
Tiga minggu sudah Aira terkurung di dalam rumah. Tiga minggu pula Abizar terpaksa harus menyiram tubuhnya dengan air dingin di tengah malam saat sesuatu yang tidak ia inginkan tiba-tiba bangkit karena tidak sengaja melihat yang membuatnya tergoda.
Sama halnya dengan malam ini. Ia harus kembali berdiri di bawa kucuran air shower, padahal gadis yang terus saja membuat dirinya tersiksa setiap malam sedang menikmati mimpi indahnya.
Setelah berhasil meredamkan sesuatu yang bangkit nyaris membuatnya gila, Abizar menyudahi acara mandi tengah malamnya lalu keluar dari dalam ruangan kecil itu.
Baru saja menutup pintu kamar mandi, ia kembali di buar frustasi dengan tubuh yang sedang terlelap dengan begitu nyenyak di atas ranjangnya.
"Tutup mata Abi." Gumamnya kesal sambil melangkah cepat melewati ranjang di mana gadis yang sudah tiga minggu ini halal namun masih di haramkan oleh ibunya untuk di sentuh itu sedang terlelap.
Jika saja dia tidak takut di kutuk menjadi batu, sudah di pastikan gadis yang selalu menggugah seleranya itu, sudah ia makan sampai habis.
Setelah piyama berbahan satin sudah terpasang rapi di tubuhnya, Abizar kembali melangkah keluar dari ruang ganti menuju ranjang di mana Aira berada. Dengan hati-hati, ia masuk ke dalam selimut lalu memeluk tubuh istrinya itu.
"Kamu mandi ?" Tanya Aira dengan suara serak khas bangun tidur.
"Aku ganggu ya ?" Tanya Abizar tidak enak. Mungkin saja tangannya yang melingkar di tubuh Aira begitu dingin, hingga membuat gadis yang sedang berada dalam pelukannya terjaga.
"Sedikit." Jawab Aira.
"Ya udah tidur lagi aja." Ujar Abi.
"Gimana belajarnya ?" Tanya Aira.
"Pusing Ra. Kak Nira juga selalu saja buat aku kesal." Keluh Abizar.
Aira tertawa mendengar keluhan Abizar. Ia tahu bagaimana Danira slalu membuat suaminya ini kesal, seakan melihat wajah kesal Abizar adalah sesuatu yang menyenangkan bagi kakak iparnya itu.
"Ada tempat yang ingin kamu datangi ?" Tanya Abizar.
Aira menggeleng.
"Aku hanya ingin di sini dan menghabiskan banyak waktu bersama keluarga yang aku impikan selama ini." Jawabnya.
Abizar tertawa mendengar jawaban Aira. Jawaban Aira masih saja sama, padahal dia ingin membawa Aira ke suatu tempat yang di impikan oleh gadis ini, yah mumpung gratis.
"Kamu akan punya banyak waktu di sini Ra. Tidak hanya banyak, tapi kamu akan menghabiskan seluruh waktu yang di sisa hidupmu bersama keluarga ku." Ujarnya.
__ADS_1
Aira menggeleng.
"Sebentar lagi Kak Dira dan Kak Nira akan pindah ke rumah mereka masing-masing. Dan aku akan kembali ke kampus. Jadi untuk saat ini aku masih belum ingin ke mana-mana dan hanya ingin menghabiskan waktu ku di rumah saja." Jawab Aira.
Abizar melepaskan pelukannya, lalu berpindah ke sisi lain ranjang agar bisa melihat wajah cantik istrinya.
"Ada apa ? Kenapa pindah ?" Tanya Aira.
"Lalu aku bagaimana ?" Tanya Abizar sambil menatap lekat wajah istrinya yang terlihat kebingungan.
"Memangnya ada apa dengan mu ?" Tanya Aira tidak mengerti.
" Bagaimana dengan bulan madu kita ?" Tanya Abizar lagi.
Aira melotot tanpa kata. Dia semakin bingung harus menjawab apa. Sejujurnya ia pun tidak tahu hubungan seperti apa yang sedang mereka jalani. Meskipun selama tiga minggu ini Abizar selalu menunjukan perhatian yang berlebihan terhadap dirinya, tetap saja hubungan mereka begitu tiba-tiba untuk melangkah sampai sejauh itu.
"Aku konsultasi ke dokter dulu yaa." Jawab Aira.
