
Hari Minggu yang begitu menyenangkan. Pagi ini di bantu oleh asistennya, Farah begitu antusias menyiapkan kudapan sederhana untuk keluarga Zidan yang katanya akan berkumpul di rumah baru mereka siang ini. Adonan kue yang sudah masuk ke alam cetakan, mulai di masukan oleh asisten rumah tangganya ke dalam oven.
"Ra, kita pesan aja. Aku takut kamu kecapean nanti." Ucap Zidan. Kalimat yang kesekian kalinya keluar dari bibirnya, namun wanita yang ia cintai ini hanya menjawab semua kekahawatirannya dengan senyum manis. Ia terus saja mengikuti Farah yang begitu bersemangat melangkah ke sana kemari menyiapkan bahan-bahan yang akan di masak sebentar lagi.
"Ga apa-apa Mas, aku baik-baik aja kok. Udah sana kamu ke depan, jagain Al jangan jagain aku terus." Ujar Farah lalu kembali melewati Zidan yang masih saja mengekori nya.
"Ra..
Farah segera menatap tajam laki-laki yang masih saja menempel padanya ini.
"Pergi atau aku ngamuk." Ancamnya.
Zidan hanya menatap wajah istrinya dengan penuh permohonan, agar wanita yang sedang hamil mudah itu berhenti melakukan aktivitas berlebihan seperti hari ini.
"Ra.." Zidan kembali memohon, dan satu buah tomat akhirnya melayang ke arah nya yang masih setia berdiri di belakang sang istri.
"Ra..
"Pergi atau aku lempar lagi pake ini." Ancam Farah. Kali ini beberapa buah cabe hijau sudah siap melayang, dan akhirnya membuat Zidan keluar dari ruangan favorit istrinya itu.
Asisten rumah tangga yang sedari tadi hanya diam menyimak, akhirnya terkekeh pelan melihat majikannya yang sedari tadi terus mengganggu Farah, terburu-buru keluar dari dapur tempat mereka berada.
"Nyonya pasti bahagia di sana, karena melihat Non Farah yang bahagia di sini." Ujar Mbok setelah sekian lama hanya menutup mulutnya rapat-rapat perihal keluarga kecil majikannya.
"Aku jahat banget ya Mbok, sampai-sampai ninggalin rumah Mbak Nadia seperti hari ini." Ucap Farah.
"Nggak kok Non, justru Nyonya senang asalkan Non Farah bahagia."
Farah tersenyum lega mendengar kalimat dari asistennya, walaupun itu belum tentu benar adanya, karena sekarang madunya itu tidak lagi berada di sini. Benarkah Nadia tidak akan marah ? Entahlah, semoga saja seperti itu.
Yang sudah pergi, akan kekal di sana dan yang di tinggalkan akan tetap melanjutkan hidup di dunia. Jadi, memilih untuk bahagia adalah pilihannya saat ini. Melanjutkan hidup dengan penuh kebahagiaan adalah keinginannya saat ini hingga nanti saat waktunya tiba untuk ia menyusul Nadia di sana.
Dua wanita yang berada di dapur itu begitu kompak menyiapkan berbagai macam hidangan untuk makan siang nanti. Pasalnya tidak hanya keluarga besar Prasetyo yang akan datang, tetapi kedua orang tua mendiang Nadia pun akan ikut makan siang di rumahnya.
Satu persatu hidangan mulai matang, dan Farah begitu antusias menatanya di atas meja makan. Asisten rumah tangganya pun ikut membantu menata semua persiapan yang sudah di siapkan oleh mereka berdua sejak pagi tadi.
"Kok lama banget sih Ra." Keluh Zidan.
Lelaki itu sudah berdiri di ambang pintu pembatas dapur dan ruang keluarga sambil menatap penuh permohonan pada wanita yang terlihat begitu bahagia menata makanan di atas meja.
"Udah selesai kok Mas." Jawab Farah masih dengan senyum manis yang belum pergi dari bibir tipisnya.
"Terimakasih ya Mbok." Ucapnya lagi saat wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya untuk menerima apron yang baru saja terlepas dari tubuh Farah.
__ADS_1
"Ayo." Ajak Farah. Ia segera masuk ke dalam pelukan Zidan lalu mengajak lelaki itu untuk bersiap menyambut tamu mereka.
Keduanya melangkah bersama menuju Alfaraz yang begitu serius menonton kartun dari negeri tetangga. Sesekali tawa menggemaskan terdengar dari bibir mungil bocah laki-laki itu, kala menyaksikan adegan yang mungkin lucu baginya.
"Kamu mandi aja dulu, biar aku yang akan menyiapkan Al." Ucap Zidan.
Farah mengangguk, lalu mengecup pipi Zidan kemudian segera melangkah cepat menuju kamar tidur mereka.
"Gila." Ujar Farah merutuki dirinya sendiri karena begitu lancang mencium pipi suaminya.
