
Mobil yang membawa Nira dan Arion sudah berhenti di depan gedung berlantai. Arion keluar dari dalam mobil itu di bantu oleh sopir ayahnya. Setelah Arion sudah duduk dengan nyaman di atas kursi roda, Nira mendekat lalu mendorong kursi roda itu, dan masuk ke dalam butik tempat mereka memesan kebaya juga stelan jas yang akan mereka kenakan saat akad nikah nanti.
"Tante juga di sini ?" Tanya Danira terkejut saat melihat calon ibu mertuanya sedang melangkah keluar dari dalam butik yang ia datangi bersama Arion
"Tante, Mama dong." Protes Reni pada calon menantunya.
Danira hanya tersenyum menanggapi ocehan calon ibu mertuanya.
"Ayo." Ajak wanita paruh baya itu lagi, sambil menggandeng tangan Danira. "Mama senang, sebentar lagi akan punya anak perempuan. Kamu tahu ngga suami Mama ini tiga, maunya cari anak perempuan tapi yang brojol tiga-tiganya laki." Sambungnya langsung membuat Danira terkejut.
"Ma, nanti Nira ngga akan mau nikah sama aku." Rengek Arion agar ibunya berhenti membicarakan kelakuan buruk yang tidak pernah merasa puas dengan satu laki-laki dalam hidupnya.
"Tenang aja Nir, Mama aja yang buruk. Ketiga putra Mama orang yang baik." Ujar Reni lagi sambil memohon pada Danira.
Danira hanya tertawa geli.
"Setiap manusia punya sisi buruk dan baik Tan, Nira ga apa-apa kok, asal jangan poligami aja, Nira ngga akan kuat." Jawab Danira sambil terus tersenyum.
Arion melotot mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir Danira. "Poligami ? Kata apa itu ?" Tanya nya pada dua wanita yang terus saja mengobrol.
"Ngga usah pura-pura deh. Kamu tahu poligami adalah harta yang paling di cari oleh kaum lelaki. Ujar Nira.
"Aku enggak kok." Jawab Arion.
"Ih gemes banget sih sama calon suami ini." Cubit Nira di pipi Arion.
Ketiga orang itu melangkah masuk ke dalam butik dan langsung menuju ruangan yang sudah di sediakan khusus untuk mereka mengukur pakaian yang akan mereka pesan.
__ADS_1
"Aku mau liat Ma." Ujar Arion dari luar ruangan.
"Ngga boleh, nanti ngga akan spesial lagi di hari pernikahan." Teriak sang ibu dari balik ruangan kecil yang menjadi tempat calon istrinya mencoba pakaian.
Arion hanya bisa menahan kesal karena sikap wanita yang sudah membawanya ke dunia itu.
"Teng...teng..."
Kebaya berwarna putih dengan hiasan mutiara sudah terpasang indah di tubuh ramping Nira. Gadis itu menyelonong keluar dari ruangan kecil untuk memperlihatkan penampilannya pada sang calon suami. Teriakan calon ibu mertuanya yang tidak mengizinkan dirinya menampakkan diri di depan Arion, sama sekali tidak ia hiraukan.
Arion terkekeh geli saat tubuh calon istrinya di tarik kembali dan masuk ke dalam ruangan.
"Cantik.." Gumamnya, namun Nira tidak mendengar pujian itu karena sudah lebih dulu di tarik masuk ke dalam ruangan.
Arion masih duduk diam di atas kursi roda miliknya. Senyum hangat juga binar bahagia di manik cokelat milik nya masih begitu jelas terlihat. Entahlah, ia tidak tahu apakan memang ia senang wanita itu adalah Nira, ataukah hanya karena beberapa bulan lalu ia sempat kagum dengan Dira. Yang pasti saat ini, ia begitu bahagia. Meskipun ia belum tahu kemana pernikahan ini akan berjalan, tapi ia berjanji akan memperlakukan wanita itu dengan baik nanti..
