Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 109 Season 2


__ADS_3

"Kenapa wajahmu terlihat semakin jelek setiap hari ?" Tanya Adelia pada sang Kakak yang terlihat tidak begitu bersemangat. "Pasti di tolak sama Mbak Yana ya ?" Ledeknya lalu tertawa jahat.


"Yana siapa ?" Tanya Zidan pada putrinya.


"Karyawan Papa masa ngga tahu sih ?" Jawab Adelia.


"Maksud kamu Zyana ?" Tanya Zidan.


Adelia mengangguk membenarkan.


"Bukannya dia sudah menikah ?"


"Sudah resmi bercerai sejak dua atau tiga bulan yang lalu. Rey yang membantunya." Ujar Adelia.


"Loh jadi wanita yang membuatmu galau itu janda ?" Tanya Farah pada putranya.


Alfaraz hanya menghembuskan nafas kasar, lalu menatap tajam gadis berjilbab yang kini sedang menatapnya dengan senyum mengesalkan. Mulut ember adiknya memang selalu berhasil membuatnya semakin kesal.


"Ya ngga apa-apa Bun, toh Mbak Yana janda bersurat. Nah, putra kesayangan Bunda duda bodong ga punya surat-surat." Ledek Adelia lagi.


Farah tertawa lucu mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh putrinya.


"Memangnya ada ya janda dan duda bodong ?" Tanyanya.


"Nih di depan Bunda buktinya." Jawab Adelia tertawa. "Makanya Kak, kalau nikah itu pilih-pilih, jangan gadis yang masih di bawah umur di embat juga." Sambungnya.


"Itu mah gadisnya aja yang kebelet, udah tahu masih di bawah umur, eh mau-mau aja di nikahi."


"Bun.." Tegur Zidan sambil menggeleng.


"Ngga baik ngomongin yang kurang pantas di depan makanan. Lupakan semua yang sudah berlalu. Iya kan Al ?"


Zidan menatap putranya yang terdiam di depannya.


"Tentu saja " Jawab Alfaraz.


"Jadi kapan mau melamarnya ?" Tanya Zidan pada putranya.


Alfaraz menghembuskan nafasnya kesal.


"Belum tahu, karyawan kesayangan Papa itu menakutkan." Jawab Alfaraz sontak membuat tiga orang yang ada di ruang makan tertawa.


"Memangnya kenapa ?" Tanya Zidan.

__ADS_1


"Mbak Yana tegas banget Pa, ga mempan di kibulin." Jawab Adelia.


"Tapi kenapa wanita sebaik dia memilih bercerai ?" Tanya Farah pada putrinya.


"Suami Mbak Yana menikahi wanita lain tanpa sepengetahuannya. Dan ada banyak hal lain yang membuat Mbak Yana memilih berpisah setelah tujuh tahun bersama. Ibu mertuanya tidak menerima dengan baik dan lebih mengenaskannya lagi, Mbak Yana mendapati suaminya membawa istri keduanya itu dan tidur di kamar apartemen yang selama tujuh tahun mereka tempati.." Jelas Adelia.


Alfaraz menatap tidak percaya pada adiknya.


"Kamu tahu dari mana sampai sedetail itu ?"


"Kak calon suamiku itu pengacaranya Mbak Yana, ya jelas aku tahu lah. Malah aku sering bantuin Rey ngurusin kasus itu. Untung aja tuh laki ga banyak bertingkah, jadi mempermudah semuanya." Jawab Adelia.


"Ngeri banget sih." Ucap Farah.


"Kurang bersyukur aja sih Bun. Kalau Adel lihat sih, Mbak Yana orangnya terbuka dalam segala hal. Mungkin saja jika suaminya membicarakan lebih dulu sebelum melakukan poligami, jalan ceritanya pasti akan berbeda."


Zidan mengangguk membenarkan.


"Ayah benar-benar bangga sama kerja kerasnya. Dia itu berkarir di perusahaan sejak masih menjadi mahasiswi. Giat dan rajin, teliti dan pintar juga." Ujarnya.


Adelia mengangguk, tidak dekat namun dia mampu menilai wanita seperti apa yang sedang menjadi topik pembicaraan mereka di meja makan malam ini.


"Seorang Gerald saja jatuh ke dalam pesonanya." Ujarnya lagi sambil terkekeh lucu melihat wajah sang Kakak yang semakin terlihat jelek.