Sepeninggal Farah, Zidan terdiam sesaat. Tangannya terulur dan menyentuh pipinya yang baru saja di kecup oleh istrinya
Dengan langkah cepat, ia menyusul wanitanya itu menuju kamar tidur. Enak aja, tidak akan ia biarkan Farah terlepas begitu saja setelah memberinya kejutan siang ini.
"Apa sih Mas." Kaget Farah, ketika tangannya yang baru saja membuka pintu kamar segera di tarik oleh suaminya.
Pintu kamar yang baru saja di buka sudah kembali tertutup rapat. Farah bersemu, tubuhnya terkurung oleh ke dua lengan suaminya.
"Mau ngapain ?" Tanya Farah. Wajahnya memerah, tatapan jail Zidan membuatnya kesal dan malu dalam waktu bersamaan.
Cup..
Pipi sebelah kanan di kecup tanpa permisi.
Cup..
Pipi sebelah kiri pun kini kembali di kecup dan lagi-lagi tanpa permisi.
Kedua tangan Farah yang berada di pipi kanan dan kiri, sudah berpindah menutupi mulut nya saat Zidan semakin memangkas jarak dengan wajahnya.
Cup...
Kecup Zidan di dahi istrinya..
Farah bernafas lega, dan membawa kedua tangan yang menutupi mulutnya untuk mendorong dada bidang sang suami.
Namun,
Hmpp..
Matanya terbelalak, ketika tiba-tiba saja bibir Zidan sudah menempel di atas bibirnya. Beberapa menit terlewati, bibir itu tidak hanya menempel namun, semakin memperdalam ciuman.
Setelah sekian menit berlalu, barulah Zidan melepaskan pagutan itu, untuk meraup sedikit oksigen dan mengisi paru-paru keduanya Tangannya terulur, lalu mengusap bibir yang terlihat memerah dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Manis." Ucapnya.
Baru saja ia ingin kembali melanjutkan kegiatan menyenangkan itu, ketukan pintu kamar membuat keduanya terkejut.
"Ra, kalian di dalam ?" Suara seorang wanita yang Zidan tahu itu adalah Kakaknya di sertai ketukan pintu membuat ia menggerutu kesal. Apalagi Farah dengan cepat mendorong tubuh sekuat tenaga lalu melangkah cepat menuju kamar mandi.
Zidan tertawa melihat tingkah istrinya yang begitu terburu-buru melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Ketukan di pintu kamar kembali terdengar, Zidan segera mengalihkan tatapannya dari pintu kamar mandi yang baru saja tertutup, lalu membuka pintu kamar.
"Ngapain ?" Tanya Zia. "Farah mana ?" Tanyanya lagi.
"Ganggu aja." Ujar Zidan tidak ingin menjawab pertanyaan Kakak kesayangannya.
"Jangan ajakin Farah bergulat di ranjang mulu, bahaya sama kandungannya." Omel Zia.
Zidan melotot mendengar kalimat tak tahu malu yang keluar dari bibir kakak perempuannya ini. Dengan cepat ia membungkam mulut itu menggunakan telapak tangannya, agar tidak lagi mengomel hal-hal yang vulgar.
"Kamu apain istriku ?" Ketus laki-laki tampan di ujung sana yang terlihat sedang mengayunkan langkah menuju ke arahnya.
Zidan terkekeh, ia segera melepaskan Zia lalu melangkah cepat menuju ruang keluarga di mana putranya berada.
"Al kemana ?" Tanya Zidan pada tiga keponakannya yang sedang duduk dan sibuk dengan smartphone mereka masing-masing.
"Di bawa sama Eyang ke lantai atas Om." Jawab Kenan.
Zidan tidak lagi bertanya, ia segera membawa tubuhnya lalu duduk di samping Eliana yang tidak terpengaruh dengan keadaan di sekitarnya.
"Kamu ngapain El ?" Tanya Zidan. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya, mengintip apa yang sedang di lakukan oleh keponakannya ini di dalam benda pipih itu.
"Nulis." Jawab Eliana singkat.
Gadis kecil yang baru menginjak usia sepuluh tahun lebih beberapa bulan itu terus fokus dengan benda pipih di tangannya.
"Nulis apaan ?" Tanya Zidan lagi.
"Cerpen, untuk di muat di website sekolah." Jawab Eliana acuh.
Zidan melongo mendengar kalimat keponakannya yang belum genap sebelas tahun ini.
"Kamu suka nulis ?"
"Udah Om, jangan gangguin El mulu. Sana gangguin Abang atau Kean aja." Ucap Eliana kesal.
__ADS_1
Gadis kecil itu segera beranjak dari sofa yang ia duduki, menjauh dari Om nya yang begitu kepo seperti ibu-ibu, agar ia bisa kembali berkonsentrasi dengan ketikannya.