
Arga menuruni satu per satu anak tangga menuju lantai bawah rumah kedua orang tuanya. Ada banyak hal yang mengganjal, namun ia tidak ingin membuat Dira tidak nyaman jika memaksa istrinya itu bercerita. Untuk itu, ia memilih untuk bertanya pada wanita lain yang ada di rumah ini. Meskipun Kemungkinannya sangat kecil jika istrinya itu akan berbagi cerita dengan sang Mama, ia tetap harus bertanya.
Saat memasuki ruang keluarga, Arga tidak lagi mendapat kedua orang tuanya di sana. Ia lantas melanjutkan langkahnya menuju kamar utama yang biasa di gunakan oleh sepasang suami istri paruh baya itu beristirahat.
"Mama sudah tidur ?" Tanyanya dadi balik pintu yang sudah tertutup rapat.
Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu, dan beberapa saat kemudian pintu kamar itu terbuka lebar.
"Ada apa ? Tumben jam segini masih berkeliaran di luar kamar ?" Tanya Rara dengan senyum meledek.
"Mau bicara sebentar boleh ?" Tanya Arga.
Rara mengalihkan tatapan dari wajah Arga, kemudian menatap laki-laki paruh baya yang sedang duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Mau masuk ?" Tanya nya.
"Boleh ?" Arga kembali bertanya.
Rara tersenyum, lalu membiarkan pintu kamar utama itu terbuka lebar. Ia kemudian melangkah menuju sofa yang ada di dalam kamar luas itu untuk mendengarkan permasalahan yang ingin di ceritakan Arga padanya.
Arga pun melangkah masuk ke dalam kamar, lalu mengikuti langkah kaki sang Mama menuju sofa.
"Ada apa ?" Tanya Rara.
"Dira pernah cerita sesuatu sama Mama ?" Tanya Arga.
Laki-laki yang sedang berselonjor kaki di atas ranjang, segera beranjak dan ikut bergabung ketika mendengar nama menantunya di sebut. Sungguh, ia tidak ingin ada masalah sekecil apapun yang akan menimpa pernikahan putranya. Cukup sekali ia menjadi bagian kelam dalam hidup Yana, dan ia tidak ingin bagian kelam masa lalu itu kembali terulang dalam pernikahan Dira, menantunya.
"Ada apa ? Apa yang terjadi dengan Dira ?" Tanya Reno sambil membawa tubuhnya dan duduk di samping Rara.
"Arga ga tahu Pa, tapi sepertinya memang ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Makanya Arga tanya sama Mama, ya siapa tahu Dira bercerita sesuatu." Jawab Arga.
__ADS_1
Rara terdiam, ia mencoba mengingat banyak hal selama Dira tinggal di rumah ini. Namun, sepertinya memang tidak ada hal penting yang mereka bicarakan. Menantunya yang memiliki kesibukan luar biasa karena profesinya itu, memang jarang sekali duduk dan bercengkrama dengannya di rumah ini. Mereka hanya akan punya waktu bercerita ketika pagi hari saat menyiapkan sarapan.
"Sepertinya tidak ada hal yang mengkhawtirkan. Dira hanya menanyakan bagaimana pengalaman Mama saat hamil kamu dulu." Jawab Rara jujur.
Arga menghela nafas panjang, ia yakin ada sesuatu tapi ia terlalu takut untuk memaksa Dira bercerita..
"Ada sesuatunya sedang terjadi padanya Pa, tapi Dira berusaha menyembunyikan hal itu sari Arga." Lirihnya.
"Nanti Papa akan coba bercerita dengannya." Ujar Reno berusaha menenangkan putranya.
Setelah beberapa saat berada di dalam kamar kedua orang tuanya, Arga berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Cukup lama waktu yang ia habiskan di dalam kamar utama itu. Usai membahas perihal istrinya, ia dan sang Papa kembali melanjutkan pembicaraan mereka mengenai kemajuan perusahaan. Bahkan wanita paruh baya dengan hijab andalannya, sudah lebih dulu beristirahat.
Arga mulai menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar dimana Dira sendang terlelap. Kalimat sang Papa yang akan mencoba berbicara dengan istrinya, tak lantas membuat rasa gelisah di dalam hatinya menghilang.