"Adel sama Rey hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat bagaimana perlakuan Gerald terhadap Mbak Yana. Bunda tahu, lebih mengenaskan nya lagi, mantan suami Mbak Yana itu karyawan di perusahaan Tante Gina. Di pecat lah dia ga pake tawar menawar sama Tante Gina, saat mengetahui ada karyawan yang sudah menyakiti calon mantu incarannya."


Farah terbelalak mendengar kalimat yang terdengar lucu namun mengerikan dari bibir putrinya.


"Jadi Bunda harus siap bersaing sama Tante Gina." Ujar Adelia lagi memperingati. "Tuh lihat wajah Kakak semakin jelek karena saingannya bukan kaleng-kaleng. Mana Gerald selalu mengirimkan bunga ke perusahaan, khusus untuk Mbak Yana lagi." Sambungnya masih dengan nada meledek.


"Kamu tahu dari mana ?" Tanya Alfaraz kesal.


"Dari Mbak Mia." Jawab Adelia acuh.


"Wah kok Bunda jadi bersemangat kepingin kenal lebih dekat sama Yana itu. Tante Gina saja yang terkenal pilih-pilih mantu langsung suka sama dia."


Zidan hanya menyimak percakapan yang selalu membuat hatinya menghangat. Bertahun-tahun ia tidak mendapati hal seperti ini sejak putranya memutuskan pergi.


"Siapa saja yang penting dia wanita yang baik-baik. Dan kamu Del, jangan kelamaan pacaran. Hubungan seperti itu ga sehat." Ujar Zidan.


"Ngga sehat gimana ? makanya Pa, suruh nikah tuh si Duda bodong ini, biar Adel dan Rey bisa cepat-cepat nikah juga." Ujar Adelia.


Farah tertawa geli mendengar kata duda bodong yang terus saja di ucapkan putrinya.

__ADS_1


"Besok ajak Bunda ke rumahnya ya Al." Pinta Farah.


Alfaraz mendengus kesal.


Entah berapa puluh kali ia memaksa Bundanya ini untuk di ajak ke rumah Yana, agar dia memiliki alasan untuk bertemu dengan wanitanya itu, tapi selalu saja di tolak dengan alasan tidak ingin meninggalkan lelaki paruh baya ini sendirian di rumah.


"Rumah mereka indah banget Bun, banyak banget bunga. Di belakang rumah ada kebun bunga yang lumayan luas. Sederhana namun, menenangkan. Ibu Dinda juga sangat baik dan ramah." Ujar Adelia menimpali.


"Dinda ?" Tanya Farah pada putrinya.


"Hm, Ibu Dinda, semua orang menyebutnya seperti itu. Mereka punya toko bunga, dan yah merek orang yang sangat baik." Jawabnya.


"Pa.." Farah menatap wajah suaminya yang terlihat mencerna kalimat putrinya.


"Kita ke rumah mereka besok." Putus Zidan.


Alfaraz terkejut, dia bahkan belum menyampaikan perihal rencanya seminggu lagi.


"Al sudah janji dengan Yana, satu Minggu lagi akan datang dan melamarnya." Ucap Alfaraz.


Ketiga orang yang ada di dalam ruangan itu sama-sama terkejut.


"Wah hubungan kalian sudah sejauh mana sih ? Main lamar-lamar aja." Tanya Adelia antusias.


"Sudah lama, tapi Yana menolaknya karena dia baru saja bercerai. Al hanya ingin menikah bukan berpacaran seperti si Gerald itu, makanya diam-diam aja." Kata Alfaraz menyombongkan diri.


"Kalau begitu, kita undur ia menjadi besok." Putus Zidan.


"Bun, boleh ga Al meminta izin memberikan cincin yang Bunda simpan." Tanya Alfaraz hati-hati. "Al belum membeli cincin." Sambungnya.


"Memangnya muat ? Kalau ngga nanti malu-maluin." Ujar Farah.


"Cincin apa ?" Tanya Zidan pada istrinya.


"Milik Mbak Nadia." Jawab Farah.


Zidan terkejut, ia berpikir setelah puluhan tahun Farah tidak lagi menyimpan apapun tentang Nadia.


"Aku menyimpannya Mas."


"Ra.." Suara Zidan tercekat. Selama puluhan tahun ia berusaha untuk mengubur semua tentang mendiang istri pertamanya itu.


"Haish kok jadi melow banget sih. Ga suka liatnya." Ujar Adelia.

__ADS_1


Alfaraz tertawa lucu mendengar ocehan adiknya.


__ADS_2