
Jejak woi, jejak 🙄🙄
Ku kutuk jadi cantik baru tahu rasa !!!
****
Siang yang begitu panas, di tambah dengan adegan panas yang semakin membuat peluh keduanya bercucuran. Suhu dingin yang keluar dari alat elektronik yang menempel di dinding kamar, sama sekali tidak mampu mendinginkan adegan panas di atas ranjang itu.
Ranjang mewah yang tadi ya rapi, kini sudah acak-acakan bagaikan di terpa angin ****** beliung.
"Aku lelah." Keluh Aira sambil membawa kepalanya bersandar di dada Abizar.
"Payah banget sih." Ledek Abizar sambil mengusap lembut punggung polos istrinya itu.
"Lelah dan perih." Ucap Aira lagi.
"Kita sudahi saja." Ujar Abizar.
"Kamu puas ?" Tanya Aira masih terus menyandarkan kepalanya di dada Abizar.
"Ya enggak lah, kan baru pertama kali. Malam nanti yaa." Goda Abizar sambil membalik posisi mereka. Kini Aira kembali berada di bawah tubuhnya.
"Kalau seperti ini masih lelah ga ?" Tanya Abizar sambil memacu tubuhnya perlahan.
Aira menggeleng dengan wajah yang semakin memerah, membuat laki-laki yang sedang berada di atas tubuhnya tidak tahan lagi untuk mencicipi wajah cantik itu dengan bibirnya.
Abizar tersenyum, ia semakin cepat memacu tubuhnya, sambil menatap wajah cantik Aira.
"Sekarang sayang." Bisik Abizar. Lelaki itu sudah menenggelamkan wajahnya di antara leher jenjang Aira, sambil terus memacu tubuhnya menuju puncak kenikmatan yang sudah mereka raih bersama beberapa jam yang lalu.
Setalah mencapai puncak kenikmatan yang kedua kalinya siang ini, Abizar menarik tubuhnya dari atas tubuh Aira, dan berbaring di samping tubuh polos istrinya itu.
"Kita tidur dulu." Ajaknya sambil membawa tubuh Aira ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tapi aku mau mandi, ga nyaman." Jawab Aira.
"Nanti aja, sekalian kita makan. Istirahat dulu, kamu lelah." Pinta Abizar tidak ingin di bantah.
Aira pun tidak lagi menolak, keduanya akhirnya terbaring di ranjang yang sudah acak-acakan itu, sambil bergelung di dalam selimut yang sama.
"Aku cinta kamu Ra, sangat. Terimakasih untuk siang yang luar biasa ini." Kecup Abizar di kepala bagian belakang Aira.
Aira hanya tersenyum manis, lalu mengajak matanya untum terlelap sebentar. Beberapa saat kemudian tarikan dan hembusan nafas teratur mulai terdengar dari bibir Aira. Dengan hati-hati, Abizar bangkit dari atas ranjang yang ia tempati, lalu berpindah ke sisi lain agar bisa menikmati wajah tenang Aira seperti yang sering ia lakukan selama tiga Minggu pernikahan mereka.
Tangannya terulur, lalu mengusap lembut wajah cantik yang begitu damai dalam lelap. Senyum hangat masih menghiasi wajah tampannya, lalu dengan hati-hati ia beranjak dari atas ranjang itu dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa saat kemudian, ia keluar dari ruangan kecil yang ada di dalam kamar itu, lalu mendekati lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti untuknya.
*****
Di rumah yang ada di Jakarta, Danira menatap layar ponselnya dengan mata membulat penuh. Sebuah pesan dengan gambar Aira yang sedang berdiri di pinggiran kolam, berhasil masuk ke dalam ponsel pintarnya. Tidak membutuhkan waktu lama, aplikasi berwarna hijau yang wajib di miliki hampir seluruh orang di dunia itu, berhasil memberi tahu di mana adik nakalnya berada.
Zyana tersenyum.