Abizar mengerutkan dahinya.
"Dokter ? Luka kamu masih sakit ya ? Ya udah ga apa-apa, aku bisa menunggu sampai kamu benar-benar sembuh. Maafkan aku yang tidak sabaran." Ujarnya.
"Lalu ?" Tanya Abizar heran.
"Aku perlu berkonsultasi lebih dulu alat kontrasepsi apa yang baik buat aku pakai nanti." Ucap Aira.
Abizar terhenyak.
"Kamu takut kuliah kamu terganggu ?" Tanyanya dengan tatapan kecewa.
Aira menggeleng.
"Lalu apa ?" Tanya Abizar. "Kamu ngga mau punya anak dari aku yaa ?" Tanyanya lagi dengan suara yang tidak enak di dengar.
Ini pertama kalinya Aira mendengar intonasi yang tidak enak di dengar keluar dari bibir Abizar. Gadis itu memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap Abizar. Dan benar saja, wajah tampan itu terlihat begitu kecewa dengan pembahasan mereka.
"Anak yang tidak berdosa akan terluka jika mendapati dirinya lahir bukan sebagai buah cinta dari kedua orang tuanya Abi. Aku tahu kewajiban ku, dan aku pun sadar hak kamu yang harus aku penuhi. Tapi menyangkut anak, aku tidak bisa menerima itu jika tidak adanya cinta di antara kita." Jelas Aira sebelum Abizar semakin salah paham terhadap dirinya.
__ADS_1
"Kamu tidak mencintaiku ?" Tanya Abizar lirih.
Aira terdiam. Bohong jika hatinya tidak tersentuh dengan segala hal yang terjadi selama beberapa minggu ini. Namun, apakah dengan cintanya saja sudah cukup untuk membangun sesuatu yang akan di jalan seumur hidup.
"Jadi benar kamu tidak mencintaiku ?" Tanya Abizar lagi.
"Bagaimana dengan mu ?" Aira balik bertanya.
Abizar tersenyum miris.
"Apa semua yang aku lakukan selama ini masih belum cukup menjawab pertanyaan mu itu ? Tanya Abizar kesal.
"Tentu saja Abizar. Ada banyak orang yang selalu memperlakukan aku dengan baik. Jadi aku tidak tahu jika perlakuan kamu selama ini hanya karena kasian padaku, ataukah...
"Aku mencintaimu. Apa ini cukup ?" Sela Abizar cepat. "
Aira terdiam. Dia tidak tahu harus melakukan apa jika sudah seperti ini. Tatapan lekat namun hangat Abizar, membuat bibirnya tertutup rapat.
Dengan hati yang kacau, Aira membuka kancing piyamanya perlahan.
"Apa yang kamu lakukan ?" Tanya Abizar frustasi.
"Bukankah ini yang kamu inginkan ? Lagi pula ini memang kewajiban ku." Lirih Aira pelan. Tak masalah walau Abizar tidak benar-benar menyukainya. Sudah di perlakukan dengan baik dalam keluarga, sudah jauh lebih cukup baginya.
"Maksud kamu ?" Tanya Abizar lagi.
Aira menggeleng pelan.
"Ayo kita lakukan. Waktu tiga minggu ini sudah cukup untuk kita saling mengenal. Tapi janji dulu jangan tinggalkan aku yaa." Pintanya.
Abizar melepaskan tangannya dari tangan Aira, lalu segera membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
"Ayo kita pacaran dulu. Mau jadi pacar aku ngga ?" Ajak Abizar.
"Bunganya mana ?" Tanya Aira ikut mengalihkan suasana agar tidak canggung.
"Besok aku bawa ke kebun Oma. Kamu bisa ambil bunga sebanyak yang kamu mau, aku yang bayar." Jawab Abizar, keduanya lantas tertawa bersama. "Aku sudah mulai kerja loh." Sambungnya dan membuat dua orang yang saling berpelukan di atas ranjang itu tertawa bersama.
__ADS_1
Abizar masih memeluk erat tubuh Aira, sambil mencium puncak kepala istrinya itu. Mungkin waktunya terlalu cepat. Selama ini mereka tidak pernah berteman dekat, dan dengan tiba-tiba ia mengatakan mencintai istrinya ini. Tentu saja gadis yang kini diam dalam pelukannya ini tidak akan percaya.