Dinda tersenyum, lalu mengangguk membenarkan.


"Ibu harap, setelah ini kamu benar-benar akan bahagia. Jangan lagi menyimpan dendam apapun, ikhlaskan segala yang sudah terjadi di masa lalu."


Yana tersenyum..


"Nih buat Ibu dari calon besan." Ucapnya sembari mengulurkan satu paper bag ke arah sang Ibu.


***


*Note Author


Tiga Bab ya, awas aja ga ninggalin jejak aku batalin lamran nya biar Al ngamuk sama kalian.

__ADS_1


Haha...


tertawa jahat ala Zyana 🤣🤣


__ADS_2