"Kamu tahu nggak Nak, Gio adik kamu sebenarnya jatuh cinta pada Aira. Aunty Adel menceritakan itu pada Ayah saat kami berkunjung guna membahas rencana pernikahan Abi dan Aira."
Danira terdiam. Dia tidak lagi terkejut akan hal itu, terlebih dia mengetahui jika Aira bersahabat baik dengan Gea adik sepupunya. Memang bukanlah hal sulit untuk jatuh cinta dengan gadis sebaik dan semanis adik iparnya itu. Ia pun sebagai wanita, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menyaingi gadis manis itu.
"Lalu bagaimana Bu ?" Tanyanya kemudian.
"Gio sangat kecewa. Beberapa hari setelah pernikahan Abizar, dia memilih pergi ke luar negeri." Jawab Zyana lirih.
"Abizar tahu ?" Tanya Danira lagi.
"Ibu ngga tahu soal itu. Tapi Ayah menduga mungkin saja Abi sudah mengetahui hal itu sejak lama, hingga adik kamu itu begitu bersikukuh ingin menikahi Aira dengan alasan sudah meniduri gadis itu." Jawab Zyana.
"Abi tidak melakukan apapun." Ucap Danira yakin.
__ADS_1
"Ibu tahu. Kalian anak-anak yang baik dan tahu soal batasan yang tidak boleh di langgar." Ujar Zyana. "Ayah sudah meminta maaf pada Gio tentang masalah ini, dan Gio pun sudah tidak lagi mempermasalahkan hal itu. Ia hanya kecewa pada dirinya sendiri yang terlalu takut melangkah ke arah Aira. Padahal kata Aunty kamu, Aira dan Gea sudah bersahabat sejak lama, dan Aira tidak hanya sekali dua kali menginap bersama Gea."
danira masih mendengarkan penjelasan sang ibu mengenai adik sepupunya yang juga jatuh hati pada Aira. Beruntung Gio sama seperti dirinya yang selalu berpikir logis dalam hal perasaan. Karena memang sesuatu yang tidak di takdirkan untuk kita, maka selamanya tidak akan pernah menjadi milik kita, sekuat apa pun keinginan kita untuk mendapatkan hal tersebut.
Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan di ruang keluarga, hingga beberapa saat kemudian Arion datang bersama Alfaraz dan bergabung di ruangan itu.
Tidak lama kemudian, Arion meminta izin pada Ayah dan ibu mertuanya untuk mengajak Danira ke suatu tempat. Alfaraz dan Zyana sudah mengetahui hal itu, namun Danira masih belum tahu kemana Arion akan membawanya.
Mobil yang di kendarai Arion terus melaju di jalanan. Berulang kali Danira bertanya kemana Arion akan membawanya, akan tetapi laki-laki tampan yang terus tersenyum di sampingnya ini tidak mau menjawab pertanyaannya.
Hingga beberapa saat kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat begitu indah di pandang mata.
"Rumah ku ." Tebak Danira membuat Arion tertawa.
"Harusnya itu kaget, terus tanya ini rumah siapa ?" Arion meniru suara wanita yang terkejut karena di beri kejutan oleh suaminya.
Danira tertawa lucu.
"Aku bukan lagi istri-istri alay seperti itu." Jawab Danira sambil melangkah menuju pintu rumah yang terlihat mewah itu. "Mana kuncinya, aku ga sabar pengen cobain ranjang yang ada di sini." Sambungnya sambil membuka pintu rumah.
Arion tertawa mendengar kalimat santai tapi mengandung unsur dewasa itu. Saat pintu rumah terbuka, ia segera mangangkat tubuh Danira lalu kembali menutup pintu itu menggunakan kakinya.
"Kamu mau ngajak aku mencoba ranjang kita ?" Danira melingkarkan tangannya di leher Arion.
"Tebakan kamu benar." Jawab Arion.
"Ah aku suka ini." Seru Danira antusias. Arion kembali terbahak, sambil membawa tubuh Danira menuju kamar baru mereka.
*****
*Note Author
Awas aja ga tinggalin jejak, Bab ke 8 loh ini 🥴🥴
__ADS_1