****
Di lain tempat, di sebuah kampus yang cukup populer di Jakarta, seorang gadis terus saja tersenyum bahagia. Bagaiman tidak, ia menjadi salah satu orang yang di percaya untuk menjadi bagaian dari orang-orang yang di kirim oleh restoran tempat ia bekerja, untuk bertanggung jawab di pesta pernikahan anak dari pengusaha.
"Kenapa senyum-senyum gitu, kamu lagi dekat sama cowok ya." Tuduh Gea pada sahabatnya.
Aira hanya tersenyum menanggapi tuduhan sahabat cantiknya. Ia lalu memperlihatkan layar ponselnya, dan di sana tertera percakapan grup para karyawan yang bekerja di restoran yang sama dengan dirinya.
"Aku akan menjadi pelayan di acara pernikahan keluarga terpandang Ge, dan kamu tahu bayarannya fantastis. Dan lebih membuat aku senang, aku akan dpat banyak jatah makanan yang bisa di bawa pulang ke panti asuhan." Ujar Aira bahagia.
Gea justru merasa sedih mendengar kalimat yang terucap dengan wajah penuh binar sahabatnya.
__ADS_1
"Padahal aku bisa meminta Papa untuk membantu mu Ra. Membiayai panti asuhan bukanlah hal yang sulit untuk kami, dan kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini, cukup jadi sahabatku saja. Udah itu aja." Ujar Gea.
Aira tersenyum, ia sudah terbiasa dengan sikap berlebihan Gea terhadap dirinya. Jadi ia tidak lagi terkejut akan mendapat respon seperti ini dari sahabatnya.
"Aku senang bisa melakukan banyak hal untuk membantu ibu panti dan adik-adik ku Ge. Jangan khawatir, aku akan tetap jadi sahabat kamu kok, meskipun aku harus bekerja keras. Yah,, asal kamu tidak malu aja bersahabat dengan orang seperti ku." Ucap Aira.
Beberapa menit mereka duduk di kursi taman kampus, musuh bebuyutan Gea akhirnya tiba. Laki-laki tampan yang sebentar lagi akan meninggalkan universitas itu mengusap lembut puncak kepala adiknya, lalu ikut bergabung dan duduk di samping tubuh sang adik. Gio memang memilih untuk melanjutkan S3 nya di Indonesia sambil membantu sang Papa di perusahan.
"Gimana kabar kamu Ra ?" Tanya Gio pada sahabat adiknya.
"Aku baik Kak. Seperti yang terlihat." Jawab Aira. "Terimakasih untuk tumpangan malam itu. Dan sampaikan permohonan maaf ku pada Kak Melisa." Sambung Aira.
"Tumpangan apa ?" Tanya Gea pada dua orang yang ada di sampingnya.
"Kepo." Jawab Gio. Lelaki itu segera beranjak dari sana, lalu melangkah meninggalkan dua gadis yang ia sayangi itu, untuk menghindari jurus detektif dadakan adiknya.
"Tumpangan apa ?" Tanya Gea pada Aira.
"Kemarin Kak Gio mampir makan malam di restoran tempatku bekerja, dan saat aku pulang dia memberiku tumpangan. Aku jadi ngga enak sama Kak Melisa." Jawab Aira. "Aku sudah menolaknya, tapi kamu tahu sendirilah bagaimana Kak Gio, dia akan terus memaksa sampai aku mau." Sambungnya menjelaskan.
"Untung kamu mau, aku malah akan ikutan marah kalau kamu tetap keras kepala dan menolak ajakannya." Ucap Gea.
Terimakasih ya Ge, aku ngga tahu akan seperti apa hidupku tanpa kamu. Ucap Aira.
Tidak jauh dari tempat mereka berada, seseorang yang baru saja tiba di area parkiran kampus, berhenti melangkah. Lelaki tampan itu menatap Gea sebentar, lalu berpindah pada gadis yang sedang duduk di samping adik sepupunya itu. Tidak lama kemudian, ia kembali melanjutkan langkahnya untuk mendekati dua gadis yang sedang duduk di taman kampus..
"Abi kita ke kantin kampus yuk, aku lapar." Rengek gadis yang entah datang dari mana tiba-tiba menarik tangan Abizar dan meninggalkan halaman kampus.
__ADS_1