Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 39


__ADS_3

Di sebuah taman bermain anak-anak, Farah menatap tas yang berisi perlengkapan Al, lalu berpindah lagi menatap putranya yang begitu antusias menikmati permainan yang tersedia di sana.


Usai menikmati sarapan yang di jual di pinggiran taman, Farah masih berdiri sambil memperhatikan Alfaraz yang terus melangkah ke sana kemari memilih permainan yang ia inginkan.


Kebodohan yang hakiki memang sudah melekat di otak Farah. Jangankan orang lain, bahkan dirinya pun ikut merutuki hatinya yang begitu bodoh memahami keadaan.


Mentari pagi yang menguning ia lihat tadi, kini mulai terik. Udara segar di pagi hari yang sempat ia hirup, kini mulai beranjak pergi berganti dengan angin yang membawa polusi. Beruntung mereka duduk di sebuah taman dengan banyak pohon yang masih melindungi mereka berdua dari karbondioksida yang beterbangan di udara.


"Unda haus.." Ucap Alfaraz.


"Mau susu apa air putih ?" Tanya Farah sembari mengangkat dua botol yang berbeda.


Al memilih botol yang sedikit menarik baginya. Botol yang familiar yang selalu ia gunakan untuk minum di malam hari sebelum tidur.


Farah terkekeh melihat tingkah menggemaskan Alfaraz saat tangan mungil itu meraih dot yang berisi susu.


"Sini." Ucapnya sembari merentangkan tangan.


Bocah yang sangat mirip dengannya itu mendekat, lalu masuk kedalam dekapan hangat sang Bunda.


Farah segera membawa tubuh putranya menuju kursi taman, lalu duduk di sana dengan diam. Ia mengusap pelan dahi Al yang terlihat berkeringat, karena begitu menikmati permainan yang jarang sekali anak itu lakukan. Alfaraz begitu menikmati menyedot susu yang buat di gerobak tukang bubur tempat ia dan Alfaraz sarapan tadi.


"Pulang Unda, antuk." Suara Alfaraz kembali terdengar dari bibir mungilnya, sembari menyodorkan botol susu yang sudah kosong ke arah Bundanya.


Farah mengangguk, yah ia memilih untuk tidak pergi tanpa berbicara. Sekuat apapun otaknya memaksa hati yang kembali terluka untuk pergi saja tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelah kepergian dirinya dan Alfaraz, tetap saja pilihannya selalu kembali pulang. Kalaupun harus tetap pergi, dia memilih untuk menyelesaikan semuanya lebih dulu, agar di kemudian hari tidak ada yang perlu ia sesali.


Taksi yang sedang membawa Farah dan Al yang sudah terlelap, mulai membelah jalanan Ibu kota. Macet, tentu saja jangan di tanya lagi. Kemacetan dan Jakarta, tidak lagi bisa di pisahkan, terlebih lagi di waktu kerja seperti ini.


Berulang kali Farah mencium wajah putranya, lalu kemudian menatap lekat wajah menggemaskan itu dengan lekat. Mungkin setelah ini, ia tidak akan lagi menatap bocah yang memang sejak dulu tidak begitu dekat dengannya ini.

__ADS_1


"Maafkan Bunda yang bodoh ini ya Nak." Ucapnya sembari mengusap lembut wajah yang begitu mirip dengannya. Bibir, mata dan bentuk wajah Al memang sangat mirip dengannya, hanya hidung mancung Zidan yang mampir di sebagai bukti jika bocah berumur tiga tahun ini memang benar-benar hasil pernikahannya dengan laki-laki yang selalu membuat hatinya terluka.


Setelah berapa puluh menit waktu yang di habiskan di tengah jalan, kini taksi yang di tumpangi Farah sudah berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah. Rumah yang jarang sekali ia kunjungi sejak menjadi istri Zidan, karena sejak dulu ia sadar bahwa menantu yang di inginkan di rumah ini adalah Nadia bukan dirinya.


Farah keluar dari dalam mobil taksi, setelah memberikan dua lembar uang berwarna biru tanpa mengambil kembaliannya, lalu mulai melangkah masuk ke dalam gerbang yang di buka oleh petugas keamanan.


Kakinya berhenti melangkah saat mendapati mobil Zidan telah terparkir di depan rumah mertuanya. Tidak hanya mobil Zidan, tapi mobil kakak iparnya juga berada tepat di samping mobil berwarna putih itu.