Dengan hati-hati Arga mendorong pintu kamar tidurnya. Berusaha setenang mungkin agar tidak mengganggu wanitanya Yangs sedang terlelap di atas ranjang. Akan tetapi saat ia memasuki ruangan itu, ia tidak mendapati Dira di sana. Tatapannya tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup, hembusan nafas lega kembali terdengar di mulutnya, ketika mendengar kucuran air dari dalam kamar mandi itu. Arga kembali melanjutkan langkahnya menuju ranjang, dan duduk di sana.
Entah sudah berapa menit ia menunggu, namun wanita yang sedang ia nantikan keluar dari dalam kamar mandi masih belum menampakkan diri. Kucuran air dari dalam kamar mandi masih terdengar, tapi belum juga ada tanda-tanda seseorang yang sedang menggunakannya.
Karena tidak sabar lagi menunggu, Arga beranjak dari atas ranjang, lalu melangkah menuju pintu kamar mandi dan mulai mengetuknya.
"Iya bentar.."
Teriak Dira dari dalam kamar mandi, seketika membuat Arga lega. Tanpa bertanya atau apapun, laki-laki itu segera membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam.
"Kamu ngapain ?" Tanya Arga saat melihat Dira sedang berdiri di bawah kucuran Air shower. Dengan cepat Arga meraih bathrobe yang tergantung, dan segera membalut tubuh istrinya menggunakan kain putih tebal itu.
"Aku gerah, makanya mandi." Ujar Dira terkekeh.
"Ya ampun Dira, kan di kamar ada pendingin ruangan. Kok bisa sih ? Ini sudah malam, kalau kamu sakit gimana ? Aku takut banget." Ujar Arga kesal sambil membawa tubuh Dira keluar dari dalam kamar mandi.
Dira hanya tersenyum. Bahkan saat Arga begitu sibuk memilihkan piyama untuk nya, ia hanya duduk dengan manis di atas ranjang mereka.
__ADS_1
"Jangan menggoda ku." Ujar Arga saat Dira sudah memeluk tubuhnya dari belakang.
"Aku susah tidur, sepertinya anak kamu kangen." Ucap Dira manja.
Arga yang sedang menyiapkan sepasang pakaian untuk Dira, seketika berhenti lalu berbalik dan menatap heran wajah cantik istrinnya. Tidak ingin tergoda, ia memilih untuk membantu Dira berpakaian, lalu mengajak istrinya itu kembali beristirahat.
"Kita tidur." Ujar Arga. Saat mereka sudah terbaring di atas ranjang, Arga kembali membawa tubuh dingin Dira dan memeluknya dengan sangat erat.
"Ga ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Dia tiba-tiba.
Arga tidak menjawab, tapi masih menunggu apa yang ingin di bicarakan oleh istrinya ini.
"Ada masalah dalam rahim ku." Ujar Dira lagi.
Arga masih belum menimpali, tangannya hanya terus memeluk tubuh Dira dengan erat.
"Tapi tidak terlalu fatal kok. Dokter menyarankan untuk melahirkan bayi secara Caesar." Dira menghentikan kalimat nya sebentar. "Untuk sementara waktu, aku harus memastikan bayi ini kuat, karena memang harus di angkat lebih awal dari hari perkiraan lahir, agar bisa secepatnya memeriksa kesehatanku lebih lanjut." Sambungnya.
"Kenapa baru ngomong sekarang ?" Tanya Arga dingin.
"Karena aku baru mengetahuinya hari ini. Aku ngga berniat menyembunyikan hal penting ini darimu, tapi aku ga tahu harus memulai pembicaraan ini dari mana." Jawab Dira.
"Tapi kamu baik-baik saja kan ? Aku ga perduli apapun Dira, yang aku mau hanya kamu." Ujar Arga tegas.
"Bahkan jika itu anak kamu sendiri ?" Tanya Dira kesal.
"Bukan seperti itu. Perihal anak, kita bisa mencarinya nanti jika memang Tuhan masih belum mempercayakannya hari ini, akan tetapi jika aku kehilangan kamu, aku tidak tahu aku bisa menjalani ini..
"Kok bicara begitu sih ? Aku baik-baik aja." Ucap Dira lirih.
"Aku takut sayang.." Ucap Arga.
__ADS_1
"Besok kita ke rumah sakit deh, kamu ikut dengarin penjelasan dokter. Gimana ?" Ajak Dira.
Arga menyetujui itu, lalu kembali memeluk Dira dengan begitu eratnya.