Farah bergegas membalik tubuhnya agar pergi dari sini, namun taksi yang baru saja mengantarnya ke sini sudah pergi.


"Farah." Panggil seseorang yang baru saja keluar dari pintu utama. Laki-laki itu semakin mempercepat langkah dan kini suah berdiri di hadapannya.


"Kak Alard."


Alard menatap Farah dengan begitu lekat, lalu menyodorkan tangannya agar Farah memberikan keponakannya yang sudah terlelap.


"Ra, masalah tidak akan pernah selesai jika tidak di bicarakan. Berikan Al pada Kakak, dan masuklah ke dalam. Ayah dan Ibu, Kak Zia dan kami semua sangat mengkhawtirkan kamu dan juga Al." Ucap Alard.


Farah menarik nafasnya, mengisi paru-paru yang terasa terhimpit itu dengan udara, lalu menyerahkan putranya pada Alard.


Benar, semua tidak akan pernah selesai jika ia terus plin plan seperti ini. Seharusnya sudah sejak dulu ia menmantapkan hati, dan membicarakan semuanya, agar dirinya tidak terluka berulang kali seperti hari ini.


Setelah mengambil sesuatu yang di pesan Zia dari dalam mobil, Alard membawa tubuh gembul keponakannya yang begitu lelap masuk ke dalam rumah, dengan Farah yang mengikutinya dari belakang.


Semua orang yang berada di dalam ruang keluarga seketika terkejut, saat melihat Alfaraz sedang terlelap dalam gendongan Alard.


Alard kembali berbalik, mencari Farah yang tadi ikut masuk bersamanya, namun sudah beberapa menit berlalu wanita itu belum juga terlihat di dalam ruangan yang sama.


"Kamar Al di mana Bu ?" Tanya Alard.

__ADS_1


Zidan yang terlihat mau beranjak dari sofa, segera di tahan oleh Zia. Sedangkan Anisa yang masih tidak percaya, seketika tersadar saat suara menantunya terdengar menanyakan kamar yang biasanya Alfaraz tempati jika berkunjung ke rumah ini.


"Ini benar-benar Al Nak ?" Tanyanya pada sang menantu.


Alard mengangguk.


"Ya Allah, cucu Eyang pulang." Ucap Anisa di sertai beberapa tetes air mata mengalir membasahi pipinya.


"Bu, biarkan Al beristirahat dulu." Ucap Zia.


Sejujurnya ia pun ingin segera menginterogasi suaminya yang tiba-tiba membawa tubuh keponakannya yang sudah terlelap, padahal tadi ia hanya meminta Alard untuk mengambil snelly yang ia tinggalkan di dalam mobil laki-laki itu, karena Alard harus berangkat lebih dulu ke perusahaan.


Setelah Alard dan Anisa berlalu dari ruang keluarga menuju lantai dua tempat kamar Al berada, Farah melangkah masuk ke ruang keluarga. Sama seperti melihat Al tadi, Zidan seketika beranjak dari sofa namun lagi-lagi di tahan oleh Zia.


Suasana hati Farah masih belum membaik, gadis ini belum terlihat baik-baik saja. Memberikan ruang padanya, adalah hal yang paling benar di ambil saat ini.


"Duduk sini Ra." Ajak Zia.


Farah mengangguk, lalu duduk di sofa tunggal yang ada di ruang keluarga. Ia menatap Ayah mertuanya yang sedang tertunduk dalam, lalu beralih pada Zidan dan Zia yang menatapnya sendu.


"Farah minta maaf karena sudah membuat kekacauan pagi ini Ayah." Ucap Farah.


Dimas mengangkat wajahnya dan menatap menantunya dengan perasaan bersalah.


"Bukan kamu, tapi kami yang harus meminta maaf." Ucap Dimas tulus.


"Farah kemari ingin berpamitan, dan mengembalikan ini." Ucap Farah lalu melepaskan cincin pernikahan yang masih tersemat di jari manisnya dengan perlahan, lalu meletakkan cincin emas putih dengan berlian di atas meja.


Zidan tercekat, ia menatap nanar cincin pernikahan yang ia sematkan empat tahun lalu di jari Farah, yang kini sudah tergeletak di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2